Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika mendengar kata ‘tabungan’, biasanya otak kita langsung mengasosiasikannya dengan uang. Berapa jumlah uang yang kita simpan di bank, dalam celengan, dibawah bantal, disela-sela buku, dikolong tempat tidur, atau tempat-tempat aneh lainnya. Kadang-kadang, kita baru ‘menemukan’ uang yang kita ‘tabung’ itu sepuluh tahun kemudian. Itupun dengan tidak sengaja. Ketika kita hendak memindahkan lemari buku. Tiba-tiba saja ada dua lembar uang kertas lima puluh ribuan. Setelah kita ingat-ingat, ternyata memang kitalah yang ‘menabung’ uang itu sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana dengan tabungan emosi positif? O-ow?! Tabungan emosi positif. Rasanya kok agak janggal ya? Benar, ‘tabungan emosi positif’. Pernahkah kita menabung emosi positif? (more…)

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Disukai orang lain itu merupakan sebuah kenikmatan. Makanya tidak heran kalau banyak orang berlomba-lomba untuk menyenangkan orang lain, supaya orang-orang itu menyukainya. Lagipula, apa salahnya sih membuat orang lain suka sama kita? Bukankah bagus-bagus saja jika kita membuat orang lain senang? Berarti kita berhasil melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka, bukan? Stop. Jangan diteruskan. Apa yang dimaksud dengan ’kita berhasil melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka’ itu? Dalam konteks melayani, memang kita dituntut untuk bisa melakukan sesuai keinginan mereka; apalagi jika mereka itu pelanggan kita. Tetapi, apakah segala yang mereka inginkan harus kita penuhi? Saya yakin anda sependapat untuk menjawab ’tidak’. Tidak semua yang mereka inginkan harus kita ikuti dan penuhi. Contohnya apa? Ketika keinginan orang lain melampaui batas-batas etika. Ada yang seperti itu? Banyak. Dan ketika keinginan mereka mengandung unsur kriminal. Adakah? Tak terbilang. Juga ketika keinginan mereka merendahkan martabat kita sebagai seorang manusia. Memangnya bisa terjadi? Mengapa tidak? Betapa banyak orang yang menginginkan sesuatu, meskipun dia tahu bahwa orang lain harus mengorbankan martabatnya demi terpenuhinya keinginan itu. Ada banyak hal yang diinginkan oleh orang lain; dan kita tidak perlu mengikutinya. Tetapi, bukankah kalau kita tidak memenuhi keinginan mereka maka mereka tidak akan menyukai kita? So what? (more…)

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dimasa kecil, ketika pelajaran kesenian tiba, Ibu guru meminta setiap anak untuk bernyanyi didepan kelas. Kita bersembunyi dikolong meja dengan debaran jantung teramat kencang, berusaha menghindari giliran. Kita merasa malu. Ketika beranjak remaja, Ayah dan Ibu bilang:”Kamu ini bikin malu keluarga saja!”. Saat memasuki usia dewasa muda, kita duduk dibangku kuliah berhadapan dengan dosen yang sangat cerdas. Dia tahu kita tidak mengerti rumus-rumus abstrak yang dilukisnya dipapan tulis. Beliau bertanya:”Siapa yang belum mengerti?” Kita terdiam. Membisu. Malu ketahuan teman kalau kita ini bodoh. Dan. Ketika sudah benar-benar dewasa, kita duduk di kursi hotel untuk sebuah pelatihan dari seorang trainer hebat. Ketika trainer itu bertanya:”Bapak, Ibu, silakan jika ada yang ingin ditanyakan…” Kita terdiam. Malu. Masak, pangkat manajer kok mengajukan pertanyaan sedungu itu. Kemudian kepada kita dikatakan; ”Buanglah jauh-jauh rasa malu. Karena itu akan menghambat keberhasilanmu!” Benarkah demikian? (more…)

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dipagi hari beberapa waktu yang lalu, saya berbalas email dengan seorang sahabat melalui milist mantan aktivis di kampus. Sahabat saya itu baru saja dikaruniai kelahiran putra keduanya. Nama anaknya bagus sekali. Dan dibelakang nama anak itu ditambahkan nama bapaknya – sahabat saya itu. Saya turut berbahagia, seperti yang saya katakan kepadanya. Saya kemudian berujar; “Para lelaki tidak bisa membuat anak sendirian. Lantas, mengapa kita yang kaum pejantan ini seringkali menyabotase anak yang dilahirkan oleh istri-istri kita dengan menempelkan nama kita dibelakang nama mereka?”. Saya berani bilang begitu karena dia adalah sahabat kental yang sudah sejak jaman kuliah dulu saling canda; dan kami tak pernah tersinggung.

Beberapa jam setelah email di milist itu; saya mendapatkan email dari rekan dikantor. Kakak kelas sewaktu kuliah dulu. Beliau mengabarkan bahwa salah satu sahabat terbaik saya dikelas; meninggal dunia pagi ini, setelah mengalami komplikasi melahirkan akibat eklamsia. Saya tertegun. Pagi itu, mendadak saja saya usil pada ulah para lelaki seperti saya ini. Dan ternyata, pada saat yang sama dibelahan bumi yang lain, seorang perempuan harus meregang nyawa – benar-benar meregang nyawa – dalam usahanya untuk membawa sebuah kehidupan baru. Seorang bayi manusia yang mesti dia tebus dengan nyawanya sendiri. Perempuan itu; menukarkan nyawanya sendiri untuk sebuah kehidupan hasil dari benih kasihnya dengan sang suami. Perempuan itu, rela menutup matanya sendiri dan memberikan mata indah itu kepada mata hatinya. Kemudian menghadiahkannya kepada sang suami. Perempuan itu, seperti banyak perempuan lain dimuka bumi ini; bersedia menyerahkan hidupnya sendiri, sebagai sebuah pengorbanan yang tiada terperikan. (more…)