Seberapa Jauh Individu Dapat Memberi Warna Kepada Kelompoknya ?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Anda bekerja sendirian? Saya tidak yakin. Sebab, jaman sekarang nyaris tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan sendirian. Oleh karena itu, suka atau tidak, anda harus bersedia bekerjasama dengan orang lain. Dan seperti kita tahu, dalam kerjasama ada interaksi. Dan dalam interaksi, kita saling mempengaruhi. Perilaku setiap anggota kelompok menentukan corak perilaku kelompok itu. Dan itulah yang kemudian berkembang menjadi identitas kelompok. Dalam konteks ini; saya menemukan sebuah pesan. Oleh penulisnya, pesan itu dikirimkan kepada seluruh anggota team dikantornya diakhir pekan. Mari kita coba lihat, seberapa relevan pesan itu dengan kelompok anda. Begini bunyi pesannya:

Dear Team,
Ijinkan saya berbagi pemikiran tentang satu hal untuk kebaikan kita semua.

Beberapa hari lalu saya mendapatkan ’teguran’ dari atasan kita tentang kedisiplinan team kita terhadap jam kerja. Jika sebelumnya beliau melakukannya secara umum melalui email, atau mungkin memanggil secara perorangan khusus ’orang-orang tertentu’, sekarang sudah dilakukan sebagai input untuk team juga. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak melihat perbaikan bermakna; jika kita tidak boleh mengatakannya ’lebih parah’. Jujur saja, saya tidak mengharapkan itu terjadi pada team kita. Itulah kenapa saya berbawel-bawel ria beberapa waktu lalu tentang absensi; jauh-jauh hari sebelum kita harus ditegur atasan.

Pertama, saya ingin menyampaikan terimakasih kepada teman-teman yang secara konsisten telah berdisiplin mengenai jam kerja. Saya juga menghargai teman-teman yang telah menunjukkan perbaikan pengelolaan waktu sehingga terlihat jelas perbaikan itu. Paling tidak; ada kemauan, dan komitmen nyata untuk melakukannya. Terimakasih kepada semuanya. Disisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa setelah melakukan pembicaraan, diingatkan lewat email, dan sama-sama berkomitment, masih juga ada yang begitu terus-menerus. Jujur saja, saya kasihan kepada individu yang masih begitu, dan juga kasihan kepada kinerja team secara keseluruhan.

Kedua, saya ingin mengajak teman-teman, untuk memperhatikan beberapa hal ini:
A. Jam masuk dan keluar kantor

  1. Bagi yang sudah bagus;Teruskan. Itu tidak hanya baik bagi team kita, melainkan terlebih lagi bagi diri kita sendiri sebagai individu
  2. Bagi yang masih harus diperbaiki; Lakukanlah perbaikan. Tidak ada yang memaksa kita; tetapi, itu menunjukkan seberapa besar profesionalitas kita; dan yang terlebih penting lagi; seberapa sayang kita pada diri kita sendiri. Tanggung jawab setiap orang kepada dirinya sendiri. Kebaikannya toh untuk kita sendiri. Oleh karena itu, kita tidak selayaknya dipaksa atau terpaksa. Lagipula, jika kita bisa melakukannya secara sukarela, mengapa harus menunggu hingga dipaksa?

B. Mengelola jam kerja

  1. Lihat kembali aktivitas kita pada saat jam kerja. Ada masukan untuk team kita dari orang luar; katanya kita kebanyakan ngobrol ditempat makan; pagi, siang, dan sore. Ini bukan soal salah atau benar, melainkan persepsi orang. Mereka mempersepsikan kita terlampau banyak kongkow-kongkow. Saya pikir, apa salahnya jika orang makan pagi, siang atau sore; gitu kan ya. Tapi, adakalanya kita perlu mempertimbangkan persepsi orang lain juga. Bukan untuk cari pujian, tetapi, untuk mawas diri; ’benar demikiankah atau tidak’? Jika kita yakin itu tindakan positif dan produktif; terus begitu juga tak soal. Tapi, jika memang kita kurang memanfaatkan waktu secara efisien; kita perlu mawas diri juga, ya kan.
  2. Bagi teman-teman yang berhak mendapatkan OT; jangan ragu untuk mengambil hak anda. Saya support sepenuhnya. Disisi lain, perhatikan juga point-point diatas. Ingat, kita tidak pernah tahu, kapan akan dilakukan audit jam kerja dan OT; tapi, saya yakin, suatu saat nanti mungkin itu akan dilakukan. Jika kita sudah benar melakukannya, tidak perlu khawatir. Tapi, jika kita sadar ada yang harus diperbaiki; segera perbaiki. Jadi bisa seimbang antara menuntut hak kita dan menjalankan kewajiban kita
  3. .

C. Melihat Orang Lain

  1. Untuk belajar. Ada orang yang bagus; pelajari kebagusan orang itu. Ikuti perilaku positifnya. Jadilah sebagus orang itu. Jika bisa lebih bagus dari dia, maka baguslah itu. Ada juga orang yang kurang bagus. Kurang berdisiplin. Kurang bertanggungjawab. Kurang professional. Perhatikan, dan hindari perilaku orang itu. Kita tidak perlu iri kepada mereka karena terkesan bisa seenaknya; bebas, tidak bertanggungjawab. Kita perlu ingat, hal seperti itu tidak layak dimiliki oleh seorang professional. Jadi, sebisa mungkin harus kita hindari. Jadikan orang itu contoh tentang hal-hal yang layak kita jauhi.
  2. Untuk saling mengingatkan. Lihat sekali lagi teman-teman baik kita. Jika kita melihat teman itu khilaf, ingatkan dia. Kita bukan sahabat yang baik jika membiarkan teman baik kita terus menerus terjebak dalam keadaan tidak baik. Mungkin kita akan dianggap terlalu ikut campur urusan orang lain. Tidak, jika yang kita perbaiki itu urusan pekerjaan. Sebab, soal pekerjaan adalah tanggungjawab semua anggota team. Jika kita gagal mengingatkan teman dalam team, maka kegagalan itu sebenarnya bukan kegagalan teman kita; melainkan kegagalan kita sebagai sebuah team.
  3. Lihat atasan kita. Seorang atasan bukan dewa. Dia bisa benar, bisa salah. Jika atasan salah dan dibiarkan, maka kerugiannya akan diderita oleh semua anggota team. Ingatkan dia. Jika seorang atasan tidak mau diingatkan oleh anggota teamnya, tidak berarti kita boleh mengikuti perilakunya yang tidak tepat. Memang, seringkali budaya sebuah kelompok dipengaruhi oleh atasannya. Jadi, bagaimana mungkin sebuah kelompok bisa baik kalau atasannya kurang baik? Oleh karena itu, tanggungjawab kita untuk mengingatkan atasan.Tugas kita untuk mengingatkan atasan. Tapi harus ingat juga; adalah tugas kita untuk memastikan bahwa perilaku kurang baiknya tidak menular pada kita atau anggoa team lainnya.
  4. Menolong diri sendiri. Teman kerja, bawahan, atau atasan, bisa memberi pengaruh positif atau negatif kepada kita. Terserah kita mau bagaimana; apakah mau tetap positif, atau ikut-ikutan negatif. Tapi, kalau dipikir-pikir, yang untung atau rugi bukanlah orang lain yang kita ikuti; melainkan diri kita sendiri. Jika kita memilih untuk tetap positif; maka kita sendiri yang untung, bukan hanya orang lain. Dan kalau kita memilih untuk ikut negatif; kan yang rugi ya kita juga
  5. .

Teman-teman, ayo kita perbaiki kinerja, dan citra diri kita masing-masing; sehingga setiap orang bisa berkontribusi positif pada kinerja team. Jika kita keberatan memikirkan orang lain; cukup dengan memikirkan diri sendiri saja juga sudah lumayan. Pikirkan masa depan kita. Pikirkan tantangan-tantangan hidup kita. Jika kita hanya memiliki kualitas biasa-biasa saja, mana bisa kita memiliki keunggulan? Apalagi jika kita membiarkan kualitas diri kita menjadi kurang kompetitif; sayang sekali masa depan kita ini sudah disia-siakan. Padahal, yang bertanggungjawab atas masa depan kita bukanlah orang lain. Melainkan diri kita sendiri. So help your self. Selamat berakhir pekan. Dan sampai jumpa senin depan.

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Umpatan dari diri sendiri kadang lebih menyenangkan hati daripada sebuah teguran yang tulus dari orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>