Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Inferiority Complex Atau Superiority Complex: Mana Yang Kita Butuhkan?

Inferiority Complex Atau Superiority Complex: Mana Yang Kita Butuhkan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Mana yang kita butuhkan: inferiority complex atau superiority complex? Jika itu pertanyaannya, maka jawabanya tegas dan lugas: kita tidak membutuhkan kedua-duanya. Mengapa demikian? Karena baik inferiority complex, maupun superiority complex bukanlah sikap yang layak kita pelihara. Kita tidak pantas untuk menjadikan keduanya sebagai bagian dari diri kita. Dengan inferiority complex, kita hanya akan menjadi pecundang yang tak terkalahkan. Haha, pecundang yang tak terkalahkan? Apa-an tuch? Iya, pecundang nomor wahid. Sebab, sebelum bertandingpun kita sudah menyerah kalah. Sebelum mencoba sekalipun, kita sudah merasa gagal. Sayangnya, sikap ini sudah berhasil memakan banyak korban. Begitu banyak orang potensial dan berbakat hebat tetapi tidak menghasilkan pencapaian apa-apa dalam hidup mereka, hanya gara-gara terjangkit virus inferiority complex. Kita juga tidak butuh superiority complex. Meskipun tidak jarang kita menemukan orang-orang yang terkena syndrom ini; tetapi, mengadopsi sifat seperti ini sama sekali tidak akan menambah nilai hidup kita.

Jika pernah membaca buku “Belajar Sukses Kepada Alam”, mungkin anda masih ingat bahwa inferiority complex menjadikan seseorang merasa bahwa dirinya kurang penting, kurang berharga, atau kurang pandai dibandingkan dengan orang lainnya. Dan karenanya, orang seperti ini selalu bersikap pesimistis. Lantas memberi dirinya sendiri label sebagai orang yang tidak pantas untuk menerima suatu keadaan yang baik. Perilaku nyata yang muncul dipermukaan adalah sifat yang kita sebut sebagai rendah diri.

Kita mungkin menduga bahwa sindrom ini hanya menyerang orang-orang yang berpendidikan rendah. Atau mereka yang tidak memiliki cukup keahlian. Tidak juga. Sungguh mengejutkan bahwa pada kenyataannya; sindrom ini justru menyerang banyak orang yang mempunyai kemampuan tinggi. Tengok saja sekeliling anda. Diantara mereka ada lulusan-lulusan perguruan tinggi terkemuka. Tak jarang pula yang memegang gelar pasca sarjana. Tetapi, ketika mereka dihadapkan pada situasi-situasi tertentu; mereka tidak mempunyai rasa percaya diri yang memadai. Sekalipun mereka memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menghadapi semuanya itu dengan gemilang. Mereka hanya bisa menggigil dipojok ruangan, sambil mengeluarkan keringat dingin disekujur badan. Padahal, butiran-butiran salju dimusim ini belum lagi turun…

Pernah menemukan jenis-jenis manusia seperti itu disekitar Anda? Tentu saja. Karena jumlahnya banyak sekali. Iya, kan? Ngomong-ngomong, bisakah anda memberi tanggungjawab yang besar kepada manusia dari jenis ini? Tidak, bukan? Sekarang, bagaimana seandainya ternyata kitalah yang dihinggapi sindrom inferiority complex itu? Sederhana saja: orang lain tidak akan pernah memberi kita kepercayaan untuk menangani tugas-tugas penting. Titik. Dan kita. Hanya akan menjadi seseorang yang tidak berarti apa-apa. Pergi tak ganjil, datang tak genap. Mereka bilang: kagak ada elo juga kagak apa-apa!

Kita sering tidak menyadari bahwa ketika mengatakan pada diri sendiri :”Saya ‘kan orang baru, mana bisa melakukan hal itu ?“ misalnya; maka kita telah merendahkah diri kita sendiri. Sehingga selamanya kita tidak bisa berbuat apa-apa; karena tidak pernah berani mencoba. Lantas, bagaimana mungkin kita bisa sukses didalam karir atau apapun juga jika membiarkan karakter inferiority complex itu bersemayam didalam diri kita?

Begitu pula halnya dengan superiority complex. Dia menjadikan seseorang mengira bahwa dirinya lebih baik dan lebih penting dibandingkan dengan orang lain. Dan karenanya, orang itu menjadi besar kepala dan arogan. Terlampau percaya diri. Dan memandang rendah orang lain.

Tidak ada salahnya jika kita mempunyai rasa percaya diri tinggi. Justru hal itu bisa menjadi nilai penentu competitiveness kita. Tetapi, jika kepercayadirian itu akhirnya membutakan mata hati kita, sehingga kita menjadi begitu angkuh, arogan, sombong, adigung adiguna; maka sesungguhnya kita, telah terseret kedalam comberan superiority complex.

Masih ingat apa yang dikatakan oleh guru sekolah dasar kita tentang ilmu padi? Benar. Semakin berisi, semakin merunduk. Batang-batang pohon padi mengajarkan kepada kita untuk menghindari karakteristik besar kepala seperti itu. Dan kabar baiknya, dengan memiliki kerendahan hati, kita tidak menjadi manusia rendah. Dengan kerendahan hati, justru kehormatan kita semakin bertambah tinggi. Dan dengan kerendahan hati, kita menjadi manusia yang bersedia mengakui bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna dimuka bumi ini. Kita mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun, kekurangan tidak menjadikan kita terpojok ditempat yang suram. Dan kelebihan tidak mengakibatkan kepala kita kebesaran. Sebaliknya, cahaya Tuhan membimbing mata hati kita untuk saling melengkapi; satu sama lain. Sehingga, ketika ada seseorang yang mengatakan: “yuk, kita barteran”. Kedengarannya sungguh menyenangkan, bukan?

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Tiadalah Tuhan memberi secuil kelebihan kepada kita, selain disertai kesempatan untuk memanfaatkannya demi kebaikan umat manusia. Tidak pula kekurangan, selain cara bagi kita untuk memberi ruang kepada kebaikan orang lain. (Tidak terdengar seperti kata-kata mutiara, kan ya?)

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

11 comments

  1. Kang Dadang di awal Desember 07 ini
    selalu saja segar..meyegarkan tanaman
    hati kita, menyiraminya sambil bernyanyi..
    memang beliau tukang kebun yang baik,
    selalu hadir dg 1 tulisan di akhir minggu
    buat semua tanamannya..!
    menu/pupuk kali ini: INF & SUP complex,
    seger sekali..! mari bangkit, tapi tidak
    sombong, mari bangun, tapi tidak ketinggian,
    mari duduk, tapi tidak lupa beridir..!
    salam mulia, salam mulai,
    harry ‘uncommon’ purnama

  2. Halo salam kenal, saya setuju sekali dengan postingan ini, inferioty complex dan superiority complex, banyak sekali saya berjumpa dgn org org yg punya masalah seperti ini, dan mereka very well educated :P.

  3. wuachh…bener sekali nich pak…saya jadi teringat iklan suatu rokok : yang muda yang gak dipercaya…(klo gk salah bunyinya kayak itu..)…kayaknya klo dijadiin buku dgn riset2 kayaknya bukunya bakal lakunya dach pak…

  4. salam kenal,
    wah pak trims banget neh.. artikelnya benar2 “menyentuh”, dlm artian, sy sempat mengalami inferiority complex dan skr msh terus berjuang utk lepas dari nya…
    oiya blognya sy link pak 🙂

  5. Kang Dadang salam kenal, kalo ga salah dulu pernah ikut PAS ya di ITB, Kang dadang yang itukah, itu loh dadang kadang-kadang. bener ga siyyy, abis liat fotonya msh sama kek dulu deh…cuma beda rambut doang hehe….. Mudah2an tidak salah………

  6. Saya suka sekali yang di bagian akhir tulisan ini. Dengan kerendahan hati tidaklah menjadikan kita manusia yang rendah justru kehormatan kita menjadi semakin tinggi. Benar banget ya Kang? Semoga saya bisa menjadi orang yang menganut ilmu padi itu ya. Bisa nggak sih? Semoga bisa.

  7. Yang penting, sebetulnya kita harus belajar terus, baik kepada orang yang lebih pandai, lebih kaya pengalaman, tetapi kita juga harus memberikan sharing. Syndrom tadi bisa diatasi, jika kita duduk sama-sama, tak ada yang paling pintar dan yang paling nggak bisa…semua bisa diatasi asalkan ada kemauan dan kemampuan. Jika kemampuan kurang, bisa belajar dari yang lebih tahu.

    Dan memang pada umumnya, semakin kita tahu, semakin kita merasa tidak tahu…begitu banyaknya hal yang masih harus dipelajari.

  8. Terimakasih kepada semuanya.

    #Coni & Senasana. Salam kenal.
    #Anno, ide yang bagus. Boleh dicoba deh.
    #Ibu Lirih…., sekarang sudah Ibu-Ibu ya? Terimaksih masih mengingat saya. Ibu lirih ini seorang perempuan cerdas yang Insinyur hebat.

    All the best to everyone!

  9. pulang tak ganjil, datang tak genap. evan suka istilah ini. Emang susah ya kalo terjangkit inferiority complex. Dulu papa evan gitu pak, terutama ama cewek. tapi dah sembuh,makanya dapet mama. 😀
    salam kenal,pak

  10. Mas Dadang yang luar biasa!!!, dengan kata lain “jadilah diri sendiri” dengan menu pupuk segarnya Mas Harry ‘uncommon’ purnama.
    Good luck to all of us ……

  11. apa saja 3 sumber infreriotity,,???