Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Dipagi hari beberapa waktu yang lalu, saya berbalas email dengan seorang sahabat melalui milist mantan aktivis di kampus. Sahabat saya itu baru saja dikaruniai kelahiran putra keduanya. Nama anaknya bagus sekali. Dan dibelakang nama anak itu ditambahkan nama bapaknya – sahabat saya itu. Saya turut berbahagia, seperti yang saya katakan kepadanya. Saya kemudian berujar; “Para lelaki tidak bisa membuat anak sendirian. Lantas, mengapa kita yang kaum pejantan ini seringkali menyabotase anak yang dilahirkan oleh istri-istri kita dengan menempelkan nama kita dibelakang nama mereka?â€. Saya berani bilang begitu karena dia adalah sahabat kental yang sudah sejak jaman kuliah dulu saling canda; dan kami tak pernah tersinggung.
Beberapa jam setelah email di milist itu; saya mendapatkan email dari rekan dikantor. Kakak kelas sewaktu kuliah dulu. Beliau mengabarkan bahwa salah satu sahabat terbaik saya dikelas; meninggal dunia pagi ini, setelah mengalami komplikasi melahirkan akibat eklamsia. Saya tertegun. Pagi itu, mendadak saja saya usil pada ulah para lelaki seperti saya ini. Dan ternyata, pada saat yang sama dibelahan bumi yang lain, seorang perempuan harus meregang nyawa – benar-benar meregang nyawa – dalam usahanya untuk membawa sebuah kehidupan baru. Seorang bayi manusia yang mesti dia tebus dengan nyawanya sendiri. Perempuan itu; menukarkan nyawanya sendiri untuk sebuah kehidupan hasil dari benih kasihnya dengan sang suami. Perempuan itu, rela menutup matanya sendiri dan memberikan mata indah itu kepada mata hatinya. Kemudian menghadiahkannya kepada sang suami. Perempuan itu, seperti banyak perempuan lain dimuka bumi ini; bersedia menyerahkan hidupnya sendiri, sebagai sebuah pengorbanan yang tiada terperikan. Continue reading