Saturday , August 8 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Kepada Siapa Penghargaan Itu Layak Diberikan?

Kepada Siapa Penghargaan Itu Layak Diberikan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dalam kehidupan kita, ada banyak orang baik yang bersedia memberikan penghargaan atas kontribusi orang lain. Dalam konteks pekerjaan, ini diwujudkan mulai dari sekedar ucapan terimakasih dari atasan. Bonus dan insentif dari perusahaan. Atau, mungkin namanya disebutkan dan dituliskan dalam sebuah acara atau media yang bergengsi. Tetapi, tidak semua orang mendapatkan penghargaan, meskipun sesungguhnya mereka memiliki andil. Misalnya, jika perusahaan memberikan penghargaan atas kinerja saya, maka sesungguhnya, bukan hanya saya yang layak mendapatkan penghargaan atau pujian itu. Melainkan, semua orang yang turut berkontribusi pada pencapaian itu.

Tidak jarang, ketika sebuah penghargaan diberikan kepada seseorang, kita mendengar beberapa orang lainnya berbicara dibelakang. “Gue heran, kenapa hanya dia yang dapat penghargaan itu. Padahal yang kerja kan bukan cuma dia…!!!” Untuk alasan apapun, kalimat itu benar adanya. Sebab, tidak ada seorangpun mahluk dimuka bumi ini yang bisa melakukan segala sesuatu sendirian. Bukan hanya rekan kerja di kantor yang berjasa pada kita, melainkan juga orang-orang yang mungkin sama sekali tidak kita kenali.

Begitu banyak orang yang telah berjasa pada saya, hingga berhasil meraih semua pencapaian ini. Misalnya, ketika saya hendak menghadiri sebuah pertemuan penting. Sebelum berangkat, istri saya menyiapkan pakaian. Tentu saja, pembantu kami yang mencuci dan menyetrikanya terlebih dahulu. Dijalan, tukang tambal ban mengganti ban mobil yang bocor dengan ban serep. Tukang bensin, menyediakan bahan bakar. Sedangkan tukang jualan nasi uduk menyelamatkan saya dan istri, pembantu saya, tukang tambal ban, dan tukang jualan bensin dari bahaya kelaparan. Sementara itu, tanpa petani di pedesaan; tukang nasi uduk itu tidak bisa jualan. Tukang jual pupuk berjasa pada petani. Sopir truk membantu tukang pupuk untuk mengirimkan barang dagangannya. Dan seterusnya. Tiba-tiba saja, saya menyadari bahwa semua orang dimuka bumi ini berkontribusi kepada pencapain-pencapaian saya! Lantas, mengapa yang mendapatkan penghargaan di forum itu hanya saya sendiri?!

Jika anda berpikir ilustrasi saya itu berlebihan; baiklah, mari kita sedikit menginjak bumi. Mungkin anda pernah merasa begitu berjasa kepada seseorang. Tanpa peran anda dalam organisasi, orang itu pasti tidak bisa menjalankan proyeknya. Pokoknya tanpa anda, orang itu; tidak akan bisa mewujudkan gagasan-gagasannya untuk perusahaan. Faktanya: Anda berjasa pada orang itu. Tapi, kenapa hanya dia yang mendapatkan tepuk tangan? Sedangkan anda? Nama anda disebutpun tidak. Anda dilupakan. Seolah-olah tidak ada peran anda sama sekali didalamnya. Seolah-olah, anda itu diposisikan sebagai si no body. Seolah-olah, anda tidak pernah ada. Bagaimana perasaan anda? Marah?

Tunggu dulu. Itu belum seberapa. Suatu saat anda berdiskusi dengan teman di kantor. Kepada orang itu anda membeberkan sebuah gagasan penting yang bisa menghasilkan keuntungan berlipat ganda bagi perusahaan. Dan anda bilang, gue akan membuat proposal kepada manajemen supaya proyek ini bisa dijalankan. Dan anda juga tahu bahwa; jika proyek itu berhasil, anda akan mendapatkan kenaikan jabatan, atau bonus tambahan. Tapi, apa yang terjadi? Sebelum anda benar-benar mengajukan proposal itu kepada manajemen; teman anda itu melakukannya duluan! Dan gilanya lagi, dia sama sekali tidak mencantumkan nama anda dalam proposal itu. Bahkan, dia mengklaim itu sebagai gagasannya yang brilian! Hah, rasanya anda ingin menendang bokong bajingan itu! Iya, kan?

Pada suatu ketika, seseorang memforward saya sebuah email yang dia dapat dari orang lain; karena seseorang lainnya memforward email itu kepada orang-orang yang lainnya. Semacam email berantailah. Judulnya menarik perhatian saya. Lalu saya buka dan baca. Lho? Ini kan artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu? Tapi tampaknya, sekarang kepemilikannya sudah berpindah tangan kepada sang pengirim email. Bukan saya. Saya harus apa? Menulis email yang menyatakan bahwa orang itu telah mencuri artikel saya dan dikirim kepada semua orang? Tidak. Saya tidak mau melakukan itu. Atau,…membuat iklan pengumuman di koran? Tidak. Itu hanya akan menjadikan orang-orang tahu bahwa aslinya saya ini manusia norak. Bagaimana dengan…hmmmh; labrak saja orang itu?! Hah, jangan-jangan badan dia lebih kekar dari saya yang kerempeng ini. Lantas, bagaimana?

Lantas, saya menemukan sebuah penyadaran bahwa itu bukan artikel saya. Melainkan milik Tuhan. Sedangkan saya hanyalah tukang ketik yang dipilih Tuhan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca orang. Lantas, jika gagasan dalam artikel itu milik Tuhan; mengapa saya harus marah kepada orang yang dipilih Tuhan untuk menyebarkan artikel itu kepada orang lain sehingga mereka mendapatkan manfaat dari gagasan positif yang dikandungnya? Tuhanlah yang berhak mengklaim nilai artikel itu. Bukan saya. Jadi, saya biarkan saja Tuhan berbuat sesuka hati atas artikel itu.

Lantas, saya dapat apa? Hah, pertanyaan macam apa itu? Saya dapat apa. Itu adalah bibit sebuah sifat yang kita sebut sebagai pamrih. Tidak selamanya salah. Tetapi, tidak selalu betul. Dalam konteks bekerja, lalu mendapat upah. Atau memberi pelayanan, lalu mendapatkan bayaran. Atau menjual barang, lalu menerima sejumlah uang. Hal itu bisa dimengerti. Tetapi, jika kita masih bertanya; ‘apa yang akan saya dapatkan jika saya berbuat kebaikan’ – mungkin kita perlu lebih banyak merenung.

Lagi pula, bukankah Tuhan tidak pernah salah hitung? Jika Tuhan merasa perlu untuk memberikan penghargaan, maka penghargaan itu akan sampai kepada orang yang berhak menerimanya. Dan untuk itu; Tuhan tidak pernah keliru. Berbeda dengan kita para manusia. Mata kita kadang silap. Mengira si A yang berjasa, padahal si B-lah orangnya. Mengira si X yang memiliki gagasan, padahal si Y-lah yang kepalanya bermuatan. Jadi, ketika kita memberikan pujian kepada si A atau si X, bukan saja telah salah alamat; melainkan juga bertindak tidak adil. Meskipun tidak disengaja. Tetapi, siapa sih yang bisa benar-benar adil dimuka bumi ini? Hanya Tuhan yang bisa begitu, bukan? Sebab, perbuatan apapun yang kita lakukan, pasti ada hitung-hitungannya. Dan Tuhan, tidak pernah sembarangan melakukannya.

Bukan hanya orang lain yang kurang menghargai kontribusi dan jerih payah kita. Bisa jadi kita juga begitu. Setidaknya, kita juga pernah melupakan kebaikan dan jasa orang lain. Meskipun mungkin kita tidak bermaksud begitu. Betapa banyak orang yang berbicara di podium kehormatan, kemudian mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya di organisasi. Orang yang tahu diri ini sudah berusaha sebisanya untuk mengapresiasi kebaikan semua; dengan menyebutkan nama mereka satu demi satu. Ketika mengakhiri pidatonya yang tulus itu, dia tidak sadar bahwa ada satu temannya yang dia lupa menyebut namanya. Dia tidak sadar. Ratusan orang di ruangan itu juga tidak sadar. Sama sekali tidak ada yang menyadari hal itu, kecuali satu orang saja. Anda tahu siapa orang itu? Dia adalah sang pemilik nama itu. Hatinya berdegup kencang ketika mendengar orang baik itu menyebut nama sahabat-sahabatnya satu demi satu. Namun, ketika sampai akhir pidato nama dirinya tidak pernah disebut; ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. “Kok bisa sih, dia melupakan saya……”

Percayalah, itu bisa terjadi kepada setiap orang. Kepada saya juga, tentu saja. Ada kalanya orang lupa pada kontribusi kita. Namun, pada kesempatan lain, kitalah yang melupakan jasa-jasa mereka. Tetapi, Tuhan. Pasti tidak akan pernah lupa. Karena untuk setiap kebaikan yang kita lakukan bagi umat manusia. Meskipun sangat kecccciiiiiiiil….. sekali. Tuhan akan mencatatkannya dengan teramat sempurna. Dan, jika kita masih bertanya: apa yang akan saya dapatkan dari kebaikan yang saya lakukan?. Maka, marilah kita menghibur diri dengan sebuah keniscayaan, bahwa; energi itu abadi. Energi yang terpancar dari dalam diri kita, akan selalu menjadi milik kita. Hanya saja, kita mesti belajar bersabar untuk bertemu kembali dengan energi itu; kelak. Pada saat kita berhadapan dengan Sang Maha Menilai. Yaitu saat dimana, semua perbuatan kita diperhitungkan. Dan dipertanggungjawabkan. Sekecil apapun itu.

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Lakukanlah kebajikan sebisamu, tanpa harus menghitung-hitung balasannya untukmu. Sebab, logikamu tidak akan pernah mampu menampung penghargaan yang Tuhan persiapkan bagi dirimu.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

11 comments

  1. Kang Dadang, HORE HARI BARU!
    Tak terasa Kang Dadang adalah pengisi artikel tetap milis WASH YOUR HAND! Lengkap sudah berbagi
    kebajikannya pada para member yang mulia!
    Saya coba share comment dengan short artikel, mohon maaf jika kepanjangan!

    Soedirman Ksatria Patriotik, Kepada Siapa Dia Menghormat?
    Dia, prajurit, menghormat untuk siapa? Jelaslah sekarang bahwa dia menghormat bagi bangsanya yang menderita. Dia menghormat bukan untuk dirinya sendiri maupun kepada lawan penindasnya yang jahat. Dia juga abdi dari pimpinan tertinggi Indonesia saat itu, Soekarno & Hatta. Dia pengabdi kebenaran yang sejati, tulen, murni dan loyal. Dia prajurit loyal. Jika ada penghargaan yang setara dengan prajurit loyal, dialah pemenangnya! Sampai sekarang jiwanya masih menghormat pada kebenaran. Bangsa Indonesia sampai sekarang juga tetap menghormati jasa-jasa dan pengorbanannya. Patung Pak Dirman yang menghormat di bunderan Ratu Plaza jl Jend Soedirman Jakarta, sudah jelas sekarang, dia menghormat pada bangsanya, pada ibu pertiwinya, dan pada kebenaran hakiki, bukan kepada manusia! Dia prajurit ksatria patriotik. Dia prajurit pemimpin! Selayaknyalah kita semua hormat kepada Pak Dirman, tanpa kecuali. Jika daun kelapa dan daun kamboja bisa menghormat, daun-daun itu akan menghormat santun kepada Pak Dirman.

    harry ‘uncommon’ purnama

  2. Pak Harry, terimakasih atas sharing dan tanggapannya. Berbicara tentang Jenderal Sudirman, itulah nama yang selalu saya sebutkan ketika mereka bertanya dimana kantor tempat saya bekerja. Soalnya, kami berkantor disana, haha.

    Tapi sungguh, saya punya kebiasaan ‘yang tidak biasa’. Kalau saya melintas Jalan Sudirman dari arah Thamrin; ketika saya melintasi patung Pak Dirman, posisinya kan sedang menghormat ya. Saya suka mengangkat tangan untuk menghormat juga. Aduh, saya ini bukan penyembah berhala, cuma setiap kali melintasinya, saya merasakan semangat itu…..

    Saya tidak menghormati patungnya sih. Saya sekedar mengagumi kisah kepemimpinannya. Dan jika saja dijaman ini ada orang dengan sikap dan sifat seperti itu; saya akan mengaguminya, dengan kekaguman yang sama pula.

  3. kang Dadang,
    Saya baca artikel diatas di bandara Juanda Surabaya.
    Saat transit dalam perjalanan pulang dari Solo menuju Balikpapan.
    Di solo, saya jumpa banyak keponakan, beberapa diantaranya membutuhkan bantuan finansial untuk melajutkan kuliahnya.
    Saya beruntung, karena cukup dana untuk keponakan saya semua itu.
    Sempet saya terperangkap pada rasa berjasa yang amat dan hampir hampir terjerumus ke arah ria (pamer).
    Namun setelah baca artikel anda, saya tersadar, bahwa sang penciptalah yang telah memberi saya harta yang telah saya berikan ke para keponakan yang membutuhkan itu.
    Mestinya sang keponakan tidak berterima kasih ke saya, tapi kepada yang telah memberi saya harta,
    sang pencipta.

    terima kasih,
    tulisan anda mudah dipahami dan mencerahkan
    salam
    nanangjamil

  4. Assalamu ‘alaikum wr wb
    Tadi malam, banyak juri memuji-muji seseorang, tapi yang dapat penghargaan malah orang yang tidak pernah disebut-sebut sama sekali. Itu lho Asian Idol. Nah yang kayak gitu, gimana? Ga nyambung kali ya dengan tulisannya hehehe 🙂

  5. Ya bahkan sepertinya saya juga perlu memberikan penghargaan kepada teman saya yang dulu pernah memukul saya karena berkat pukulan itu saya menjadi sadar kalau dipukul itu rasanya tidak enak sehingga saya pun berusaha untuk tidak memukul orang lain

  6. Dadang Kadarusman

    #3. Pak Nanangjamil, terimakasih telah berkunjung. Selamat ya Pak, Bapak sudah dipilih-Nya untuk menjadi perantara pertolongan-Nya untuk seseorang. Semoga langgeng, dan menambah rasa sayang-Nya kepada Bapak.

    #4. Kak Iwal (ini nama kesayangan beliau, waktu masih kuliah S-1, dulu. Sekarang beliau sedang menimba ilmu di luar negeri….). Nyambung kok. Sungguh.

    #5. deKing. Orang ini mengaku biasa-biasa saja. Tetapi, pemikiran dan kebijaksanaanya dalam hidup tidak menunjukkan beliau ini orang biasa.
    Malah bisa dibilang langka…

  7. Selamat hari baru juga pak.

    Iya..kita sering terperangkap dengan hadiah dari prestasi kita itu dan tidak menghiraukan orang-orang di belakangnya.

    Nach biasanya kalau saya biasanya jika memperoleh ‘rezeki dadakan’ tersebut biasanya saya akan berusaha mengajak teman-teman tersebut dengan menikmatinya bersama seperti makan bersama atau dengan membawakan buah tangan.

  8. Semangat… Semangat untuk kebaikan 😉

  9. pak Dadang, cerita ini mengingatkan tentang cerita inspiratif seorang Tenzing Norgay,
    ia adalah seorang pemandu Sir Edmund Hillary yg dikenal sbg org pertama yang menaklukan puncak Everest, dalam ceritanya,
    Sesaat setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest , hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

    Reporter : Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?

    Tenzing Norgay : Sangat senang sekali

    Reporter : Andakan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?

    Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia….

    Reporter : Mengapa Anda lakukan itu???

    Tenzing Norgay : Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya…..impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN nya.

    Ya, itulah sekelumit kisah tentang seorang pemandu pendaki bernama Tenzing Norgay. Ia tidak menjadi serakah, ataupun iri dengan keberhasilan, nama besar dan semua penghargaan yang diperoleh Sir Edmund Hillary. Ia cukup bangga dapat membantu orang lain mencapai & mewujudkan IMPIAN nya.

    Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam dunia kerja kita secara pribadi terbiasa atau terkondisikan untuk fokus kepada diri kita sendiri, siapa yang mendapat nama, apa yang kita dapatkan, bonus, penghargaan, insentif dan sebagainya. Sebagai renungan “Bisakah kita menjadi seperti Tenzing Norgay?” …..sebenarnya bukan BISA atau TIDAK…tapi MAU atau TIDAK!

  10. Ikhlas tanpa pamrih. Hal ini yang perlu ditanamkan pada diri kita sebagi modal dasar untuk bisa legowo (istilahnya teman saya). Ternyata semua ini adalah milik sang pencipta Allah SWT, kita hanya sebagai pelaku saja.

    Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Mas Dadang karena saya menemukan tulisan2 yang sangat bermanfa’at dan inspiratif tanpa saya harus pergi ketoko buku yang pelu waktu berjam2 untuk pilah pilih.

    Sukses selalu untuk Mas Dadang …….

  11. “Uiih CAKEP BANGET” Tn dadang apa yang anda utarakan, aduh kok saya telat banget yah baru baca tulisan ini, terimakasih.

    SALAM SUKSES