Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk yang suka berkeluh kesah? Saya mendengar itu sudah sangat lama. Mungkin ketika saya masih kecil. Dan sekarang setelah memasuki usia dewasa, saya mendapati bahwa hal itu benar adanya. Kenyataannya, sangat mudah bagi kita untuk mengeluhkan tentang ini dan itu. Kita bisa mengeluh tentang penghasilan. Kita bisa mengeluh tentang pekerjaan. Tentang kesehatan. Tentang atap rumah yang bocor. Tentang jerawat yang membandel. Tentang sariawan akibat bibir tergigit secara tidak sengaja. Bahkan, kita mengeluh karena terlalu banyak hal yang harus kita keluhkan. Lantas, kapan kita akan berhenti mengeluh? Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kacamata. Sebuah frase yang memiliki makna denotatif dan konotatif. Dia bisa berarti sebuah alat untuk membantu memperbaiki daya penglihatan, namun bisa bermakna ’cara kita memandang sesuatu’. Dengan kacamata yang salah, situasi apapun yang kita hadapi; akan dipersepsikan secara negatif. Namun, dengan kacamata yang baik kita selalu mampu menemukan sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami. Bahkan sekalipun peristiwa itu kurang menyenangkan. Benarkah demikian? Benar. Karena kita percaya bahwa setiap peristiwa itu seperti keping mata uang. Terserah; apakah kita memfokuskan sudut pandang pada sisi positif, atau negatifnya? Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pernahkah Anda menyaksikan seseorang yang dapat melakukan sesuatu dengan sangat mudah, padahal Anda sendiri tidak bisa melakukannya? Saya sering begitu. Misalnya, saya tidak bisa bermain selancar air dipantai, tapi mengapa banyak orang yang bisa melakukannya. Ini hanyalah contoh kecil saja yang membuktikan bahwa ternyata; ada orang-orang yang bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati, karena boleh jadi, kita bisa melakukan sesuatu yang menurut orang lain sangat sulit untuk dilakukan. Sehingga, ini semakin menegaskan kenyataan bahwa kita para manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi, bukankah kadang-kadang kita harus melakukan sesuatu yang sangat sulit itu untuk memenuhi keinginan kita? Buktinya, ada banyak keinginan dan angan-angan yang tidak bisa kita wujudkan. Sehingga kita sering menjadi frustrasi dibuatnya. Lantas, bagaimana kita bisa berkompromi dengannya? Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

”Sesama Bis Kota, Dilarang Saling Mendahului”. Anda pernah mendengar kalimat itu? Mungkin pada awalnya kalimat itu dibuat untuk mengingatkan para sopir bis kota supaya tidak ngebut atau balap-balapan dengan bis kota yang lainnya. Sehingga, kalimat itu jelas tertulis dikaca belakang setiap bis kota. Lama kelamaan, kalimat itu menjadi begitu populer seolah ingin mengingatkan kita supaya tetap menjaga norma dan etika ketika sedang bersaing. Semakin tinggi tingkat persaingan, semakin besar peluang untuk saling menyerang. Bahkan, tak jarang kita saling menjatuhkan. Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Hanya-orang-orang yang tidak puas dengan nasibnya yang berkeinginan untuk bertukar nasib. Anehnya, kita tidak harus menjadi orang sengsara terlebih dahulu untuk memiliki keinginan itu. Bahkan, dalam keadaan ’serba enak’ pun kita masih ingin bertukar nasib dengan orang lain yang kita anggap bernasib lebih baik. Persis seperti pepatah lama kita; ”rumput tetangga terlihat lebih hijau…..” Tetapi, seandainya memang kita berkesempatan untuk menukar nasib dengan orang lain; apakah benar kita akan menemukan kepuasan itu? Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pernahkah Anda merasa sedemikian malasnya untuk melakukan sesuatu? Seolah-olah kita kehilangan gairah. Seluruh otot tubuh kita seakan enggan untuk digerakan. Apalagi jika ditambah dengan hati yang gundah. Rasa lemas ini menjadi semakin bertambah parah. Kemanakah perginya semangat itu? Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika tidak pernah merasa jemu dalam pekerjaan, mungkin kita belum cukup lama menjalaninya. Sebab, agak aneh juga jika hal-hal rutin yang kita lakukan dalam jangka panjang masih bersifat ’biasa-biasa’ saja. Bukahkah kita merasa jemu jika hidup kita menjadi datar? Sebaliknya, ’percikan-percikan’ kecil bisa memberi nuansa yang lebih berwarna bagi perjalanan karir kita. Jadi, jika suatu saat kelak menemui kejemuan; tidak perlu terlalu risau. Karena sesungguhnya hal itu merupakan pertanda yang mengirim sinyal supaya kita mendefinisikan ulang premis-premis hidup yang selama ini dipegang teguh. Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Adakah orang yang meragukan keampuhan bakat sebagai modal dasar bagi seseorang untuk meraih kesuksesan? Kelihatannya tidak ada. Karena, kita percaya bahwa jika bisa mengoptimalkan bakat alias talenta kita, maka pastilah kita akan menjadi orang yang sukses. Persoalannya kemudian adalah, bagaimana kita mengidentifikasi dan mengenali apa sesungguhnya talenta kita ini? Bahkan, meskipun umur kita sudah tergolong dewasa, kita tidak benar-benar yakin bahwa kita sudah bekerja pada bidang yang sesuai dengan bakat yang kita miliki. Apakah anda juga merasakan hal sedemikian? Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Banyak sekali kekurangan dalam diri kita. Kurang mancung. Kurang putih. Kurang kaya. Kurang pintar. Dan beragam macam kurang-kurang lainnya. Oleh karena itu, kita tidak pernah kekurangan alasan untuk bersembunyi dibalik serba kekurangan yang kita miliki. Sampai-sampai, alasan yang kita kemukakan itu tidak lagi bisa diterima akal karena sama sekali tidak bermutu. Herannya, semakin hari kita semakin nyaman dengan beragam alasan itu. Seolah-olah kita sudah menjadi sahabat terbaik bagi para alasan dan enggan beranjak barang sedikit saja dari tempat persembunyian itu. Padahal, kita percaya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dan kita juga percaya bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu; ada orang-orang yang bisa menghasilkan pencapaian tinggi. Tapi, mengapa bersembunyi dibalik kekurangan diri ini kok terasa begitu nikmat? Read more

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dalam situasi krisis seperti saat ini, banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan tidak populer. Misalnya, mengurangi beberapa pos pengeluaran penting seperti pemotongan biaya promosi, penundaan kenaikan gaji, dan penghematan lain disana-sini. Karena itu, tidak sedikit karyawan yang naik darah hingga keubun-ubun. Dan tentu saja, cara termudah untuk melampiaskan kekesalan adalah dengan menimpakan semua itu kepada atasannya. Padahal, seringkali atasan tidak berada pada posisi sebagai pengambil keputusan. Yang sebenarnya terjadi adalah; sang atasan tengah berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik bagi bawahan sekaligus menjadi karyawan yang baik bagi perusahaan. Jadi, apakah cukup fair untuk memvonis atasan kita sebagai orang yang menyebalkan? Read more