Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Bersediakah Kita Melapangkan Jalan Sang Lawan?

Bersediakah Kita Melapangkan Jalan Sang Lawan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Melapangkan jalan bagi lawan kita. Tidak terdengar seperti gagasan yang cerdas, bukan? Orang yang mempunyai kecanggihan berpikir pasti tahu bahwa melapangkan jalan bagi lawan-lawan kita hanya akan menyebabkan kita kalah dalam persaingan. Kalaupun kita melakukannya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bahwa jalan yang kita lapangkan untuk lawan-lawan kita itu menuju ke sebuah jurang kehancuran. Jika jalan itu menuju kepada kejayaan, mengapa mesti dilapangkan untuk sang lawan? Logika berpikir kita seharusnya justru mengatakan untuk menjegal setiap langkah lawan dijalan itu. Kita harus memastikan bahwa jalan menuju kejayaan semacam itu hanya boleh dilewati oleh kita saja.

Melapangkan jalan bagi lawan kita. Agak terdengar seperti sebuah perumpamaan. Mungkin memang itu tidak lebih dari sekedar kiasan belaka. Bisa iya. Bisa tidak. Secara harfiah bisa berarti melapangkan jalan dalam arti sebenarnya. Kebalikannya, menjegal jalan lawan dalam arti sesungguhnya. Hari senin yang lalu, saya mendapatkan contoh nyata tentang hal ini. Kantor tempat saya bekerja terletak didaerah Semanggi. Daerah three in one dong, ya kan. Setiap mobil yang berpenumpang kurang dari 3 orang, tidak boleh melewati jalur utama dikawasan itu pada jam 07.00 – 10.00 pagi, dan jam 16.30 -19.00 sore. Untuk masuk atau keluar gedung (Y) pada jam-jam seperti itu, kami harus memutar, dan melintas didepan gedung lain (Z) yang terletak dalam satu komplek. Oleh karena itu, sistem parkirpun dikelola dalam sistem yang sama.

Senin itu, tidak seperti biasanya. Ketika saya melintas didepan gedung Z, saya dicegat Satpam. Dengan heran saya bertanya: “Ada apa Mas?” Dan dengan ragu-ragu Satpam itu berkata: “Maaf Pak, Bapak sudah tidak boleh melintasi jalan ini lagi….” Dari caranya berbicara, saya tahu; hati nurani Pak Satpam itu sedang berperang sendirian. Tapi, dia kan hanya menjalankan tugas. Jadi saya dapat memahaminya. Saya tidak ingin bertengkar, toh bukan hanya saya yang diperlakukan seperti itu. Semua pengendara yang melintas didepan gedung Z itu juga diperlakukan sama.

Ketika saya memutar, saya menyadari, bahwa sepanjang jalur yang biasa kami lewati, ternyata sudah dipasang tiang besi yang disemen ke lantai. Wuah, saya pikir; ada apa nih? Saya tidak mendapatkan jawaban apapun hingga pada sore harinya, management gedung Y mengirim surat resmi kepada seluruh penghuni. Intinya meminta maaf bahwa hari ini ada penutupan akses yang biasa kami gunakan. Menurut surat itu, penutupan dilakukan managment gedung Z setelah selama seminggu sebelumnya negosiasi tidak membuahkan kesepakatan positif. Deg! Hati saya berdegup. Ada perselisihan antar management gedung, rupanya. Dan perselisihan itu sampai menutup jalan masuk bagi orang-orang yang perlu lewat.

Dipagi hari, masih ada alternatif jalan memutar untuk masuk ke gedung Y. tetapi, disore hari, sama sekali tidak ada akses, kecuali berhadapan langsung dengan polisi yang menjaga ketat jalur three in one. Karena jalur keluar satu-satunya melewati bagian belakang gedung Z sama sekali tidak bisa dilewati mobil. Alhasil, management gedung Y membongkar pagar hidup meski mesti mengorbankan beberapa pohon menghijau ditumbangkan. Lalu, melalui jalur curam, sempit lagi miring itulah orang-orang bisa melintas. Jika tidak terampil, pengendara bisa tergelincir. Apalagi mobil-mobil besar seperti truk para pemasok barang yang benar-benar harus menanggung resiko terbesar.

Begitulah gambaran harfiah jegal menjegal jalan lawan berlangsung. Gedung-gedung perkantoran paling mahal sekalipun tidak luput dari kejadian semacam itu. Biarpun dihuni oleh perusahaan-perusahaan besar kelas dunia. Bahkan beberapa diantaranya listed dalam Fortune 500. Ada beberapa konsulat negara-negara tetangga juga disana. Hal semacam itu bisa terjadi juga.

Mari sekarang kita lihat makna kiasannya. Dalam bisnis, persaingan tidak jarang diwarnai oleh saling jegal antar kompetitor. Dan rupanya, masih banyak pelaku bisnis yang berpikir bahwa cara terbaik untuk memenangkan persaingan adalah dengan mengalahkan lawan-lawan bisnis mereka. Logika berpikir seperti ini, sekilas ada benarnya juga. Tetapi, bagi orang-orang tercerahkan seperti Professor Chan Kim; kemenangan tidak selalu bisa diraih melalui pertarungan berdarah-darah seperti itu. Bahkan, kemenangan terbesar sebenarnya tidak terletak pada pertarungan saling mengalahkan, melainkan saling menumbuhkan satu sama lain. Melalui prinsip saling menjegal untuk mengalahkan, semua orang hanya akan memperebutkan kue kecil meski mesti berlumuran darah. Dan dengan darah itu, lautan pun bisa berubah menjadi merah. Menjadi the red ocean.

Sedangkan, dengan prinsip saling melapangkan jalan untuk menumbuhkan satu sama lain; kemenangan menjadi milik semua orang. Untuk menang, kita tidak harus menumpahkan darah. Sehingga setiap orang bisa sama-sama untung pula. Market berhasil dikembangkan, dan total bisnis menjadi semakin besar. Lautan, tidak akan menjadi keruh karena pertempuran. Airnya akan tetap terlihat biru, sebagai tanda tersimpannya potensi yang nyaris tak berbatas. Karena setiap orang yang bersedia melapangkan jalan bagi lawan-lawannya, sesungguhnya tengah berenang dalam sebuah dunia luas yang disebut blue ocean. Dan bahtera tempatnya mengarungi samudera biru itu bernama the blue ocean strategy. Begitulah yang diajarkan oleh Profesor Kim kepada kita.

Dalam hubungan antar manusia, kita juga sering melihat orang yang saling jegal. Entah karena persaingan memperebutkan calon pasangan hidup. Atau perebutan kursi kekuasaan. Atau sekedar ingin mendapatkan pujian dari atasan; orang bisa menjegal orang lain. Fanatisme terhadap seseorang atau kelompok tertentu, bisa juga menjadi penyebab lainnya. Percayalah, kita tidak akan pernah kehabisan alasan untuk menjegal lawan. Tetapi, apakah kita mesti selalu demikian?

Memberi jalan kepada lawan. Mengapa tidak? Jika setiap orang berpikiran demikian, maka didunia ini tidak akan pernah ada orang yang terjegal, lalu terjungkal. Setiap orang, justru akan mendapatkan jalan sesuai haknya masing-masing. Bahkan, ketika setiap orang saling mempersilakan lawannya untuk melintas dijalan miliknya; permusuhan berubah menjadi persaudaraan yang menghasilkan kesejahteraan bersama.

Ada yang bilang; jika kita berdada lapang, orang lain bertindak curang! Mungkin bisa demikian. Tetapi jika dengan lapang dada itu kita mencapai kemuliaan, hingga Tuhan berkenan menyukai jalan yang kita tempuh; mengapa kita harus takut dengan kecurangan orang? Karena, konon Tuhan pernah berfirman bahwa sesungguhnya orang-orang yang berbuat curang, tidak mencurangi siapapun kecuali dirinya sendiri.

Kita tidak ingin mencurangi diri sendiri, bukan?

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Lapangkan jalan bagi lawanmu, maka Tuhan melapangkan jalanmu menuju keabadian cinta dan kasih-sayangnya…..

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

9 comments

  1. Sudah LANGGANAN, tiap sabtu, kang DADANG
    yang segar “menyiramkan” air kemuliaanNya
    untuk kita semua. Salam segar selalu,
    healthy inside-fresh outside..!
    Blue-ocean dan kemuliaan serta WIN-WIN
    attitude memang barang langka, masih!
    Yuk, kita gerakkan kesukaan “melapangkan
    jalan” bagi lawan kita, supaya kita sukses
    “bersama”. Bukankah kenikmatan itu, jika
    semua orang banyak yang sukses, bukan diri
    kita saja. Karena memang TIDAK mungkin kita akan sukses “sendirian”, mana mungkin?
    Universal PRINCIPLE:
    “We need each other eventhough it is from
    our enemy”.
    Contohnya: kita sakit ke rumah sakit, pastilah perlu bantuan dokter internist yang
    sukses. Berani ke dokter internist yang gagal?
    Khan jadi tambah naik gula darahnya & kolesterol
    kita, bukan? Meski ternyata si internistnya itu ‘musuh’ orang tua kita. Lho?
    harry ‘uncommon’ purnama

  2. Dadang Kadarusman

    #1. Terimakasih banyak Pak Harry. Pak Harry Uncommon Mulia Purnama ini adalah mentor jarak jauh bagi saya. Semangatnya yang tidak pernah pudar. Kesediaan hatinya untuk selalu berbagi. Dan kesungguhannya untuk berkontribusi pada lingkungan melalui konsep-konsep kepemimpinannya yang mengagumkan.

  3. Setuju dengan memberikan kesempatan kepada orang lain, meskipun itu kompetitor kita. Demikian juga yang terjadi di dunia training, bukan?

    Jika para trainer, hanya saling berkompetisi secara ‘sengit’ tanpa mau saling melapangkan jalan bagi sesama trainer, pasti pada gilirannya nanti terjadi kompetisi yang tidak sehat diantara trainer. Tidak pernah ada SINERGI.

    Melapangkan jalan bagi lawan ini menurut saya bisa dianggap sebagai sebuah SINERGI, yang pada akhirnya bisa saling memperkuat satu sama lain.

    Eh, satu lagi Mas Dadang, kalau firman Tuhan itu kok disebut ‘konon’ sih? Ini saya petik-kan ayat suci terkait tulisan di paragraf terakhir Mas Dadang:

    “Dan jika kamu berbuat kebaikan, maka kamu berbuat kebaikan untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kamu sendiri yang akan menderita”. (Al-Qur’an, Surat Al-Isra: 7)

    Ok, semoga semakin sukses ya.
    Salam,
    Wuryanano
    http://wuryanano.com/

  4. #3. Pak Nano, saya seneng dapat komentar ini. Terutama, pada bagian ‘konon’nya itu. Memang bagian itu diperuntukkan bagi seorang ‘Kiyai Langitan’ untuk nimbrung. Pak Harry itu sahabat saya yang Mulia, sedangkan Pak Nano adalah sahabat saya yang Kiyai Langitan. Yang paling beruntung ya saya; karena ‘dekat’ dengan orang-orang seperti itu, haha.

    Bapak Ibu sekalian, Pak Nano ini seorang pengusaha sukses, penulis buku dan trainer yang saya kagumi. Siapa saja yang ingin memulai usaha (dari kecil)baik berguru kepada beliau. Ada banyak tips, beragam kisah, dan trik untuk menjadi pengusaha meski dengan modal kecil. Dan Pak Wuryanano memiliki rahasia keberhasilannya.

  5. wew, mantap bahasannya kang Dadang…

    Selama ini saya selalu coba yang dikatakan Phil Karn: “Either lead or follow but please don’t block the road for those who would move forward” … 🙂

  6. bener sekali pak ulasannya. Sebenarnya pengajaran kita yang salah itu dimana ya? Kadang-kadang saya juga merasa seperti itu. Koq kita merasa kalau harus mengalahkan seseorang harus mengalang-ngalaginnya?…bener2 gak fair jadinya…Apa pengajaran kita di sekolah, didikan orang tua atau lingkungan yang menjadikan kita seperti itu?…

  7. #5. Sakti. Tidak banyak lho yang tahu tentang Phil Karn (termasuk saya haha..). jadi yang tahu itu mantap, punya!

    #6. Anno. Wadduh, pertanyaannya sulit dijawab tuch Pak. Tapi, lingkungan pasti bukan satu-satunya faktor kan, ya

  8. Hmmm… Dalam kehidupan nyata mungkin sangat jarang orang yang berhati mulia seperti itu… membantu musuh sendiri.

    Memang banyak yang sadar bahwa persaingan itu membawa sisi positif juga, selain memacu kreativitas, juga menguntungkan beberapa pihak misalnya consumer yang makin diberikan banyak pilihan dari produsen yang berkompetisi memberikan service dan produk terbaiknya.

    Mungkin lebih halusnya bersaing secara sehat / fair, tidak harus menjegal, tetapi memberikan satu inovasi baru yang membuat persaingan semakin seru dan sehat.

    Dalam kehidupan pribadi saya mempunyai prinsip, jika saya tidak bisa membantu, setidaknya saya tidak akan membuat lebih susah.

    “Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant”

  9. Saya jadi ingat dengan “Science to getting rich”. Untuk menjadi kaya, menang, sukses. Kita tidak perlu saling sikut. Karena sebenarnya harta, kesuksesan dan semua impian di dunia ini TAK TERBATAS. Seperti Sang Pencipta kita yang Maha Tak Terbatas karunia dan Rejeki-Nya bukan begitu ?

    Nah, asal kita temukan “The Certain Way”-nya itu, maka tidak perlu takut tersaingi, kelaparan dan miskin. Karena memang sumberdaya yang tidak terbatas.

    Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemurah