Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Benarkah Kita Harus Membuang Rasa Malu?

Benarkah Kita Harus Membuang Rasa Malu?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dimasa kecil, ketika pelajaran kesenian tiba, Ibu guru meminta setiap anak untuk bernyanyi didepan kelas. Kita bersembunyi dikolong meja dengan debaran jantung teramat kencang, berusaha menghindari giliran. Kita merasa malu. Ketika beranjak remaja, Ayah dan Ibu bilang:”Kamu ini bikin malu keluarga saja!”. Saat memasuki usia dewasa muda, kita duduk dibangku kuliah berhadapan dengan dosen yang sangat cerdas. Dia tahu kita tidak mengerti rumus-rumus abstrak yang dilukisnya dipapan tulis. Beliau bertanya:”Siapa yang belum mengerti?” Kita terdiam. Membisu. Malu ketahuan teman kalau kita ini bodoh. Dan. Ketika sudah benar-benar dewasa, kita duduk di kursi hotel untuk sebuah pelatihan dari seorang trainer hebat. Ketika trainer itu bertanya:”Bapak, Ibu, silakan jika ada yang ingin ditanyakan…” Kita terdiam. Malu. Masak, pangkat manajer kok mengajukan pertanyaan sedungu itu. Kemudian kepada kita dikatakan; ”Buanglah jauh-jauh rasa malu. Karena itu akan menghambat keberhasilanmu!” Benarkah demikian?

Seorang salih yang dicintai umatnya mengatakan:”Rasa malu itu adalah bagian dari Iman.” Dengan kata lain, keimanan seseorang tidaklah sempurna seandainya orang yang mengaku beriman itu tidak memiliki rasa malu. Sekarang pilihannya ada pada diri anda; apakah anda ingin menjadi orang berhasil dalam karir, atau menjadi orang yang beriman dengan keimanan yang utuh? Jika anda ingin sukses berkarir, buang rasa malu dari dalam diri anda! Jika anda ingin menjadi orang beriman, pupuk dan hidupkan rasa malu dalam diri anda! Gampang, kan? Tetapi, benarkah kita harus demikian? Tidakkah keimanan dan kesuksesan bisa seiring sejalan?

Kita seringkali mencampakkan ajaran-ajaran normatif seperti itu. Mungkin karena terlalu dipengarui oleh hawa hedonisme, dimana materi menjadi tolak ukur paling dominan. Hidup kita, dinilai dari jenis mobil yang dikendarai. Kemegahan rumah yang kita huni. Label pakaian yang kita kenakan. Gelar yang menempel pada nama kita. Dan jabatan atau pangkat yang melekat dipundak kita. Ajaibnya, kita meyakini bahwa kalau kita malu, tidak mungkin semuanya itu bisa kita raih. Oleh karena itu, mengapa kita mesti malu melakukan ini dan itu. Mengapa kita mesti malu melabrak sana sini. Menyikut kanan dan kiri. Mengambil. Merenggut. Meraup. Apa saja. Supaya dalam sekejap, kita bisa mendapatkan segala-galanya. Mengapa mesti malu?

”Buanglah jauh-jauh rasa malu. Karena itu akan menghambat keberhasilanmu!” Rasa malu seperti apa yang mesti kita buang jauh-jauh? Malu bertanya sesat dijalan, katanya. Jadi, mungkin harus membuang rasa malu itu. Sebab, kalau malu bertanya kita akan tersesat. Bisa iya. Bisa tidak. Anda, jika sudah memiliki fasilitas GPRS; tidak usah lagi bertanya. Tidak akan pernah tersesat lagi, kok. Anda, jika sudah punya asisten pribadi yang hebat; mengapa masih harus bertanya? Cukup anda katakan kepadanya: ”Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, tapi kamu harus kerjakan ini untukku!”. Besok pagi hasilnya sudah tertata rapi diatas meja kerja anda yang mewah. Masih haruskah anda bertanya? Jika anda malu tampil didepan orang banyak untuk sebuah pidato yang bermutu, mengapa pusing. Minta saja pegawai anda mengadakan kontes untuk mencari orang yang mirip dengan anda; dan suruh dia bicara didepan publik untuk anda. Masihkah anda membutuhkan rasa malu?

”Rasa malu itu adalah bagian dari Iman.” Ngomong apa sih sang Nabi ini? Please, deh. Jangan kaitkan soal rasa malu dengan keimanan! Baiklah, kita hentikan semua omong kosong ini sampai disini. Tapi sebelum itu, coba kita perhatikan beberapa hal berikut ini. Seorang beriman akan merasa malu jika dia tidak bisa mempersembahkan hasil pekerjaan yang baik untuk perusahaan yang menggajinya. Seorang beriman akan malu jika kemampuan dirinya lebih rendah dibandingkan rekan sejawat yang bekerja dalam tanggungjawab yang sama, digaji sama, diberi fasilitas sama, dan diperlakukan sama. Dia malu jika membiarkan dirinya terus menerus ketinggalan. Dan dia malu, jika meminta kenaikan gaji padahal dia tahu; dia belum bekerja maksimal untuk perusahaan. Seorang yang beriman, malu jika menyalahgunakan fasilitas dan kesempatan yang dia dapatkan. Seorang yang beriman malu, jika menggunakan kewenangan untuk memeras para pemasok barang. Dan seorang yang beriman malu, jika harus mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Oleh dasar rasa malu itu; seorang yang beriman, dalam bekerja pasti akan mempersembahkan prestasi puncaknya. Dan oleh dasar rasa malu itu; seorang beriman akan sadar bahwa bertanya merupakan tugas dirinya yang belum mengetahui suatu hal. Malu dia, jika nanti setelah mengikuti pelatihan, pengetahuan dan kemampuannya sama sekali tidak ada penambahan. Jadi pastilah dia akan bersungguh-sungguh dalam melakukan apapun yang menjadi tanggungjawabnya. Seorang atasan yang beriman malu jika semua kesalahan ditimpakan kepada anak buahnya. Apa fungsi atasan jika demikian? Seorang anak buah yang beriman, malu jika keberadaannya sama sekali tidak menyebabkan segala sesuatunya lebih mudah bagi sang atasan. Apa guna seorang bawahan jika demikian? Seorang kolega yang beriman, malu jika kehadirannya sama sekali tidak menyebabkan teman-temannya dalam team terbantu. Dan seorang pegawai yang beriman, malu dia; kalau sampai tugas-tugasnya terbengkalai. Seorang karyawan yang beriman akan malu jika dia masuk ke kantor selalu terlambat, dan terbiasa pulang cepat-cepat. Dan karyawan yang beriman akan malu jika menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan siang dengan desert berupa rumpi yang tidak karuan. Dia akan malu juga, jika setelah menyia-nyiakan jam kerja itu tetap tinggal dikantor sampai larut malam agar perusahaan membayar upah lembur. Dan orang yang beriman; akan malu jika menyia-nyiakan kesempatan untuk dipromosikan. Sehingga dia akan berusaha sekuat tenaga, agar memiliki kualitas yang jauuuuuuuuuuh lebih baik dari teman-temannya yang lain. Agar nanti, jika ada lowongan jabatan yang lebih tinggi – management tidak ragu memilihnya untuk dipromosikan. Karena, ”Rasa malu itu adalah bagian dari Iman.”

Kita bisa menjadi orang beriman yang sukses, bukan? Tentu saja bisa. Sebab ternyata, sang Nabi merancang konsep rasa malu dalam iman itu untuk memastikan bahwa umatnya benar-benar meraih kesuksesan dalam hidup, dan dalam mati. Dalam hidup dengan rasa malu itu, kita dibimbing untuk menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Dan bisa diandalkan. Layak untuk diberi tanggungjawab besar. Patut untuk menjadi panutan. Dan pantas dijadikan tempat dimana orang-orang lainnya mendapatkan pencerahan. Dalam mati dengan rasa malu, kita meninggalkan jejak-jejak keterpujian. Untuk dicatatkan oleh malaikat sebagai kebajikan. Untuk menjadi landasan, mengapa dia layak mendapatkan imbalan dari Tuhan. Dan untuk menjadikannya modal agar pantas mendapat tempat yang terpuji disisi-Nya. Kadang kita mengatakan ’telah berpulang ke rahmatullah’. Mana mungkin kita benar-benar kembali kepada rahmat Allah, jika ketika mati, kita tak memiliki rasa malu? Mungkin kita mengatakan ’telah berpulang kerumah bapa di surga’. Mana mungkin pintu rumah Allah akan dibukakan untuk kita; sendainya kita tidak memiliki rasa malu? Bahkan, untuk memasuki rumah tetangga saja kita harus memiliki rasa malu itu. Bukankah tidak ada orang yang senang dikunjungi oleh jenis manusia yang tidak tahu malu? Jadi, bagaimana kita bisa masuk surga kalau pintunya tidak dibuka pemiliknya? Karena sang pemilik surga hanya akan membukakan pintu itu bagi mereka yang benar-benar beriman. Sedangkan kata Pak Muhammad: ”Rasa malu itu adalah bagian dari Iman.” Dan kalau tidak kesurga, kemana lagi kita akan kembali pulang?

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Jika dirawat dan dimanfaatkan dengan tepat; rasa malu akan membantu kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang berhasil meraih keagungan didalam kedua kehidupan

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

12 comments

  1. “SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOV 2007,
    MEREKA YANG DISEBUT PAHLAWAN, MALU JIKA NEGARANYA DIRUGIKAN, DIMANFAATKAN, DIKERUK
    OLEH KEDEGILAN MANUSIA YANG LAIN. DEMI ITULAH
    MEREKA BERJUANG DAN MATI”

    Kang Dadang yang mulia,
    Hari baru, sabtu, 10 Nov, hari Pahlawan.
    Kembali saya dicerahkan dengan tulisan Kang Dadang ini. Rasa MALU. Rasa TAKUT.
    Amsal 1:7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”
    Amsal 1:27-29
    27 “Apabila kedahsyatan datang keatasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu.”
    28 “Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku.”
    29 “Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan Tuhan..”

    “Malu yang disertai takut akan Tuhan adalah sumber KEJUJURAN dan HIKMAT. Jika ada pemimpin yang jujur dan ber-hikmat di Indonesia ini, dialah pemimpin kita yang sesungguhnya. Kepadanyalah kita harus mengabdi dan memberikan kinerja terbaik kita. Mari membangun pemimpin baru yang seperti itu.”

    salam mulia, salam mulai
    harry uncommon purnama

  2. Dear Pak Dadang….

    Begitu pula dengan hadist Rasullulloh Muhammad SAW :”Kebersihan itu adalah bagian dari Iman”, bersih fisik, menjadikan kita sehat jasmani, di dalam jiwa yang sehat dan bersih menjadikan kita manusia yang seutuhnya, manusia yang mempunyai rasa malu.”
    Andai kita bisa mengikuti semua yang telah diteladani oleh Rosul, niscaya tak ada lagi rasa iri & dendam, hawa nafsu ingin menguasai harta dunia yang sifatnya sementara, karena kalau kita benar2 memahami kata-kata malu dan bersih.. maka disitulah sebenarnya kunci keselamatan hidup ya pak…

  3. Punya rasa malu juga membuat diri kita “tidak malu-maluin” ya Mas Dadang.

    Kalau tidak punya rasa malu, entar orang bilang, bahwa kita “tidak punya kemaluan”…hehehe..

    Salam,
    Wuryanano
    http://wuryanano.wordpress.com/

  4. Ass.wr.wb.
    Pak Dadang, salam kenal dari Wendra di Pekanbaru.
    Menarik sekali tulisan Pak Dadang ttg rasa malu. Menurut saya rasa malu perlu dibedakan minimal ada 2 jenis atau 2 tujuan: kalau dalam hal berbuat maksiat dan dosa, maka seseorang (muslim) haruslah memiliki rasa malu untuk melakukannya, kalau untuk hal-hal yang baik, perjuangan hidup dll, maka rasa malu mungkin perlu dihilangkan. Betul nggak Pak?

    Salam,
    Wendra

  5. #4. ‘Alaikum salam Pak (Bu?) Wendra. Salam kenal. You got your point.

  6. Nah Pak Dadang..

    Kalo diledekin orang karena kita memiliki kekurangan (kecacatan fisik), lebih baik malu atau marah?
    Saya sering ngalamin hal ini. Dan saya lebih sering merasa malu kalo udah dapet perlakuan seperti itu..

  7. #6. Pushandaka: “lebih baik malu atau marah?” Pertanyaan yang bagus. Dan yang saya miliki, bukanlah jawaban(oh…no….!), melainkan hal-hal berikut ini: Kekurangan fisik menyelamatkan diri kita dari mencela orang lain. Selamat kita, dari kemungkinan mengotori diri dengan perilaku serendah itu. Oleh karena itu, Tuhan pasti lebih sayang kepada mereka yang cacat fisik tetapi memiliki martabat yang baik, dan pencapaian yang tinggi. Saya ragu jika mereka yang merendahkan anda itu orang-orang yang lebih baik dari anda. Contohnya: Belum tentu mereka mampu berbuat seperti yang anda lakukan dalam blog ‘ketawaku’ yang bagus itu. Anda bisa berkontribusi secara positif kepada orang lain, apakah mereka bisa? Tidak. Sebab, tidak mungkin seseorang bisa berkontribusi sekaligus mencela mereka. Jadi, Terimakasih Tuhan, bukan?

    Stephen Hawking. Anda pernah mendengar nama itu? Tidak seorangpun ahli fisika dijaman ini yang meremehkan lelaki yang tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan itu. Bahkan bicara pun harus dibantu komputer.

    Stevie Wonder. Anda menyukai lagu-lagunya? Dengan kekurangan pada matanya, dia merupakan salah satu penyanyi yang paling banyak mendapatkan penghargaan musik.

    Hee Ah Lee. Mungkin nama ini masih agak jarang terdengar, disini. Apalagi, dia hanya punya 4 jari tangan. Namun, bersama ke-4 jari tangannya itu dia menjadi pianist paling dikagumi diabad ini.

    Jadi, menurut anda: “lebih baik malu atau marah?”

  8. Saya senang sekali membaca penjelasan anda Pak Dadang..

    Thanks God..
    And thanks to you, Pak Dadang..

  9. Ass.Wr.Wb.
    Selamat pagi menjelang siang Pak Dadang, salam kenal dari Mirza di Jakarta.
    Luar biasa tulisan Pak Dadang ini, mustinya para pemimpin kita membaca dan mempraktekkannya.
    Pasti negara kita menjadi negara terbesar di dunia…

  10. #9. Pushandaka. Saya yang senang….
    #10. Wa’alaikum salam wr. wb. Pak Mirza. Salam kenal dan terimakasih.

  11. Aslm alkm, Mas Dadang. Putuskan urat malu kalau mau sukses, itu yang selalu saya dengar dari dunia marketing. Tentu saja urat malu terhadap Allah SWT dan segala aturanNya harus lebih diperkuat lagi. Salam Sukses untuk Mas Dadang – dari Medan.

  12. Ass.Wr.Wb
    Pak dadang.. salam kenal pak dari henny di bandung, saya selalu membaca setip artikel bapak setiap pagi..,banyak hal yang saya dapat.. tapi pak ad satu hal yang sampai sekarang mengganjal dalan diri, saya bisa dibilang mengedapankan rasa malu terlebih dahulu dalam segala hal, dan itu jd kendala hidup saya, setelah saya menbaca artikel” bapak, saya ingin berubah!! tapi knp selalu ad ketakutan pak dalam diri saya??? rasa percaya diri saya minim sekali pak.. tolong bagaimana menghilangkan rasa malu dan menumbuhkan percaya diri saya?