Wednesday , October 22 2014
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Apakah Tangan Diatas Selalu Lebih Baik Dari Yang Dibawah?

Apakah Tangan Diatas Selalu Lebih Baik Dari Yang Dibawah?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Makan. Itu kebiasaan kita setiap hari. Bahkan kita melakukannya lebih dari satu kali dalam sehari. Tetapi, adakah ‘nilai lebih’ dari proses makan yang kita lakukan itu? Bagi anda yang berkecukupan, fungsi makan bisa ditingkatkan dengan cara ‘memberi makan’ kepada orang yang membutuhkan. Dengan begitu anda digelari sebagai sang dermawan. Posisi si pemberi derma selalu berada lebih tinggi daripada si penerima. Sehingga timbul ungkapan; ‘tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah’. Oleh karenanya pula, tidak heran kalau kita sering merasa ‘lebih mulia’ setiap kali memberi. Bahkan, ketika menyerahkan pemberian itu pun tidak jarang wajah kita mendongak keatas. Pertanda kemuliaan kita – rasanya – lebih tinggi dari si fakir itu. Karena melalui ungkapan itu kita meletakkan posisi sang penerima derma ditempat terbawah. Memang; ‘Tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Ada sebuah model lain yang saya temukan. Model dimana posisi sang pemberi dan sang penerima itu sama. Sederajat. Tanpa sekat. Tidak berbeda martabat. Ketika itu, saya dalam perjalanan untuk berkunjung ke rumah salah seorang famili kami. Tiba-tiba saja perut saya keroncongan. “Aku pengen makan ketoprak nih,” Saya bilang. Kemudian, istri saya yang duduk disebelah kiri bertugas untuk melihat-lihat; siapa tahu disepanjang jalan yang kami lalui ada gerobak penjual ketoprak. Makanan favorit saya. Tak lama kemudian, kami menemukan gerobak penjual makanan. Tidak hanya satu gerobak, melainkan dua. Yang satu gerobak ketoprak. Dan yang satu lagi, mie ayam. Anda boleh berpikir; ‘ngapain sih kok yang beginian aja diomongin? Bukankah gerobak mie ayam dan ketoprak sudah biasa saling berdampingan?’ Memang betul. Itu pemandangan yang biasa kita temukan. Tetapi, yang menjadikannya begitu luar biasa adalah moment ketika tengah berlangsung adegan pertukaran makanan diantara kedua penjualnya. Tukang ketoprak menyediakan sepiring penuh ketoprak dan menyerahkannya kepada tukang mie ayam. Sedangkan, tukang mie ayam menyajikan semangkuk mie ayam untuk disantap si penjual ketoprak….

Pernah menyaksikan adegan itu? Bagi saya, itu bukan adegan yang biasa. Ketika seseorang bersedia menyerahkan sesuatu yang dimilikinya bagi orang lain, dan tindakan itu berlangsung secara dua arah; maka saya kira, kita sudah mencapai nilai kemanusiaan kita yang paling tinggi. Coba perhatikan, bagaimana mereka meletakkan diri mereka sendiri relatif terhadap orang lain. Meskipun mereka be