Saturday , February 16 2019
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Seberapa Banyak Keju Yang Masih Anda Miliki?

Seberapa Banyak Keju Yang Masih Anda Miliki?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Spencer Johnson menggunakan keju sebagai simbol terhadap sesuatu yang penting bagi kita. Bukan keju sesungguhnya; melainkan sesuatu yang kita ingin agar selalu menjadi milik kita; selamanya. Bagi tikus, keju itu sangat penting, sebab konon tidak ada makanan yang lebih lezat didunia ini selain keju. Dengan kata lain, keju adalah sumber energi kehidupan yang terbaik; itu menurut tikus. Menurut anda bagaimana? Bukankah anda tidak ingin sesuatu yang penting bagi anda hilang begitu saja? Jika demikian, pertimbangkanlah untuk belajar kepada tikus, bagaimana mereka memperjuangkannya tanpa kenal putus asa; sehingga, seekor tikus selalu siap untuk bertanya: “Who Moved My Cheese”?

Bagi seekor tikus; keju adalah segalanya. Bagi seorang manusia seperti kita, segalanya adalah sesuatu yang sangat kita inginkan. Itu bisa berupa pendapatan. Fasilitas kantor. Status. Kehormatan. Atau apa saja. Tanpa semuanya itu, kita merasa tidak berarti; rendah diri, depresi; dan dunia serasa sudah berakhir saja. Jika anda adalah karyawan seperti saya, maka keju bisa juga berarti kelangsungan kerja kita. Jika kita di-PHK, misalnya; kita merasa seolah kehilangan segalanya. Itulah keju. Tetapi, hey. Bagaimana kalau kita benar-benar kehilangan keju itu? Pertanyaan yang mengerikan, bukan? Tetapi, justru karena merasa ngeri dengan kemungkinan itu, maka kita berusaha untuk menjalaninya dengan baik. Sehingga suka atau tidak; aktivitas kerja menjadi santapan setiap hari.

Rupanya, begitu juga tikus bertingkah setiap hari. Dia secara rutin keluar dari sarangnya menuju ke sebuah tempat dimana keju itu berada. Dia menghabiskan waktu disana, sampai perutnya kenyang. Dan tak lupa; dia membawa pulang sebagian keju itu untuk bekalnya di rumah sebagai bahan cemilan. Begitulah rutinitas itu dia lakukan setiap hari; seperti yang dilakukannya hari ini. Hari ini, tikus itu keluar dari sarangnya, dan berangkat ketempat seperti biasanya dia tuju. Harapannya tentu saja sama; mendapatkan keju seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi, hey, ternyata, sesampainya ditempat itu; dia mendapati gudang keju yang sudah kosong; tanpa sedikitpun yang masih tersisa! Apa yang dilakukan sang tikus?

Kita, melakukan hal yang persis sama. Suatu ketika, kita bangun pagi-pagi. Pergi ketempat biasanya kita mencari nafkah. Harapan kita sama; mendapatkan nafkah seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi, hey. Kemanakah nafkah yang kita harapkan itu? Ternyata kini sudah tidak ada lagi. Apa yang dilakukan oleh sang kita?

Tikus itu hanya berhenti sejenak. Lalu dia mengendus-endus menggunakan indera penciumannya yang segera mencari; kemaaaana perginya keju itu? Tahukah anda akhirnya tikus itu menyadari bahwa keju sudah berpindah dari gudangnya ke…perutnya sendiri? Keju itu sudah habis!

Jadi, apa yang tikus itu lakukan? Pulang ke sarangnya sambil menangis tersedu-sedu? Turun kejalan sambil mengusung poster-poster berisi kecaman dan kemarahan? Mengambil batu dan melempari kaca-kaca jendela gudangnya hingga luluh lantak? Atau, datang kepada sang pemilik keju lalu mengajak mereka berkelahi? Tidak. Tidak demikian. Tikus itu memilih untuk terus mengendus. Mencari kesana kemari. Berusaha untuk menemukan gudang keju yang baru.

Jadi apa yang sang kita lakukan? Kita berhenti. Termenung ditempat itu. Lalu membiarkan diri sendiri diasapi oleh kekecewaan. Frutrasi. Dan putus asa. Mengapa sumber penghasilan saya tiba-tiba hilang? Begitu teriak kita. Kita tidak mau mengerti bahwa tidak ada sumber pendapatan yang langgeng. Sekarang bisnis kita sedang baik, besok bagaimana? Sekarang boss masih mau mempekerjakan kita; besok apakah tidak akan ada PHK? Tidak ada yang menjamin semuanya itu. Lalu, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi pada kita? Apa yang kita lakukan? Berdemo. Atau tidur siang yang panjang.

Tikus itu terus mengendus. Bergerak. Mencari, terus tanpa terputus. Kita ini terus tercenung. Meratapi dan menyesali; “Mengapa ini mesti terjadi!?”

Tikus itu berjalan terus. Kita ini terdiam terus menerus. Tikus itu terus melaju. Kita ini terus terpuruk. Dan, ketika tikus itu menemukan gudang baru yang penuh berisi keju; dia melompat gembira. “Hore! Aku tiba digudang keju yang baru.” Perjalanan yang melelahkan itu telah membawanya kepada ujung yang menyenangkan: “Hore, Gudang keju yang baru!” katanya. “Hore! Hari Baru!”, teriaknya sekali lagi.

Apa yang terjadi pada si ‘kita’ itu?
Teman kita, yang namanya ‘kita’ itu masih terdiam ditempat yang sama. Menyesali nasibnya; dengan tubuh yang sama sekali tidak terawat lagi. Samar-samar ia mendengar suara sang tikus; “Hey! Ayo bangkit lagi!” katanya. “Jangan hanya berdiam diri. Ayo temukan kembali gudang kejumu sendiri!” ia memberi semangat.

Kata kita si teman kita; “Dimana adanya gudang kejuku yang baru?”
Lalu si tikus menjawab:”Aku tidak tahu.” Katanya sambil mengangkat bahu.
“Kalau kamu tidak tahu,” kata si kita. “Bagaimana aku bisa menemukannya?” ia kebingungan.
“Kamu harus menemukannya sendiri, kita!” kata si tikus.
“Aku tidak akan bisa.” Kata si kita manja.
“Mengapa tidak bisa?” desak si tikus.
“Karena aku tidak tahu bagaimana caranya…” si kita merengek.
“Maukah kamu kuberitahu?” si tikus menimpali dengan bijaknya.
Si kita menatap si tikus dengan pandangan yang ragu-ragu. Lalu si tikus menganggukkan kepalanya mengukuhkan sebuah keyakinan. “Aku sudah menemukan gudang kejuku,” katanya. “Dan akan kuberi tahu dirimu bagaimana aku melakukannya.” Ia melanjutkan.

“Baiklah,” kata si kita. “Katakan kepadaku jika begitu.”
“Sederhana saja,” timpal si tikus.
Si kita memasang telinga, dan si tikus kembali berpesan:
”Jangan pernah berhenti mencari, sampai kamu menemukannya.”

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:

  1. Pernah berurusan dengan tikus? Jangan tanya betapa sulitnya mengimbangi kegigihan tikus. Jika tikus sudah menghendaki sesuatu di rumah Anda, maka dia akan melakukannya sampai dapat. Anda mungkin bisa menjebaknya. Tetapi anda tidak mungkin bisa menaklukannya. Anda lebih sering dikalahkan oleh tikus daripada anda yang mengalahkannya. Jika anda tidak percaya cerita saya; tanyakan saja kepada si Tom; bagaimana dia selama puluhan tahun telah diperdayai oleh si Jerry.
  2. Ada dua karakter tikus yang saling bertolak belakang; negatif dan positif. Kegigihan adalah ciri positifnya. Dan kerakusan adalah ciri negatifnya. Ada manusia yang meniru sifat negatif tikus; sehingga jadilah mereka pencuri rakus yang bersembunyi dibalik jas dan baju bagus. Ada orang yang meniru sisi positifnya; sehingga mereka tampil sebagai manusia dengan sikap pantang menyerah. Ada juga orang yang memborong kedua-duanya. Termasuk kelompok manakah anda?

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.