Friday , April 29 2016
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Beda Tipis Antara Kekurangan Dan Kelebihan

Beda Tipis Antara Kekurangan Dan Kelebihan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika kecerdasan emosional itu berarti bagaimana seseorang bisa mengelola dirinya sehingga mampu bersikap positif. Bersedia menerima keutuhan diri sendiri. Sanggup mengoptimalkan kemampuan dirinya untuk hal-hal positif dan produktif, serta bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Maka, saya mencalonkan sebuah nama untuk masuk kedalam jajaran orang-orang cerdas secara emosional. Tahukah anda, siapa orang yang saya calonkan? Tukul Arwana. Ada yang sependapat dengan saya? Sebaiknya anda sependapat saja. Sebab, jika tidak, anda harus bisa menjelaskan hal yang sebaliknya.

Sebelum melanjutkan pembahasan ini; saya akan menyampaikan satu hal. Jika Amerika memiliki Oprah Winfrey. Maka. Bagi Indonesia. Tukul Arwana adalah anugerah. Jika anda ingin menyamakan Tukul dengan Oprah. Silakan saja. Saya hanya mengatakan Tukul Arwana adalah sebuah anugerah. Itu saja.

Saya tidak akan membahas profil Mas Tukul, yang belakangan ini sudah sedemikian gencarnya diulas, dioles, dan digini-gituin; oleh media. Saya hanya akan menyampaikan sebuah filosofi yang saya coba resapi dalam diri saya. Filosopi yang disampaikan oleh Mas Tukul dalam salah satu episodenya. Saya tahu, anda mendengarnya juga dari beliau. Tetapi, mari kita cek, sejauh mana kita bisa menyerap pesan dibalik filosofinya itu.

Hasil terawangan saya kepada layar monitor Lap top nya Mas Tukul menunjukkan bahwa; ternyata Mas Tukul ini mempunyai sebuah frase yang sangat bermakna. Frase itu berbunyi demikian: “Kekurangan, jika kita dapat memanfaatkannya; akan berubah menjadi kelebihan. Dan kelebihan, jika kita tidak dapat memanfaatkannya akan berubah menjadi kekurangan.”

Saya bertekuk lutut. Setuju dengan pernyataan itu. Mas Tukul. Jika boleh saya menganggapmu sebagai guru. Ijinkan saya untuk memanggilmu Pak Guru.

Jika anda mendengar dari ucapan saya. Atau membaca dari artikel saya. Tentang kalimat-kalimat kebijaksanaan. Maka anda layak bertanya; “Dari mana Dadang mendapatkan kalimat kebijaksanaan yang diucapkannya?.” Dengan kata lain, anda sebaiknya bertanya: “Benarkah kalimat kebijaksanaan itu datang dari dalam diri seorang Dadang? Tidakkah ada kemungkinan Dadang sekedar menjiplak kalimat itu dari buku-buku yang pernah dibacanya; atau dari pelatihan-pelatihan yang pernah diikutinya?” Anda boleh mempertanyakan hal itu.

Tetapi, kepada pernyataan Pak Guru Tukul itu, saya tidak ingin melakukan hal yang sama. Sebab, yang lebih penting bagi saya; bukanlah siapa yang mengucapkannya. Melainkan, orang yang melakukannya dalam aktualitas kehidupan nyata. Dan. Pak Guru Tukul. Sudah melakukannya dengan baik. Dengan apa yang dilakukan Pak Guru Tukul, kata-kata menjadi tidak terlampau bermakna. Sebab, karya nyata sudah dilakukannya didepan. Terimakasih Pak Guru Tukul. Karena telah memberi saya nuansa lain, tentang sebuah proses pembelajaran.

Kita. Pada umumnya manusia. Terlampau sering terjerat dalam kekurangan yang kita miliki. Alih-alih mengarahkan kekurangan itu dalam tindakan yang positif dan produktif. Kita cenderung menyesalinya. Kita malu karenanya. Kita ingin kekurangan itu bukan menjadi bagian dari diri kita. Kita ingin membuangnya. Dan jika kita tidak mampu melakukannya; kita memilih untuk menyembunyikan diri. Menjauh dari pergaulan. Dan mengurung diri dalam dunia penyesalan. Dan kekesalan.

Kita. Pada umumnya manusia. Terlampau sering terpukau oleh kelebihan yang kita miliki. Jika kita merasa diri ini pintar. Maka, kita merasa tidak layak untuk melakukan pekerjaan tertentu. Yang. Meskipun halal. Kita menganggapnya bukan pekerjaan yang layak untuk orang intelek seperti kita. Mendingan menganggur saja, dari pada harus melakukan pekerjaan ’dirty handed’ semacam itu. Embarasing banget, tau gak sih….

Pak Guru Tukul. Telah berhasil membuka cakrawala kita; tentang makna dari kekurangan dan kelebihan. Dia bangga dengan kekurangannya. Memang sih, aneh juga kekurangan Pak GuruTukul itu. Kita kadang bingung; sebenarnya Mulut Pak Guru Tukul itu kekurangan atau kelebihan. Tetapi, Pak Guru Tukul sendiri, tanpa mesti mengalami kebingungan yang sama; menyebut bibirnya itu sebagai kekurangan. Dan sekaligus menjadikan kekurangan itu sebagai sebuah kelebihan yang sulit ditandingi, baik oleh orang-orang yang seprofesi dengannya; maupun tidak.

Kita? Coba saja anda ingat-ingat. Kita ini sering sekali terpenjara oleh ruang sempit keserba kekurangan diri kita. Lalu kita diam, tidak kemana-mana. Kita sering terjerat oleh tali ikatan kelemahan. Lalu kita membiarkan diri sendiri dinina bobokan oleh buaian omong kosong yang berbunyi; Yo wis tho rek. Wong nasib aku yo koyo ngono. Lalu