Wednesday , July 8 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Miscellaneous / Kita Ini Bangsa Yang Besar – Bisakah Kita Menjadi Pribadi Yang Besar Juga?

Kita Ini Bangsa Yang Besar – Bisakah Kita Menjadi Pribadi Yang Besar Juga?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita mengklaim Indonesia sebagai negara yang sangat besar. Dengan jumlah pulau yang bisa mencapai 18,000 buah, dan populasi sekitar 226 juta jiwa; tidak ada yang meragukan kalau bangsa ini memang benar-benar bangsa yang besar. Tetapi sebagai individu, bisakah kita juga menjadi ‘besar’? Jika ada seloroh ‘how low can you go?’; maka sekarang pertanyaan itu menjadi ‘How big can we be?’ Kita ini bisa sebesar apa? Ironis juga jika kita tinggal disebuah negara yang begitu besar, tetapi sebagai penduduk dan warga negaranya kita hanya bisa menjadi pribadi-pribadi yang kerdil. Kerdil bukan dari perspektif postur tubuh; melainkan dari nilai dan kualitas kepribadian kita. Ironis bukan hanya karena kita seolah tidak bisa mewakili kebesaran bangsa ini; melainkan juga karena kita tidak berhasil mengoptimalkan seluruh potensi diri kita yang sudah pasti nilainya sangat tinggi itu. Tetapi, apakah memang seharusnya kita menjadi pribadi-pribadi yang besar?

Sebentar dulu; sebenarnya seberapa besar sih Indonesia ini? Kita tahu itu besar; tapi ‘sebesar’ apa? Gampang; kita bandingkan saja negara ini dengan negara lain yang kita anggap besar. Sekarang coba tentukan dulu sebuah negara yang anda anggap besar. Sebut saja nama negaranya dalam hati. Apakah Amerika Serikat masuk kedalam daftar negara yang anda anggap besar? Baiklah, jika Amerika anda anggap besar; mari kita membuat perbandingan sederhana. Caranya; ambil peta negara Indonesia. Dan ambil juga peta Amerika dalam skala yang sama. Lalu, dengan bantuan komputer letakkan peta Indonesia anda tepat diatas peta Amerika. Jika ujung paling barat Indonesia itu dipadukan dengan daerah sekitar Colorado River diujung daratan Amerika, maka ujung timurnya akan melebihi batas daratan Amerika di sekitar Manhattan Island. Bagian selatan menyentuh Houston hinggá keutara melampaui Chicago bahkan nyaris menyentuh Toronto. Siapa yang tidak kenal kebesaran nama Amerika? Nah, kira-kira sebesar itulah negara kita itu loh…..

Pertanyaannya sekarang adalah; jika sebagai negara kita ini sebesar Amerika; apakah sebagai individu kita juga bisa sebesar orang-orang Amerika? Memang, jika yang menjadi tolak ukurnya adalah pendapatan perkapita, tentu kita tidak ada apa-apanya. Kita hanya bisa meraup sekitar $1,400 setahun jika dibandingkan dengan pendapatan perkapita orang Amerika yang lebih dari $40,000. Tetapi, tentu kebesaran seorang individu tidak bisa semata-mata diukur dengan nilai pendapatannya. Lagi pula, negara-negara maju lainnya pun pendapatan perkapitanya tidak sebesar itu. Kebesaran individu lebih dalam konteks kualitas diri yang dimilikinya. Oleh karenanya, pertanyaan kita tadi bisa dibuat lebih spesifik lagi; bisakah kualitas diri kita menyamai kualitas orang Amerika? Jika kita pelajar, misalnya; bisakah kualitas pelajaran atau daya nalar kita setara dengan pelajar Amerika? Jika kita seorang pekerja; bisakah kualitas pekerjaan kita sebanding dengan bule-bule Amerika? Dalam konteks itu; kita tidak boleh kalah dengan mereka. Serius.

Mengapa? Karena pada dasarnya Tuhan pasti memberi kita kemampuan yang tidak lebih rendah dari orang lainnya; terutama menyangkut kemampuan dasar untuk menjadi manusia yang bermartabat. Memang, seseorang bisa unggul dalam bidang eksakta, misalnya. Sedangkan orang lainnya lebih unggul dalam bidang sosial. Perbedaan itu hanyalah bersifat sektoral keahlian saja. Sengaja Tuhan buat begitu supaya manusia bisa saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Karena peradaban umat manusia tidak mungkin bisa dibangun hanya dari aspek matematika dan fisika saja. Oleh karenanya, jika setiap orang yang mempunyai kekurangan dan kelebihan berbeda-beda itu bisa benar-benar mengoptimalkan potensi dirinya; maka semua manusia akan sama tinggi martabatnya.

Salah satu penyebab utama; mengapa seseorang direndahkan oleh orang lain adalah karena orang ini dianggap tidak kompeten. Mengapa ada orang-orang yang tidak kompeten? Karena mereka tidak berhasil mengoptimalkan potensi dirinya. Sebab, jika dia mampu mengoptimalkannya; tidak mungkin dia tidak kompeten. Pasti dia kompeten. Ngomong-ngomong, pernahkah anda menemukan orang yang kompeten dalam bidang tertentu tapi dia dilecehkan? Tidak pernah, bukan? Setiap orang yang kompeten, pasti dihargai tinggi. Jadi, supaya kita mendapatkan martabat yang tinggi sebenarnya cukup sederhana; yaitu memiliki kompetensi yang baik. Itu saja? Belum. Itu baru setengahnya. Yang setengah lainnya apa? Perilaku yang baik. Pendek kata; jika kita benar-benar ingin menjadi orang bermartabat; ada dua hal yang perlu kita miliki; pertama kompetensi tinggi dan kedua, perilaku yang baik.

Bisakah kita memiliki kompetensi tinggi? Bisa, sejauh kita mampu mengoptimalkan potensi diri kita. Bisakah kita miliki perilaku yang baik? Bisa. Jika kita memang menghendakinya demikian. Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna. Pasti ada kekurangannya. Tapi, pasti juga ada kelebihannya. Tidak ada manusia yang dilahirkan dengan hanya sifat buruk. Pasti ada sisi positif yang dibawanya ketika dia dilahirkan. Kita sendirilah yang memilih apakah hendak mengoptimalkan potensi diri yang telah Tuhan anugerahkan atau tidak. Dan kita sendirilah yang menentukan untuk memilih baik atau buruknya perilaku kita.

Tetapi, jika kita memilih untuk mengabaikan potensi diri yang ada, maka ironis sekali. Karena, kebesaran bangsa yang tidak diragukan lagi ini. Kekayaan alam yang tidak ada tandingannya ini, sama sekali tidak akan memberikan manfaat apapun kepada kita. Jika kita memilihnya demikian, maka bersiap-siaplah. Kita akan menyaksikan orang-orang asing semakin rakus mengeksploitasi kekayaan alam kita. Sampai terkuras habis. Sehabis-habisnya. Sementara kita hanya bisa menjadi kuli kasar bagi mereka. Tukang angkut. Tukang gali. Tukang sapu. Tukang disuruh-suruh. Tukang apa aja dalam posisi kepegawaian yang paling rendah. Dan tentu saja mendapat upah sekedarnya. Yang untuk sekedar hidup layak saja belum tentu cukup. Dan ketika sumber daya alam kita sudah habis, jadilah kita manusia-manusia kalah yang terbuang dalam kubangan-kubangan sisa galian pertambangan. Terjerumus kedalam lubang-lubang sumur bekas pengeboran. Dan tersesat ditengah-tengah hutan gundul yang tidak lagi berpohon, dan berdedaunan. Tanpa daya. Tanpa pula harga diri yang layak untuk dibanggakan. Kita. Tidak mau. Seperti itu. Bukan?

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Sebuah bangsa hanya akan benar-benar besar jika individu-individu yang menjadi warga negaranya adalah orang-orang yang berkompetensi tinggi dan berperilaku agung. (Tidak terdengar seperti kata-kata mutiara, kan?)

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. Kang Dadang yang mulia, buah pikiran yang ‘berbuah’ inspiratif bagi ‘INDONESIA SUNGGUH BESAR’. Bangsa yang besar dimulai dari diri sendiri yang besar. Besar berarti mulia [mulia kompetensinya, mulia karakternya, mulia sikapnya, mulia tutur-katanya, mulia kelakuannya].
    Saya yakin, kita bisa jadi ‘INDONESIA SUNGGUH BESAR’ seperti harapan KANG DADANG. Amin3.
    salam mulia, salam mulai
    [sudah join di milis: washyourhand-subscribe@yahoogroups.com?]
    Saya tunggu tulisannya di milis baru ini ya!
    harry ‘uncommon’ purnama

  2. Sebuah posting yang inspiratif. Riset mutakhir dari Goldman Sach menyebut pada tahun 2025, ekonomi Indonesia akan berada pada peringkat 14; dan pada tahun 2050 akan melejit pada peringkat 7 — mengalahkan ekonomi Jerman, Inggris dan Jepang.

    Sejumlah riset dari lembaga keuangan juga memprediksikan hal serupa. Indonesia, bersama dengan China, dan India akan menjadi tiga raksasa baru pada era pertengahan abad ini.

  3. Kang dadang aku kerja di pertambangan batubara. Menggali, mengangkut dan reklamasi adalah kegiatan yang rutin. Jika kecepatan pertambangan tidak seimbang dengan pengelolaan lingkungan maka keseimbangan lingkungan menjadi terganggu. Nah kang sepertinya aku berdiri di luar lingkungan bukan menjadi bagian dari lingkungan seperti kisah Dewa Ruci. Bangsa ini tidak akan menjadi besar jika kita hanya bisa mengekploitasi SDA saja tanpa kesadaran bahwa kita adalah bagian dari lingkungan. Pernah tidak kita merupiahkan ekosistem yang terganggu dan membandingkan dengan harga SDA yang dijual…jomplang so pasti. Hutan disekelilingku hanya hutan yang sunyi…silent forest…

  4. ada 3 pendapat tentang orang yang tidak berkembang potensinya :
    1. orang itu belum menemui potensinya, pada posisi ini seseorang masih mencari apa yang ia bisa. kebingungan ini terus berlanjut sampai ia pada akhir hidupnya.
    2. orang tau malas berkembang. pada posisi ini ia selalu di nina bobo’kan oleh suatu impian yang besar tetapi tindakan tidak pernah ada. atau kata orang beragama “besar angan2”
    3. sistem!!!, struktur masyrakat kita tidak lagi bisa produktif karena lingkungan, role, dan “peranan” masyarakat yang tidak lagi rapih dan dinamis, malah cenderung destruktif.

    nah apa yang dapat kita simpulkan dari hal ini? perlu ada suntikan dari atas seperti kelas menengah (orang yang berpendidikan seperti anda, tetapi waktu jaman 1920-an) untuk membuat organisasi seperti Budi oetomo, Serikat Islam dan Partai Nasional Indonesia Bukan?

    nampaknya bernada negatif tetapi ini real…

    contoh : budaya konsumtif telah merebak di seantero nusantara membuat meledaknya angka pinjaman uang ke Bank, dan institusi keuangan..motifasinya jelas ingin dapat sesuatu dengan cepat, tetapi ukuran kondisi keuangan tidak memungkinkan sehingga waktu tempo bayar mereka tidak bisa memenuhinya(bahkan cenderung ngemplang). contoh ini jelas terlihat subrime mortgage di Amerika serikat melanda, efeknya sampai kedunia..
    nah bagaimana menurut anda?

  5. lbh tinkatkn lg indonesia. maju