Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Mungkin, nama Christopher Morley tidak terlalu familiar ditelinga anda. Tetapi, setiap orang bisa belajar dari apa yang pernah dikatakannya : “The fellow who doesn’t need the boss, is often selected to be one”. Seseorang yang sanggup melakukan tugas-tugasnya, sekalipun tidak ada atasan yang mengawasi dan menunjukinya, seringkali adalah orang yang menjadi boss besar dikemudian hari.

Seorang pemimpin pasti bukan orang yang melakukan tugas dengan baik hanya jika ada orang yang mengawasinya, atau atasan yang setiap saat harus menunjukinya tentang ini dan itu. Seorang pemimpin, – seperti kata Christopher Morley tadi – tidak membutuhkan orang lain untuk memacu kinerjanya secara konsisten dan produktif. Seorang pemimpin adalah orang yang sanggup untuk tetap bertengger pada puncak kinerjanya; entah ada orang lain yang menyuruhnya untuk melakukan itu, atau tidak. Morley juga mengisyaratkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah sikap yang sangat pribadi. Karena, tak seorangpun mampu menumbuhkan sikap ini didalam diri seseorang, selain orang itu sendiri.

Apakah “pemimpin” menduduki jabatan penting dikantornya? CEO itu jabatan penting. Middle Management penting. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa tanpa staf yang melaksanakan konsep bisnisnya. Jadi, kepemimpinan tidak berhubungan langsung dengan jabatan. Ada sebuah cara sederhana, untuk mengukur apakah anda berbakat untuk menjadi pemimpin atau tidak. Tanyakan pada diri anda; Apakah atasan anda terbantu atau terbebani oleh anda ? Apakah kelompok anda terangkat atau terpuruk karena anda? Apakah, sesuatu menjadi lebih baik atau lebih buruk ditangan anda? Apakah anda ‘sekedar’ bekerja atau melengkapinya dengan nilai-nilai keutamaan. et cetera.

Apakah “kepemimpinan” muncul dengan sendirinya? Sama sekali tidak. Anda harus menanam benihnya terlebih dahulu. Dan menyiraminya setiap hari. Anda perlu berlatih untuk mematangkannya. Anda perlu bereksperimen untuk mengetahui mana yang positif dan mana yang hanya membuang sumberdaya saja; alias sekedar indah & nikmat melakukannya, tetapi tidak memberi anda manfaat dan nilai tambah apa-apa. Pendek kata: Anda perlu menciptakannya sendiri.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk itu, tetapi hanya sedikit saja yang mau memanfaatkannya. Dan kalau saja anda membutuhkan tempat latihan untuk itu; anda tidak usah mencari ketempat manapun didunia ini, kecuali pada tempat dimana saat ini anda berada. Pikirkan, apa yang bisa anda lakukan untuk memberikan sebuah perbedaan positif disana. Lalu lakukanlah. Anda tidak perlu takut, sebab sekalipun mungkin pada awalnya anda gagal; setiap kegagalan yang terjadi, akan membuahkan pelajaran berharga. Dan membantu anda untuk tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya anda memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi itu. Dijamin.

Hore
Hari Baru!

Catatan kaki:

  1. Kita sering terjebak pada jabatan. Jabatan sama sekali tidak menujukkan kualitas kepemimpinan seseorang. Banyak orang dengan jabatan tinggi, tetapi tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang memadai. Tetapi, kita bisa menemukan orang-orang yang tidak menyandang jabatan tinggi; akan tetapi, orang-orang disekitarnya tidak meragukan kualitas kepemimpinannya.
  2. Banyak orang yang menunggu dipromosikan terlebih dahulu, baru kemudian menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Sebuah kekeliruan besar. Justru ketika anda tidak memegang jabatanlah saat terbaik bagi anda untuk menunjukkan siapa pemimpin yang sesungguhnya.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam



posted at June 16th, 2007 - 4:54 pm in Inspirational | Email This Post  | Post 2 PDF | Jump to Top

Comments

7 Responses to “Ingin Menjadi Pemimpin?”

  1. Yudha on June 23rd, 2007 6:00 pm

    Pak, terkadang disadari atau tidak, untuk menuju “Pemimpin” kita menggeser beberapa senior..kog rasanya saya kurang sreg ya.. bagaimana menghilangkan rasa itu atau kalau merasa seperti itu “apakah berarti saya bukan calon pemimpin?”

  2. Dadang Kadarusman on June 24th, 2007 12:02 pm

    #1. I like this question. Jika terlampau fokus kepada hirarki, memang kita bisa terjebak pada pandangan seperti itu. Tetapi mesti diingat bahwa kita mengenal pemimpin formal yaitu orang-orang yang secara struktural memegang jabatan yang lebih tinggi, dan pemimpin informal yaitu orang-orang yang meskipun tidak mempunyai jabatan struktural atau posisi sebagai pemimpin tetapi secara faktual mampu memberikan pengaruh yang kuat terhadap keputusan atau tindakan kelompok.

    Banyak orang yang tetap kosisten dalam kepemimpinan simpatik, tanpa mempertanyakan ‘apakah gue bakal mendapatkan jabatan atau tidak?’

    Memangnya kalau kita punya ambisi itu salah? Tidak juga. Jika kita bisa mengelolanya secara sehat. Nah, untuk mereka yang masuk dalam kelompok ini; ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, budaya perusahaan atau nilai-nilai yang berlaku di lingkungan tempat kita bekerja. Perusahaan-perusahaan yang baik percaya pada prinsip ‘equal employment opportunity’. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama, tanpa memandang senioritas. Siapa yang bisa menunjukkan kinerja terbaik, dialah yang akan mendapatkan kredit atau penilaian yang terbaik, dan tentunya mendapatkan reward yang terbaik. Promosi tidak didasarkan kepada senioritas, melainkan kemampuan individu-individu yang ada. Bahkan, jika perusahaan tidak menemukan pegawai yang layak untuk menempati posisi tertentu misalnya; mereka tidak ragu untuk merekrutnya dari luar. Jadi, senioritas sudah sejak lama ditinggalkan oleh para pengelola perusahaan modern.

    Kedua, nilai-nilai pribadi kita sendiri. Meskipun system di perusahaan memberikan keleluasaan dan kesempatan yang sama kepada setiap karyawan, namun jika kita sendiri membatasi diri dengan system nilai yang tidak konstruktif, maka kita tidak akan pernah bisa mengembangkan diri secara optimal. Lagipula, jangan-jangan itu hanya perasaan kita saja. Padahal senior-senior kita tidak menganggapnya demikian. Pertanyaannya sederhana saja; apakah kita benar-benar lebih baik dari senior kita? Jika memang benar begitu; tunjukkan kelebihan itu pada kinerja nyata kita, serta kontribusi yang bisa kita berikan kepada perusahaan. Toh perusahaan akan tahu juga siapa yang layak untuk mendapatkan promosi. Bagaimana jika organisasi kita benar-benar mendahulukan senioritas? Kenapa mesti khawatir? Jika kita benar-benar berkualitas tinggi, tetapi tidak mendapatkan perlakuan yang layak; maka perusahaan lain akan menemukan kita. Sama seperti anda, jika seseorang membuang berlian; anda pasti akan memungutnya, bukan? Jika yang dibuangnya adalah sampah? Anda sama tidak pedulinya. Pertanyaannya; benarkah anda seorang berlian? Tunjukkan keberlianan anda, jika demikian. Kalau anda bisa melakukannya, maka sudah pasti kinerja anda akan menjadi istimewa. Dan semuanya akan baik-baik saja.

  3. FEBRI on August 2nd, 2007 5:30 pm

    PAK AKU ADA MASALAH SAYA TDAK BISA MENUNTUN ANAK BUAH SAYA GMANA YAH

  4. Dadang Kadarusman on August 3rd, 2007 7:41 am

    #3. Baiklah Ibu. Jadi Anda bermasalah karena merasa tidak bisa menuntun anak buah anda. Ini tips dari saya; Coba Anda perhatikan, apakah anak buah anda buta? (Pertanyaan macam apa ini?) Haha, jawab saja; anak buah anda buta apa tidak? Tidak buta, baiklah. Jika anak buah anda tidak buta; maka anda TIDAK BERKEWAJIBAN untuk menuntun dia; karena hanya orang buta yang perlu dituntun. Itu tip pertama. Kedua, Cobalah anda berfokus kepada 2 hal yaitu (1) hasil kerja/performance atau pencapaian anak buah anda, dan (2) proses yang ditempuh dalam mencapainya. Jika kedua hal diatas terpenuhi, artinya, dia mempersembahkan hasil kerja sesuai yang diharapkan oleh perusahaan, dan melakukannya dengan baik/etik; maka tidak ada yang salah dengan orang itu. Setiap orang berbeda; sehingga kita sebagai atasan dituntut untuk bisa memahami dan menerima perbedaan itu. Dan cara pendekatan kita sebagai atasan sangat menentukan respon dari masing-masing orang. Oke?

  5. meli on August 4th, 2007 10:16 am

    pemimpin yang baik

  6. dayat hardi on October 26th, 2007 9:39 pm

    saya punya masalah yang agak2 sama dengan bu Febri, jujur saya bingung ketika melihat kerja partner saya( maaf saya ga imgin dikatakan bapak buah he he he….) dalam bekerja sepertinya tidak ada semangat getu.. apa musti gajinya dinaikin baru bener? karena ada sebagian yang bilang seberapa saya digaji, segitu juga loyalitas saya. jadi..
    gimana caranya agar mereka menunujukan kinerja yang lebih baik?
    bagaimana dengan bonus?

  7. KURNIA on May 27th, 2008 7:29 pm

    Pak saya adalah ketua yayasan yang bergerak di jaasa kesehatan kepemimpinan kita memakai kolektifsitas ada salah satu pengurus yang tidak bisa kita kendalikan dia sering mengambil keputusan sendiri sedangkan data2 yayasan ada di dia bgmn menyikapinya