Monday , September 1 2014
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Andakah Si Pemimpin Karbitan Itu?

Andakah Si Pemimpin Karbitan Itu?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pemimpin karbitan! Anda boleh menggunakan kalimat itu untuk menumpahkan kekesalan pada orang-orang yang anda anggap tidak layak diposisinya sekarang. Tenang saja, tidak hanya anda yang menggunakan sumpah serapah itu. Banyak. Entah diucapkan secara langsung. Atau hanya sekedar gerundelan dalam hati belaka. Kita melakukannya ketika melihat orang yang lebih muda melesat naik mendahului kita. Juga ketika melihat seseorang yang dianggap tidak becus melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan yang diembannya; kita kemudian – dalam hati – berbisik, ’itulah jadinya kalau pemimpin karbitan yang dipilih’. Tetapi, bagaimana jika yang terpilih sebagai si pemimpin karbitan itu adalah kita sendiri? Apakah kita punya cukup keberanian untuk mengatakan kepada diri sendiri – akulah si pemimpin karbitan itu?

Masa kecil saya dijalani didaerah pertanian. Selama masa itu pula saya dekat dengan beragam macam tanaman, tetumbuhan, dan sayur-sayuran. Yang selalu ada nyaris sepanjang tahun adalah buah tomat. Ayah saya menanamnya dalam jumlah yang cukup banyak. Jika anda penyuka tomat dan membeli tomat matang dipasar atau toko swalayan, maka ketahuilah bahwa; tomat matang yang anda beli itu tidak matang dipohonnya. Sebab, tomat yang matang dipohon tidak akan bisa bertahan lama-lama ditempat penyimpanan. Pasti dia akan penyok dalam satu atau dua hari kemudian. Dia segera menjadi tomat bonyok. Jadi, mengirimkan tomat matang langsung dari kebun ke pasar adalah tindakan yang tidak cukup cerdas untuk dilakukan. Kalau begitu, tomat matang yang anda beli itu apa? Itu adalah tomat yang dipetik dari pohonnya dalam keadaan mentah. Masih keras. Dan berkulit buah warna hijau. Bukan merah seperti yang anda lihat sekarang. Lalu, untuk menjadikannya matang; tomat itu diperam. Biasanya, dalam proses memeram digunakan karbit. Itulah kenapa kita suka sekali mengatakan; ’matang karbitan’! Seperti kepada para pemimpin itu. Tidak ada yang perlu dipusingkan, bukan?

Jika seseorang menghardik dan mencap saya sebagai seorang pemimpin karbitan – nanti kalau saya berkesempatan menjadi pemimpin – maka saya akan mengatakan kepada orang itu: ”Terimakasih. Saya tersanjung karenanya….” Mengapa saya harus tersanjung? Bukankah harusnya saya tersinggung? Saya tahu, biasanya orang marah kalau disebut pemimpin karbitan. Saya ini juga pemarah, tapi tidak mau marah gara-gara sebutan itu. Mengapa demikian? Ada dua hal. Pertama, tidak ada dimuka bumi ini satu orang pun manusia yang langsung berhasil menjadi pemimpin hebat. Sebut saja siapa. Semua pemimpin hebat itu adalah mereka yang sebelumnya bukan pemimpin kemudian menjalani proses penggemblengan yang luar biasa. Persis seperti buah tomat mentah yang diperam menggunakan karbit. Semua pemimpin besar yang kepemimpinannya lestari, pasti dikarbit terlebih dahulu.

Tahukah anda bagaimana rasanya berada dalam tempat pemeraman bersama dengan batu karbit? Saya tahu. Sebab, dimasa kecil saya sering masuk kedalam tempat pemeraman. Rasanya panas. Bau tidak karuan. Gatal. Bikin sesak nafas. Dan jika kebetulan saja ada percikan api yang melintas; anda bisa membayangkan bagaimana jadinya. Tapi, jika tidak demikian, maka buah tomat kepemimpinan anda yang masih hijau itu tidak akan pernah menjadi matang. Itu yang pertama.

Kedua. Saya tersanjung, sebab jika saya harus terlebih dahulu matang sebelum mulai memimpin; maka sesungguhnya dengan segera saya akan menjadi pemimpin bonyok. Kalau saya berkesempatan untuk menjadi pemimpin ketika saya masih hijau, maka itulah saat terbaik untuk memulainya. Saat itu, saya berkesempatan menjalani semua kesulitan dalam proses memimpin. Diserang dan digoyang orang-orang. Diumpat didepan dan digunjing dibelakang. Diteriaki sebagai si pemimpin karbitan. Semua itu akan menjadi karbitnya yang pertama. Kritikan dari orang-orang yang tidak suka dan caci maki dari mereka yang iri menjadi karbit yang kedua. Sedangkan kesempatan untuk melakukan beragam eksperimen, belajar dari kesalahan, dan memupuk pengalaman adalah karbit ketiga. Dan semuanya itu; menjadikan tingkat kematangan kepemimpinan kita semakin menjulang tinggi.

Jadi, kita tidak usah marah kan, kalau digelari sebagai pemimpin karbitan? Tapi hey, tunggu dulu. Saya tidak bermaksud mengatakan kepada anda; jadilah tomat mentah dan harapkan seseorang mengkarbitmu dilubang pemeraman. Saya tidak bermaksud demikian. Memang sih, banyak orang yang mencela para pemimpin yang dianggap karbitan. Tapi, dalam hati, mereka juga tidak keberatan untuk dikarbit jadi pemimpin. Siapa sih yang tidak tergiur fasilitas yang diberikan kepada seseorang yang menduduki posisi pimpinan? Prinsipnya; daripada lawan gue yang dikarbit, ya mendingan gue dong? Perkara gue ini juga pemimpin karbitan; peduli malaikat!

Jujur saja, banyak orang yang mengharapkan untuk dipromosikan. Kalau dipromosikan, biasanya identik dengan jabatan yang lebih tinggi dong, ya kan? Ya, lumayanlah; jadi pemimpin kecil-kecilan. Salahkah jika kita memiliki keinginan macam itu? Tidak salah sih… Tapi kan sebenarnya kalau jujur kita katakan kepada diri sendiri; kita ini tidak hebat-hebat amat. Jujur saja, seringkali ambisi kita lebih besar daripada kualitas diri kita sendiri. Bagus jika anda tidak setuju dengan saya; sehingga saya menjadi lebih tenang karena kita punya orang-orang yang beneran hebat seperti anda. Tapi jika anda tidak demikian, ijinkan saya meneruskan pembicaraan ini.

Saya mengatakan bahwa pemimpin hebat itu memang lahir dari proses pengkarbitan. Bukan dimatangkan dulu baru didudukkan menjadi pemimpin. Tetapi, jangan sembarangan menggunakan perkataan saya untuk melegalisasikan ambisi-ambisi anda. Mengapa demikian? Sebab ternyata; tidak semua tomat mentah bisa dikarbit menjadi matang. Saya ulangi kata-kata saya; tidak semua tomat mentah bisa dikarbit menjadi matang.

Ayah saya, seorang guru SD dan petani yang hebat. Dia mengatakan: “Dadang, jangan dipetik buah tomat itu!” Ketika itu tangan saya menyelosor untuk memetik buah tomat yang masih hijau. ”Kenapa?” saya balik bertanya. ”Belum waktunya,” begitu ayah saya bilang. ”Lho, bukankah buah tomat ini bisa diperam?” sanggah saya. ”Baiklah, kalau begitu,” balasnya. ”Ambillah, dan peramlah.” saya menang. Saya memetiknya. Dan kemudian memeramnya.

Tiga hari kemudian, saya membongkar pemeraman. Dan saya menemukan tomat itu; membusuk. Tahukah anda mengapa? Benar, karena tomat itu dipetik terlampau dini. Belum saatnya bagi tomat itu untuk diperam. Sehingga bukannya dia menjadi matang; melainkan membusuk ditempat pemeraman. Untuk bisa berhasil diperam, buah tomat harus memiliki standar kondisi tertentu. Jika tidak, dia akan membusuk.

Manusia juga begitu. Boleh saja sekarang anda percaya bahwa proses pengkarbitan bisa menjadikan anda pemimpin yang hebat. Tetapi, sebelum memasuki proses pengkarbitan itu; anda harus mencapai tarap kualitas diri tertentu terlebih dahulu. Sebab, jika anda masih hijau sehijau-hijaunya, maka proses pengkarbitan itu justru akan sangat membahayakan diri anda sendiri. Anda akan membusuk seperti tomat hijau tadi.

Mari kita lihat sekali lagi disini tentang dua hal. Satu. Kita tidak perlu lagi menyalahartikan proses pengkarbitan jiwa kepemimpinan seseorang. Apakah itu orang lain, ataupun diri kita sendiri. Memang kita harus mengkarbitnya. Karbitlah jiwa kepemimpinan itu hingga matang. Dan biarkan suara-suara miring melintas dibawa angin hingga menghilang. Sebab, jika anda berhasil menjalani proses pengkarbitan kepemimpinan itu; cepat atau lambat, mereka yang mengkritik anda akan mengerti juga pada akhirnya. Mereka akan berbalik menghormati anda. Karena, dengan kematangan yang anda miliki setelah menjalani proses pengkarbitan itu; anda menjadi pemimpin yang hebat bagi mereka.

Dua. Untuk bisa matang dalam proses pengkarbitan; kita harus mempunyai modal dasar yang benar-benar kuat dan baik. Sikap kita. Perilaku kita. Kemampuan intelektual kita. Kemampuan konseptual kita. Kemampuan operasional kita. Semuanya. Itulah prasyarat bagi kita untuk bisa matang setelah dikarbit. Dan jadilah kita; pemimpin masa depan yang tangguh dan dapat diandalkan. Pemimpin yang memancarkan kemilau indah warna kepemimpinan kita yang menggemaskan. Sehingga setiap orang ingin merasakan nikmatnya berada dibawah kepemimpinan kita.

Hey, tapi kan sekarang kita belum memasuki masa pengkarbitan itu. Biar saja. Cepat atau lambat, kita akan sampai kepada proses itu. Selama kita terus-menerus meningkatkan kualitas diri kita hingga mencapai standard yang diperlukan untuk menjadikan diri kita layak mendapatkan kesempatan itu. Setelah itu; bersiap siagalah. Anda akan dikarbit. Dan Anda. Akan. Menjadi. Pemimpin. Karbitan!

Hore,
Hari baru!

Catatan kaki:
Untuk bisa dikarbit, buah tomat mentah harus memiliki standard kematangan tertentu. Dan untuk bisa dikarbit, kita harus memiliki standard kualitas pribadi tertentu. Jika tidak, proses pengkarbitan tidak akan bisa menjadikan kita pemimpin yang matang.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 atau 0812 19899 737.

13 comments

  1. Kang DADANG yang cerdas, produktif dengan gagasan segar setiap saat [karbitan].

    Hanya pemimpin yang memiliki wisdom yang bisa membaca “karbit” sebagai proses pematangan, jiwa, hati dan pikiran sang pemimpin “hijau”.

    Selamat dikarbit oleh tantangan. Pak Teddy Rahmat dari Astra pernah berkata: “from crisis comes brave heart and brave leader.” Dari tempaan, pemimpin manjadi matang dan menjadi besar.

  2. Kadang2 dan mungkin saat ini pun,..makna “karbitan” dimata saya lebih berkonotasi negatif,..tapi artikel ini mampu membalikkannya ke konsep sebenarnya dari kata “karbitan” dimaksud,…thx atas informasinya pak,…

  3. Tergantung karbitnya, tergantung yang mengkarbit juga. Tomat “hanya menunggu” kesempatan untuk dipetik. Apakah dia akan dipetik dalam kondisi masih hijau, ataukah saat sudah matang? Petani lah yang punya strategi itu. Petani dengan strategi yang jitu pasti akan tau mana tomat yang siap dikarbit, mana yang belum, dan mana yang sudah kematangan..
    Jadi, ada petani, ada tomat, ada karbit, ada yang ‘mengkarbit’ (bukan begitu, Pak?). Semua punya peranan. Dan pada akhirnya pembelilah yang menilai nantinya.

    Tetap semangat,

  4. Waaah…saya begitu antusias membaca tulisan Pa Dadang dari awal sampai akhir. Tulisan ini menguak sesuatu yang beda, saya jadi bisa melihat ada apa dibalik “si karbitan”, karena saya ini juga termasuk si karbitan, he..he..he, Thanks for this sharing :)

  5. #1. Pak Harry. Terimakasih telah melengkapi. Memang kami yang muda-muda ini harus belajar lebih banyak lagi dari Pak Harry sebagai gudangnya uncommon leadership.

    #2. Avartara. Dengan senang hati. Kita mungkin tidak bisa membedakan dengan jelas, benar dan kurang benar. Tidak ada jaminan bahwa definisi yang baru saja kita buat itu juga benar. Tetapi berfokus kepada sesuatu yang memberi kita energi positif setidaknya bisa memberi kita kesempatan untuk menjadi lebih baik.

    #3. Pak Amien. Anda benar dalam konteks disana ada tiga komponen yang saling berkaitan. Jika anda berpikir bahwa itu sangat bergantung kepada strategy yang digunakan oleh si petaninya, anda juga benar. Namun, saya memilih untuk memfokuskan diri kepada diri saya sebagai bahan dasar untuk proses yang akan dilakukan. Mengapa, karena kita tidak bisa mengontrol lingkungan atau system (karbit) dan atasan atau orang-orang yang memegang peranana penting dalam proses penggemblengan saya (petani). Ada kita, ada karbit, dan ada petani. Hanya ’kita’lah yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh kita. Tidak karbit, tidak pula petani. Saya banyak menyaksikan orang-orang yang akhirnya menyalahkan lingkungan dan atasan atas kegagalan proses semcam ini.

    #4. Shelly. Selamat datang didunia karbit.

  6. Tn Dadang
    Ada beberapa hal yang ingin saya utarakan berkenaan dengan pemimpin karbitan,
    - Apakah ini reaksi anda dengan maraknya politisi muda yang ingin menjadi pemimipin?.
    - Pada umumnya saya setuju dengan pemaparan anda, tapi ada satu pertanyaan yang muncul dibenak saya, bagai mana cara yang terbaik untuk mendapatkan pemimipin.
    - Maaf tn Dadang menurut saya tidak sepenuhnya kita bisa mengendalikan diri kita.

    SALAM SUKSES

  7. Wonderful article…!!
    Lagi asyik2 browsing nemu situs ini, asyik juga bacanya karena merubah paradigma saya tentang definisi karbitan meski masih debatable juga.
    Thanks atas pencerahan ini

  8. imho, pada dasarnya manusia tidak pernah siap menghadapi apapun dalam hidup. Pengetahuan, pengalaman dan keyakinanlah yang membuat kita lebih tenang menghadapi sesuatu.

    Kang Dadang, kalau menurut saya bagaimanapun lingkungan tidak bisa dilepaskan pengaruhnya tapi bukan untuk dijadikan kambing hitam.

  9. Dear AA’ Dadang,

    Kita memang perlu dalam mencari pemimpin melalui karbitan tetapi terkadang apa yang di karbit itu terasa nya pasti beda dengan yang masak pohon.

    Bagaimana proses karbitan itu untuk bisa kita rasakan nilainya sama dengan yang masak pohon.

    Mungkin ada informasi artikel tambahan untuk saya.

    Thanks
    DM

  10. Dadang Kadarusman

    #6. Tn Jackridwan. Karena saya bukan seorang politisi, mungkin jawaban saya tidak dapat memuaskan anda. Bisa jadi benar kata anda bahwa kita tidak dapat mengendalikan diri kita sepenuhnya. Jika benar demikian, apa yang bisa kita lakukan, itulah yang harus dilakukan. Tidak masalah seberapa banyak, tapi kita melakukannya.

    #7. Kiki. Terimakasih. Memang begitulah adanya; selama kita hidup dan berpikir; pasti ada perbedaan pendapat. Jadi, perdebatan – selama itu produktif – tidak perlu ditakutkan.

    #8. Sakti. Saya sependapat dengan anda.

    #9. Machvianto. Aduh, saya dipanggil ‘AA’. Adik-adik saya dirumah memanggil saya demikian, karena saya dilahirkan lebih dulu dari mereka. Tapi, hanya sebatas itu sebutan ‘AA’ bagi saya. Beberapa waktu lalu, pernah ada dikotomi tentang leadership. ‘Apakah leader itu dilahirkan atau dilatih’ Para tokoh sibuk berdebat tentangnya. Mungkin ini bisa mewakili pertanyaan anda. Saya tidak pakar dalam pembahasan tersebut karena kemampuan intelektualitas saya tidak sampai sejauh itu. Bagi saya; jika kita memang terlahir sebagai seorang pemimpin; pastikan itu bermakna dan jangan sampai sia-sia. Tapi, jika kita tidak terlahir sebagai pemimpin, cari cara untuk menempa diri dan berlatih agar kita bisa menjadi pemimpin – bahkan lebih baik dari mereka yang merasa telah dilahirkan untuk itu.

    salam,
    dadang

  11. Halo Kang Dadang salam kenal, sepertinya anda orang sunda karena dipanggil kang :) artikel satu ini “kena” ke saya. Mudah2an saya bukan termasuk tomat yang membusuk, tapi sebaliknya jadi tomat yang matang.

    sukses selalu.

  12. menjadi pemimpin adalah proses dan itu adalah sebuah pilihan, so tergantung manusianya mau belajar jadi pemimpin atau ingin terus dipimpin.

  13. Yah.. Kadang kita belum mampu, sabar dulu.
    Bila waktunya tiba juga akan maju dengan sendirinya.
    Sama kayak sekolah, belajar dari SD jangan langsung SMP,
    Nanti dak kuat..