Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Psikologi Pemasaran: Antara Seni – Etika – Dan Kearifan

Psikologi Pemasaran: Antara Seni – Etika – Dan Kearifan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kemampuan memahami emosi seseorang bisa membantu para marketer mempengaruhi calon pelanggannya. Pada prinsipnya, kita bisa mempelajari kondisi emosional-psikologis seseorang. Bahkan membentuk, menciptakan, dan memainkannya agar mampu memasuki ruang khusus dalam dirinya sehingga kita bisa menawarkan produk yang tepat sebagai solusi atas kebutuhannya. Keampuhan teknik ini sudah diketahui sejak lama. Dan sejauh itu dimanfaatkan dengan kearifan, semua pihak akan mendapat manfaat. Kita perlu memahami hal ini. Baik kita sebagai konsumen atas suatu produk ataupun mungkin kita sebagai seorang marketer. Jika kita berada dalam posisi sebagai konsumen, maka ini akan membantu kita agar tidak menjadi objek eksploitasi. Sedangkan bagi seorang marketer, ini diperlukan untuk memastikan bahwa konsumen mendapatkan produk terbaik yang benar-benar bermanfaat baginya. Fungsi marketer adalah untuk membahagiakan konsumen dengan produk yang dipasarkannya. Bukan untuk memperdayai mereka; atau menguras uang mereka, agar mencapai target penjualan semata. Dan ingatlah pula, bahwa setiap orang adalah konsumen; termasuk para marketer itu sendiri. Sekalipun kita menjadi tenaga pemasaran produk tertentu; tetapi, pasti kita juga konsumen bagi produk lain yang dipasarkan orang lain. Maka, tetaplah berpegang teguh pada etika pemasaran itu; dan kita akan menjadi marketer sekaligus konsumen yang bermartabat.

Salah satu kata sakti untuk mempengaruhi kondisi emosional konsumen adalah ‘Gratis’. Sungguh, ‘gratis’ adalah kata yang amat bertuah. Siapa sih yang tidak mau dikasih hand phone baru gratis? Keluaran terbaru pula! Anda juga pasti mau, kan? Kita memang cenderung ingin mendapatkan sesuatu secara gratis. Human being. Ketika saya bekerja sebagai seorang salesman beberapa tahun lalu, saya biasa membeli makan pada pedagang kaki lima. Menu favorit saya adalah; lontong sayur, gado-gado, atau ketoprak. Tapi, semua harus yang pake gerobak. Enak, murah, dan terutama mengenyangkan. Haha. Suatu ketika, saya melihat spanduk terpampang didepan warung penjual ketoprak. Di spanduk itu kira-kira tertulis; “Ketoprak Enak Lima Ribu Perak – GRATIS Kerupuk Sepuasnya”. Hebat ya penjual ketopraknya? Saya kagum padanya. Dia tahu bahwa orang yang makan ketoprak suka gigit-gigit kerupuk. Jadi dia berikan kerupuk sepuas-puasnya. Memang, dia tahu juga bahwa tukang ketoprak lain pun akan memberi tambahan kerupuk jika pembeli memintanya; tapi tidak menuliskannya di spanduk seperti dia. Dan bagi saya, tulisan ‘Gratis kerupuk sepuasnya’ itu merupakan jaminan bahwa saya ‘bisa makan kerupuk sebanyak yang saya inginkan tanpa takut ada resiko tambahan bayaran’. Maka saya menjadi pelanggan tetap ketoprak itu. Begitulah psikologi pemasaran berperan.

Namun, akhir-akhir ini kata ‘gratis’ banyak digunakan secara tidak tulus. Misalnya, “Gratis” sebuah kamera. Tapi, untuk mendapatkan kamera itu orang harus belanja senilai empat koma lima juta. Padahal, nilai kamera itu cuma sekitar lima puluh ribu rupiah. Bahkan, melalui internet penyalahgunaan psikologi pemasaran semacam itu sudah jauh lebih parah lagi. Contohnya saja, beberapa waktu lalu saya mendapatkan email dari seorang teman. Anda tahulah, teman didunia maya tidak selalu berarti orang yang pernah anda temui, lalu saling berkenalan. Email itu berisi pesan tentang produk-produk buku dan audio-video dari seorang trainer Indonesia terkemuka yang sangat saya kagumi. Dan anda dapat memperolehnya secara ‘gratis’!. Tidak perlu dipungkiri bahwa saya ini adalah orang yang cepat hijau matanya kalau membaca tulisan ‘gratis’. Apalagi kata gratis itu ditulis dengan huruf kapital semua dan tebal-tebal. Warna-warni pula. Ingat, kita sedang membicarakan psikologi manusia, haha. Maka, saya pun mengikuti petunjuk dalam email tersebut.

Benar sekali, saya menemukan sederetan produk bagus yang ‘konon’ akan diberikan secara gratis itu. Dan kata ‘gratis’ itu disebutkan berulang-ulang. Jangan lupa, ada bonus tambahannya pula! Mata saya semakin menghijau, dong…. Maklum. Sebelum itu, saya pernah mendapatkan penawaran sejenis – umumnya dari luar negeri; tapi, ujung-ujungnya ada sekian dollar fee yang harus saya bayar. Yang ini tidak. Bahkan, ongkos kirim pun ‘dibayarin’, katanya. Saya baca sekali lagi. Dan saya yakin, ini beneran. Maka, saya membulatkan hati untuk meng-klik tombol “Get Instant Access Right Now!”- nya. Saya hanya diminta untuk mengisi data diri dan alamat email. Gampang, kan? Setelah itu; saya akan dikasih tahu bagaimana cara mendapatkan barang bagus itu secara gratis, katanya. Benar saja, begitu saya klik tombol ’kirim’, saya langsung terhubung dengan ’rahasia’ mendapatkan buku dan VCD-VCD itu. Tahukah anda bagaimana ’rahasia’ itu berbunyi? Rupanya orang-orang yang sudah mengirimkan data diri itu akan diundi, dan pemenang undian akan menjadi si manusia beruntung itu. Haha, saya tertawa sendiri. Tawa getir, sih sebenarnya. Ada tambahan informasi lain; untuk meningkatkan peluang saya mendapatkan barang undian itu, saya disarankan untuk mengirimkan email kepada sebanyak mungkin ’teman’ lengkap dengan link eksklusif yang akan menghitung poin saya. Semakin banyak orang yang mendaftar melalui link saya, semakin banyak poin saya, dan semakin besar peluang saya untuk mendapatkan buku dan VCD gratis itu. Saya tertawa lagi. Kali ini tawa bahagia. Kenapa saya bahagia? Karena saya akan memastikan bahwa teman-teman saya tidak akan mendapatkan email itu dari saya. Apakah karena saya serakah agar hanya saya yang memiliki peluang menang undian? Bukan. Bukan itu. Saya hanya tidak yakin jika teman-teman saya hatinya akan bahagia menerima perlakuan itu. Saya tidak yakin jika teman-teman saya senang dengan iming-iming gratis itu. Jadi, saya putuskan untuk tidak mengirimkan email itu kepada siapapun.

Coba perhatikan kedua peristiwa diatas itu. Bisakah anda menemukan perbedaan antara kata ’gratis’ yang digunakan oleh tukang ketoprak kesayangan saya itu, dengan program buku dan VCD gratis ini? Saya sangat menghormati pedagang ketoprak itu. Dia telah menggunakan psikologi manusia secara elegan. Dan dia telah menggunakan kata ’gratis’ dengan bijaksana. Sungguh sebuah seni pemasaran yang berkelas. Dan saya yakin, para penggemar kerupuk yang ingin mendapatkannya secara gratis tidak akan pernah gigit jari. Mereka akan mendapatkannya persis seperti yang dikatakan dalam spanduk itu. Saya diajari sebuah sistem nilai yang murni oleh pedagang ketoprak itu. Seorang pedagang dan marketer yang sederhana. Bersahaja. Menjunjung tinggi etika. Dan bermartabat.

Oh iya, beberapa hari setelah saya mengirim data diri dan alamat email itu; dalam inbox saya ada email dengan judul: ”Dadang, andalah pemenang bla-bla-bla, Selamat!”

Doktrin psikologi menyarankan saya membuka email itu. Bunyinya; ”Dadang, begitulah judul email yang akan anda dapatkan jika anda memenangkan undiannya. Segera kirimkan link berikut ini kepada sebanyak mungkin teman anda, untuk meningkatkan peluang anda menang”. Haha, saya tersenyum. Kali ini senyum kemenangan. Karena saya tahu hal itu tidak lagi memperdayai saya. Lagi pula, kalau memang undian itu ada, toh saya sudah punya satu nomor undian. Cukuplah itu untuk memenangkannya. Saya kira begitu. Bukankah kita tidak perlu menggantungkan hidup kita pada sebuah undian?

Oh iya, beberapa hari kemudian, ada email lagi dari pengirim yang sama, judulnya: ”Dadang, bla-bla-bla tentang ABC 2007”. Saya membacanya sekilas. Lalu tersenyum. Kali ini entah senyum apa. Hanya saja dalam hati saya bilang; Program pelatihan semenarik ini, dengan pembicara-pembicara sehebat ini, dipasarkan dengan cara seperti ini. Sayang. Apalagi ini dilakukan lembaga intelektual… Sungguh sayang.

Oh iya, beberapa hari kemudian ada email lagi dari pengirim yang sama, subjeknya: ”Dadang…..bla-bla-bla.”

Oh iya, beberapa hari berikutnya email dari pengirim yang sama bermunculan terus-menerus.

Oh iya, beberapa hari kemudian ada email lagi: subjectnya, ”RE: Dadang Anda bertanya tentang ABC 2007”. Haha, saya tertawa lagi. Kali ini tertawa geli. Karena rupanya ingatan saya sudah menurun sedemikian drastis sehingga tidak bisa mengingat, kapan saya menanyakan hal itu kepada orang dari perusahaan penyelenggara pelatihan akbar tersebut.

Konon, ilmu itu bagaikan sebilah pisau. Kita bisa menggunakannya untuk memotong kue ulang tahun yang kita bagikan kepada orang-orang tercinta agar mereka turut menikmati sukacita kita. Bisa juga digunakan untuk melukai dan menyakiti mereka. Begitu juga dengan kemampuan kita dalam memahami psikologi pemasaran. Pemahaman terhadap kondisi emosional-psikologis konsumen kita. Kita bisa menggunakannya secara bijaksana dan beretika seperti sang penjual ketoprak itu. Atau, untuk memposisikan orang lain, pada suatu tempat dimana kita kira; kita boleh memperlakukan mereka sesuka hati kita.

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Jika kita seorang marketer, maka sepatutnya dalam bekerja kita tetap menjunjung tinggi etika. Tidak perlu takut penjualan produk kita menjadi jelek karena nilai-nilai etika luhur yang kita pegang teguh. Jika penjualan kita tidak sesuai dengan harapan; pasti itu bukan karena kita menjunjung tinggi etika, melainkan ada sebab lain yang mesti dicari tahu dan ditangani. Jadilah seorang marketer yang elegan; anda tidak hanya akan mendapatkan prestasi penjualan, melainkan juga kehormatan.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. Hahaha…Mas Dadang, saya pun sering dikirimi e-mail serupa dengan anda. Tapi untungnya sejak dulu, saya tidak pernah percaya yang namanya GRATISAN…wekekekek…

    Bagi saya, wong harga tidak seberapa aja kok digratiskan ya? Kan aneh? Menurut para pakar: TIDAK ADA MAKAN SIANG YANG GRATIS kan? Lha ini yang bilang gratis justru termasuk tokoh trainer dan intelektual…sangat – sangan aneh luar biasa prima. Dan, saya tidak pernah nge-klik sekali pun.

    Bagaimanakah nantinya dunia training Indonesia, jika para tokohnya berbuat seperti itu ya?
    Hehehe…tak taulah saya, Mas Dadang. Yang penting kita ini nggak ikut-ikutan saja ya.

    Terima kasih postingan-nya yang sudah mengingatkan para tokoh trainer di Indonesia ini.

    Wasalam,
    Wuryanano
    http://wuryanano.com/
    http://groups.yahoo.com/group/SuperMindPower/

  2. Kang Dadang yang mulia,

    Senang dapat pencerahannya on being

    a marketer yang bermartabat & arif.

    Tadi saya cari odol di indomaret, karena

    beberapa waktu lalu ribut ‘formaldehyde’,

    cukup lama saya bongkar2 semua odol di

    rak indomaret, memastikan pilihan saya

    benar. Akhirnya nemu close-up yg belum

    pernah pakai selama ini, yg bebas ‘for-

    maldehyde’. Pepsodent, Formula semua ada,

    termasuk yang herbal. Ini soal pilihan

    saja. Saya memilih untuk bebas resiko

    or minimized risk, minimal. Bebas resiko

    salah beli produk tak terhindarkan.

    Resiko memakai produk jelek karena

    tertipu imajinasi iklan yang top/keren,

    tak terelakkan. Contoh: iklan yg men-

    janjikan gigi mengkilap, padahal

    ingredientnya mengandung health risk, masih

    banyak disekitar kita. Banyak sekali produk

    yang top sekalipun, tak ada tanggal kada-

    luarsanya. Hanya ada kolom tulisannya aja,

    pinter2nya produsen, tapi setelah diteliti

    diputar2, gak ada tanggalnya. Gak ada jaminan-

    nya. Banyak yg masih gak ARIF & BERMARTABAT.

    YLK salut kepada jerih payah mereka, tetap

    saja harus berjuang membela konsumen, dan

    toh juga tak dapat membawa mereka ke ruang

    etika pemasaran/bisnis bersama POM.

    Meski saya selama ini gak suka dg close-up

    kesannya produk ABG, tidak manjur dan mahal.

    Dengan terpaksa, gak ada pilihan, akhirnya

    saya beli juga close-up. Istri saya pakai

    glister odol sensitive dari amway yg tdk

    ada ‘formaldehyde’nya. Juga pakai sikat gigi

    glister yang saya rasakan bersih dan segar.

    Setuju dengan Kang Dadang, jadilah manusia

    bijak, manusia bermartabat, manusia arif.

    Otomatis jadi kons & prods yang arif.
    Makan ketoprak tapi tetap arif..he..he..

    Many thanks Kang Dadang.
    salam mulia, salam mulai

    harry uncommon purnama
    washyourhand@yahoogroups.com

  3. Dear Mas Dadang,

    Jujur saja saya mencoba buka website Mas Dadang setelah mendapat info dari website sebuah group,
    ternyata banyak hal terjadi dalam hati dan pikiran seorang manusia dewasa dan Mas sungguh pandai mengupasnya, terkadang memang kita terlupakan akan hal-hal kebaikan akibat banyaknya kesulitan hidup yang harus dilalui… thank`s Mas Dadang semoga kita selalu mendapat hidayahNya.

    Amiiin.

  4. Salam briliant,
    Setelah memasuki arena pak Dadang, saya menjadi tambah mengerti akan arti sebuah kehidupan. dan mencoba untuk menjadi yang berarti disegala lini kehidupan….
    Allah SWT memang menyajikan alam untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Dan PAk Dadang sudah mencoba untuk menjadi salah seorang musafir yang bisa memberikan arti bagi musafir lainnya di muka bumi ini. Oke Pak, maju terus dan selamat berjuang…. Inspirasi BApak akan kami jadikan salah satu tiang dalam menegakkan kebaikan….

  5. Dadang Kadarusman

    #3. Terimakasih telah berkunjung. Disini kita bisa ‘bertemu’ dengan mentor saya yang lain yaitu Pak Wuryanano dan Pak Harry. Mereka adalah orang-orang hebat yang selalu bersedia berbagi keunggulan dengan orang lain.

    #4. Pak Denny, salam briliant! Dari Pak Denny saya menyadari bahwa ternyata memang saya ini seorang musafir. Sekumpulan musafir yang berjalan bersama bisa saling memberi arah ya Pak? Terimakasih telah berkunjung