Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Sebagai bangsa, kita memang sudah merdeka. Tetapi, sebagai individu, apakah kemerdekaan itu sudah benar-benar menjadi milik kita? Jika kita hidup dijaman perbudakan; maka pertanyaan ini masih sangat relevan. Saat ini, kecil kemungkinan ada orang lain yang memperbudak kita. Karena itu dilarang. Tetapi, masalah manusia jaman sekarang adalah; memperbudak diri mereka sendiri. Kalau anda diperbudak oleh orang lain, maka Komnas HAM, Polisi, Mahasiswa, dan juga Pak RT akan berduyun-duyun membebaskan anda dari perbudakan itu. Tetapi, coba anda pikirkan; siapa yang akan membebaskan anda jika yang memperbudak anda itu adalah diri anda sendiri?

Spiderman-3. Anda sudah menontonnya? Saya kira, film itu cukup sukses memberikan gambaran tentang betapa beratnya berhadapan dengan diri sendiri. Anda tahu, seberat apapun lawan yang dihadapi Spiderman, tidak pernah ada yang benar-benar membuatnya linglung. Jagoan kita itu selalu mampu bertempur habis-habisan; dan tentu saja akhirnya menang. Tetapi, apa yang terjadi ketika dia harus berhadapan dengan dirinya sendiri? Anda tahulah, tak mungkin baginya untuk menangkap diri sendiri seperti dia menangkap berandalan yang berkeliaran dijalan-jalan, bukan? Bahkan, dia kebingungan ketika mencoba mempertanyakan identitas dirinya sendiri. Ingat ketika Spiderman bergelantungan di gedung tinggi; memandang aneh bayangan dirinya dikaca mengenakan pakaian sakti berwarna hitam? Who the hell I am?

Yeah, who the hell I am? Kiranya kita boleh bertanya seperti itu juga saat bercermin. Itu bukan pertanyaan tolol orang yang sedang hilang ingatan. Itu sebuah kata penggugah untuk membangunkan diri kita sendiri. Elo kira siape, lo? Begitu kira-kira. Hey, ingat; anda tidak boleh sembarangan mengucapkan kalimat itu kepada orang lain. Karena kalimat itu menyiratkan penghinaan. Orang bisa marah karenanya. Tetapi, coba anda katakan itu kepada diri anda sendiri; Elo kira siape, lo!

Yo-i, elo kira siape lo!
Sekarang, coba cari jawabannya. Jika elo kira elo itu mahluk lemah; maka elo belum merdeka, Coy! Jika elo kira elo itu gak bisa maju seperti orang lain; elo belum merdeka, Man! Jika elo kira elo itu the master of the failures, maka elo juga belum merdeka. Pendek kate, jika elo nyerah pada kelemahan-kelemahan, atau kegagalan-kegagalan masa lalu elo; maka sebagai individu; elo belum merdeka.

Saya yakin, anda pernah bertemu dengan orang-orang yang menggunakan waktunya untuk hal-hal yang tidak menghasilkan sesuatu yang bisa membuatnya lebih bermartabat. Seakan-akan waktu bukan hal penting. Memang mereka tidak melakukan kejahatan atau tindakan yang merugikan orang lain. Tetapi, mereka menyia-nyiakan hidup mereka sendiri. Dikampung saya, ada istilah Hardolin. Ini singkatan dari Dahar – Modol (BAB) – Ulin (main). Hardolin. Sebutan ini merujuk kepada orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk sekedar Makan, Buang Air, dan Melakukan sesuatu yang tidak menghasilkan apa-apa.

Bayangkan; tidak menghasilkan. Tidak uang. Tidak kehormatan. Tidak keterampilan. Tidak ’apapun’. Saya sengaja menggunakan tanda petik pada kata ’apapun’, sebab kita tahu setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada dampaknya. Tapi, karena konteks pembicaraan kita sekarang adalah ’menghasilkan’ dalam pengertian produktif-positif, maka bolehlah kita menyebutnya; tidak menghasilkan apapun. Mereka tidak menghasilkan apapun. Tetapi, disisi lain; orang-orang ini ’Makan’. Lha, terus apa yang mereka makan kalau nggak menghasilkan? Aneh kan? Pertanyaannya barangkali bukan apa yang mereka makan, melainkan bagaimana mereka makan? Jawabnya gampang; Numpang. Jadi, mereka numpang makan kepada orang lain. Bisa kepada orang tua mereka sendiri. Bisa kepada saudaranya. Bisa kepada temannya. Kepada siapa saja. Anda menyebut apa orang macam ini; benalu? (Jangan salah mengerti tentang hal ini ya, sebab; saya tidak sedang membicarakannya dalam konteks ’saling menolong’ sesama manusia ya).

Hardolin. Dia tidak menghasilkan, dia makan, dan dia - tidak perlu pake ’(maaf)’ - Modol. Dia buang air besar. Menambah jumlah kotoran dimuka bumi ini menjadi semakin banyak! Coba anda bayangkan itu.

Sekarang saya ajak anda untuk mencoba mengingat kembali. Para pendahulu kita telah ikut berkontribusi dalam usaha membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Dan kemudian Indonesia menjadi negara yang merdeka. Setelah mereka berjuang habis-habisan; orang tua kita itu menasihatkan; Jauhi sifat dan perilaku Hardolin.

Jika kamu mau hidup; ya jangan cuma bisa Dahar, Modol, dan Ulin, dong. Begitu mereka pesankan. Itu jaman dulu. Jaman dimana gairah kemerdekaan masih terasa gegap gempita. Dimana begitu banyak orang euforia; sehingga mereka menganggap ’inilah saatnya untuk menikmati hidup’ dialam kebebasan dari penjajahan. Tahukan anda, bahwa konon, dijaman penjajahan; orang-orang kekurangan makan? Maka kata ’merdeka’ diterjemahkan sebagai ’bebas makan’. Jadi mereka makan, alias Dahar. Kalau sudah makan, ya mereka Modol, toh? Dan dijaman penjajahan, boro-boro orang bisa main alias Ulin, sekedar keluar rumah saja sudah menakutkan. Maka kemerdekaan berarti kebebasan untuk pergi main sepuas-puasnya. Maka kerjaan mereka main melulu. Sehingga orang tua kita yang terluka-luka setelah perang beneran merasa khawatir dengan generasi muda ini. Oleh karena itu, sekali lagi mereka menasihatkan; Jauhi sifat dan perilaku Hardolin.

Kita ini generasi muda yang hebat. Jadi kita tidak Hardolin. Kita adalah generasi muda yang giat bekerja dan berkarya. Benar, nggak? Yo-i, dong. Tetapi, sudahlah, kita tidak usah berpura-pura pilon; tidak gampang juga ternyata mendapatkan perkejaan dengan upah yang layak. Kita sudah berusaha mati-matianpun pekerjaan layak itu tidak kunjung kita dapat. Lalu, apa dong yang sebaiknya kita lakukan? Ya sudah, kita tidur saja. Maka, fenomena generasi muda yang kerjaannya tidur melulu, merebak dimana-mana. Tengok saja disekitar anda. Dari 10 orang anak muda yang ada di RT anda; berapa banyak dari mereka yang menghabiskan waktu ditempat tidur nyaris sepanjang hari. Generasi muda kita, telah terbenam dalam bentuk penjajahan baru; dijajah oleh tidur yang berkepanjangan. Dikampung saya, itu disebut Molor. Tidur melulu. Oleh karena itu, setelah setengah abad Indonesia merdeka sementara penyelenggara negara belum juga berhasil menyediakan lapangan kerja yang layak; maka, Hardolin kemudian berevolusi menjadi Hardolimo. Dahar. Modol. Ulin. Molor.

Saya tahu, anda bukan benalu. Sehingga anda bukan si tukang Dahar. Saya tahu, anda bukan si penyebar sikap dan perilaku kotor; sehingga anda bukan si tukang Modol. Saya tahu, anda bukanlah orang yang mau melakukan kesia-siaan, sehingga waktu anda tidak dihabiskan hanya untuk Ulin. Tetapi saya juga tahu, tantangan hidup semakin berat menerpa kita. Untuk menjadi orang baikpun tidak mudah. Untuk menjadi orang produktif juga tidak gampang. Dan faktanya, pekerjaan dengan upah yang layak belum menjadi milik semua orang. Jika anda tengah menghadapi situasi sulit seperti itu; jangan menghibur diri dengan Molor. Sebab tidur melulu itu sifatnya adiktif. Menjadikan diri anda ketagihan. Membuat tubuh anda rapuh. Menimbulkan rasa pegal disekujur tubuh. Menyebabkan kemampuan fisik anda hilang. Dan mengakibatkan daya saing anda berkurang.

Bangun Bung; kita sudah merdeka!

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Boleh jadi kita sudah merdeka sebagai sebuah bangsa; tetapi makna sesungguhnya yang kita butuhkan dalam hidup adalah, merdeka sebagai manusia.



posted at August 17th, 2007 - 12:36 am in Inspirational, Indonesiaku | Email This Post  | Post 2 PDF | Jump to Top

Comments

2 Responses to “Bangun Bung; Kita Sudah Merdeka!”

  1. pardhi on August 23rd, 2007 1:48 pm

    Merdeka !

    17 Agustus 1945, NKRI merdeka secara de yure melalui proklamasi. Tetapi secara de facto, apakah NKRI sudah benar-benar merdeka ?……

    Merdeka bung ! Kali ini cetusan untuk berjuang membebaskan diri sendiri dari ‘Hardolimo’, mudah-mudahan setiap anak bangsa - termasuk mereka yg jadi penyelenggara negara - ikut berjuang memerangi si Hardolimo di dalam diri sendiri.

    Artikel yg sangat menarik…

  2. yoni on August 22nd, 2008 11:45 pm

    Tulisan yang cukup menggugah…

    Merdeka..!
    Memerdekan diri kita dari perbudakan hawa nafsu berjuang menuju diri kita yang sejati.

    Merdeka…kang Dadang