Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Saya Menemukan Hati Itu Kembali

Saya Menemukan Hati Itu Kembali

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kepada saya pernah dinasihatkan; jangan sampai kamu membiarkan hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu. Mungkin nasihat itu terasa seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita coba cermati, ternyata memang; hati manusia itu menentukan segala tindakan dan perbuatannya. Baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain. Dan orang-orang yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan sekedar kepada dirinya sendiri. Jadi, sungguh berbahaya jika manusia sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika sudah demikian, kita yang menganggap diri sebagai mahluk mulia ini tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja. Seburuk apapun itu. Karena kita pada dasarnya; tidak lagi memiliki hati nurani.

Saya ada sesi presentasi CRM dihadapan sekitar 50 orang sales force hari Jum’at kemarin. Dalam perjalanan menuju lokasi presentasi, radio mobil saya tuned in di sebuah stasiun. Setelah memutarkan beberapa lagu, penyiar bercerita tentang proses penggusuran sebuah pasar bunga yang sudah sejak jaman dahulu hadir disalah satu sudut kota Jakarta. Kemudian dia mengatakan bahwa diseberang telepon sudah tersambung seorang pedagang bunga sekaligus pemilik satu dari 108 buah kios yang dirobohkan buldozer aparat pemerintah.

Ketika mendengar hal itu, hati saya biasa-biasa saja. Mungkin karena sudah terlampau sering saya mendengar kabar, membaca dikoran, atau menyaksikan lewat pesawat televisi; peristiwa-peristiwa penggusuran semacam itu. Isak tangis ibu-ibu pemilik gubuk atau kios. Kemarahan para lelaki yang tertindas. Semuanya sudah menjadi biasa. Jadi, saya tidak lagi merasakan itu sebagai sesuatu yang perlu dipedulikan. Semuanya, biasa-biasa saja.

Pagi itu, tangan saya terasa enggan untuk sekedar memencet remote control agar berita tak bernilai itu tidak lagi terdengar ditelinga saya. Bosan rasanya. Tapi, mengapa tangan ini sama sekali tidak kuasa untuk meraih remore control itu? Seolah memaksa diri saya untuk mendengar percakapan radio itu. Baiklah, saya dengarkan saja.

”Pak Cahya,” demikian sang penyiar radio menyebut lelaki diseberang telepon. ”Apa yang saat ini sedang terjadi disana?”
”Ya, disini aparat pemerintah sedang membumihanguskan kios-kios kami,” dia bercerita.
”Lalu apa yang anda dan rekan-rekan lakukan?” lanjutnya.
”Kami berbaris saja didepan pasar dengan damai sambil menyaksikan para petugas yang digaji dari retribusi yang kami bayar setiap hari itu merusak semua milik kami.” katanya. Telinga saya mulai terkesiap. Seperti telinga seekor anjing yang mendengar suara gemerisik ditengah kesunyian malam. ”Sementara kami tidak kuasa menyaksikan mereka menginjak-injak kaum perempuan dan ibu-ibu.”
”A-apa yang Bapak maksudkan menginjak-injak kaum perempuan?”
”Dibarisan paling depan ada ibu-ibu yang duduk dengan damai sambil memegang bunga, lalu para petugas ….”

Saya tidak lagi dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pemilik kios bunga itu. Sebab, tiba-tiba saja saya merasakan mata ini berkaca-kaca. Ah, mengapa harus cengeng! Begitu hati saya memberontak. Tetapi, semakin dia melawan, semakin terang-terggambar dalam imajinasi saya suasana yang tengah terjadi dipasar bunga yang terusir itu. Saya memang beberapa kali menyaksikan proses penggusuran pasar dan rumah warga di berita-berita televisi. Dan, saat ini; tayangan demi tayangan itu berputar-putar diotak saya. Dan semakin kuat hati saya memberontak, semakin samar pandangan saya oleh air mata yang kini sudah meleleh dipipi kiri dan kanan.

Hey! Sudah sangat lama saya tidak menitikkan air mata. Mengapa hari ini saya melakukannya? Masihkah kamu seorang lelaki bersuara lantang itu? Kemana gerangan ketegaran dirimu pergi? Saya tidak tahu. Saya. Tidak. Tahu. Yang saya tahu, dada saya tidak kuasa lagi menahan gejolak. Aneh, telinga saya mendengar suara seseorang yang tengah terisak. Padahal, didalam mobil itu hanya ada saya sendirian. Jadi, suara siapakah gerangan itu?

Sekitar jam delapan kurang lima belas menit, mobil yang saya kendarai melintasi pasar Jatinegara menuju ke arah Matraman. Ketika saya berhenti diperempatan yang tertahan oleh lampu merah, saya mendapati diri saya sudah menangis seperti seorang pencinta yang ditinggal pergi kekasih hatinya. Orang-orang yang menyeberang melintasi mobil mungkin mengira saya memang tengah patah hati. Para pengendara motor yang berjejer dikanan dan kiri menanti lampu hijau terheran-heran; mengapa ada lelaki berdasi yang tengah mengendari mobil sambil menangis? Tapi, ah. Biarkan saja. Mereka tidak mengerti apa yang saat ini tengah saya rasakan dalam hati ini. Saya biarkan saja hujan setempat itu terus mengguyur. Toh ada kertas tissue yang bisa digunakan untuk menyekanya kemudian.

Gerimis pagi itu mulai mereda ketika melintasi pasar kenari. Semua perasaan gundah itu hilang begitu saja. Aneh. Semuanya sirna kecuali kaca spion yang memantulkan bentuk mata sembab saya seolah tidak tidur selama berhari-hari. ”Hey, kamu itu mau melakukan presentasi.” saya berbisik sendiri. ”Bagaimana bisa, dengan mata semacam itu?” Ah, tidak apa-apa. Mata ini akan segera pulih kembali. Sebab, air mata yang baru saja dikeluarkannya itu memang untuk membasuh hati yang sudah buram ini. Sekarang, hati saya terasa ringan. Dan tiba-tiba saja, dia bisa melihat lebih terang. Mendengar lebih jelas. Dan berkata dengan suara yang lebih jernih. Saya sudah menemukan hati itu kembali.

Ketika saya menyeka wajah dihadapan cermin di toilet; saya melihat, mata itu sudah kembali seperti mata yang biasanya. Sama sekali tidak nampak disana sisa-sisa kegundahan. Yang ada, hanyalah perasaan lega. Karena hari ini, saya kembali diingatkan bahwa; hati tidak boleh dibiarkan mati.

Pagi itu, sebelum sesi presentasi dimulai, saya berkata kepada rekan yang bertugas menyiapkan slide-slide kami; ”Tolong tambahkan satu slide lagi.”
”Isinya apa, Pak?” kata sahabat saya.
”Tuliskan disana: Bekerja Dengan Hati” kata saya. ”Lalu, tolong carikan gambar hati, dan simpan di slide itu.” Kemudian sahabat saya melakukannya.
”Tolong jadikan itu sebagai slide pertama saya untuk presentasi pagi ini….” begitu saya menambahkan.

Ketika sesi itu tiba tepat jam sembilan pagi, saya memulainya dengan sebuah slide berisi gambar hati. Sungguh relevan dengan materi presentasi saya pagi ini, yaitu; memuliakan pelanggan. Memuliakan orang-orang disekitar kita. Dan memang benar. Langkah pertama yang harus kita lakukan untuk apapun adalah; membawa serta hati kita.

Bayangkan jika kita bisa membawa serta hati terhadap setiap pekerjaan yang kita lakukan. Apakah itu pekerjaan yang berhubungan dengan CRM seperti yang saya bawakan dipagi itu. Ataukah pekerjaan lain yang sehari-hari kita geluti. Pastilah, kita akan dengan ikhlas melakukannya. Benar, kita masih mengharapkan bayaran. Tidak apa-apa. Sebab begitulah hukum pelayanan dalam konteks pekerjaan. Kita melayani. Dan orang yang kita layani memberikan bayarannya. Namun, dengan menyertakan hati kedalam pekerjaan; pastilah kita bersedia melakukan segala hal terbaik, untuk orang-orang yang kita layani. Tidak akan pernah terlintas dalam pikiran kita untuk melakukannya asal-asalan. Apalagi merugikan orang lain. Menipu. Menindas. Memperdayai. Menjerumuskan. Tidak.

Dengan membawa hati nurani; kita tidak hanya sekedar bekerja demi mendapatkan keuntungan pribadi. Dengan membawa hati nurani; kita pasti selalu bisa memberi nilai manfaat kepada diri kita sediri. Kepada orang lain. Kepada perusahaan yang mempekerjakan kita. Dan, yang terlebih penting lagi adalah; kepada saat dimana kita harus berhadapan dengan sang pemberi hidup. Yaitu, saat dimana Dia bertanya kepada kita; Apa yang telah kamu lakukan dengan hidup yang kuanugerahkan kepada dirimu?

Hore,
Hati Baru!

Catatan Kaki:
Hati. Sudah saatnya kita menempatkan hati sebagai penasihat utama atas setiap tindakan dalam perjalanan mengarungi samudera kehidupan kita.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

8 comments

  1. Dear Pak Dadang,

    Sungguh tepat bahasan kali ini mengangkat nilai2 kemuliaan yang sebenarnya benih2nya sudah tertanam di lubuk hati yang dalam sejak manusia itu lahir namun karena terlalu banyak cobaan yang dilalui oleh seorang manusia sejak lahir kedunia hingga dewasa sehingga tertutup awan gelap pekatlah hati nurani yang mulia tersebut apalagi jika tidak ada usaha mengingat kembali bagaimana cinta kasih Tuhan ( Allah SWT) yang di berikan kepada hambanya tanpa pilih kasih.
    Padahal tiket perjalanan yang dibawa seorang manusia hanyalah empat macam yang berawal dari : Alam Kandungan … ke Alam Dunia….lanjut ke Alam Kubur dan = The End = adalah Alam Akhirat,dimana sebelum masuk alam akhirat konon menurut sebuah hikayat akan ditimbang amal perbuatan baik dan buruk, padahal di Alam Dunia lah tempat terjadinya perbuatan Baik dan buruk itu terjadi, sejak Tuhan( Allah SWT)menciptakan manusia sudah diberi penglihatan, pendengaran dan rasa, tanpa rasa adalah robot namun Alaah SWT lebih adil dan bijak lagi dengan memberi akal agar tidak seperti binatang, tapi yang lebih seru lagi dengan adanya rasa maka terbitlah nafsu yang bermacam2.
    Nah permasalahannya mmampukah manusia memanage antara nafsu dan akal?
    Bagaimana menurut pandang Pak Dadang ?

    Salam hangat.

  2. Halo salam kenal Pak Dadang,

    saya Ana, saya tau tulisan2 Bapak dr milis ia-itb-jakarta yg saya ikuti…

    very inspiring Pak, tulisan2nya… 🙂

    klo boleh, saya ijin masukin link website Bapak ke multiply saya ya Pak…
    untuk penyemangat saya untuk lbh rajin menulis jg, share any good thoughts… 🙂

    cheers!

  3. Saya .ikut berduka, ikut sedih..hu..hu..hu..hu..
    ngikutin gundah-gulana “HATI”nya kang DADANG..sambil mengasah “hati”nya jadi melek, pendengar aktif, dan tidak bisu.
    Inilah “HEART’S TIME”nya kang Dadang pagi itu, sebelum presentasi. Presentasinya jadi tambah bagus karena ada slide:

    “BEKERJA DENGAN HATI”,
    “BERFIKIR DENGAN HATI”,
    “BERUCAP DENGAN HATI”,
    “BERTINDAK DENGAN HATI”,
    “MELIHAT DENGAN HATI”,
    “MENDENGAR DENGAN HATI”,
    “HIDUP & MATI DENGAN HATI”, hmmm

  4. Beragama, dengan hati juga?

  5. Koq jadi teringat lagunya Celine Dion; “Where does my heart beat now…(lanjutannya gak begitu hafal)..”
    Kebalikannya dengan Bp DK ini, saya termasuk pria yang ‘hampir’ setiap hari menangis. How could it be? Yea, every time I remember the Grace from The Almighty I start crying. Even though I was on my motorcycle that momment; so I had to stop for a second just to wipe the tears..:D
    Sesuatu yang beku ketika mencair memang melegakan. Membuat ‘clear’ segala sesuatu; hal yang tadinya seperti tersumbat, tiba-tiba meluncur deras tanpa halangan. Isn’t that The Power of Love; jika mau di sinonimkan kata ‘hati’ dengan ‘love’/cinta. Mencintai apa yang kita kerjakan atau apa yang ada pada kita merupakan motivasi terbesar melebihi dari reward yang disediakan bagi kita atas pekerjaan itu sendiri. Kita akan terheran-heran dengan seorang lulusan S2 yang ‘hanya’ menjadi guru SD dengan penghasilan minim. Atau seorang sarjana yang menjadi penjual sate. Atau seorang pria yang menikahi sorang gadis cacat yang hanya setinggi 60cm. We never understand it.
    But, mungkin itulah yang mendasari suatu hikmat yang mengatakan; Apapun yang engkau kerjakan dan lakukan, lakukanlah itu seperti untuk Tuhan.
    Ketika kita dihadapkan pada pertanyaan; Di manakah Tuhan tinggal? Dan kita menjawab; ” DIA tinggal di hatiku.” Maka tepatlah topik yang diambil Bp DK ini;

    Tetap semangat,

  6. Bukankah sepotong daging yang bernama “HATI” sebagai tolok ukur baik buruknya seseorang. Bila baik hatinya maka baik pulalah siempunya “HATI” tersebut, tetapi bila buruk hatinya tidak tertutup kemungkinan – apapun yang dikerjakannya akan jauh dari kebaikan.

    Salam hormat dan saluuut untuk Mas Dadang.

  7. #1. Pak Abubakar, saya tidak dapat mengatakan hal lain selain sependapat dengan Bapak. Salam hangat.
    #2. Ana. Terimakasih, Silakan di link, dengan senang hati. Salam kenal.
    #3. Pak Harry, saya suka dengan istilah heart’s time-nya bapak.
    #4. Muallaf Menggugat. Keahlian saya bukan dalam bidang agama sehingga mungkin jawaban saya tidak cukup reliable. Namun, Pak Haryy Uncommon telah berbaik hati memberikan komentar. Begini beliau menulis:

    Mas Mualaf, he..he..
    Iman digerakkan oleh hati dan jiwa, bukan dengan pikiran..hmmm
    Karena pikiran TIDAK dapat menjangkau pikiran ALLAH yang Maha TIDAK
    terbatas itu. Semoga bermanfaat bagi penemuan kembali HATI dalam
    semua kehidupan manusia Indoenesia.
    SALAM GREAT INDONESIA..!

    (email Pak Harry tgl 21 January -> system blognya kurang support untuk email reply langsung, jadi saya copy paste disini)

    #5. Amien. Sebuah pengamatan yang bagus. terimakasih dan tetap semangat.

    #6 Ibu Yatti. Semuanya ditentukan oleh hati ya Bu? Salam hormat.

  8. Setiap kali saya lewat di sini,..ada sesuatu yang terus bisa saya bawa pulang,…