Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Bagaimana Mengukur Rasa Cinta Kita Kepada Pekerjaan?

Bagaimana Mengukur Rasa Cinta Kita Kepada Pekerjaan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kepada kita selalu dikatakan untuk mencintai pekerjaan. Sebab katanya, jika kurang mencintai pekerjaan yang kita miliki, maka tidak mungkin kita bisa mengoptimalkan potensi diri yang ada dalam diri kita. Nasihat ini sungguh masuk akal. Sebab, tidaklah mungkin bisa bersungguh-sungguh mencurahkan 100% kemampuan yang kita miliki untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kita cintai. Tantangannya sekarang adalah; bagaimana mengukur rasa cinta kita kepada perkerjaan? Tahukah anda?

Hari jum’at pekan silam saya berkunjung kekantor seorang tokoh pengusaha sukses, sekaligus penulis buku best seller, dan trainer terkemuka yang sangat saya hormati. Beliau membekali saya dengan gift berupa tas yang didalamnya berisi brosur tentang salah satu bidang usaha pengembangan sumber daya manusia yang dikelolanya. Karena isinya cukup banyak, maka saya memutuskan untuk membaca informasi yang ada didalamnya sedikit demi sedikit. Satu demi satu modul dan majalah yang ada saya baca. Sampai pada akhirnya, saya mengeluarkan satu-satunya majalah yang masih tersisa didalam tas itu. Dan, dihadapan saya sekarang ada majalah tentang teknologi dan perkembangan dunia komputer.

Tidak seperti buku dan majalah referensi lain dalam paket itu, majalah komputer tersebut masih dibungkus plastik, layaknya benda pajangan di rak toko buku. Padahal, dalam diri saya tumbuh sebuah sistem nilai; ‘orang yang berhak membuka pembungkus buku adalah sang pemiliknya saja’. Jadi kalau anda bukan pemiliknya, maka anda tidak berhak untuk membuka plastik pembungkus majalah itu; kecuali atas seijin pemiliknya.

Dalam obrolan kami diruang kerjanya, saya memang mendapatkan ‘tambahan’ majalah bertema keluarga yang diberikan secara khusus mengingat didalamnya ada liputan tentang keluarga beliau. Jadi, majalah itu bukanlah paket standard gift perusahaan. Oleh karena itu, ketika saya menemukan majalah komputer tadi, maka langsung saya bepikir; “Ya Tuhan, Beliau membeli majalah ini untuk dibaca dan secara tidak sengaja terbawa oleh saya.” Lalu, saya bergegas ke kantor pos, dan mengirimkan majalah itu kembali dengan sepucuk surat berisi permohonan maaf. Dua hari kemudian, saya mendapat SMS dari beliau yang mengatakan bahwa majalah itu memang termasuk kedalam paket yang diberikan kepada saya!

Betapa noraknya saya ini, bukan? Tetapi, kenorakan yang memalukan itu terbayar lunas ketika saya teringat bahwa pada cover majalah komputer itu ada sebuah poster film animasi yang fenomenal. Anda bisa menebak film apa itu? SpongeBob. Ya, SpongeBob SquarePants. Anda suka menonton film itu? Saya menyukai saat-saat menikmati tayangannya bersama anak-anak.

Kembali kepada pertanyaan kita diatas; bagaimana mengukur rasa cinta kita kepada perkerjaan? Mungkin kita bisa mempertimbangkan untuk bertanya kepada SpongeBob. ‘Ayolah, jangan bercanda!” barangkali anda berpikir begitu. Tidak. Saya tidak sedang bercanda. Saya kira SpongeBob bisa mengajari kita tentang rasa cinta kepada pekerjaan. Saya tahu; tidak ada jaminan bahwa SpongeBob bisa memberikan jawaban eksak tentang cara mengukur dan alat ukurnya. Tetapi, SpongeBob bisa menunjukkan kepada kita bagaimana semestinya kita mencintai pekerjaan.

Ada banyak hal dalam kehidupan yang membuat SpongeBob sedih, kesal, atau marah. Dia bisa menangis tersedu-sedu karenanya. Lalu memelintirkan tubuhnya untuk memeras semua airmata yang dimilikinya agar terkuras habis. Dan, setelah pori-pori spon pada tubuhnya kehabisan air; dia segera tertawa kembali sambil menunjukkan gigi depannya yang besar-besar dan jarang. Begitulah SpongeBob. Dia bisa segera tertawa kembali; dan menemukan hidupnya, kembali normal. Namun demikian, tahukah anda bahwa ada satu hal didunia ini yang bisa membuat SpongeBob bersedih tanpa henti? Tahukah anda apa itu? Itu adalah saat dimana Tuan Krabs memintanya untuk berhenti bekerja. Ketika itulah SpongeBob bersedih alang kepalang, sehingga Patrick si bintang lautpun tidak dapat menghiburnya.

Anda boleh bilang; “Ya kalau itu sih bukan cuma SpongeBob. Gue juga bakal sedih betul kalau sampai diberhentikan dari pekerjaan!” Mungkin sama. Mungkin juga tidak. Sama, karena kebanyakan orang yang terkena PHK merasa bersedih. Kebanyakan: tidak semua. Sebab, ada saja yang malah senang mendapatkan paket PHK, bukan?. Tapi, pada umumnya orang bersedih jika di-PHK. Sponge bob juga bersedih. Jadi, itu adalah hal yang lumrah. Tetapi tidak sepenuhnya sama, karena kesedihan SpongeBob berbeda dengan kesedihan kita kalau kena PHK.

Kita, jika kena PHK bersedih karena memikirkan seribu tanya tak berjawab; “Saya mau kerja apa lagi setelah ini? Cari pekerjaan kan susah setengah mati? Anak istri saya mau dikasih makan apa?” Padahal kan sudah jelas; ya dikasih makan nasi-lah. Masa dikasih kerikil. Kita berputus asa. SpongeBob berbeda. Dia bukan mempertanyakan semuanya itu. Dia bersedih karena benar-benar mencintai pekerjaannya sebagai juru masak di restoran milik Tuan Krabs. Ukuran cinta SpongeBob ditunjukkan dengan kegembiraannya setiap kali dia bekerja. Tengoklah filmnya sesekali jika anda perlu membuktikan kata-kata saya ini. Ketika bekerja, SpongeBob selalu tampil ceria. Dan dia selalu didorong untuk membuat masakan terbaiknya hari itu. Kompor. Kuali. Minyak goreng. Api. Adonan roti. Sebut saja apa. Semua yang berhubungan dengan pekerjaannya dijadikan sahabat dimana dia bisa menikmati hidupnya. Menikmati proses menjalani pekerjaannya, sehari-hari.

Begitulah wujud sebuah cinta kepada pekerjaan adanya. Maka tidaklah mengherankan jika restoran Tuan Krabs sangat sulit untuk ditandingi. Bahkan, investor yang mendatangi Tuan Krabs untuk mengakuisisi Krusty Krab dengan imbalan uang yang melimpah ruah pun tidak berhasil menggeser kepemilikan restoran itu. Tahukah anda apa penyebabnya? Anda tahulah, jika mahluk rakus uang seperti Eugene H. Krabs ditawari cash yang melimpah; pasti dia akan menyerah begitu saja. Sekalipun itu berarti bahwa dia harus kehilangan restoran miliknya. Jadi, sudah tentu bukan keengganan Tuan Krabs penyebab kegagalan akuisisi itu. Lalu apa dong?

Jawabannya adalah; Kecintaan SpongeBob kepada pekerjaannya. Kita semua tahu betul bahwa bekerja yang dilandasi dengan rasa cinta akan memberikan hasil terbaik. Kualitas produk yang dibuat oleh orang-orang yang mencintai pekerjaannya pastilah berkelas nomor satu. Dan itulah yang terjadi pada SpongeBob. Karena cintanya pada pekerjaan, dia dapat menghasilkan masakan yang paling enak diseluruh Bikini Bottom. Dan itu menyebabkan semua penduduk kota menyukainya.

Ketika investor kapitalis itu datang untuk mengakuisisi restoran Tuan Krabs. Dan dihadapannya sudah terhampar sejumlah nyaris tak terbilang uang. Surat perjanjian jual beli siap untuk ditanda tangani. Tiba-tiba, penduduk dunia ikan seisi kota air mendatangi restoran itu. Mereka berdemo, untuk menghentikan transaksi itu. Mereka tidak menginginkan akuisisi itu. Lalu, apa hak mereka? Bukankah restoran itu milik Tuan Krabs?

Benar. Restoran itu milik Tuan Krabs. Tetapi, ada satu komponen penting di restoran ini yang dimiliki oleh semua orang seisi kota. Tahukah anda apa gerangan itu? SpongeBob. Ya, SpongeBob SquarePants dengan cita rasa masakan yang dibuatnya berkat bumbu rahasia bernama cinta kepada pekerjaan. Cinta itu melahirkan dedikasi. Dan dedikasi memunculkan kesungguhan. Sementara, kesungguhan menghasilkan keunggulan.

Kembali kepada pertanyaan kita diatas; bagaimana mengukur rasa cinta kita kepada perkerjaan? Apakah sekarang anda sudah menemukan jawabannya?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Tidak perlu menunggu terkena PHK terlebih dahulu untuk mulai mencintai pekerjaan yang kita miliki. Karena jika demikian, maka semuanya sudah teramat sangat terlambat.
Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

8 comments

  1. Kang Dadang yang mulia,
    HORE..HARI BARU..! Terima kasih inspirasinya.
    Sekarang ada banyak perubahan “pelayanan”
    di dunia bisnis. Naik kereta ada yang ber-AC, lebih bersih, lebih nyaman. Ke restoran mie goreng, kamar mandinya sudah agak bersihan. Ke pom bensin, diberi permen, aqua, diberi tempat shalat, diberi ATM [non-fuel service], diberi air & angin gratis, diberi smile “dimulai dari angka nol”, ke kantor pos diberi salam selamat pagi, ke rumah sakit diberi layanan daftar vis sms, hanya cari minyak tanah [“mitan”] masih setengah mati, karena sedang ada program konversi dari mitan ke LPG, ke mall karcis parkirnya bisa gratis, ke toko buku ada layanan computer untuk cari buku sendiri, dst, dst.dst. Ternyata “pelayanan” sebanding dengan “memberi lebih”. Memberi lebih sebanding dengan kecintaan. Kecintaan sebanding lurus dengan pengorbanan.

    Hukum Pengorbanan [law of sacrifice]:

    “semakin besar cinta kita, semakin besar pula pengorbanan kita” harry ‘uncommon’ purnama

  2. Kemanakah ‘cinta’ itu akan membawa kita?

    Dalam batasan mana kita bisa mengatakan ‘aku cinta pekerjaan ini’?

    Apakah Spongebob tidak merindukan untuk punya restaurant sendiri? Atau setidaknya menjadi manajer restaurant?

    Beranikah Mr.Krab mempromosikan Bob untuk tugas baru dan menggantinya dengan koki baru?

  3. iys..bener juga ..spongebob itu bener2 mencintai pekerjaannya sampai dy juga lupa bagaimana bergaul dg yg lain dan menyenagkan bossnya…dan ini dikarenkan dy juga tidak punya ambisi untuk mendapatkan yg lebih selain mendapat kepuasaan dari hasil kerjanya. nach kadang-kadang kita kayak gitu pak, jika kita mencintai pekerjaan kita dan enjoy dengannya ada sesuatu yg terlupakan yg penting untuk masa depan kita….sehingga kita mentok di pekerjaan itu saja dan tidak bisa berkembang.

  4. Terus terang saya masih bingung juga, gimana cara mengukur kecintaan pada pekerjaan.
    Oke Kang… thanks anyway

    Norick
    http://indradjit.multiply.com

  5. #1. Pak Harry. Dengan apa yang Bapak uraiakan itu, rasanya konsumen juga mendapatkan manfaatnya ya Pak. Terimakasih.

    #2. Pak Amien. Pertanyaan-pertanyaan yang begitu kompleks. Banyak orang terjebak dengan anggapan bahwa ‘memiliki’ restoran sendiri lebih baik daripada ‘bekerja di restoran’ orang lain. Bisa iya. Bisa juga tidak. Banyak atasan yang protektif; sehingga anak buah tidak mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh terus. Banyak juga atasa yang begitu terbuka, dan mendorong pertumbuhan stafnya.

    Namun, kombinasi antara diri sendiri dan atasan bisa memberikan peluang untuk pencapaian yang lebih baik.

    #3. Anno. Sebuah pandangan yang menarik. Bagi saya pribadi, pekerjaan terbaik bukanlah pekerjaan yang berganti-ganti. Bukan pula pekerjaan dengan gaji tertinggi. Melainkan pekerjaan yang seusai dengan kemampuan diri sendiri. Menemukan pekerjaan yang paling tepat adalah sebuah tantangan yang menarik. Sebab, saya meyakini, pekerjaan yang semacam itu menjadikan hidup kita bermakna, dan selalu bergairah.

    #4. Norick. Saya ingin berterus terang juga pada anda, bahwa; mengukur rasa cinta pada pekerjaan itu sama sekali TIDAK penting. Anda boleh tidak mengetahui bagaimana cara mengukurnya. Yang penting anda memiliki rasa cinta itu, bukan? Jadi, tidak usah bingung. Selama cinta itu anda miliki; maka anda akan baik-baik saja.

    salam,
    dadang

  6. sy khawatir jikalau saya saat ini ternyata belum dapat menemukan pekerjaan yg paling tepat yang dpt sy cintai.. 🙁
    btw… sebuah topik yang menarik pak Dadang…

  7. sebenarnya sangat mudah kita untuk mencintai pekerjaan dalam suatu perusahaan,tapi ketika kita mencintai pekerjaan itu yang setinggi tingginya,terkadang seketika saja ada seseorang selevel pekerjaan kita atau juga seorang atasan yang sengaja merekayasa hasil kerja kita yang sebenarnya itu adalah terbaik buat perusahaan dibuat sedemikian mungkin supaya pekerjaan kita itu tidak di anggap atau di ignorkan oleh orang yang sekelas pemilik tuan crabs tadi sehingga kita yang tadinya telah mencintai pekerjaan itu, tiba tiba saja luntur cintanya dan kembali melemah yang tentu saja dapat merugikan tuan crabs sebagai pemilik perusaan. itu sesungguhnya tugas tuan crabs untuk mengklarifikasi kebenaran hasil kerja yang mana yang bagus, tapi di sini ibarat seseorang yang sedang bersaing dalam suatu karir ada kata”banyak jalan menuju roma” untuk memuluskan kariernya seseorang juga sering pandai mengambil alih hasil kerja seseorang dengan berbagai polesan kata sehingga seolah olah pekerjaan yang telah di kerjakan kita di bikin polesan tadi menjadi hasil kerjanya dia. lah kita yang telah membuat pekerjaan baik lalu orang lain lah yang terangkat. sungguh hal seperti ini seringkali terjadi di dalam suatu perusahaan besar,sehingga orang seperti spongbob pun mulai resah dan kasak kusuk mencari pekerjaan di tempat yang baru, dan inilah akan menjadi bumerang tuan crabs, apabila terjadi kehilangan spongbob.

    hore..hore…

  8. Memang kita harus belajar pada tokoh kartun SpongeBob. Yang mencintai pekerjaan dengan setulus hati.