Pengusaha Atau Pekerja?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Saya mengira perdebatan itu sudah berakhir. Ternyata tidak. Padahal, objeknya sama sekali tidak terlampau esensial. Premis yang paling sering diucapkan adalah; Anda tidak akan pernah kaya jika menjadi pekerja. Jadilah pengusaha, maka anda akan kaya. Itu yang pertama. Yang kedua; Anda tidak akan bisa memiliki waktu untuk keluarga jika jadi pekerja. Jadilah pengusaha, maka anda bisa mengatur waktu anda sendiri. Oleh karenanya, ada yang beranggapan bahwa; menjadi pengusaha itu lebih baik daripada menjadi pekerja. Sebaliknya, sang pekerja menentangnya mati-matian; terutama mereka yang bagus karirnya, tentu saja. Tetapi, sebagian besar karyawan yang biasa-biasa saja hatinya deg-degan. Setiap kali ada pernyataan bahwa menjadi pengusaha itu lebih baik daripada menjadi pekerja; hatinya gundah gulana. Hingga tidurpun tidak nyenyak dibuatnya. Tetapi, manakah sesungguhnya yang lebih baik; menjadi pengusaha, atau pekerja? Continue reading

Membuka Hati, Membuka Diri

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Bukalah pintu hatimu. Begitu anda mengatakan jika menginginkan seseorang menerima kehadiran diri anda. Ini benar bukan hanya dalam konteks membangun sebuah hubungan. Juga benar dalam konteks bagaimana kita bersedia membuka hati kepada sebuah nasihat, masukkan, dan kritikan yang ditujukan kepada kita. Jujur saja, kita tidak terlalu suka mendengar nasihat. Sehingga kita kehilangan pelajaran yang dikandungnya. Kita enggan mendengarkan masukan. Sehingga kita tidak melakukan perbaikan. Kita juga alergi dengan kritikan. Sehingga kita terkungkung oleh kepicikan. Pendek kata, kita menutup diri dengan cara menutup pintu hati kita dari semua yang datang dari luar. Continue reading

Andakah Si Pemimpin Karbitan Itu?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pemimpin karbitan! Anda boleh menggunakan kalimat itu untuk menumpahkan kekesalan pada orang-orang yang anda anggap tidak layak diposisinya sekarang. Tenang saja, tidak hanya anda yang menggunakan sumpah serapah itu. Banyak. Entah diucapkan secara langsung. Atau hanya sekedar gerundelan dalam hati belaka. Kita melakukannya ketika melihat orang yang lebih muda melesat naik mendahului kita. Juga ketika melihat seseorang yang dianggap tidak becus melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan yang diembannya; kita kemudian – dalam hati – berbisik, ’itulah jadinya kalau pemimpin karbitan yang dipilih’. Tetapi, bagaimana jika yang terpilih sebagai si pemimpin karbitan itu adalah kita sendiri? Apakah kita punya cukup keberanian untuk mengatakan kepada diri sendiri – akulah si pemimpin karbitan itu? Continue reading

Menjadi Diri Kita Sendiri

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Tentu kita sudah pernah mendengar kalimat ini; jadilah dirimu sendiri! Sungguh, jika seseorang mengatakan hal itu kepada anda, dengarkanlah kata-katanya. Dan turutilah. Sehinga menjadilah anda; diri anda sendiri. Beda jika kepada anda dikatakan ’perkayalah dirimu sendiri!’. Atau, ’dahulukan kepentinganmu sendiri!’. Tidak selalu perlu untuk anda turuti. Sebab, nasihat-nasihat seperti itu sering membuat anda tersesat. Tetapi, jadilah dirimu sendiri!, merupakan sebuah nasihat yang akan sangat membantu anda untuk menjadikan hidup anda memiliki makna. Jika kepada anda belum pernah ada yang mengatakannya selama ini; maka anggaplah ini merupakan saat bagi anda untuk memulainya. Memulai apa? Memulai untuk ’bersungguh-sungguh’ menjadi diri anda sendiri. Dan, jadilah dirimu sendiri! Continue reading