Friday , December 26 2014
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Apakah Tangan Diatas Selalu Lebih Baik Dari Yang Dibawah?

Apakah Tangan Diatas Selalu Lebih Baik Dari Yang Dibawah?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Makan. Itu kebiasaan kita setiap hari. Bahkan kita melakukannya lebih dari satu kali dalam sehari. Tetapi, adakah ‘nilai lebih’ dari proses makan yang kita lakukan itu? Bagi anda yang berkecukupan, fungsi makan bisa ditingkatkan dengan cara ‘memberi makan’ kepada orang yang membutuhkan. Dengan begitu anda digelari sebagai sang dermawan. Posisi si pemberi derma selalu berada lebih tinggi daripada si penerima. Sehingga timbul ungkapan; ‘tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah’. Oleh karenanya pula, tidak heran kalau kita sering merasa ‘lebih mulia’ setiap kali memberi. Bahkan, ketika menyerahkan pemberian itu pun tidak jarang wajah kita mendongak keatas. Pertanda kemuliaan kita – rasanya – lebih tinggi dari si fakir itu. Karena melalui ungkapan itu kita meletakkan posisi sang penerima derma ditempat terbawah. Memang; ‘Tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Ada sebuah model lain yang saya temukan. Model dimana posisi sang pemberi dan sang penerima itu sama. Sederajat. Tanpa sekat. Tidak berbeda martabat. Ketika itu, saya dalam perjalanan untuk berkunjung ke rumah salah seorang famili kami. Tiba-tiba saja perut saya keroncongan. “Aku pengen makan ketoprak nih,” Saya bilang. Kemudian, istri saya yang duduk disebelah kiri bertugas untuk melihat-lihat; siapa tahu disepanjang jalan yang kami lalui ada gerobak penjual ketoprak. Makanan favorit saya. Tak lama kemudian, kami menemukan gerobak penjual makanan. Tidak hanya satu gerobak, melainkan dua. Yang satu gerobak ketoprak. Dan yang satu lagi, mie ayam. Anda boleh berpikir; ‘ngapain sih kok yang beginian aja diomongin? Bukankah gerobak mie ayam dan ketoprak sudah biasa saling berdampingan?’ Memang betul. Itu pemandangan yang biasa kita temukan. Tetapi, yang menjadikannya begitu luar biasa adalah moment ketika tengah berlangsung adegan pertukaran makanan diantara kedua penjualnya. Tukang ketoprak menyediakan sepiring penuh ketoprak dan menyerahkannya kepada tukang mie ayam. Sedangkan, tukang mie ayam menyajikan semangkuk mie ayam untuk disantap si penjual ketoprak….

Pernah menyaksikan adegan itu? Bagi saya, itu bukan adegan yang biasa. Ketika seseorang bersedia menyerahkan sesuatu yang dimilikinya bagi orang lain, dan tindakan itu berlangsung secara dua arah; maka saya kira, kita sudah mencapai nilai kemanusiaan kita yang paling tinggi. Coba perhatikan, bagaimana mereka meletakkan diri mereka sendiri relatif terhadap orang lain. Meskipun mereka berada pada posisi sebagai ‘sang pemberi derma’, namun mereka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keangkuhan yang sering menempel dalam diri kita setiap kali kita menyodorkan pemberian kepada orang lain. Mereka tetap berada dalam kesetaraan.

Anda boleh saja mengatakan bahwa mereka bisa begitu karena ketika si tukang ketoprak memberikan ketopraknya, dia juga akan menerima mie ayam dari temannya. Anda benar. Tetapi, bukankah itu merupakan isyarat bagi kita untuk terbebas dari distorsi tangan yang diatas lebih baik daripada yang dibawah? Anda boleh protes; “Gue kan kalau ngasih kagak dapat imbalan apa-apa dari dia. Ya wajar donkszt, kalau dia berhutang budi sama gue! Toh gue memberi sama dia bukan mengharapkan imbalan apapun dari dia. Apa sih yang bisa dia lakukan buat gue? Nothing!”

Anda benar lagi. Mungkin, dia tidak akan bisa membalas budi anda. Bagaimanapun juga caranya. Tidak mungkin. Lagipula, anda tidak membutuhkan apa-apa dari dia. Tetapi, tidakkah anda meyakini bahwa untuk setiap kebaikan yang anda lakukan; Tuhan akan selalu menyediakan balasannya? Seandainya kepada anda dikatakan: Tuhan tidak akan membalas kebaikan apapun yang anda lakukan kepada orang lain; apakah anda masih bersedia melakukannya? See? Ada trade-off disitu. Dan anda melakukannya untuk trade-off, itu. Baiklah, anda boleh berkata: “gue tidak butuh pahalanya!” Oh ya? Bukankah ketika anda menolong orang lain, lalu hati anda merasa lega. Anda bahagia. Lalu anda terpicu untuk memberi lebih banyak lagi, kepada lebih banyak orang lagi. Dan hati anda semakin senang. Lalu, anda terpicu lagi, dan anda merasa nyaman dengan suasana hati anda? Sadarkah anda bahwa hati yang tenang itu adalah bayaran kontan yang Tuhan berikan atas kebaikan anda? Jika setelah memberi hati anda menjadi gundah; apakah anda akan melakukannya lagi? Begitulah Tuhan memberi pahala kepada kebaikan anda. Apapun hitungannya, memberi itu, selalu membawa keuntungan bagi sang pemberi. Namun, sekedar perasaan nikmat itu saja bisa menjebak kita kedalam perasaan ‘lebih tinggi’ dari orang yang menerima kebaikan kita. Well, ‘Tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah’.

Tapi, itu tidak terjadi pada tukang ketoprak dan mie ayam. Mereka tetap memposisikan diri dan hatinya dalam kesetaraan. Dan ternyata; pertukaran tidak hanya terjadi diantara mereka berdua. Melainkan juga dengan tukang lontong sayur. Tukang gado-gado. Tukang cuanki. Tukang baso. Tukang es buah. Dan dengan tukang-tukang lainnya. Begitulah cara mereka menikmati pengalaman memakan beragam jenis makanan. Tanpa harus terbebani oleh pikiran; bagaimana cara membayarnya.

Dengan cara itu, mereka tidak sekedar berhasil meningkatkan nilai dari sebuah tindakan yang kita sebut sebagai ‘makan’. Mereka juga telah secara alami berhasil meningkatkan nilai hidup mereka sendiri. Nilai hidup? Ya, nilai hidup. Masih ingat bahwa manusia ini adalah mahluk sosial? Maka apa yang bisa dilakukannya untuk orang lain itulah yang menentukan nilai hidupnya sendiri. Jika dia tidak berguna bagi orang lain, maka sebagai mahluk sosial dia sudah gagal membawakan fungsinya. Jika begitu, dia tidak menjadi apapun selain perwujudan perilaku para benalu.

Tidak hanya itu; mereka juga telah secara alami berhasil meningkatkan kemuliaan diri mereka sendiri dihadapan Tuhannya. Tuhan? Apa hubungannya dengan Tuhan? Mengapa segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini harus selalu dikait-kaitkan dengan Tuhan? Karena Tuhan sudah berjanji untuk memberikan imbalan kepada manusia-manusia yang bersedia memberikan manfaat kepada orang lain. Kepada yang memberi makan orang lapar, Tuhan berjanji untuk tidak membiarkannya kelaparan. Dan janji Tuhan adalah benar. Ketika si Tukang ketoprak menyerahkan ketoprak jatah makan siangnya kepada tukang mie; dia bisa saja kelaparan. Tapi, ternyata tidak. Sebaliknya, malah dia mendapatkan mie ayam tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Begitu pula sebaliknya dengan tukang mie ayam. Coba perhatikan. Kedua orang itu saling memberi makan, tanpa harus takut akan kelaparan karenanya.

Kita, jika makan. Ya…, makan saja. Kalaupun ada pahala didalamnya, itu karena kita makan yang baik-baik dari rejeki yang halal. Tetapi, tukang ketoprak dan mie ayam itu; ketika mereka makan, mereka mendapatkan pahala dari Tuhan. Karena, setiap kali mereka tahu bahwa temannya sedang lapar; mereka dengan sukarela memberinya satu porsi dagangannya. Tanpa menghitung berapa temannya itu harus membayar. Tanpa terbersit dihatinya ungkapan ‘Tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah’. Karena, faktanya memang demikian, bukan?

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Leadership and Personnel Development Trainer
Phone: 0812 19899 737 (PIN BB: 2A495F1D)

Catatan Kaki:
Mungkin kita perlu berhenti melakukan sesuatu untuk orang lain, hingga kita benar-benar terbebas dari perasaan lebih terhormat dari orang itu.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:toonpool.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 atau 0812 19899 737.

29 comments

  1. Pak Dadang salam kenal ya…

    Menurut saya konsep tangan diatas sebagai pemberi dan kedudukannnya lebih mulia dari tangan di bawah cuma ada dalam pikiran manusia. Konsep itu hanyalah konstruksi sosial yang ditempatkan secara sedemikian rupa dalam jangka waktu sedemikian lama sehingga hampir semua orang akhirnya sepakat bahwa TDA lebih mulia dari TDB. Saya cenderung setuju dengan bapak bahwa TDA atau TDB hanyalah trade-off, sebuah peristiwa pertukaran yang berakhir dengan keuntungan dan kerugian di kedua belah pihak.

    Bila anda seorang bos dan menggaji beberapa karyawan,apakah bisa dikatakan anda sebagai TDA?Lah bagaimana dengan jasa/tenaga karyawan tersebut yang telah terima?

  2. Kang Dadang dan mbak Evi,
    Setuju, TDA & TDB hanyalah sebuah “ciptaan” untuk trade-off belaka. Yang terlebih baik ialah jika kita “mengasihi” sesama karena Tuhan telah mengasihi kita terlebih dahulu. Sikap Tuhan yang mengasihi kita “terlebih dahulu” inilah yang sesungguhnya cinta mulia dan cinta abadi. Selayaknyalah kita memberi kepada sesama karena kita ingin seperti Tuhan, memberi “terlebih dahulu” tanpa pamrih. Itu saja!
    “BERILAH TERLEBIH DAHULU, ITULAH KASIH”
    Itulah kemuliaan.
    Pemimpin mulia mulai memimpin dengan hatinya yang mulia dan mengakhiri dengan hatinya.
    Hampir semua pemimpin mulia hidup dan bertumbuh dengan hal-hal kecil yang berguna bagi orang lain yang dipimpinnya.
    A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way. John C. Maxwell

  3. Saya pernah mendengar falsafah tangan diatas lebih baik, dari bos saya. Coba kita perhatikan wayang, tangannya menunjukkan arah ke bawah, artinya bahwa memberi itu lebih baik daripada meminta (tangan kearah atas).

  4. Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    Halo Kang Dadang,

    (Punten ini sekadar meng-copy email tanggapan saya terhadap tulisan kang Dadang yang juga diposting di milis ITB ’89, atas anjuran kang Dadang sendiri).

    Saya selalu menikmati tulisan-tulisan kang Dadang yang inspiratif.

    Kali ini, tentang tangan di atas dan tangan di bawah. Setahu saya ini adalah hadits Nabi Muhammad s.a.w., saya coba kutip di bawah ini.

    Hakim bin Hizam Radhiallaahu’anhu menuturkan:
    “Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah
    Shalallaahu’alaihiwasalam, beliau lantas memberikannya.
    Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikanya.
    Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikannya seraya berkata: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis dan indah.
    Barang siapa yang mengambilnya dengan kemurahan hati, ia akan mendapat keberkatan padanya. Barangsiapa yang mengambilnya dengan
    ketamakan, ia tidak akan mendapat keberkatan padanya. Bagaikan orang yang makan tapi tidak pernah kenyang. Dan tangan yang di atas lebih
    baik dari tangan yang di bawah.”
    (Muttafaq ‘alaih)

    Jadi mungkin kita perlu memahami konteks dari hadits Nabi s.a.w. di atas. Nabi bersabda seperti itu untuk memberi motivasi kepada
    ybs. (dan tentunya untuk ummatnya secara umum) untuk tidak bergantung pada orang lain, dan untuk tidak selalu meminta.

    Saya kira hadits tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini, yang masih sangat bergantung pada bantuan dan pemberian orang(bangsa) lain.

    Sangat menarik cara pandang kang Dadang tentang interaksi antara si pemberi dan si penerima, tapi tentu saja tanpa kita lupakan konteks dan maksud hadits di atas dan kebenarannya yang diyakini
    oleh kaum muslim, ummat Nabi Muhammad s.a.w.

    Thanks dan salut buat kang Dadang.
    Sori juga nih comment-nya panjang :)

  5. #1. Ibu Evi. Terimakasih telah mampir. Salam kenal
    #2. Seperti biasanya, Pak Harry memiliki sudut pandang yang menarik tentang banyak hal. menunjukkan wawasan beliau yang luas.
    #3. Ibu Edratna, wayang itu memang penuh dengan falsafah hidup ya Bu?
    #4. Kang Teddy, wa’alaikum salam. Terimakasih banyak. Saya memang mengundang Kang Teddy ini untuk mampir dan ‘menemplok’-kan komentarnya di blog ini (soalnya, komentar beliau ini sangat bermutu). Tujuannya supaya pembaca di blog mendapatkan sudut pandang lain tentang asal-usul ungkapan itu. Saya sendiri belum mengetahui hal itu sebelumnya. Selain dari Kang Teddy, saya mendapatkan juga beberapa tanggapan serupa. Bahkan ada juga yang tidak sependapat, terutama dengan ‘catatan kaki’-nya. Saya mengundang beliau-beliau untuk mengcopy paste tanggapannya di blog ini. Termasuk yang berbeda pendapat sekalipun. Mudah-mudahan beliau-beliau akan ada kesempatan seperti Kang Teddy.

    Terimakasih semuanya.

  6. tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,Emang benner tuh..

    contoh yang Bapak berikan sangat banyak saya temukan dalam kehidupan di lingkungan kami, di mana tukang bakso tukaran makan sama tukang mie and etc

    Pernah juga tukang bakpau pengen tukaran ama tukang bakso, tapi berhubung tukang bakso lagi ga pengen makan bakpau, jadi nya si tukang bakpau beli deh bakso nya…..( ga gratis)

    Nah lo….

    aku pikir tukeran terjadi karena mereka kebetulan saling membutuhkan.maka terjadi lah BARTER (barang tukar sama barang).

    Pak Dadang tulisan nya bagus banget.Banyak hal yang sepele dapat menjadi begitu bermakna.

  7. perspektif tangan diatas sebagai cara mendapatkan pahala, ridho Tuhan, derajat, dan label horizontal lainnya – bagi saya itu trigger yang diciptakan oleh dogma-dogma dalam masyarakat. Entah dogma sosial, budaya bahkan agama sekalipun.

    Bukan memperdebatkan kepercayaan dan keyakinan, apalagi bicara ketakwaaan. Karena sebenarnya jika merenungi hal-hal manusiawi yang naluriah seperti ini, justru disana kita menemukan bahwa betapa besar anugrah Tuhan yang di berikan kepada manusia – membuat nya berbeda dengan binatang. Akal dan hati nurani.

  8. “God has given us two hands, one to receive with and the other to give with. we are not cisterns made for hoarding, we are channels made for sharing, but we are happy to give something” Gary Bradshaw
    “You can achieve anything you want if you help enough people to get what they want” Zig Ziglar
    “You ll succeed if You always add value, wealth happiness to other’s life” Peter Pram
    “Success by giving is our choice” Anthony Robbins
    “To make people happy, to get them to find their dreams are my success” Oprah winfrey
    Kesuksesan kita harus jadi kesuksesan banyak orang” Aa gym
    “belilah kesulitan kita dengan sedekah” Alhadits
    memberi, menolong, mencintai, menghargai dan memahami adalah ritual kebahagian sehari-hari. memberi membuat kita jadi subjek, memberi membuat kita lebih empati, memberi membuat kita lebih menghargai kenapa mereka atau kita harus menerima.memahami dan menghargai kehadiran orang-orang yang selalu diberi adalah kesuksesan dalam memberi. kita sepantasnya mendidik masyarakat tuk banyak memberi.kita juga sepantasnya menghargai yang menerima karena sebenarnya yang kita berikan adalah milik mereka yang Allah berikan buat mereka lewat kita.saya yakin tak ada manusia yang tak pernah memberi, semua manusia pernah memberi dan yang banyak memberi adalah orang yang paling dicintai Allah. GIVE MORE YOU WILL GET MORE

  9. Eta mah, disababkeun pamali ari ngadahar anu sorangan. Jadi we ngadahar anu batur. Kitu meureun anu leres mah.

  10. Tepat sekali Pak Dadang postingan ini dipublish ketika negeri ini dinilai mulai kehilangan kepekaan dan kepedulian terhadap sesama. Andai saja semua orang di negeri ini bisa saling memberi dan menerima seperti yang dilakukan penjual mie ayam dan ketoprak itu, wah, saya kok yakin, nggak akan ada aksi2 kekerasan. Selalu rukun dan damai. Salam kenal ya Pak dadang, seorang guru dari desa, katrok lagi, heehehehehe :lol:

  11. Maaf numpang OOT Pak Dadang. Mohon izin ngelink blognya, yak! Makasih.

  12. Masya Allah inspiratif sekali yah.. saya mau ah jadi tukang Mie Ayamnya heheh :

    Kang Dadang, ada sebuah tradisi di pesantren bahwa setiap kali kita memberikan sesuatu pada kyai itu bagaimana menyiasatinya adalah melaui cara demikian:
    Kita tidak memberikan amplop itu secara langsung ke tangan Kyai, karena dengan demikian tangan saya ada di atas.. itu dianggap ndluya (cluntang/kurang sopan) maka caranya kami ubah yaitu dengan meletakkan amplop itu di atas meja atau kalau sedang duduk maka si amplop itu di geser saja..

    Itu cuma budaya pak, upaya mengatasi jangan samapi TDA saya itu ada di atas Pak Kyai… :)

    salam
    Kurt

  13. Kang Dadang… ada sisi lain yang ternyata kadang tangan di bawah itu sangat berjasa (lebih baik) sekali bagi mereka yang ingin beramal sholeh… tanpa ada tangan yang di bawah mana bisa orang berbagi dengan sesama… maka berterima kasihlah kepada mereka yang mau menerima pemberian kita. Salam Kenal… Dany :) .

  14. #6. Rila. Ada trade-off ya?
    #7. Leksa. Akal dan hati nurani. Itu betul.
    #8.Sopian. Very nice quotes. Saya kira memang demikianlah adanya.
    #9. Muallaf menggugat. Adakah yang bersedia menterjemahkannya?
    #10/11. Pak Guru Sawali. Saya terkesan dengan beliau. Blog guru yang pertama kali saya kunjungi dalam hidup saya (ciee….hiperbolik sekalee…) ya blog beliau itu. Menarik sekali. Kebersahajaan seorang guru dapat diarasakan disana. Saya tahu itu karena lahir dan dibesarkan dalam keluarga guru. Guru sekolah dasar. Dan saya bangga dengan itu. Terimakasih atas OOTnya Pak. Saya yang beruntung.
    #12. Kurt. Ini adalah KH Kurt Zainudin. Saya meyakini bahwa beliau akan menjadi semacam KH Mustafa Bisri dimasa depan. Atau, mungkin lebih baik lagi.
    #13. Dany. (Ini Bapak Atau Ibu ya? Soalnya saya punya beberapa teman bernama Dany. Ada yang lelaki dan Perempuan. Tak masalah, sih. Tapi saya gak bisa panggil Kakang, atau Ceuceu, atau Bapak atau Ibu). Saya menyukai catatan anda. Guru saya pernah mengingatkan; salah satu tanda kiamat adalah saat dimana tidak ada lagi orang yang bersedia menerima pemberian. ‘Kiamat’ dalam arti kiasan.

  15. kang dadang…

    Bukannya tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah. sebagaimana al hadits mengatakan bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.
    memberi adalah salah satu jalan untuk membersihkan diri kita dari penyakit hati seperti merasa lebih terhormat dari orang lain.
    dan banyak memberi akan banyak mengundang rezeki.
    Ada sebuah kisah seorang petani miskin yang ingin menunaikan ibadah haji, maka petani ini rajin mengumpulkan bekal. pada suatu ketika, bekal sudah cukup untuk pergi menunaikan haji. ada seorang tetangganya yang sakit keras dan membutuhkan biaya yang banyak sehingga petani ini merelakan uang tabungannya untuk biaya tetangganya tersebut sampai sembuh.kemudian dari cerita tetanggannya ada seorang dokter yang tergugah hatinya dan dokter itupun sambil menitikan air mata dan berkata “saya sebagai seorang dokter yang berpenghasilan lebih besar dari petani miskin itu tetapi belum bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain”. dengan rasa simpati yang besar pada petani miskin itu dokter tersebut menghajikan petani dan keluarganya.
    itulah rahasia Allah pada hamba-Nya yang ikhlas dalam memberi.
    jadi menurut saya, tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah.
    “Jangan pernah berhenti untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain”
    wallahu a’lam bi shawab.

  16. Belajar untuk menjadi media berkat bagi orang lain adalah suatu hal yang gampang gampang susah.
    Saat kita sedang “ada”, maka memberi bukanlah hal yang susah. Tapi saat kita sedang “terbatas” maka untuk memberi memerlukan suatu pergumulan tersendiri.
    Pada dasarnya kita hanya bisa memberi dari apa yang ada pada kita. Namun apabila yang ada itu adalah “terbatas” seperti yang saya utarakan di atas, maka kita cenderung berpikir bahwa kita sedang “tidak ada”…
    Sehingga suatu pesan rohani yang mengatakan; “Berilah maka engkau akan diberi!”, menjadi suatu hal yang berat untuk dilakukan.
    Disinilah tantangannya memberi..bahwa Tuhan menghargai orang yang memberi dari kekurangannya (“keterbatasannya”) lebih daripada orang yang memberi dari kelimpahannya.

    Suatu hikmat yang bagus dari Raja Sulaiman:
    “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
    Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”

  17. “Kasih terima”. Kasih (beri) terlebih dahulu baru terima kemudian. Alangkah indahnya hidup ini jika kita bisa berbagi kepada yang membutuhkan, dan jangan lupa masih ada hak orang lain (fakir) pada harta kita.

    Salam sukses Mas Dadang …..

  18. salam kenal kang,…

    terus terang saya suka membaca refleksi anda di sela waktu senggang saya!!!,.. soal TDA ini ,.. saya rasa baik memberi atau menerima sama baiknya,..ketika kita MEMBERI dan MENERIMA dengan hati yang ikhlas maka disitulah mungkin munculnya kebahagian di hati kita,… coba bayangkan ketika saat kita memberi, sang penerima memberikan respon yang biasa2 saja,… mungkin yang disebut TDA itu akan menggerutu,.. pada intinya yang saya ingin sampaikan KONSEP TDA dan TDB itu hanya konsep yang terlihat oleh manusia,.. tapi kita lupa dengan yang tidak terlihat,… yaitu kontak batin antara keduanya yang sebenarnya terjadi aksi timbal balik diantara keduanya adakalanya dia sebagai pemberi dan adakalanya dia sebagai penerima,…

    maaf ya,..kalo salah,..mohon masukannya,.. tapi jadi ingin ngobrol bareng akang,…sambil minum kopi ,…hehe,..salam kenal sekali lagi,..

    Hardiansara Pababbari

  19. Assalamualaikum,

    Memang benar TDA lebih baik dari TDB

    Tetapi ada pengecualian, secara hakikat hukum syari’ah,

    Bahwa Seorang yang kaya harta yang memiliki kewajiban mengeluarkan zakat atas hartanya sebenarnya adalah seorang ‘TDB”.

    Apa Sebab!!
    Karena seorang yang kaya, yang sudah “jatuh tempo” untuk mengeluarkan zakat (HAK FAKIR MISKIN SEBESAR 2,5%)atas harta yang dimilikinya, wajib menyerahkan harta tsb kepada yang berhak.sebab Nilai 2,5 % itu bukan harta si orang kaya tsb, tetapi harta fakir miskin yang di titipkan kepadanya.

    Nah!
    Ketika si fakir miskin “menerima’ zakat dari orang kaya, sebenarnya yang diterima oleh fakir miskin adalah HAK nya.
    Jadi orang kaya yang seharusnya berterima kasih kepada orang miskin, karena telah menyelamatkan dirinya dari kezhaliman, memakan harta/hak orang miskin.

    ygd..

    zakat untuk membersihkan harta.

    salam,
    fadli riza

  20. Debbie Sianturi

    Yang penting adalah menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima. Susah untuk melaksanakannya! Dan berani melaksanakannya!

  21. Assalamu ‘alaikum wr wb

    Salam Kenal

    Kita hidup untuk beribadah. Memberi dengan ikhlas ibadah. Jadi tangan diatas /pemberi lebih baik dari hanya sekadar menerima saja.

    Wassalam
    Pramulyana
    http://www.Kinanti.com kerudung praktis & cantik
    http://ww.irhamna.com kerudung distro

  22. Hallo pak Dadang, salam kenal yach?
    Teryata masih ada orang baik di dunia ini ya?
    Sebetulnya memang benar, bahwa memberi itu jauh lebih baik dan lebih mulia dari pada memberi.
    Teryata pengertian saya keliru selama ini: saya merasa belum layak untuk memberi karena merasa kebutuhanku belum tercukupi. Dan mualai saat ini akan saya ubah, bahwa memberi jauh lebih baik dari pada menunggu untuk diberi.
    Salam kasih,

    Rus Sulistyono

  23. tangan di atas atau tda yg terbaik adalah yg rendah hati ketika memberikannya tanpa meninggalkan luka pada si penerima

  24. seyogyanya memang tangan diatas lebih mulia apabila disertai hati yg tawadhu

  25. noor lian bte osman

    memberilah kalau kita ada kelebihan kerana allah telah berfirman sesiapa yg memberi pinjaman yg baik nescaya allah lipatgandakan pemberiannya, itu janji allah.

  26. Tangan diatas itu jika diartikan sempit ya sempit juga sebetulnya maksud nabi saw. kita manusia itu sebagai anak cucu adam dibolehkan/dibenarkan meminta hanyalah kepada Tuhan sedangkan jika meminta kepada kepada sesama jarang yang ikhlas dan tangan ditas itu ma’nanya mensifati sifat tuhan Allah swt.

  27. Artikel yang menarik. Mencoba memberikan sudut pandang pada term yang sudah berlaku umum. Memang, ada kesan jika menganggap orang yang “memberi” lebih baik dari orang yang “diberi”.Namun menurut saya, yang menjadi titik sorotnya bukan kata memberi atau diberi, melainkan “lebih baik”-nya. Yang dimaksud Nabi Muhammad tentulah bukan “lebih baik” dari sisi status gengsinya. Jika memberi untuk alasan itu, bukankah itu riya? Ingin dipuji. Justru riya itu akan menggugurkan pahala amalan lainnya. Sia-sia, bukan? Menurut saya, term “lebih baik” dari hadits Rasulullah saw dimaknai dari kondisi. Orang yang memberi, bersedekah, berzakat, berinfak akan memperoleh ganjaran pahala dan kebaikan lainnya.Bukankah Rasulullah saw sendiri pernah mengatakan bahwa kemiskinan dekat pada kekufuran? Bisa memberi karena adanya usaha untuk menghasilkan.Dan hasil tersebut, diberikan sebagiannya kepada orang lain untuk tidak dinikmati sendiri. Maka, BERILAH dan tak perlu lagi berharap pujian dan status lebih tinggi.Sebab seperti kata Pak Dadang, Allah swt telah menyiapkan ganjarannya.

  28. yap…Alhamdulillah byk sekali hikmah dipertukaran pemikiran ini. Smg semakin menambah kebaikan kita semua. btw jika boleh menambahkan urun rembug, pemikiran saya yg sederhana mencoba menyampaikan bahwa TDA & TDB adl sbg bhs yg sederhana agar mudah kita paham & menyampaikannya. Tapi nilai falsafahnya tinggi sekali. Jika saya utarakan inipun hanya secuil yg bisa dr sejuta makna bbg pendapat orang. Yang jelas hal tsb memacu kita semua agar terkikis dr rasa kikir, terasah utk rasa derma, krn itulah nikmat hidup yg membuat kita semakin sejuk, damai & tenang. thks wassalam :)

  29. Sukses itu mudah, asal tahu jalannya.. Mari.. semangat berwirausaha…