Monthly Archives: March 2007
Definition of ‘Hore, Hari Baru!’
“Hore, Hari Baru!” is a powerful mantra. It’s a kind of “Yee-Haw! What A New Day!” When you say it, you take enormous energy from the universe into your body. And you gain the spirit of god into your soul. You may say: “Hore, Hari Baru!” Like a Texas cowboy says: “Yee-Haw!” then add the wording “What A New Day!â€. It is also like you screamed while you stood up on the peak of a mountain under the blue sky. But – if you like – you may do it soundless. In your heart. You may try it. Every day. The day, you wake in the morning. The day, you go into daylight. The day, you see the sun fades. The day you come into darkness. You say it. You feel it. You get the strength from it. Hore, Hari Baru! (Definition by Dadang Kadarusman, ©2004).
Kesetaraan Martabat Setiap Profesi - Sebuah Esai Ngawur
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Beberapa waktu lalu, teman saya memforward sebuah artikel yang sangat menarikzth…
Tentang para dosen yang digaji rendah sehingga harus nyambi cari tambahan, dan – menurut artikel itu – terpaksa harus pada mati muda. Penulisnya seorang dosen juga atau bukan, saya tidak tahu. Ayah saya guru SD, bukan dosen. Tapi dia dan para guru SD, SMP dan SMA lainnya adalah para pendidik hebat seperti halnya para dosen.
Jika artikel itu ditujukan untuk mengkritik para pengambil keputusan dan para penentu kebijakan, maka itu merupakan sebuah gagasan yang pantas untuk mendapatkan perhatian dari para pengurus negeri. Dan itu menunjukkan bahwa kita tidak apatis. Tetapi, jika tulisan itu dimaksudkan untuk mengeluh, nampaknya tidak tepat jika keluar dari hasil pemikiran para intelektual. Agak sedikit diskriminatif memang; jika orang yang bukan intelektual ‘boleh’ mengeluh, tetapi para intelektual dianggap kurang pantas jika mengeluh.
Continue reading
Email Alert
Seperti terhadap hal lainnya; tidak semua orang akan menyukai tulisan saya. Pasti ada yang suka banget sampai nge-fans segala. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang sebel, dan ada yang sebel banget. Tapi, kadang-kadang yang sebel sama tulisan saya merasa kangen juga untuk membaca tulisan-tulisan yang lainnya. Karena, jika dibaca dengan kepala jernih dan hati yang putih (padahal warna hati semua orang adalah merah), maka siapapun yang membacanya akan menemukan sedikitnya sebutir kecil hal yang positif dari tulisan itu. Kalau tulisan saya memang positif, maka mereka bisa memetik hikmahnya untuk kepositifan diri mereka sendiri. Kalau tulisan saya negatif, maka mereka yang sebel itu bisa belajar bagaimana terhindar dari hal-hal negatif. Jadi, dengan kepala jernih dan hati merah marun, siapapun bisa memetik makna positif dari tulisan saya. Lantas, kenape elo kagak demen subscribe biar dapat email alert setiap up date di Gue-Blog ini? Subscribe deh.
Yee-Haw! What A New Day!!!
Title: Yee-Haw! What A New Day!!!
Language: English
Author: Dadang Kadarusman
ISBN: 1-4120-4305-0
Description:
This book is containing inspirational stories and categorized as self-improvement literature. All the stories are based on natural phenomenon we can actually find in daily life activities. Therefore, the author was actually not offering a skyrocketing conception. Rather he brought the readers to find the lesson from their every day life experience. This way makes the ideas sound so familiar and simple. But, you – for sure – might not have heard such philosophic elaboration before. Nonetheless, from such simple lessons, people often learn the most important things for their life. These are what really offered by the book.
One of the stories elaborated in this book has been published-in and translated to more than 8 (eight) different international languages.
However, this book will only fit for those who like to read inspirational stories. Not the ones who prefer sophisticated theoretical conceptions.
Related Links:
Belajar Sukses Kepada Alam
Judul: Belajar Sukses Kepada Alam
Pengarang: Dadang Kadarusman
ISBN: 979-3659-37-8
Hadiah: Download Ebooknya Secara GRATIS Disini
Deskripsi:
Tahukah Anda bahwa sebatang pohon pisang mengajari kita tentang kekuatan hati, dan sikap pantang menyerah? Sehelai daun lidah buaya menunjukkan kepada kita bagaimana caranya untuk mampu menyembuhkan luka-luka batin. Sebutir telur ayam menceritakan kepada kita tentang makna sebuah integritas. Sulur-sulur kacang panjang mengajari kita, keluhuran cara berpikir yang jernih. Sebutir tomat…, Serumpun bambu…, Bunga flamboyan…, dan banyak lagi. Buku ini menyajikan banyak hal yang tidak anda temukan dari literatur-literatur manapun sebelumnya. Dalam dan luar negeri. Sebuah buku yang sangat langka, bukan? Made in Indonesia; written by Indonesian young man. Dan, tidak kalah kualitas gagasannya dari para pemikir global.
Best for: Personal development; Perusahaan-perusahaan untuk hadiah terbaik bagi karyawannya.
Testimonial:
“Buku ini sangat Dadang Kadarusman sekali….. begitu lugas, jujur, merdeka dan dalam waktu yang bersamaan juga sangat bermakna. Sungguh merupakan proses pembelajaran yang sangat alami. “Bertamasya” bersama rangkaian kalimat yang begitu mengalir terasa bagaikan natural healing process yang mampu menciptakan kemerdekaan jiwa yang terus berevolusi…. Namaste !” – Herni S. Lukitomo- HR Director PT. Johnson and Johnson Cilag Indonesia
“Sebuah buku yang membumi. Seolah kita sedang berdialog dengan diri sendiri” – Novita E. Mahanani – Praktisi OD/HRD PT Wyeth Indonesia
Link terkait:
Books
Resolusi 2007
Setiap menjelang akhir tahun, para motivator kelas atas menyarankan agar kita melakukan sebuah kegiatan, yang mereka sebut sebagai:resolusi. Intinya sederhana sekali, yaitu; merancang goal-goal yang ingin kita wujudkan di tahun depan. Jika sekarang tahun 2006, maka resolusi yang kita lakukan dalam hari-hari terakhir menjelang berakhirnya tahun ini adalah membuat RESOLUSI 2007.
Dalam konteks organisasi, apa yang kita lakukan dengan budget setting merupakan salah satu bentuk resolusi (dalam tingkatan organisasi). Dengan resolusi itu, kita berkomitmen untuk mencapai angka-angka atau target yang sudah kita canangkan. Tanpa resolusi: kita bahkan tidak tahu apa yang harus kita capai.
Continue reading
Apakah Email Saya akan direspon?
Pertanyaan yang cerdas. Tetapi, jawabannya adalah: belum tentu. Jangan salah sangka. Saya hanya tidak ingin membuat anda kecewa dengan janji yang bisa saja saya ucapkan secara serampangan. Tetapi, being realistic; I may not be able to respond every email. Kalau ada ratusan email sehari, bagaimana saya bisa menjawabnya satu per satu? Tak seorang pun mampu melakukannya. But let me tell you what to do: just write me email.
Sebagai imbalannya saya akan langsung merespon email anda; jika saya mampu. Jika tidak, maka saya akan mengelompokkan beberapa email yang sejenis, dan memberikan respon secara kolektif. Atau, saya membuat artikel yang mengupas topik dalam email-email anda. Jadi, kesabaran anda merupakan pertolongan yang sangat besar buat saya. Deal!
Kalau dalam 1 minggu saya belum merespon, mungkin saya sedang sibuk banget. Atau, mungkin saya sedang dirawat dirumah sakit dan dokter yang merawat saya menasihatkan untuk jauh-jauh dari komputer dan dunia internet. Sebab, ketika daya tahan tubuh saya sedang sangat menurun, maka saya harus sedapat mungkin meminimalkan kontak dengan sumber-sumber penularan virus semacam itu.
Kalau dalam 1 bulan belum direspon, mungkin email anda masih terjerembab dalam antrian yang panjang. Teruslah bersabar. Atau, mungkin saya sedang bingung; harus merespon apa. Kan tak ada orang yang tahu segala hal. Atau, mungkin juga budget saya untuk membayar internet sudah terlampaui untuk bulan itu. Meskipun saya masih memiliki sedikit uang, saya terlanjur menganggarkannya untuk membayar cicilan kapal pesiar pribadi.
Kalau dalam 1 tahun belum direspon juga. Mungkin saya membuatnya begitu istimewa sehingga butuh waktu lebih lama dari sekedar menulis sebuah novel. Jadi, tetaplah bersabar. Atau, mungkin saya sedang tersesat di hutan Amazon, dan dijadikan kepala suku oleh penduduk setempat. Maaf, meskipun dipedalaman sini internet memang sudah ada, tapi saya teramat sibuk mengurusi kepentingan rakyat dan administrasi kenegaraan supaya hutan-hutan kami yang rimbun tidak digunduli oleh para pembalak hutan macam di Kalimantan. Tunggu saja sampai saya mudik lebaran.
Kalau dalam 10 tahun belum juga dibalas. Mungkin itu disebabkan karena kecepatan saya dalam merespon email sudah sangat menurun. Mungkin karena sudah tua. Mungkin karena kena stroke. Mungkin karena terlalu fokus mengurusi sawah yang saya beli dari uang pensiun. Sabar saja. Alon-alon asal kelakon. Atau, mungkin juga saya memang dengan sengaja cuekin karena email anda mengandung unsur pornografi. Gue nggak mau komen soal itu. Atau, mungkin email anda isinya menghujat orang lain. Menghina presiden dan pembantu rumah tangga. Sara. Sarkastis. Gue gak bakal respon.
Kalau 100 tahun kemudian setelah anda menulis email kepada saya ternyata tidak dibalas juga; mungkin itu karena saya sudah meninggal dunia. Nanti saya cek dulu apakah di akhirat saya mendapatkan ruangan yang mempunyai fasilitas akses broadband atau tidak. Tetapi, kalau anda sudah meninggal juga, ya sebaiknya sekalian saja kita bikin acara ramah tamah para arwah di alam barzah. Waaah, indah, yah. Hah, hah, hah….
Hey, forget it all. Just write me email for whatever possible response will be. Find me. Catch me. Love me. But, don’t kiss me sembarangan.
Cara Konvensional
Kalau cara pertama dan kedua benar-benar tidak cocok bagi anda; padahal anda tidak bisa menemukan cara ketiga; mungkin cara konvensional bisa membantu. How? Just klick here