Tuesday , August 11 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Miscellaneous / Hegemoni Kartu Kredit

Hegemoni Kartu Kredit

Hore,

Hari Baru!

Teman-teman.

Saya termasuk orang yang telat berhubungan dengan kartu kredit. Diawal karir profesional saya sebagai salesman, memang saya sudah mulai dikenalkan dengan uang plastik itu. Perkenalan secara tidak langsung, sih… Di jaman itu, rekan-rekan saya yang juga salesman sudah pada mempunyai kartu kredit. Bukan cuma satu, melainkan tiga atau lebih. Surprise juga, kalau pegawai di level kami bisa mendapatkan kartu kredit sebanyak itu. Padahal, menurut perhitungan saya, paling banter kami hanya akan bisa mendapatkan satu kartu kredit dengan credit limit yang pasti tidak seberapa.

Itu didasarkan kepada perhitungan saya atas kemampu-bayaran orang-orang dengan pendapatan sangat terbatas. Seperti saya, tentu saja. Tetapi, rupanya memang gampang untuk mendapatkan kartu kredit dari bang, eh, bank. Bahkan, di radio, saya pernah mendengar seseorang yang suaranya cukup berpengaruh menjelaskan tentang tips dan trik agar kita bisa mendapatkan approval kartu kredit dari beberapa bank sekaligus. Dan melalui internet kita bisa menemukan tips-tips jitu untuk membuat bank percaya bahwa kita adalah calon nasabah mereka yang potensial.

Apakah itu berarti seseorang mengelabui bank? Wah, pertanyaan yang untuk menjawabnya nggak gampang. Jika seseorang berpenghasilan 2 juta, kemudian mengaku 5 juta; itu tentu saja termasuk mengelabui. Memalsukan data. Tetapi, jika data penghasilan 2 juta itu kita sebar kepada 5 bank, misalnya. Dan setiap bank menyetujui pengajuan kartu kredit kita; maka penghasilan kita seolah-olah menjadi 2 juta, dikali 5 proposal. Sama dengan 10 juta. Gak ngibul, kan? Canggih. Lagipula, coba kita lihat; sekarang bank pun begitu haus berburu nasabah. Bahkan, diantara mereka ada yang terang-terangan menyuruh nasabahnya pindah bank. “Pindahkan saldo kartu kredit anda, dan nikmati bunga nol persen selama 1 tahun.” Perang antar gang? Atau antar bank? You tell me.

Anda yang rajin gesek kartu di supermarket, tentu sudah faham; bagaimana representatif bank nongkrong didepan kasir. Setiap kali mereka melihat anda menggesek kartu, mereka segera mengerubuti anda; dan merayu anda untuk memiliki kartu dari bank itu juga. “Kami beri limit kredit yang lebih tinggi Pak.” katanya. “Tidak perlu slip gaji. Cukup fotokopi KTP, dan struk belanja; langsung kami setujui.” lanjutnya. Ajaib sekali, anda hanya menunggu 10 sampai 15 menit; kartu kredit baru, dengan limit yang lebih tinggi, sudah bersemayam tentram didalam dompet anda.

Saya pernah bertemu seseorang dengan deretan kartu kredit yang – ya ampuuuun – banyak banget dalam dompetnya. Dan hebatnya, semuanya masih aktif. Saya heran; seberapa banyak teman ini membelanjakan uangnya? Dan jika sebanyak itu belanjanya; seberapa kuat dia membayarnya. Dan jika sekuat itu daya bayarnya; pertanyaan saya selanjutnya (tentu saja tetap dalam hati); berapa ya gajinya? Pasti gede banget. Ya harus gede bangetlah. Jika tidak, maka dia akan menjadi penumpuk utang kartu kredit. Sebaliknya, jika teman ini bisa mengelola belanjanya, maka itu artinya dia tidak membutuhkan kartu kredit sebanyak itu.

Jika kita mengasumsikan pada tahun pertama setiap kartu tidak memungut annual fee, maka pada tahun kedua, setiap kartu itu meminum antara 150 hingga 300 ribu rupiah dari dompetnya. Jika tidak dipakai? Wah, sayang sekali. Dikali 10 kartu; bisa melayang 3 juta sendiri dalam satu tahun. Uang banyak ya? Banyak; untuk ukuran saya.

Pada kesempatan lain, seorang teman berterus terang kepada saya bahwa dia tengah menghadapi masalah dengan debt collector kartu kredit. Jika anda belum pernah berurusan dengan mereka, anda tidak bisa membayangkan betapa mencekamnya itu. Salah debt collector? Tidak. Mereka hanya menjalankan tugasnya, sebaik yang mereka bisa. Jika tidak, mereka tidak mendapatkan gaji untuk menghidupi keluarganya. Jadi siapa yang layak disalahkan? Bank penerbit kartu kredit? Atau orang yang senang mengoleksi kartu kredit? Silakan tentukan sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya mencoba memikirkan struktur belanja keuangan saya. Dan salah satu hal yang saya temukan adalah; tenyata, di dalam dompet saya sudah ada 3 kartu kredit. Yang satu disediakan oleh kantor. Jadi yang ini aman, karena digunakan hanya untuk urusan kantor. Yang 2 lagi? Punya pribadi. Nah. Inilah sumber pertanyaan saya; apakah saya membutuhkan 2 kartu kredit pribadi? Jika ya; seberapa besar urgensinya? Seperti yang bisa anda kira, akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa; salah satu dari dua kartu itu harus dibebas-tugaskan.

Tahukah anda, apa respon bank ketika saya menyatakan keinginan untuk menutup kartu yang satu itu? Don’t ask me. Tetapi, puji tuhan, saya diberi kekuatan untuk istikomah bin konsisten. Kartu itu akhirnya dieksekusi oleh gunting guillotine. Dan saya terbebas dari kewajiban membayar iuran tahunan sebesar 300 ribu rupiah. Selain itu, saya terbebas dari 2 biaya lain; pertama, biaya pembayaran atau transfer minimal senilai Rp. 7,500 per transfer. Kedua, biaya materai tanda lunas seharga Rp. 6,000 per pembayaran.

Beberapa saat setelah peristiwa itu, saya coba mencermati; apakah saya menderita setelah menggunting salah satu kartu kredit itu? Ternyata tidak. Hidup saya normal-normal saja, tuch. Dengan jumlah dan penggunaan kartu kredit yang sewajarnya, saya merasa hidup menjadi lebih baik. Apakah anda merasakan hal yang sama?

Hore,

Hari Baru!

Catatan kaki:

  1. Terimakasih kepada orang cerdas yang mempunyai gagasan menerbitkan kartu kredit. Saya sangat terbantu dalam melakukan banyak hal.
  2. Buku Belajar Sukses Kepada Alam

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

8 comments

  1. Dalam dunia keuangan ada yang namanya Money Management. Jika kita bis amengaplikasikannya -dalam hal paling sederhana sekalipun- Insya Allah semua akan tetap under control.
    Selain untuk belanja, kartu kredit juga dapat digunakan untuk menarik dana tunai atau meminjam uang dari bank.
    Tidaklah tabu bagi seseorang untuk berhutang dari kartu kredit, jika ada kesempatan mendapat keuntungan dari situ, sehingga tagihan terbayarkan, keuntungan pun didapat. Kuncinya, kembali ke money management tadi.
    Maka, cerdaslah dalam mengelola keuangan kita.

  2. thanks paman,

    saya baru coba2 punya kartu kredit. bukan karna kebutuhan tapi cuman tergiur dapet DVD dan bebas annual fee.
    DVD nya halal nga ya???

  3. saya lagi buat tugas sistem pendukung keputusan mengenai persetujuan pengajuan kartu kredit… terima kasih atas infonya,, menambah wawasan saya untuk merancang tugas saya,, terima kasih om.. 🙂

  4. untuk useone.. saya rasa dvd yang anda dapat masih halal, anda tidak merugikan orang lain,, malah mereka yang menawarkannya kepada anda… ok!!

  5. Agree with Pak DK..
    Meskipun saya belum punya kartu kredit (bukan berarti gak pernah ditawarin dan ditelponin), tapi pengalaman mengajarkan lebih banyak dari keinginan. Namun saya tidak anti kartu kredit, mungkin suatu hari nanti saya akan punya satu.

  6. Bagi businessman/woman atau traveller seharusnya punya beberapa kartu kredit donk, toh lebih aman bawa uang plastik ketimbang bawa cash segepok.

    Bank2 lagi kebanyakan duit kali ya, soalnya tawaran KTA (kredit tanpa agunan) lagi obral, cukup nyebutin nama bank dan nomor kartu kredit, ngucur deh si KTA.

    Selamat berkarya Mas Dadang.

  7. @yatti

    betulkah membawa kartu kredit lebih aman ketimbang bawa uang cash ?

    kalo tidak bawa uang cash dan hanya bawa kartu kredit lebih aman dari kejahatan pencopet, tetapi lebih rawan thdp kehajatan diri sendiri

    sebaliknya jika bawa uang cash dan ndak punya kartu kredit lebih aman dari kejahatan diri sendiri tetapi lebih rawan dari kejahatan pencopet

    so rasa aman dan rasa rawan sebetulnya tidak berkurang, hanya berpindah… tidak lebih

    *kejahatan diri sendiri = sikap konsumtif atau mudah tergoda suatu produk yang tingkat urgensinya rendah

  8. saya punya 11 kartu kredit dari beberapa bank lokal dan 3 KTA . Kalau diitung-itung ada lebih dari 100 juta. Sejak ekonomi lesu di akhir tahu 2008, itulah kesempatan yg saya gunakan untuk “mengambil sikap keras” untuk tidak lagi membayar semua tagihan dari semua bank. Akibatnya selama 7-8 bulan ke belakang, yg namanya telepon, collector datang ke rumah saya & rumah ORTU (sbg referensi) sangat rajin; kadang dengan suara yg lemah lembut dan sering pula dengan suara yg menggelegar (asal tak melebihi suara halilintar). Bahkan ada juga seorang collector yg datang ke rumah hampir saya gebuki karena tdk sopan dan menantang. Setiap ada konfirmasi via telepon ataupun collector datang, saya selalu katakan: “Rasakan sekarang yaa..! selama ini kalian intimidasi nasabah2 lemah dg cara merampas harta benda dari dlm rumah mereka. Rasakan sekarang, kalian tak akan berhasil intimidasi saya. Sebaiknya kalian gigit jari saja dan berkhayallah tentang sejumlah uang yg seharusnya masuk ke kantong kalian. Selama 7-8 bulan itulah yg mereka lakukan dan itu ju pula yang saya lakukan kepada orang2 bank dan agencynya. Mungkin nasabah yang lagi pusing mau mencobanya…!