Tuesday , February 25 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Seberapa Jauh Sikap Luwes Mampu Meningkatkan Keteladanan Anda?

Seberapa Jauh Sikap Luwes Mampu Meningkatkan Keteladanan Anda?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita tentu pernah menemukan orang-orang hebat ditempat kerja. Namun, orang-orang itu karirnya biasa-biasa saja. Memang kadang mereka dipromosikan juga. Namun, karirnya mentok disana. Kita heran, mengapa bisa mentok. Ada banyak faktor memang; tetapi, salah satu faktor yang sering menjadi penyebabnya adalah sikap tidak luwes orang-orang itu dalam menyikapi lingkungan kerjanya. Mengapa hal ini terjadi, adalah karena mereka berpikir bahwa apa yang ada didalam kepala mereka; itulah yang benar. Cara merekalah yang paling tepat. Sedang cara orang lain; adalah pilihan yang buruk, jika tidak boleh mengatakannya bodoh dan dungu. Mereka merasa pintar, merasa paling benar, dan mereka menghendaki semua orang mengikuti jalannya. Tetapi, mereka tidak menyadari, bahwa permainan dalam sebuah team disetiap organisasi; lebih dari sekedar sikap merasa lebih pintar, dan paling benar.

Dalam berdiskusi, orang-orang semacam ini cenderung kurang mendengarkan pendapat orang lain. Kalaupun mereka mendengarnya; hasil akhirnya tetap saja harus pendapat mereka yang diterima. Memang, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang cerdas dengan kemampuan berpikir logis yang tinggi. Argumen-argumennya kuat. Sehingga tidak mudah untuk dipatahkan. Sayangnya, ada satu hal yang sering dilewatkan oleh orang-orang cerdas dari jenis ini, yaitu; pemahaman terhadap situasi dalam lingkungannya. Kegagalan memahami situasi lingkungan menyebabkan mereka hanya sekedar menggunakan kacamata kuda. Mereka hanya menggunakan sudut pandang kebenaran secara logik, tetapi, mereka mencampakkan kesiapan dan perasaan lingkungan atas gagasan super logik itu. Maka terjadilah perbenturan, sehingga gagasan atau cara cerdas itu akhirnya mentok dan tidak produktif.

Resiko terbesar kegagalan memahami lingkungan sebenarnya tidak hanya terletak pada organisasi, melainkan bagi orang hebat itu sendiri. Sikap seperti itu memberikan signal kepada atasannya, bahwa dia bukanlah seorang team player. Dan seperti anda ketahui; di jaman ini, sebuah organsasi hanya bisa maju, jika dipimpin oleh seorang team player sejati. Dengan demikian, seorang karyawan, biarpun dia jagoan. Sekalipun dia terampil. Meskipun dia cerdas; jika bukan seorang team player, dia tidak layak untuk memimpin sebuah team. Itulah mengapa, banyak orang cerdas yang hebat ditempat kerjanya; tidak kunjung diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin. Dengan kata lain, promosi tidak kunjung datang baginya.

Jika anda termasuk orang yang cerdas dan hebat ditempat kerja; satu faktor lain yang perlu anda miliki adalah keluwesan dalam memahami dan berhubungan dengan lingkungan. Dengan keluwesan itu, anda dapat mengenali secara utuh, jiwa dari lingkungan dimana anda berada. Bahkan anda bisa ’mengenali nafasnya’. Sehingga anda tahu kapan harus menambahkan oksigen kedalamnya; dan kapan harus mengeliminasi karbon dioksida. Dengan bagitu, anda bisa memastikan bahwa lingkungan anda selalu bisa mendapatkan udara paling murni untuk bernafas. Dan dengan demikian, organisasi dimana anda berada selalu sehat, bersemangat, dan memiliki vitalitas yang tinggi. Nah, sering kali hal ini hanya bisa anda lakukan jika anda bersedia mendengarkan mereka. Dan, kadang-kadang berarti anda harus menutup mulut anda sendiri, dalam arti; anda tidak memaksakan apa yang ada dalam pikiran anda untuk mereka lakukan.

Banyak orang mengira, bahwa hal itu berarti bahwa orang-orang disekitar kita boleh melakukan apa saja; dan pikiran anda itu tidak bisa digunakan. Tidak selalu demikian. Kadang memang kita perlu membiarkan orang-orang melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Jika cara atau pikiran mereka itu juga akan menghasilkan sesuatu yang produktif secara maksimal; mengapa harus kita paksa mereka melakukannya dengan cara kita? Tidak, bukan? Tetapi, adakalanya juga memang cara mereka bukan cara yang bisa membawa organisasi kedalam puncak prestasinya. Dalam situasi ini; kita harus membawa mereka kapada cara berpikir dan bertindak yang lebih baik. Cara anda.

Orang-orang cerdas yang kita bicarakan tadi berkata; ”itulah kenapa saya paksa mereka mengikuti cara saya!” Itu benar. Tetapi, kadang orang cerdas tidak melakukannya secara elegan. Dalam menarik orang, memang kadang kita harus to the point. Tapi, dalam banyak situasi, kita perlu mengambil jalan memutar. Dan faktanya, ternyata kadang kita hanya butuh bersabar. Kadang, kita hanya butuh untuk menjaga perasaan mereka dan melindungi mereka dari kesan bahwa gagasan mereka selama ini agak sedikit dungu. Kita tahu, setiap orang memiliki personal pride-nya sendiri-sendiri, kan?

Ada sebuah contoh menarik. Disebuah organisasi, nyaris semua orang merasakan bahwa daya dukung dari salah satu departemen sangat kurang. Sehingga dampaknya dirasakan oleh departemen yang lain. Salah seorang karyawan cerdas mendatangi kepala departemen itu dan dengan lugas mengemukakan alasan-alasan; mengapa departemen itu harus berubah dan bergerak lebih cepat agar keseluruhan organisasi bisa meningkatkan kinerjanya. Tetapi, tidak ada perubahan apapun didepartemen itu; sekalipun orang cerdas kita ini sudah mengerahkan segala kemampuan untuk meyakinkannya. Lalu, seorang cerdas yang lain menemui orang penting didepartemen itu. Aneh sekali, cukup satu kali pertemuan saja yang mereka lakukan. Dan departemen yang dinilai membebani itu serta merta berubah menjadi departemen yang kinerjanya mengesankan.

Tahukah anda mengapa bisa demikian? Kata si kepala departemen: “ada orang-orang yang meminta agar kita memperbaiki kinerja kita seolah-olah cara yang kita gunakan selama ini sangat buruk. Dan ada orang-orang yang mengapresiasi cara kita itu baik, sekaligus menunjukkan kepada kita cara untuk menjadikan diri kita lebih baik lagi.” Apakah anda bisa menemukan perbedaannya? Tentu anda bisa. Dan apakah perbedaan itu? Sikap luwes kita ketika berusaha untuk membawa orang lain menuju tempat yang lebih baik. Ada orang yang main labrak. Menggunakan power agar orang lain berubah. Ada pula orang yang berusaha memahami dari sisi orang itu terlebih dahulu. Dan dia mengikuti pola orang itu untuk mengajaknya berubah. Itulah keluwesan.

Dengan keluwesan, anda bisa memenangkan hati orang-orang yang berada dilingkungan kerja anda. Jika anda seorang atasan, maka anda bisa membawa bawahan-bawahan anda untuk menuju perubahan yang positif. Dan jika anda seorang bawahan, maka atasan anda akan tahu bahwa anda adalah calon pemimpin dimasa depan. Dan jika suatu saat nanti anda mendapatkan kesempatan untuk dipromosikan; ingatlah bahwa, kadang memang anda perlu menggunakan kekuatan posisi anda, dan kadang anda hanya perlu mengikuti irama mereka. Dan memilih kapan menggunakan salah satunya, adalah sebuah seni yang langka.

Kepada orang-orang ndablek yang maunya menang sendiri, memaksakan kehendak, menutup telinga dari suara orang lain, dan selalu merasa dirinya benar. Racun bagi anggota kelompok lain; memang anda perlu tegas. Kalau perlu, gunakan position power anda. Namun, orang-orang yang seperti itu tidaklah banyak. Sebab, sebagian besar anggota team anda adalah orang-orang yang hanya membutuhkan cara yang tepat, yang bisa mereka terima; sebelum mereka mengikuti anda.

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Keteladanan konon adalah hal terpenting dalam usaha untuk meyakinkan orang lain, agar mereka mengikuti anda. Namun, banyak orang yang tidak mau mengikuti teladan yang baik; karena mereka lebih suka tinggal dalam comfort zone mereka masing-masing. Tetapi, tetaplah menjadi teladan. Sebab dengan cara itu, anda bisa menemukan orang-orang hebat yang jumlahnya sedikit; dan membedakannya dari sekumpulan orang-orang yang selamanya hanya akan menjadi pekerja dibawah perintah. Karena. Keteladanan anda. Akan selalu dapat. Menginspirasi. Calon-calon pemimpin masa depan.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

15 comments

  1. MAS DADANG YANG MULIA, Tulisannya LUWES, enak, mengalir,sangat easy reading. Pasti orangnya LUWES…!
    Memang berubah selalu dimulai dari diri leadernya dahulu [Prinsip dimulai dari Leader].
    Cara merubah yang positif yang paling laku saat ini. Dengan kata-kata pujian terlebih dahulu, baru setelah itu, kata HARAPAN agar mereka LEBIH BAIK lagi.
    Sempurna sudah perubahan itu [dlm bahasa Kang
    Dadang: keluwesan..ya bener..]
    Many thanks artikelnya yang luwes.
    Artikel luwes, ditulis oleh orang luwes.
    salam mulia, salam mulai
    harry ‘uncommon’ purnama
    WASH YOUR HAND

  2. #1 Jika saja kata ‘Mulia’ itu diucapkan oleh bukan seorang Harry Uncommon Purnama; pasti saya agak sedikit jengah. Karena, saya tidak sedang menginap di Hotel Mulia, haha. Tetapi, jika beliau yang mengatakannya; ini merupakan sebuah kehormatan. Tahu mengapa? Karena beliau senantiasa memuliakan orang-orang disekitarnya. Tengok deh blog beliau. Disana anda bisa menjadi bagian dari kemuliaan itu. Dan satu lagi; hanya orang mulia yang bersedia memuliakan orang lain. Begitulah seorang Harry Uncommon Mulia Purnama, adanya.

  3. KANG DADANG YANG MULIA,
    wah senang sekali mendengarnya Kang Dadang.
    Senang bisa berguna membangun motivasi sesama.
    Mohon perkenan Kang Dadang, blognya sy LINK
    ke blog saya.
    Salam mulia, salam mulai,
    harry ‘uncommon’ purnama
    WASH YOUR HAND, CUCILAH TANGANMU

  4. Salam kenal, mas..
    Berbicara tentang keluwesan, memang kita harus luwes dalam bersikap dan berbicara sesuai dengan sikon. O ya mas Dadang punya referensi judul film yang bisa membangkitkan motivasi ?

    Sebelumnya firman sampaikan terimakasih

  5. Makasih Mas Dadang, artikelnya ‘menampar’ sekali..

  6. #3. Sebuah kehormatan besar bagi saya Mas Harry Uncommon Mulia Purnama. Terimakasih atas kebaikan dan kemuliaan hatinya.

    #4. Mas Firman. Terimakasih telah mampir. Judul film yang membangkitkan motivasi? Mbah saya pernah bilang; dari apapun yang kamu temui didunia ini, pasti kamu bisa menarik pelajarannya. Oleh sebab itu, saya percaya; motivasi bisa diambil dari film apapun. Tapi, bolehlah Mas Firman fokus pada film-film box office. Dari vertical Limit, kita bisa belajar tentang keberanian, optimisme, dan setia kawan serta cinta kasih. Dari Rush Hour kita bisa menemukan bahwa dalam ‘kegentingan’ hidup sekalipun ternyata kita masih bisa menemukan tawa, tersenyum, bersenda gurau, dan fun. memang hidup itu indah adanya kok. Dari Saving Private Ryan, kita belajar arti kesetiakawanan dan pengorbanan bagi orang lain. Memaafkan, dan kepuasan ketika telah berhasil menunaikan fungsi hidup. Dari Spiderman-3, kita belajar tentang mengendalikan sifat-sifat negatif dalam diri sendiri. Sekarang yang kartun; Petualang Aang sang avatar. Kita belajar banyak tentang hidup dan kebijaksanaan. Dari The Land Before Time, kita belajar tentang pengharapan, sikap pantang menyerah, persahabatan, dan keyakinan bahwa hari esok itu pastilah indah. Dari Balto, kita memahami arti persahabatan dan kesetiaan. Banyak ya?

    #5. Aduh, ‘menampar sekali’ ya? Semoga jangan yang kedua kali…oke.

  7. salam kenal kenal mas Dadang Kadarusman!!

    Artikelnya bagusss bgd,, apalagi buat aku yg bner2 baru mulai melangkah ke dunia kerja… pelajaran bgd buat aku, karena sampe saat ini aku slalu berusaha u/ luwes di kantor, tapi terkadang ada aja yg membuat aku gak luwes, sifat malu aku kali ya… aku butuh bgd artikel yg ttg duniakerja gt ada mas… aku butuh skali.. smoga mas Dadang, smakin bisa buat artikel2 yang TOP BGT lagi.. semangat!..=)

  8. terima kasih

  9. Dear Mas Dadang,

    Hati mulia memang zaman sekarang susah dicari karena banyak terselimuti oleh kerasnya perjuangan hidup namun dengan kalimat demi kalimat dalam bahasan seperti air pencuci sebuah berlian yang terjatuh di kolam penuh kotoran, karena sesungguhnya manusia sangat rindu dengan kemuliaan yang sudah ada sejak lahir kedunia.
    Mas Dadang mengupasnya seperti angin bertiup tanpa terasa tiba2 sudah merasuk dalam sunubari.

    Thank`s

    Salam hangat.

  10. Dalam sekali artikel nya kang dadang ini,sedikit sharing sebagai perbandingan saya jadi teringat seorang teman dimasa kuliah dulu yang termasuk kategori cerdas dan pintar ,starting masuk dunia kerja bareng dengan saya,saya masih bertahan ditemapt lama ,tapi kawan saya tersebut sudah 6 kali pindah kerja dengan berbagai macam alasan mulai ribut dengan pimpinan , tidak cocok dengan bawahan, standar gaji yang kurang dll…., saya tidak tahu apakah itu salah satunya disebabkan oleh ketidak luwesan sahabat tersebut…, article yang ditulis kang dadang bisa jadi pembenaran contoh kasus diatas .

  11. Wuah… Artikelnya menarik bangeeet…! Sikap luwes… menjadi pemimpin… Memang benar!

  12. Luar biasa, artikel yang sangat menggugah.
    Saluttt…

    salam kenal,

    kiki4hire

  13. Mas boleh minta tips2 buat jadi luwes ?
    seperti bagaimana latihan intonasi yang benar dalam kondisi tertentu dan menganalisa irama kondisi sekitar kita ?

  14. klo arti keteladanan dalam bekerja apa mas?

  15. Artikel yang Bagus,
    Benar bahwa keluwesan itu memang sangat diperlukan untuk menjalin hubungan baik. apalagi jika kita berada dalam posisi yang sering bertemu dengan klien..
    I like this article