Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Miscellaneous / Kesetaraan Martabat Setiap Profesi – Sebuah Esai Ngawur

Kesetaraan Martabat Setiap Profesi – Sebuah Esai Ngawur

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Beberapa waktu lalu, teman saya memforward sebuah artikel yang sangat menarikzth…
Tentang para dosen yang digaji rendah sehingga harus nyambi cari tambahan, dan – menurut artikel itu – terpaksa harus pada mati muda. Penulisnya seorang dosen juga atau bukan, saya tidak tahu. Ayah saya guru SD, bukan dosen. Tapi dia dan para guru SD, SMP dan SMA lainnya adalah para pendidik hebat seperti halnya para dosen.

Jika artikel itu ditujukan untuk mengkritik para pengambil keputusan dan para penentu kebijakan, maka itu merupakan sebuah gagasan yang pantas untuk mendapatkan perhatian dari para pengurus negeri. Dan itu menunjukkan bahwa kita tidak apatis. Tetapi, jika tulisan itu dimaksudkan untuk mengeluh, nampaknya tidak tepat jika keluar dari hasil pemikiran para intelektual. Agak sedikit diskriminatif memang; jika orang yang bukan intelektual ‘boleh’ mengeluh, tetapi para intelektual dianggap kurang pantas jika mengeluh.

Baiklah, mari kita menuju ke lap top. Perlu dipertanyakan; apakah kerja keras berkorelasi langsung dengan ‘mati muda’? Jika itu merupakan sebuah hipotesis, maka terlebih dahulu harus dibuktikan melalui study yang metodologinya bisa dipertanggungjawabkan. Bukankah begitu cara berpikir para intelektual? Gaji Anda kekecilan – jika itu merupakan ukuran penghargaan atas sebuah pengabdian. Orang-orang yang bukan dosen memprotes; bukankah upah kami juga tidak lebih tinggi dari itu, Pak dan Bu Dosen?

“Lha kami yang para pendidik ini; apa wajar mendapatkan upah segitu? Apakah kami akan terus-menerus dikenyangkan dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa?”

“Bapak dan Ibu Dosen, adalah benar Anda yang membuat kami menjadi pintar. Namun, bukankah sebutan ‘pahlawan’ mengandung makna penghargaan yang agung dan lebih bermartabat, dibandingkan dengan kami yang digelari si ‘no-body’?”

“Kami menjadikan bangsa ini pintar. Tetapi perut kami lapar. Negara gagal menghargai jerih payah kami.”

“Benar, Anda telah menjadikan bangsa ini pintar. Dan rekan-rekan saya telah menjadikan bangsa –yang mana anda dan saya adalah bagian dari bangsa itu – ini mengenakan sendal, memakai kaos oblong, mendapatkan beras, terhindar dari bau busuk sampah didepan rumah, mendapatkan jasa angkutan, memiliki rumah. Bapak dan Ibu Dosen, mereka yang melakukan semuanya itu untuk bangsa ini bahkan tidak pernah tinggal dirumah-rumah yang mereka bangun itu; tidak melintasi jalan tol yang mereka corr; tidak mengunyah beras pulen yang ditanam dan dipanggulnya……”

“Kita semua punya peran masing-masing toh?”

“Benar. Dan kami berharap ucapan Anda itu dibarengi sebuah kesadaran bahwa tidak ada peran yang lebih mulia, atau lebih hina dari yang lainnya.”

“Kami tidak meminta untuk disebut pahlawan (apalagi tanpa tanda jasa)”

“Benar. Tetapi sadarkah Anda bahwa bangsa ini sudah begitu dalam memahami betapa mulianya anda dalam peran itu? Lihatlah gelar yang menempel didahi kami; TKW, Buruh tani, Abang becak, Tukang sayur, sopir angkot… kuli bangunan; yang dengan itu kami tahu kami ini bukan pahlawan…..Tetapi tanpa kami, bahkan para pahlawan pun tidak mungkin bisa makan.”

“Kenapa kalian tidak minta disebut pahlawan juga jika merasa pekerjaan kalian sama mulianya dengan para pendidik negeri?”
“Jika setiap manusia berbudi sudah menganggap bahwa setiap pekerjaan yang baik itu sama mulianya, maka itu sudah cukup bagi kami. Jika pekerjaan kita sama mulia, maka sebutan pahlawan bagi anda dan para tentara, akan membuat kami merasa bahagia. Karena benar, kita semuanya memainkan peran yang mulia.”

Keluar dari lap top. Berapakah gaji anda? Pertanyan yang tidak sopan. Karena sudah keluar dari lap top, maka pertanyaan ini bukan hanya untuk para dosen; tapi juga anda jika anda bukan dosen. Jika gaji anda 1 juta (rupiah), anda adalah orang yang beruntung di negeri ini. Syukurilah. Bahkan, pegawai yang mengenakan dasi pun banyak yang diupah hanya 250 ribu sebulan. Jika mereka tidak berhasil berjualan, mereka bahkan cuma makan angin, dan minum keringatnya sendirian. Orang yang lancang menulis esai ngawur ini adalah orang yang pernah bekerja mengenakan dasi, dan bergaji kurang dari 500 ribu. Jadi, anda adalah orang beruntung. Sekarang, digedung-gedung perkantoran mentereng di Jakarta, berkeliaran orang-orang yang berpakaian menawan, perlente, indah, cantik, dan tampan; tetapi upah mereka hanya 1,25 juta (satu koma dua puluh lima juta rupiah) saja sebulan. Tertipu penampilan.

Berapakah gaji Anda?? Lagi-lagi tidak sopan. Jika gaji Anda 1,9 juta sebulan, maka Anda termasuk manusia yang teramat sangat beruntung. Syukurilah. Di pusat bisnis negeri ini, berseliweran orang-orang yang bergelar ’manajer’ membawa pulang mobil kantor, sampai tetangganya terkagum-kagum, dan orang-orang dikampung silau setiap kali mereka mudik lebaran. Padahal, gaji mereka hanya 1,8 juta rupiahan? Terpukau kemegahan.

Berapa gaji Anda??? Tiga kali tidak sopan. Nista, maja, utama! Jika gaji anda 2 juta rupiah sebulan, maka Anda termasuk orang-orang sial paling beruntung di negeri ini. Jika anda sempat membaca koran Bisnis Indonesia hari kamis tanggal 8 February yang lalu, mungkin anda melihat tulisan tentang perkembangan pembahasan amandemen UU ketenagakerjaan no 13 tahun 2003 (Kalau tanggalannya salah dikit, maklum, soalnya saya tidak tahu korannya ada dimana sekarang. Mungkin sudah diambil tukang loak. Tanya saja ke redaksi koran itu). Dalam artikel itu dikemukakan sebuah data survey, yang mana survey itu menemukan bahwa 90% pegawai ternyata berupah dibawah 2 juta rupiah sebulan. Jadi, jika penghasilan anda 2 juta sebulan, anda termasuk 10% manusia berpenghasilan tertinggi di negeri ini. Sadarkah anda itu? Fabiaayyiaa-laaa-i robbikumaaa tukadzibaaan (Surah Ar-Rahman)!

Bahkan, konon, menurut data BPS dalam artikel yang sama, 97% pekerja di negeri ini berupah dibawah 2 juta rupiah. Sehingga, sekarang harkat dan derajat anda naik menjadi 3% manusia berpenghasilan tertinggi. Again, Fabiaayyiaa-laaa-i robbikumaaa tukadzibaaaaan?

Setelah tiga kali bertanya secara tidak sopan, saya akan mengganti pertanyaannya: tahukah anda berapa UMP atau UMR didaerah anda? 700 ribu? 800 ribu? Satu juta? Dan tahukah anda, bahwa banyak pengusaha yang tidak sanggup membayar sesuai dengan UMP, sehingga mereka harus mengajukan proposal penundaan penerapannya segala? Seingat saya, pegawai di sebuah toko yang saya sempat menitipkan modal patungan kepada teman yang mengelolanya, hanya diupah sebesar 500 ribu rupiah. Sampai-sampai saya memutuskan untuk tidak ikut terlibat dalam bisnis itu lagi……

Dan tahukah anda; apakah upah itu? Secara standar, upah terdiri dari gaji, ditambah uang makan, ditambah ongkos naik kendaraan dari rumah ketempat kerja pulang balik….. Jika kita merasa tidak mendapatkan upah yang layak, maka sesungguhnya itu terjadi dihampir seluruh sektor kehidupan ketenagakerjaan kita. Maka dari itu, para intelektual, selayaknya tidak hanya memperjuangkan kepentingan mereka sendiri untuk mendapatkan bayaran yang layak….

Jika para intelektual juga hanya meneriakkan kepentingan upah keuangan mereka sendiri, maka tidak ada bedanya antara para intelektual itu dengan para anggota dewan perwakilan rakyat (House of Representative- Ciee…. biar kerenan dikit) yang berteriak-teriak memprotes revisi PP no 37 tahun 2006, beberapa waktu lalu. Bagus juga, jika rakyat dengan wakil rakyatnya kompak seperti itu. Tetapi, sebaiknya, urusan protes gaji kecil untuk diri sendiri kita wakilkan saja kepada para wakil rakyat. Bukankah begitu prinsip ’delegasi’ dalam konteks teori kepemimpinan? Para intelektual, tidak usah melakukan kegiatan yang sudah diwakilkan kepada wakil rakyat; melainkan mempelopori perjuangan untuk seluruh lapisan masyarakat. Jadi, ada pembagian tugas yang jelas: para wakil rakyat meneriakkan pesan pentingnya pembayaran yang layak untuk diri mereka sendiri, sedangkan para intelektual berupaya untuk memperjuangkan pembayaran yang layak untuk seluruh lapisan masyarakat.

Kembali ke lap top. Ada seloroh; Jika mau cepat kaya, jadilah anggota DPR. Ini ungkapan yang kasar, tetapi, rasanya ada logikanya juga. Tengok saja, Berapa kali pemerintah telah menaikkan gaji anggota DPR selama 2 tahun terakhir ini? Dalam dunia bisnis, kita terbiasa menggunakan terminologi ‘pertumbuhan’. Jadi, jika menggunakan termninologi itu, pertanyaan tadi bisa terdengar begini: “Berapa ratus persen pertumbuhan pendapatan Anggota DPR tahun ini?” Sebagai acuannya, tingkat pertumbuhan pendapatan dometisk kita (PDB) atau yang biasa disebut sebagai ‘pertumbuhan ekonomi’ di tahun 2004 adalah sebesar 5.1%, artinya pendapatan kotor negara kita naik hanya sebesar 5.1% dari tahun 2003. Di tahun 2005, pertumbuhan ekonomi kita adalah 5.6%, dan tahun 2006 kemarin adalah 5.5%. Jadi, bisa dibayangkan, ‘pertumbuhan’ pendapatan para anggota DPR kita dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan bangsa kita secara keseluruhan.

Keluar dari lap top. Jika anda menyimak data pertumbuhan ekonomi itu, mungkin anda bisa iseng-iseng mencari tahu; berapa sih pertumbuhan pendapatan perusahaan tempat anda bekerja? Jika lebih dari pertumbuhan ekonomi, maka perusahaan anda termasuk penyumbang positif pertumbuhan ekonomi bangsa ini. Berbahagialah. Dan berbanggalah dengan profesi anda. Jika lebih rendah dari itu, maka berarti perusahaan anda menarik kebawah pertumbuhan ekonomi kita. Maka, layaklah untuk bertanya pada diri anda sendiri; kontribusi apa yang bisa anda berikan kepada perusahaan supaya bisa tumbuh lebih baik lagi?

Sekali lagi kembali ke lap top, terus keluar lagi. Setelah anda tahu pertumbuhan pendapatan perusahaan tempat anda bekerja; lihatlah slip gaji anda. Berapa persen kenaikan gaji anda tahun ini? Jika perusahaan anda cuma tumbuh 3%, lalu anda berteriak-teriak didepan kantor direksi menuntut kenaikan 10%, apa itu layak? Dan jika pendapatan perusahaan itu tumbuh 10%; bolehkah anda berteriak untuk mendapatkan kenaikan 10%? Kayaknya fair juga ya? Ingat. Yang anda pikirkan hanya pertumbuhan pendapatan. Bukan pertumbuhan keuntungan atau laba. Mulai sekarang, belajarlah untuk mengerti bahwa perusahaan dikelola tidak semata-mata dengan menaikan omset penjualan; melainkan dengan perhitungan finansial yang disebut neraca rugi laba. Anda, boleh saja menunjuk-nunjuk muka para direksi; kenape elo kagak naikin gaji gue 10%? Tetapi, Anda; tidak akan pernah tahu apakah keuntungan perusahaan anda naik sebesar itu atau tidak; terutama, setelah kenaikan harga BBM oktober 2005 lalu.

Setiap profesi yang kita tekuni; adalah setara. Selagi halal. Tidak ada yang lebih mulia. Tidak ada yang hina. Kesulitan yang kita hadapi; adalah tantangan bersama. Dan kepada para intelektual, kita menyimpan harapan. Setiap kita, bisa terus-menerus melakukan perbaikan. Dan menyempurnakan kita punya pengabdian. Uang sedikit yang kita dapatkan. Semoga digantikan dengan pahala yang Tuhan sediakan. Dan kiranya pula oleh-Nya dibukakan. Pintu-pintu rezeki lain yang berkecukupan. Sehingga, setiap hari kita akan selalu bersorak kegirangan:

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:

  1. Fabiaayyiaa-laaa-i robbikumaaa tukadzibaaan diambil dari Al-Qur’an Surah Ar-Rahman yang Tuhan ucapkan secara berulang-ulang sebanyak 31 kali. Arti harfiahnya: “Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang berani kamu dustakan?”. Saya tidak mengerti mengapa Tuhan bolak balik mengatakan kalimat itu.
  2. Data-data statistik yang saya pakai bukan saya buat sendiri, tetapi angka yang sudah dipublikasikan di berbagai media. Kalau ada kesalahan, ya mungkin itu salah penyedia data, atau salah media yang mengutipnya, atau salah mata saya ketika membacanya, atau salah jari jemari saya ketika mengetiknya. Maklum, saya juga kan manusia, boleh salah dong…
  3. Angka-angka ilustrasi yang saya sertakan, adalah rekaan semata-mata.
  4. Argumen-argumen yang saya gunakan bukan kata-kata langsung dari Tuhan, jadi ini pasti tidak sempurna; dan sudah barang tentu bukan ayat-ayat Tuhan. Tetapi mudah-mudahan juga tidak termasuk satanic verses.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

One comment

  1. coba jlaskan dengan rinci