Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi salah seorang famili di sebuah komplek perumahan. Diantara rumah-rumah tinggal yang indah. Taman-taman yang menawan. Dan rerumputan yang menghijau berkilau memantulkan cahaya matahari keperakan. Samar-samar saya melihat di kejauhan seekor anjing yang lucu berlari-lari kegirangan. Anjing itu terlihat sehat. Dan bahagia. Sayangnya, leher anjing itu terikat oleh seutas rantai berbalut bahan kulit berwarna kecoklatan. Dan diujung rantai itu, seorang lelaki paruh baya menggenggamnya. Sebagai orang yang juga pernah memiliki anjing kesayangan dimasa kecil, saya faham benar bagaimana senangnya berjalan-jalan dengan anjing terbaik yang kita miliki. Saya melakukan hal yang sama dengan sang pemilik anjing itu. Bermain, bersenda gurau, berkejar-kejaran.
Tetapi, kenangan manis saya segera buyar begitu saja. Anda tahu kenapa? Sang anjing dan pemiliknya berhenti di pinggir jalan berumput hijau, persis didepan sebuah rumah yang indah. Halamannya dihiasi beragam tanaman dan bunga-bungaan, sehingga pastilah sang pemilik rumah merupakan orang yang begitu sayang pada taman dan tanamannya. Bahkan, rumput di areal yang memisahkan ruang antara halaman rumahnya dengan jalan komplek itu juga ditatanya dengan sangat rapi. Ketika si anjing membuang kotorannya diatas hamparan rumput hijau yang terawat apik itu; tuannya, menunggui tanpa rasa bersalah. Inilah yang membuat kenangan manis saya hancur lebur.
Kita tidak bisa memaki seekor anjing dengan: Dasar anjing! Kenapa? Karena anjing tidak tahu harus merespon apa. Tetapi, sang pemilik anjing, tentu saja boleh diasumsikan memiliki tata krama yang pantas dimiliki setiap manusia berbudaya. Namun, dari caranya membiarkan anjing itu membuang kotoran, saya ragu jika beliau tidak sengaja membiarkannya. (Sekedar rahasia kecil saja; anjing yang dikurung dan tidak dibiarkan berkeliaran; secara periodik akan meminta dilepaskan untuk mencari tempat buang air. Dalam banyak situasi, para pemilik anjing memang sengaja membawa keluar anjingnya untuk itu).
Jadi, apakah kita boleh mengumpat: ’Dasar pemilik anjing!’ ?
Saya tidak berani melakukannya. Saya hanya bergumam dalam hati, dan membayangkan; ’seandainya pemilik rumah tahu kalau tetangganya dengan santai membawa anjingnya sekedar untuk membuang kotoran di depan rumah indah itu…..†Oh!
Ketika peristiwa itu sudah hilang dari ingatan saya; teman saya tiba-tiba saja mengeluhkan sesuatu. Tahukah anda apa yang dikeluhkannya? Kelakuan tetangganya satu blok yang memelihara anjing. Dan saya yakin bahwa anda tahu persis, persoalan apa yang dikeluhkannya. Berani menebak? Tepat sekali. Suatu pagi, ketika teman saya mengambil cuti dari kantor, dia memandang taman di halaman rumahnya dari balik kaca. Tentu saja ia bisa dengan leluasa melihat keluar, tetapi orang diluar tidak dapat melihat apapun didalam rumah. Ketika itulah teman saya ini memergoki seorang lelaki paruh baya menuntun anjingnya, dan membiarkannya membuang kotoran persis didepan rumahnya dipinggir jalan. Padahal, rumput jepang yang tebal bak permadani dari persia itu dengan susah payah dirawat dan dipeliharanya.
â€Ingin aku tonjok saja muka orang itu!†katanya dengan suara berapi-api.
â€Terus, kamu tonjok dia?†saya menggodanya. Tentu saja saya mengharapkan dia berkata, tidak.
â€Ya tidaklah….!†katanya dengan nada kesal.
â€Kenapa tidak?†saya kembali menggoda.
â€Gila, apa? Gue mesti berantem sama tetangga hanya gara-gara kotoran anjing?†geramnya.
â€Baguslah kalau begitu.†saya masih santai.
â€Apanya yang bagus?†dia kembali ngambek.â€Muke dia yang bagus, rumput jepang gua belepotan.â€
â€Ya tinggal dibersihkan saja toh? Gak usah ribut-ribut.†saya bilang.
â€Bagaimana gua nggak ribut. Selama ini gua pikir anjing liar yang suka buang air disitu.†timpalnya. â€Ee…, tahunya, tua bangka itu sengaja menjadikannya WC umum.â€
â€Kenape elo nggak bilang baek-baek sama dia?†saya bilang.
â€Memangnya elo bisa ngomong baek-baek gimana kalau darah elo udah diubun-ubun?â€
â€Gini.†saya bilang. â€Elo bilang aja: Bapak, terimakasih selama ini telah memberi pupuk untuk rumput jepang saya…â€
â€Haaa..? Gak salah lu?†dia protes.
“Sabar, Man. Biar gue terusin dulu.†Saya bilang. “Tetapi pupuknya sudah cukup. Jadi tolong jangan membawa anjing Bapak untuk buang kotoran ditempat ini lagi.â€
â€Kagak pake! †dia membentak. Dia tidak menurunkan tangannya dari pinggangnya. â€Gua laporin RT aja kali ya ? †Sambungnya beberapa saat kemudian.
â€Duh, kasihan Pak RT. Masak tugasnya hanya mengurusi kotoran anjing seperti itu,†saya kembali mengolok.
â€Ya jadi gimana, dong?†dia semakin putus asa. “Gue racunin anjingnya?â€
â€Hohoho, jangan begitu. Itu kriminal.†saya bilang. â€Elo bisa masuk penjara gara-gara urusan sepele begitu.â€
â€Masa iya ngeracunin anjing bisa masuk penjara segala?â€
â€Lha, kalau umpannya dimakan yang punya anjing gimana?†saya buru-buru menepis. â€Bisa saja toh? Pokoknya jangan inkonstitusional gitu.â€
Saya tidak tahu persis, bagaimana teman saya menyelesaikan masalah ini. Dia tidak pernah komplain lagi. Dan saya tidak pernah menanyakan hal itu lagi. Atau, mungkin dia menganggap saya adalah konsultan yang buruk untuk urusan seperti itu. Maaf, subject itu tidak ditemukan dalam kurikulum di Harvard Business School sekalipun. Baiklah, ini memang bukan bidang saya. Tetapi, saya berharap para pemilik anjing peliharaan menyadari etika yang harus dihormatinya. Sehingga, para tetangga mereka tidak disusahkan oleh pupuknya yang ’dengan sengaja’ dibuang secara serampangan. Agar setiap hari, para tetangganya bisa bangun pagi. Memandang halamannya yang asri dan bersih. Lalu bergumam:
Hore,
Hari baru!
Catatan kaki:
- Anda punya anjing? Lengkapilah itu dengan etikanya sekaligus. Menyediakan tempat khusus bagi anjing anda untuk pup mungkin merupakan pilihan yang sangat bijaksana. Tetapi, jika anda bersikukuh bahwa tindakan itu wajar, sebaiknya lakukan saja dihalaman rumah sendiri. Tidak perlu mengantarkan anjing anda ke halaman rumah orang lain.
- Anda tidak punya anjing? Bersabar-sabar saja. Jika itu menimpa anda, bicarakanlah baik-baik dengan sang pemilik anjing. Jangan sama anjingnya. Pasti beliau mau mengerti. Paling tidak; itu tidak akan diulanginya lagi selagi anda di rumah. Lumayan, kan?
- Anjing yang diajari tata krama dan bertingkah laku baik, dijamin masuk sorga khusus para anjing. Disana mereka bisa ketemu dengan anjing baik lain seperti Snowy, Leslie, Rin Tin Tin, Buddy, dan Scooby Doo. Kalau anjing anda masuk sorga, maka mereka juga bisa bertemu dengan anjing saya. Cari saja, namanya: Boppy, Bruno, Morry, dan Dorris. Hi guys, I really miss you. Thank you for spending your whole life time with me, when I was a little boy in the village. I love you all. Here in my heart. Forever.