Wednesday , July 1 2015
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Beda Tipis Antara Kekurangan Dan Kelebihan

Beda Tipis Antara Kekurangan Dan Kelebihan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika kecerdasan emosional itu berarti bagaimana seseorang bisa mengelola dirinya sehingga mampu bersikap positif. Bersedia menerima keutuhan diri sendiri. Sanggup mengoptimalkan kemampuan dirinya untuk hal-hal positif dan produktif, serta bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Maka, saya mencalonkan sebuah nama untuk masuk kedalam jajaran orang-orang cerdas secara emosional. Tahukah anda, siapa orang yang saya calonkan? Tukul Arwana. Ada yang sependapat dengan saya? Sebaiknya anda sependapat saja. Sebab, jika tidak, anda harus bisa menjelaskan hal yang sebaliknya.

Sebelum melanjutkan pembahasan ini; saya akan menyampaikan satu hal. Jika Amerika memiliki Oprah Winfrey. Maka. Bagi Indonesia. Tukul Arwana adalah anugerah. Jika anda ingin menyamakan Tukul dengan Oprah. Silakan saja. Saya hanya mengatakan Tukul Arwana adalah sebuah anugerah. Itu saja.

Saya tidak akan membahas profil Mas Tukul, yang belakangan ini sudah sedemikian gencarnya diulas, dioles, dan digini-gituin; oleh media. Saya hanya akan menyampaikan sebuah filosofi yang saya coba resapi dalam diri saya. Filosopi yang disampaikan oleh Mas Tukul dalam salah satu episodenya. Saya tahu, anda mendengarnya juga dari beliau. Tetapi, mari kita cek, sejauh mana kita bisa menyerap pesan dibalik filosofinya itu.

Hasil terawangan saya kepada layar monitor Lap top nya Mas Tukul menunjukkan bahwa; ternyata Mas Tukul ini mempunyai sebuah frase yang sangat bermakna. Frase itu berbunyi demikian: “Kekurangan, jika kita dapat memanfaatkannya; akan berubah menjadi kelebihan. Dan kelebihan, jika kita tidak dapat memanfaatkannya akan berubah menjadi kekurangan.”

Saya bertekuk lutut. Setuju dengan pernyataan itu. Mas Tukul. Jika boleh saya menganggapmu sebagai guru. Ijinkan saya untuk memanggilmu Pak Guru.

Jika anda mendengar dari ucapan saya. Atau membaca dari artikel saya. Tentang kalimat-kalimat kebijaksanaan. Maka anda layak bertanya; “Dari mana Dadang mendapatkan kalimat kebijaksanaan yang diucapkannya?.” Dengan kata lain, anda sebaiknya bertanya: “Benarkah kalimat kebijaksanaan itu datang dari dalam diri seorang Dadang? Tidakkah ada kemungkinan Dadang sekedar menjiplak kalimat itu dari buku-buku yang pernah dibacanya; atau dari pelatihan-pelatihan yang pernah diikutinya?” Anda boleh mempertanyakan hal itu.

Tetapi, kepada pernyataan Pak Guru Tukul itu, saya tidak ingin melakukan hal yang sama. Sebab, yang lebih penting bagi saya; bukanlah siapa yang mengucapkannya. Melainkan, orang yang melakukannya dalam aktualitas kehidupan nyata. Dan. Pak Guru Tukul. Sudah melakukannya dengan baik. Dengan apa yang dilakukan Pak Guru Tukul, kata-kata menjadi tidak terlampau bermakna. Sebab, karya nyata sudah dilakukannya didepan. Terimakasih Pak Guru Tukul. Karena telah memberi saya nuansa lain, tentang sebuah proses pembelajaran.

Kita. Pada umumnya manusia. Terlampau sering terjerat dalam kekurangan yang kita miliki. Alih-alih mengarahkan kekurangan itu dalam tindakan yang positif dan produktif. Kita cenderung menyesalinya. Kita malu karenanya. Kita ingin kekurangan itu bukan menjadi bagian dari diri kita. Kita ingin membuangnya. Dan jika kita tidak mampu melakukannya; kita memilih untuk menyembunyikan diri. Menjauh dari pergaulan. Dan mengurung diri dalam dunia penyesalan. Dan kekesalan.

Kita. Pada umumnya manusia. Terlampau sering terpukau oleh kelebihan yang kita miliki. Jika kita merasa diri ini pintar. Maka, kita merasa tidak layak untuk melakukan pekerjaan tertentu. Yang. Meskipun halal. Kita menganggapnya bukan pekerjaan yang layak untuk orang intelek seperti kita. Mendingan menganggur saja, dari pada harus melakukan pekerjaan ’dirty handed’ semacam itu. Embarasing banget, tau gak sih….

Pak Guru Tukul. Telah berhasil membuka cakrawala kita; tentang makna dari kekurangan dan kelebihan. Dia bangga dengan kekurangannya. Memang sih, aneh juga kekurangan Pak GuruTukul itu. Kita kadang bingung; sebenarnya Mulut Pak Guru Tukul itu kekurangan atau kelebihan. Tetapi, Pak Guru Tukul sendiri, tanpa mesti mengalami kebingungan yang sama; menyebut bibirnya itu sebagai kekurangan. Dan sekaligus menjadikan kekurangan itu sebagai sebuah kelebihan yang sulit ditandingi, baik oleh orang-orang yang seprofesi dengannya; maupun tidak.

Kita? Coba saja anda ingat-ingat. Kita ini sering sekali terpenjara oleh ruang sempit keserba kekurangan diri kita. Lalu kita diam, tidak kemana-mana. Kita sering terjerat oleh tali ikatan kelemahan. Lalu kita membiarkan diri sendiri dinina bobokan oleh buaian omong kosong yang berbunyi; Yo wis tho rek. Wong nasib aku yo koyo ngono. Lalu kita terbenam dalam dunia keluh. Kesah. Pasrah. Dan menyerah.

Kita? Ya. Masih tentang kita. Kita, seringkali mengeluhkan kekurangan-kekurangan kita. Kita seringkali mengeluh kurang uang. Padahal, sebentar lagi tangan kita merogoh saku celana yang berisi uang tujuh ribu lima ratus rupiah. Kemudian uang itu kita sodorkan kepada tukang jualan dipinggir jalan. Tak lama kemudian, benda yang kita beli dengan semua uang yang ada dikantong itu terbakar; mengepul di mulut kita. Menguap menjadi asap. Dan mendebu menjadi abu. Padahal, anak-anak kita tidak bisa mencicipi manisnya buah duku Palembang. Atau jeruk Pontianak. Atau apel Malang. Memang lucu kita ini. Kita dengan gampang bilang; tidak punya cukup uang. Untuk membeli barang-barang mewah semacam itu. Makanya, buah-buahan, bagi anak-anak kita menjadi barang mewah. Tetapi, kita tidak menyebutnya demikian kepada sesuatu yang kita bakar dan hisap nyaris setiap saat. Itu karena kita menganggap bahwa makan asap terasa lebih nikmat daripada memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar sekalipun.

Kita? Ya. Sekali lagi tentang kita. Kita, seringkali mengaku kekurangan waktu. Tetapi, setiap hari, kita menghabiskan berjam-jam masa-masa produktif kita duduk didepan televisi untuk memelototi sinetron-sinetron tak bermoral. Yang menayangkan adegan penghinaan terhadap sesama manusia. Penamparan muka orang-orang orang yang teraniaya. Atau, Nongkrong didepan komputer hingga larut malam. Hanya untuk main games yang sama sekali tidak mengandung unsur pendidikan, sehingga tak menghasilkan apa-apa. Atau sekedar memutar DVD romantisme hayalan pengungkit banjir air mata. Sumber dari segala pelajaran tentang betapa menyedihkannya putus cinta. Kisah tentang kasih tak sampai. Kita nyaris tak punya waktu untuk hal-hal produktif; tetapi selalu sempat melakukan apapun yang berbau hiburan. Sekalipun hiburan itu tidak lebih dari sekedar fatamorgana belaka. Kita melakukannya tidak hanya seminggu sekali, seperti jaman dulu kita nonton di bioskop. Sekarang, kita melakukannya setiap hari.

Kita? Ya. Sekali lagi tentang kita, jika anda tidak keberatan. Tapi, ah. Apa gunanya kita membongkar habis-habisan tentang betapa sikap ambivalensi telah merasuki keseluruhan hidup kita. Jika kita cukup terbuka hati untuk mendengarkan, dan meresapi filosofi yang diajarkan oleh Pak Guru Tukul. Tentu kita bisa membuka lembaran baru dalam kehidupan kita. Sehingga, tidak ada lagi kekurangan yang menghambat langkah kita untuk maju. Karena – seperti kata Pak Guru Tukul ; “Kekurangan, jika kita dapat memanfaatkannya; akan berubah menjadi kelebihan. Dan kelebihan, jika kita tidak dapat memanfaatkannya, akan berubah menjadi kekurangan.”

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
1. Saya yakin bahwa lap topnya Mas Tukul sudah penuh dengan naskah dan daftar pertanyaan yang disiapkan team kreatif Empat Mata untuk tayangan-tayangannya. Jadi, beliau pasti tidak sempat membaca tulisan ini. Tapi, kalau anda kebetulan ketemu Mas Tukul. Atau ikutan nonton acaranya di studio; tolong katakan padanya, bahwa saya berterimakasih atas pelajaran berharga yang telah disampaikan Pak Guru Tukul.
2. Saya tidak setiap hari menonton tayangan Empat Mata-nya Mas Tukul. Sekali-sekali saja. Tetapi, saya percaya bahwa Mas Tukul itu merupakan seorang yang diberkati. Bukan oleh berkat yang diberikan Tuhan secara diskriminatif kepada orang-orang yang mengaku dirinya jelek. Melainkan, berkat yang berhasil diraih oleh orang-orang yang bersedia untuk berusaha menggapainya.
3. Semoga konsisten dengan kesederhanaan. Dan kerendahan hati. Serta rasa syukur, ya Mas Tukul.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 atau 0812 19899 737.

5 comments

  1. Dear Mas Dadang,

    Memang betul apa yang diulas Mas Dadang namun dalam kenyataan aktualisasi sangat susah dilakukan semisal bila kita mendengar seorang bernyanyi sambil bermain sebuah alat musik dan kebetulan kita juga yaa.. boleh dikatakan lumayanlah dalam bermain musik, sering permasalahan timbul yaitu awalnya bisa kita nyanyikan satu atau dua lagu dan setelah itu bingung seolah-olah semua refrensi lagu2 itu lupa semua dan akhirnya malah tidak jadi bermain musik maupun bernyanyi.
    Permasalahannya tool atau software untuk merubah kekurangan menjadi keuntungan itulah yang tidak dipunyai banyak orang termasuk saya sendiri, apalagi bila ruang gerak sangat terbatas misal oleh lingkungan, pekerjaan, jabatan dan kepribadian.
    Bagaimana pandangan Mas Dadang tentang Tool tersebut?.

    Salam hangat.

  2. Apakah sebetulnya Mas Tukul nya yang cerdas, ataukah tim kreatif Trans7 nya yang pintar memanfaatkan ‘kekurangan’ Mas Tukul dan mengubahnya menjadi ‘daya jual’ yang tinggi.
    Karena kita juga sama2 tau bahwa Mas Tukul sejak dahulu tetap konsisten dengan ‘wajah’ dan gayanya, namun baru ‘meledak’ setelah acara ‘Empat Mata’..
    Saya jadi teringat sebuat grup musik Irlandia bernama Westlife.
    Dari beberapa artikel yang saya baca, katanya; keberhasilan Westlife (saat itu) bukanlah dari kemampuan dan ketrampilan mereka dalam hal bernyanyi. Namun berkat manajemen yang baik yang dikomandoi oleh mantan personil Boyzone, Ronan Keating.
    Atau mungkin kalo mau lebih lokal lagi adalah Oli Top One. Tanpa bermaksud membuat penilaian apa2 terhadap merek ini, keberhasilan oli Top one adalah karena Manajemen yang baik.
    Atau, yuk kita lihat yang masih fresh lagi..KANGEN BAND…Nah, lho…Sebagai sebuah Band Indy baru yang banyak menuai kritik karena penampilan LIVE yang jauh dari standart band profesional, nama KANGEN BaND ternyata cukup banyak dikenal dan membuat penjualan album perdananya melonjak hingga mereka memperoleh Platinum Award. Namun kontras dengan apa yang mereka raih, kini-untuk beberapa saat- mereka ‘dilarang’ untuk tampil LIVE oleh Producer mereka sendiri sebelum mereka menyelesaikan “kursus” bermain musik yang baik dan benar.
    Well, ternyata produk “pas-pas” an pun bisa “unjuk gigi” dan menjadi “raja”..

  3. Kang jaman sekarang ini kadang susah untuk meng up-grade diri. Semuanya serba rutin dilakukan, tekanan hidup makin tinggi dan lambat laun rutinitas ini berakibat fitrah manusia jadi melenceng, pemikiran kita tertutup untuk hal-hal baru. Kumaha…..

  4. Terkadang kekurangan membuat gerak-gerik kita menjadi terbatas (karena faktor kemiskinan), terkadang kelebihan membatasi gerak-gerik kita juga karena sudah banyak kelebihan hartanya sehingga hanya ada rasa takut kalau jalan sendiri ditodong penjahat, takut kalau ninggalin rumahnya akan dimaling orang dll …ya pokonya serba takut.
    jadi menurut hemat saya harus belajar saling melengkapi antara kekurangan dan kelebihan karena tidak mudah untuk belajar menyeimbangkan kedua sisi tsb. karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi ke dua prilaku ini, hanya saja yang paling sulit yaitu mempertahankan untuk tidak sombong jika kita sudah mempunyai kelebihan juga sebaliknya jika mempunyai kekurangan janganlah untuk takut membuat suatu perubahan dan belajar untuk mendapatkan kelebihan yang tidak kita miliki, dengan demikian kita mempunyai sense self corection di dalam diri kita, seperti halnya kita berjalan di tempat umum kapan harus lurus, kapan harus belok kiri dan tahu kapan harus belok kanan segala sesuatu ada didaam diri kita yang mempunyai sensor untuk perubahan ini.