Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Teman saya, seorang lelaki yang saya hormati. Seorang yang boleh dikatakan pakar dalam bidang pekerjaannya. Pakar karena perjalanan panjang pengalamannya. Suatu ketika, kepadanya diserahi tugas untuk membantu seorang anak muda untuk mempelajari bidang keahlian yang dimilikinya, selama proses adaptasi. Anak muda itu, memang mempunyai kualifikasi histori pendidikan yang tinggi di luar negeri. Maka pada pekerjaan pertamanya itu, dia sudah menduduki posisi yang terbilang menggiurkan. Memiliki ruang kerja sendiri. Dan kemudahan, serta fasilitas lainnya.
Dalam sebuah perbincangan, kepada saya beliau menuturkan kegundahannya dalam ’mendidik’ intelektual muda yang satu ini. Saya menyebutnya intelektual muda untuk dua alasan. Pertama, dia jebolan sekolah keren dengan reputasi baik. Kedua, anak ini memang masih muda, dibandingkan saya sendiri. Jadi, gak berlebihan kan, kalau saya menyebutnya begitu.
â€Gayanya itu lho..†kata beliau. â€Seakan-akan dia sudah tahu segalanya.â€
â€Ya, mungkin memang dia sudah tahu segalanya,†saya menimpali. Sahabat saya melotot. Dan saya terus mengunyah potongan daging ayam asam garang, sambil berpura-pura tidak menyadari kekesalannya karena komentar saya yang seenaknya. Enak memang. Seenak ayam garang asam ini.
â€Palelo peang!†makian yang biasa itu muncul. â€Tahu segalanya? Omong kosret!â€
â€Lho iya toh?†saya bilang.
â€Iya. Tipikal new kids on the block.â€
“What’s wrong with new kids on the block? We all have been on the new kids on the block stage as well…†Kali ini, sendok saya menyodok kuah asam garang. Lalu menyodorkannya ke mulut saya yang seksi seperti bibir Dennis Rodman. Sluruuuuuupppp…. Segar. Manis. Asem. Pedas. Rasanya; ‘Mak Nyosss…’ kalau Pak Bondan bilang.
“Dia cuma tahu text book, man, text boooooook…!†kekesalan tidak habis-habisnya tertumpah ruah.
“Tahu.†Saya menjawab santai. “Makanya boss minta elo ngajarin dia dunia nyata.â€
â€Ogah!†sanggahnya cepat-cepat.
â€Emang, elo berani nolak perintah bos?†Dia nyengir. â€Lagian, nape sih elo kok gitu-gitu amat? Sentimen lo ya?.â€
â€Pokoknya gue nggak mau ngajari orang yang sok tahu.†Dia menggigit kerupuk seakan hendak menumpahkan semua kekesalan itu pada benda renyah rapuh itu. Krek. Kress. Krauss. Krushyak. Itu kerupuk, remuk-remuk.
Sampai kami berpisah untuk bekerja kembali, kekesalan sahabat saya masih terus-menerus menghantui lahir dan batinnya.
Saya yakin anda pernah membaca atau mendengar sebuah kisah klasik tentang seorang bijak yang tengah mengajari muridnya kerendahan hati ala seorang pembelajar. Kisah ini juga pernah diadaptasi dan ditayangkan dalam salah satu episode sebuah serial tivi yang dibintangi Pak Dedi Mizwar.
Sang bijak berkata;â€Tolong tuangkan air dicerek itu kedalam gelasku anak muda.â€
“Baik guru.†Dengan sigap muridnya menyambut. Diangkatnya cerek itu lalu disodorkan lubang pancurannya ke mulut gelas dalam genggaman sang bijak.
Ketika air keluar dari cerek, sang guru menggeser letak gelasnya; hingga posisinya lebih tinggi dari mulut cerek. Maka bertumpahanlah air itu diatas lantai yang menjadi basah karenanya. Si murid terkejut. â€Uh, m-maaf guru,†dia berkata gugup. Lalu tanganya kembali menggerakan cerek. Ia kembali menuangkan air kedalam gelas sang guru. Lagi-lagi gurunya mengangkat gelas itu menjadi lebih tinggi. Dan bertumpahan pulalah airnya kembali. Sekali lagi.
Untuk kejadian pertama, si murid dengan mudah bisa memakluminya. Kejadian kedua, dia mencoba bersabar. Dan ketika hal itu terus berulangkali terjadi; kesabarannya sudah habis; â€Baiklah guru, sebaiknya kau ambil sendiri saja air ini.†geramnya. â€Saya sudah tidak mau lagi menuangkannya untukmu.â€
Langkah minggatnya terhenti oleh suara sang guru. â€Itulah kenapa, setiap orang yang ingin belajar, harus bersedia menurunkan ketinggian hatinya….†Si murid menoleh. Sang bijak seolah-olah tidak hendak menatapnya. Ia sibuk merapikan kain sorban yang melilit dilehernya.
â€Maksud guru?â€
â€Engkau tidak akan pernah bisa belajar, jika masih membiarkan dirimu tenggelam dalam sikap tinggi hati.†katanya. â€Siapapun gurunya, dia tidak akan bisa mengajarimu apa-apa.†lanjutnya. â€Karena dengan ketinggian hatimu, setiap pelajaran yang diberikannya, hanya menjadi tertumpah-tumpah.â€
Jika anda seorang murid. Maka, inilah saatnya bagi anda untuk melihat, setinggi apakah anda meletakkan hati anda? Boleh saja anda berpendidikan formal lebih tinggi. Bisa saja uang anda lebih melimpah ruah. Tetapi, jika anda tidak memiliki kerendahan hati, anda tidak akan pernah bisa mendapatkan pelajaran dari orang yang anda anggap rendah.
Dan, jika anda bersikukuh menganggap diri lebih pintar dari guru yang akan megajari anda, sebaiknya, anda pergi saja. Cari guru yang anda anggap layak mengajari anda yang pintar itu. Sebab, tinggal bersama guru yang anda anggap bodoh itu tidak lebih dari sebuah kesia-siaan saja. Apapun yang diajarkannya kepada anda, tidak akan masuk kedalam gelas pembelajaran anda.
Jika anda seorang guru, pelatih, pendidik, atasan, konsultan, apa saja. Maka tugas anda adalah memberikan yang terbaik untuk mereka. Memang, kadang-kadang, kita harus mengangkat cerek ini lebih tinggi lagi, sehingga; mampu mengimbangi gelas sang murid yang memang letaknya sangat tinggi. Dan tak dapat turun lagi. Tetapi, Tuhan tidak selalu melihat anda dari hasil akhir yang didapatkan. Melainkan juga, dari perjalanan kata demi kata yang anda ajarkan. Setiap huruf yang anda tuliskan. Setiap abjad yang anda lafalkan. Dan setiap kosa yang anda ejakan. Dan setiap kalimat kebijaksanaan yang anda sebarkan. Dan setiap nafas, yang anda hembuskan; untuk membawa murid-murid anda kepada kemuliaan. Untuk itu semuanya. Tuhan. Sudah. Mencatatkan.
Catatan kaki:
- Mana yang bener; ’ceret’ atau ’cerek’?
- Ada yang punya resep Ayam Garang Asem? Tolong dong bagi-bagi. Biar orang-orang bisa bikin dirumah. Lagian, Ayam itu aman dimakan. Asal jangan yang kena flu burung.
- Buat teman gue yang diceritain ini; tenang saja. Identitas elo aman. Gue ceritain karena sudah melewati masa kadaluarsa. Elo nggak bisa minta royalti. Hoho, jangan-jangan elo sendiri sudah lupa kali, ya. Bagus lah hai. Eh, ngomong-ngomong, dimana tuh ‘anak muda’ itu sekarang? Gue yakin dia bakal berubah. Suruh aja baca Gue-Blog ni… Beberapa tahun lagi, mungkin sudah bisa jadi boss. Dia punya potensi, man!
- Jangan lupa untuk subscribe supaya selalu dapat kiriman artikel-artikel baru dari Gue-Blog
artikel bagus dan mencerahkan dunk…eh dang..
ente masih tinggal di depok kan?
Thanks Bob.
Masih.
artikelnya banyak yang menarik, kalau bisa kirim ke saya artikel yg sifatnya motivasi untuk diri sendiri dan masrakat lingkungan kecil , terima kasih sebelumnya
#3. Terimakasih Pak. Artikel terbaru akan secara otomatis dikirim via email dengan cara subscribe email alert
artikel yang cukup menarik untuk disimak oleh seluruh lapisan masyarakat.Bangsa kita harus menjadi bangsa pembelajar yaitu belajar dari siapapun.kirim dong ke email-Q
terimakasih artikelnya,, menjadikan saya untuk berubah menjadi yang lebih baik.. tolong besok kirim lagi yaaa…. thanks
Garang Asem Ayam.. yang terkenal dari Purwodadi Jawa Tengah. Saya punya Mama sering buat, gak kalah nikmat. But, trust me… lebih enak beli koq. Toh, saya percaya Pak Dadang bahkan sanggup membeli rumah makan garang asem itu plus seluruh isinya ..
Tetap semangat,
Mantap man, kerendahan hati memang barang yang murah tetapi tidak murahan. gampang dicari tapi tidak mudah didapat…