Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Pengusaha Atau Pekerja?

Pengusaha Atau Pekerja?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Saya mengira perdebatan itu sudah berakhir. Ternyata tidak. Padahal, objeknya sama sekali tidak terlampau esensial. Premis yang paling sering diucapkan adalah; Anda tidak akan pernah kaya jika menjadi pekerja. Jadilah pengusaha, maka anda akan kaya. Itu yang pertama. Yang kedua; Anda tidak akan bisa memiliki waktu untuk keluarga jika jadi pekerja. Jadilah pengusaha, maka anda bisa mengatur waktu anda sendiri. Oleh karenanya, ada yang beranggapan bahwa; menjadi pengusaha itu lebih baik daripada menjadi pekerja. Sebaliknya, sang pekerja menentangnya mati-matian; terutama mereka yang bagus karirnya, tentu saja. Tetapi, sebagian besar karyawan yang biasa-biasa saja hatinya deg-degan. Setiap kali ada pernyataan bahwa menjadi pengusaha itu lebih baik daripada menjadi pekerja; hatinya gundah gulana. Hingga tidurpun tidak nyenyak dibuatnya. Tetapi, manakah sesungguhnya yang lebih baik; menjadi pengusaha, atau pekerja?

Bagaimanapun juga, perdebatan ini sering tidak seimbang. Mereka yang pengusaha nyaris selalu menjadi pemenangnya. Dan para pekerja yang memiliki emotional state kurang stabil, tidak bisa segera menetralisir pengaruh negatifnya. Setiap anggapan yang belum tentu benar itu sangat mempengaruhi dirinya. Dimasukan kedalam hati. Meresap. Menyerap. Dan akhirnya mereka menemukan dirinya terperangkap. Mereka bertanya-tanya; ’jangan-jangan, memang seharusnya aku menjadi pengusaha’. Lalu perhatiannya terkuras kesana. Pikirannya tidak fokus kepada pekerjaan. Dan karena berlangsung terus-menerus, maka prestasi kerjanya merosot. Mereka hanya menjadi pekerja yang biasa-biasa saja. Dan karena prestasi kerjanya biasa-biasa saja, dia tidak dipromosi. Karena tidak dipromosi; dia tidak mendapatkan kenaikan gaji tinggi, apalagi fasilitas yang memuaskan. Dia tidak mendapatkan apa-apa selain penghasilan yang pas-pasan.

Semakin yakinlah dia bahwa; menjadi pekerja berarti menanggung resiko untuk menjadi miskin. Maka, menjadi benarlah dimatanya bahwa kalau mau menjadi kaya, ya jangan jadi pekerja. Jadilah pengusaha. Satu kosong untuk mereka yang menganggap bahwa menjadi pengusaha lebih baik dari pekerja.

Teman saya yang pengusaha, jam delapan pagi masih dirumah. Pergi ke kantornya jam setengah sembilan. Sebelum beduk magrib berbunyi dia sudah kembali dirumahnya. Teman saya yang lain, jam setengah enam pagi sudah membuka pintu rumahnya. Naik ojek. Menunggu bis. Dan sampai ke kantor jam delapan. Jam lima sore, dia keluar dari kantornya, dan tiba dirumah jam delapan malam. Dia teringat lagi; oh, memang nyaman menjadi pengusaha. Bisa enak leha-leha. Sementara sang pekerja seperti saya? Bekerja banting tulang untuk memuaskan nafsu kapitalisme mereka! Lalu, sikap negatif itu mempengaruhi dirinya. ”Ngapain gue musti banting tulang begini? Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala!”

Dengan cara berpikir begitu, tidak mungkin dia bisa menjadi pekerja yang berhasil. Haha, makanya, kalau mau hidup enak; jangan jadi pekerja. Jadilah kamu pengusaha. Dua kosong.

Manusia-manusia bermental pekerja kalah telak. ’Manusia bermental pekerja?’ Beberapa teman saya yang pekerja tulen tersinggung dengan sebutan itu. Saya sebaliknya. Bangga saja. Sebab, jika saya benar-benar bermental pekerja, pasti saya bisa menjadi seorang pekerja yang sangat hebat. Ya, untuk berhasil ditempat kerja, saya harus memiliki mental pekerja. Mengapa saya harus tersinggung dengan sebutan itu?

Memang, perkataan orang lain bisa membuat telinga kita terasa panas. Dan terpengaruh secara emosional.Tetapi, itu terjadi hanya jika mental kita lemah saja. Jika mental kita kuat, tidak jadi masalah. Lagi pula, manakah yang anda pilih; disebut ’manusia bermental pekerja’ atau ’manusia bermental lemah’? Mental anda tidak lemah. Itulah faktanya. Jadi, santai saja. Sebaliknya, jika anda seorang pengusaha; anda juga tidak perlu membuang waktu berharga anda itu untuk memperdebatkannya. Tidak perlu lagi memperdebatkan; ’mana yang lebih baik bagi manusia – kita ini kan manusia – apakah menjadi pengusaha, atau pekerja?’

Masih segar dalam ingatan saya saat dimana saya mengatakan; ”Baiklah, anda menganggap bahwa menjadi pengusaha itu lebih baik daripada menjadi pekerja.” Teman saya sumeringah:”Ya, tentu saja.” katanya.

”Hanya jika anda menjadi pengusaha yang sukses, bukan?” kata saya.
”Oooh, iya dong.” Jawabnya. Semua temannya yang dalam komunitas pengusaha mendukungnya. Mereka membanggakan statusnya sebagai pengusaha.

Mau tidak mau, saya harus mengatakan kepada teman saya ini bahwa; untuk menjadi pengusaha sukses itu, mereka tidak bisa mengerjakannya sendirian. Mereka tidak menyukai pernyataan saya. Tetapi, mereka tidak memiliki pilihan lain selain sependapat dengan saya. Harus ada orang lain yang bekerja untuk menjalankan usahanya. Jika seorang pengusaha ingin agar usahanya benar-benar sukses – bukan sekedar sukses-suksesan – harus ada orang yang bersedia mencurahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk memastikan bahwa bisnis itu berjalan. Tanpa mereka itu, tidaklah mungkin perusahaan sang pengusaha itu bisa benar-benar berkembang dan membesar. Artinya, tanpa manusia-manusia yang dicap sebagai mereka yang bermental pekerja itu; bisnis sang pengusaha tidak akan pernah mencapai kesuksesan. Pendek kata, kesuksesan para pengusaha itu sangat ditentukan oleh kontribusi yang diberikan. Dedikasi yang dicurahkan. Serta kompetensi yang dikerahkan. Oleh manusia-manusia dari jenis yang bermental pekerja itu. ”Tanpa mereka itu,” begitu saya melanjutkan; ”Apakah usaha anda bisa benar-benar berhasil?” Kemudian, saya mengakhiri semua pembicaraan itu dengan mengatakan; ”Jika semua orang harus menjadi pengusaha, siapa yang akan menjadi pekerja untuk kita?”

Pentingnya keberadaan seorang pengusaha, memang tidak terbantahkan. Namun, seperti apa yang kita pelajari dalam manajemen bisnis; karyawan, adalah aset terpenting dalam perusahaan. Tidak ada cara lain bagi sebuah organisasi bisnis untuk tumbuh dan berkembang; selain dengan mejadikan karyawan-karyawannya sebagai manusia-manusia pekerja yang hebat. Jika tidak, tak satupun pengusaha yang bisa mengembangkan bisnisnya. Sebab, begitulah adanya. Secara alamiah, manusia pengusaha dan manusia pekerja ada untuk saling berkontribusi. Seperti kanan dan kiri. Siang dan malam. Yin. Dan Yang.

Tidak ada gunanya bagi seorang pengusaha untuk membuang-buang waktunya membual bahwa menjadi pengusaha itu lebih baik. Tidak ada gunanya bagi seorang pekerja untuk membuang waktunya memikirkan dengan was-was apakah pilihannya untuk menjadi pekerja itu sudah benar atau tidak. Pengusaha, atau pekerja; memiliki perannya masing-masing. Sama-sama penting. Sama-sama berharga. Sama-sama baik adanya. Jika anda pengusaha, pekerja-pekerja andalah yang akan menjadikan usaha anda berhasil. Jika anda pekerja, pilihannya hanya satu saja; menjadi pekerja yang hebat. Jika anda sungguh-sungguh berkarya melalui pekerjaan yang anda miliki; anda pasti mendapatkan semuanya itu. Jadi, tenang saja. Dan bekerja saja. Dengan segenap kemampuan anda yang sesungguhnya; Anda pasti bisa.

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Bukanlah status yang menentukan nilai hidup kita, melainkan; kontribusi yang bisa kita berikan kepada dunia.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

20 comments

  1. Dear pak Dadang,

    Salam kenal pak,
    saya sangat suka dengan tulisan Bapak yang begitu inspiring namun tidak bersifat menggurui.
    saya akan terus menunggu tulisan berikutnya pak…

    salam,

    iwan agustian h
    owner : http://www.dcparfum.com

  2. oh ya, apakah boleh jika tulisan bapak saya sebarkan untuk anggota dcparfum saya atau saya tampilkan di web saya..??

  3. hahaha bagus pak
    ini baru masuk akal

    bahwa kita tidak bisa memvonis sesuatu dari satu sisi saja, segala sesuatu tidak bisa berdiri sendiri harus saling mengisi, tidak mungkin ada pengusaha jika tidak ada karyawan, dan tidak ada karyawan jika tidak ada pengusaha

    untuk memilih jadi pengusaha atau pekerja atau bahkan dua-duanya bukan jadi masalah. yang penting kita memiliki mental yang kuat dan tidak setengah-setengah menjalaninya ya to pak dadang

  4. Benar kang Dadang, jadi manusia pekerja atau jadi manusia pengusaha sama saja. Sama pentingnya. Sama berharganya. Sama statusnya. Sama suksesnya. Mungkin beda kayanya saja.

    Pekerja atau Pengusaha SAMA suksesnya, karena definisi sukses sejati menjadi: “Menjadi manfaat sebesar-besarnya bagi diri sendiri [vertical] dan orang lain [horizontal]” Pekerja bisa sukses, pengusaha bisa sukses. Benar, SAMA saja.

    Dari definisi sukses sejati itu, tujuan akhir hidup kita BUKANLAH menjadi kaya, melainkan menjadi manfaat bagi sesama [horizontal]. Einstein pernah berkata: “Jika engkau sukses itu baik, tetapi jika engkau berguna itu jauh lebih baik”
    Jadi pengusaha, berusahalah dengan hati nurani.
    Jadi pekerja, bekerjalah dengan hati nurani.

  5. pagi pak,…saya setuju dengan pendapat bapak,..mau jadi pekerja atau mau jadi pengusaha itu pilihan,…intinya kesungguhan dalam bekerja,…mau jadi pengusaha tapi ga bersunguh-sungguh mustahil akan berhasil,…mau jadi pekerja tapi bermalas-malasan mustahil akan dipromosikan,…so siapa yang bersungguh sungguh dia akan mendapat,….

  6. Wah, Tulisan bapak menguatkan hati saya, untuk selalu bekerja dan bekerja..
    Saya adalah seorang ibu yang juga karyawati, tulisan tentang hal tersebut memotivasi saya bahwa pekerjaan yang saya tekuni bukanlah hal yang sepele.
    Semoga ini menjadi semangat bagi yang lainnya..
    Sukses selalu pak..

  7. Topik pengusaha vs pekerja adalah topik usang. Upaya mengangkat lagi hal2 spt ini adalah tidak produktif, hanya membuat perdebatan tidak ada habis2nya, karena sifatnya mengadu-domba. Hanya upaya mencari sensasi.

    Menjadi pekerja atau pengusaha adalah pilihan, pilihan bebas! Tidak ada yg memaksa. Kapan saja pekerja boleh menjadi pengusaha. Demikian sebaliknya. Buat apa penulis ini memposisikan seolah salah satu lebih rendah dari yg lain? Come on man! Dont be EVIL! jangan menjadi setan yg suka mengadudomba.

  8. saya setuju sama bapak… bener apa yag bapak bilang….

  9. Betul ungkapan Mas Dadang, kalau ditelaah lebih lanjut tidak Pengusaha tanpa Pekerja, dan tidak ada pekerja tanpa pengusaha.
    Ini membuktikan bahwa kita semua adalah PEKERJA yang BERUSAHA menjadi PENGUSAHA.

  10. Kalau memandangnya dari segi pribadi ini adalah pilihan bebas. Tapi peringkat orang terkaya di dunia tidak pernah diisi oleh pekerja. Dan mereka biasanya menyumbangkan miliaran uangnya untuk kegiatan sosial. Jadi kalau mau bermanfaat untuk diri sendiri dan keluarga saja. jadi pekerja sudah cukup. Tetapi kalau ingin bermanfaat bagi banyak orang, membuka lapangan kerja lebih banyak dan ingin menyumbangkan banyak dana untuk kegiatan sosial. maka jawabnya sudah jelas. jadilah pengusaha.

  11. hore… hari baru!

  12. setuju dg komen #7

    😀

  13. kalo sy selalu berpikir, bahwa karyawan dan pengusaha itu tetaplah pekerja

    bedanya karyawan hanya bekerja pada satu oarganisasi/individual

    sedangkan pengusaha adalah pekerja yang bekerja pada banyak organisasi atau individual

  14. saya setuju dengan komennya wongguanteng itu no.10 dan memang begitulah adanya, bagi pekerja tak perlu panas dengan artikel pak dadang dan tak perlu merasa di adu domba, semuanya tergantung mental kita dan juga modal kita, makanya yang jadi pekerja jangan sok gajihnya gede lalu saingan ama tetangga yang timbul boros dan tak pernah punya modal kemudian tertinggal dari arah berusaha untuk menjadi pengusaha….he…he…he..
    berusahalah untuk menjadi pengusaha,bagi pekerja tinggalkan sifat boros anda dan tabunglah uang anda untuk berusaha menjadi pengusaha.

  15. Perlu anda semua ingat, bahwa selepas lulus sekolah kemanakah anda beranjak? jadi pekerja atau pengusaha dulu? pastilah jadi pekerja dulu 80% orang di dunia. dari situ dia akan mengumpulkan modal dan belajar. satu kosong untuk selamanya..

  16. sangat membangun..selagi ada kesempatan mari kita gunakan untuk berusaha.

  17. saya bekerja sdh 25 tahun di prshn. Tambang batubara. saya takut gagal u/ buka usaha sendiri . 5 tahun yg lalu saya berhenti dan bertekat buka usaha tambang sendiri , Alhamdulillah luarbiasa hasilnya dazsat ternyata benar dari 10 pintu rezeki 9 diperuntukkan pada pengusaha dan 1pintu untuk pekerja . maaf pekerja tetap selalu ada dikelas 2, ini axioma yang tak terbantahkan sampai kapanpun , karena mereka “bekerja untuk uang” sedangkan pengusaha “uang yang bekerja” untuk dia , Salam

  18. dengan hormat salam semangat selalu,

    senang sekali selalu termotivasi dengan hal baru … yang saya harapkan dengan adanya motivasi dari bapak saya bisa memberikan yang terbaik buat saya dan juga orang lain … semoga bapak selalu up date hal hal baru tentang tantangan zaman yang tanpa adanya sikap dan hal baru yang baik maka kita akan cepat hanyut dalam keburukan … matur sembah nuwun , tor sekelangkong gih …

  19. andi magfirawi nawir

    siang pak Dadang,
    z salut ma tulisan bapak
    trus berkarya dan berbagi.