Mengapa Kita Tergoda Kepada Keberuntungan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dewa keberuntungan. Itukah yang kita perlukan? Tampaknya tidak demikian. Bahkan, seorang penjudi sejati sekalipun tidak begitu percaya kepada yang namanya dewa keberuntungan. Dalam konteks karir, saya pernah mendengar seseorang berkomentar tentang temannya yang mendapatkan promosi jabatan; beruntung ya dia bahasa inggrisnya bagus. Coba kalau nggak, pasti bukan dia yang dipromosikan. Begitu kira-kira konteks kalimatnya. Hmmm, beruntung ya? Mereka pikir bisa berbahasa Inggris itu merupakan hasil dari sebuah keberuntungan. Keliru besar. Orang ini belajar bahasa Inggris mati-matian, hingga akhirnya dia mempunyai kecakapan yang memadai. Bukan semata-mata dihadiahi segepok keberuntungan. Sampai disini, kita menemukan gambaran tentang 2 jenis manusia; pertama, manusia yang bersedia bekerja keras untuk mencapai sebuah tingkat kecakapan tertentu, dan kedua adalah manusia yang terpenjara oleh pandangan suspisius atas pencapain-pencapaian yang diraih oleh orang lain. Nah, Anda masuk kedalam kelompok yang mana?

Sekarang, mari kita fokuskan pembahasan kepada kelompok kedua terlebih dahulu. Supaya kita terhindar dari sikap seperti itu. Mengapa kita tergoda kepada keberuntungan, seringkali disebabkan karena kita kurang memahami makna sebuah tindakan. Kita menganggap bahwa segala sesuatunya mesti turun dari langit begitu saja, dan kita tinggal menengadahkan kedua telapak tangan untuk menampung semuanya itu. Memang sih, enak sekali jika semua kebaikan dan keinginan bisa terwujud dengan cara begitu. Tetapi apakah itu mungkin? Mungkin saja, kita bilang. Bukankah hujan juga serta merta turun tanpa harus kita cipratkan? Bukankah udara kaya oksigen ujug-ujug menyelubungi permukaan bumi tanpa kita harus bersusah payah memompanya dengan kompresor? Jadi, kenapa tidak segala sesuatunya terjadi begitu saja!

Absurd sekali cara berpikir demikian, bukan? Anda pasti setuju dengan saya soal itu. Begitu absurdnya, sehingga kita mengira bahwa orang tidak mungkin berpikir sedemikan ekstrimnya. Mana bisa hal itu terjadi begitu rupa. Kalapun bisa saja Tuhan menjadikannya demikian; rasanya kita tidak cukup bersyukur dengan kemudahan yang selama ini kita dapatkan. Sebaiknya kita sadar betapa banyaknya hal yang Tuhan berikan secara gratisan, hingga kita tahu bahwa panggilan untuk melakukan beberapa hal lainnya dalam hidup kita merupakan sebuah kehormatan. Dan jika demikian, mari sekarang ini juga kira ubah cara berpikir suspisius itu. Oke, coy?!

Sudah saatnya kita membiasakan diri untuk memandang keberhasilan yang diraih oleh orang lain secara positif dan motivatif. Positif dalam pengertian tidak menghubungkan pencapaian orang lain terhadap segala hal yang merendahkan nilai dari pencapaian itu sendiri. Orang lain lebih berhasil dari kita. Itulah faktanya. Tidak perlu kita mencari-cari pembenaran atas ketertinggalan kita. Terima saja. Positif dan motivatif. Motivatif dalam kerangka menjadikan pencapaian atau keberhasilan yang diraih orang lain sebagai pemacu kinerja kita sendiri. Jika mereka bisa, mengapa kita tidak? Iya ya. Jika mereka bisa, mengapa kita tidak? Nah, ketika bertanya; ’mengapa kita tidak’ itu, hendaklah kita selalu berfokus kepada sisi positifnya. Sehingga, pertanyaan itu menggiring kita kepada penemuan bahwa ada hal-hal yang harus kita benahi dalam diri kita. Dan ada cara-cara positif lainnya yang perlu kita coba. Supaya apa? Supaya kita juga bisa berhasil seperti mereka. Dengan demikian, secara tidak disadari anda sudah beralih dari kelompok orang kedua, kedalam kelompok orang pertama yang kita bicarakan tadi. Dan itu artinya bahwa kita sudah mulai berevolusi untuk menjadi manusia yang bersedia bekerja keras untuk mencapai sebuah tingkat kecakapan tertentu. Dan dengan begitu, kita akan bisa menemukan makna, dari sebuah usaha atau tindakan yang kita lakukan. Dan kita akhirnya akan menemukan bahwa; keberuntungan berpihak kepada orang-orang yang mengambil tindakan.

Hore,
Hari baru!

Catatan kaki:
Keberuntungan memilih untuk berpihak kepada orang-orang yang mengambil tindakan (ini bukan kata-kata mutiara)

5 thoughts on “Mengapa Kita Tergoda Kepada Keberuntungan?

  1. Pak, pernah saya baca di “The (Shocking!) Truth About Action” yaitu KESALAHAN MENDASAR TENTANG ACTION
    bahwa Anda akan mencapai apapun yang Anda inginkan dengan melakukan tindakan, kenyataannya:
    Dalam konteks ini, Anda telah menomor duakan kekuatan pikiran. 90% orang, ternyata bertindak dalam rangka mengkompensasi berbagai bentuk pemikiran yang tidak tepat.

  2. Boleh komentar yah…

    Menurut saya, Beruntung itu ada, tetapi dalam konteks”manusia berencana Tuhan yang menentukan”. Maksudnya, ada orang2 yg mampu membuat rencana yang – ndilalah – harmonis dengan apa yang ditentukan Tuhan.

    Seperti soal ‘bahasa Inggris’ di atas itu, siapa yang bisa tahu dari jauh-jauh hari bahwa ternyata akhirnya itu yang menentukan ? Maka jadilah ia orang yang beruntung !

  3. #3. Sesuatu dianggap “shocking” hanya oleh mereka yang selama ini tidak tahu atau tidak sadar. Bagi mereka yang sudah menyadarinya; itu tidak ‘shocking’, lagi. Ini adalah fakta tentang Action; bahwa, sebuah aksi – apapun itu – selalu menimbulkan konsekuensi. Jika anda melakukan sesuatu, pasti ada dampaknya. Bisa kecil, bisa besar. Bisa positif bisa negative. Apapun deh. Anda pasti tidak bisa menolak fakta itu. Itu pertama. Yang kedua, misalnya, hasil yang anda inginkan adalah “tiba dikota Bandung sebelum jam 3 sore, hari ini, dalam keadaan sehat walafiat.” Tetapi, tindakan atau action yang anda lakukan adalah: mengendarai mobil anda menuju ke Bandung jam 9 pagi.” Tindakan anda benar nggak? Benar, sampai disini. Sebab kalau anda pergi ke Afika selatan dulu, kan rada aneh. Sampai disini anda benar, karena dengan Action yang anda ambil, anda punya peluang untuk mencapai keinginan anda. Nah, bagaimana kalau ditengah jalan, anda berimprovisasi dengan ‘action’ yang lain yaitu menerjunkan mobil yang anda kendarai sampai nyebur kejurang. Anda bisa sampai ke Bandung jam 3 sore? Mungkin? Dengan sehat walafiat? Meneketehe…. Contoh gemblung ini sekedar mengajak kita berpikir; dengan Action seperti apa, keinginan kita bisa dicapai? Kita tidak bisa berharap dengan mengambil action seenak udele dhewe akan sampai pada apapun yang kita inginkan. Yang beginian mah, Oneng juga tahu. Ambil action yang tepat; agar hasilnya sesuai dengan keinginan.

    #4. Bener Banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>