Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Dewa keberuntungan. Itukah yang kita perlukan? Tampaknya tidak demikian. Bahkan, seorang penjudi sejati sekalipun tidak begitu percaya kepada yang namanya dewa keberuntungan. Dalam konteks karir, saya pernah mendengar seseorang berkomentar tentang temannya yang mendapatkan promosi jabatan; beruntung ya dia bahasa inggrisnya bagus. Coba kalau nggak, pasti bukan dia yang dipromosikan. Begitu kira-kira konteks kalimatnya. Hmmm, beruntung ya? Mereka pikir bisa berbahasa Inggris itu merupakan hasil dari sebuah keberuntungan. Keliru besar. Orang ini belajar bahasa Inggris mati-matian, hingga akhirnya dia mempunyai kecakapan yang memadai. Bukan semata-mata dihadiahi segepok keberuntungan. Sampai disini, kita menemukan gambaran tentang 2 jenis manusia; pertama, manusia yang bersedia bekerja keras untuk mencapai sebuah tingkat kecakapan tertentu, dan kedua adalah manusia yang terpenjara oleh pandangan suspisius atas pencapain-pencapaian yang diraih oleh orang lain. Nah, Anda masuk kedalam kelompok yang mana? Continue reading