Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Ternyata, Setiap Orang Itu Adalah Komposer

Ternyata, Setiap Orang Itu Adalah Komposer

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Anda tidak akan percaya jika saya mengatakan bahwa setiap orang itu adalah komposer. Baiklah, saya akan mulai dengan sebuah idiom yang sangat populer. Garbage in, garbage out. Jika yang masuk itu sampah, pastilah yang keluar juga sampah. Konsep ini biasa digambarkan sebagai diagram yang terdiri dari tiga bagian yang lazim disebut sebagai IPO; Input-Process-Output. Diagram ini sangat berguna untuk secara sederhana menjelaskan bagaimana sebuah system berjalan. Juga sangat berguna untuk meyakinkan kita bahwa; jika kita ingin mendapatkan hasil yang baik, maka kita harus memastikan agar bahan dasarnya juga baik. Misalnya, jika ingin mendapatkan roti yang baik, maka; tepung, gula, telur dan mentega beserta teman-temannya, haruslah yang berkualitas baik. Jika kualitas bahan bakunya buruk; bagaimana mungkin kita mendapatkan hasil yang baik. Itulah alasan kenapa kita kemudian suka mengatakan garbage in – garbage out. Sampah hanya akan menghasilkan sampah. Namun, apakah selalu benar demikian?

Saya tumbuh disebuah dusun diudik sana. Didusun kecil itu, mata pencaharian utama kami adalah bercocok tanam. Mereka yang tidak mempunyai tanah sendiri, menjadi petani penggarap tanah dengan sistem bagi hasil. Jika tak ada juragan tanah yang bersedia meminjamkan tanahnya untuk digarap, maka mereka menjadi buruh tani dengan upah harian. Ayah saya, juga menanam beragam macam tanaman. Setiap kali musim panen tiba, selalu saja ada begitu banyak bagian dari sisa-sisa tanaman yang berserakan. Misalnya, jerami padi. Gedebong batang pohon pisang. Daun-daun kol dan kubis. Sulur-sulur mentimum. Semuanya. Banyak sekali. Dan saking banyaknya, mereka menumpuk menjadi sampah. Mereka disebut sampah karena bagian-bagian yang dianggap bukan sampah sudah diambil dan dijual ke pasar. Atau disimpan dilumbung-lumbung warga sekampung.

Lalu, apa yang dilakukan terhadap sampah-sampah itu? Warga kampung kami tidak mengenal istilah garbage in-garbage out. Jadi, mereka tidak sadar bahwa kalau kita memasukkan sampah, maka kita akan menghasilkan sampah. Maklum, namanya juga orang kampung. Tetapi, itu menjadikan kami beruntung. Sebab, akibat kepolosan kami itu, kami masih menganggap bahwa sampah itu bisa menghasilkan ’sesuatu yang bukan sampah’. Jadi, dengan segenap keluguan itu, kami menggali lubang ditanah. Lalu, semua sampah itu dikubur didalam lubang itu. Pada saat yang sama, kami memulai musim tanam yang baru. Dan pada saat itu pula, kami membongkar lubang-lubang kuburan sampah yang dibuat pada musim panen sebelumnya. Sekarang, sisa sampah itu berubah menjadi material tanah gembur berwarna kehitaman. Dengan tanah gembur itulah kami memberi tanaman baru nutrisi dan pupuk agar menjadi gemuk. Begitulah siklus hidup kami. Memanen-mengubur sampah-menanam benih-menggali kuburan sampah musim lalu. Begitu terus-menerus. Sekarang, kami ikut-ikutan menyebut material yang dihasilkan dari kuburan sampah itu sebagai kompos.

Sesudah saya besar, saya berkenalan dengan istilah garbage in, garbage out itu. Dalam banyak hal, konsep itu sangat berguna sekali. Tetapi, dalam konteks membangun kualitas diri, ternyata tidak selalu berlaku. Yang berlaku justru adalah kuburan sampah dikampung saya itu. Baiklah, mari kita akui bahwa sisa tanaman sehabis panen itu adalah sampah. Sampah is sampah. Bagaimanapun juga, tetaplah dia sampah. Dan material gembur yang dihasilkan ketika kita gali dimusim tanam berikutnya adalah kompos. Menurut pendapat anda, apa nama kuburan yang memproses sampah menjadi kompos itu? Bolehkah saya menyebutnya sebagai ’komposer’? Ya, komposer. Sebuah sistem yang bisa mengubah sampah menjadi kompos. Komposer.

Kita, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali mendapati sampah. Sampah yang masuk kedalam diri kita. Sampah itu ada yang berupa benda kelihatan (tangible). Misalnya, makanan dan minuman. Juga yang tidak kelihatan (intangible). Contohnya, perlakukan tidak menyenangkan dari orang lain. Penolakan. Kegagalan. Kesedihan. Atau bahkan penghinaan. Jangan heran, dijaman modern dimana manusia mengaku sebagai mahluk yang berbudaya dan bertata krama ini; masih ada orang yang memaki anda dengan kata-kata kotor yang menyakitkan. Penghuni kebun binatang keluar. Bahkan, mahluk yang dilaknat Tuhan pun ikut disebut-sebut. Semuanya itu adalah sampah intangible bagi tubuh kita. Mudah untuk membuang sampah tangible. Karena kita bisa melihatnya, mengenalinya, dan kemudian mencampakkannya. Misalnya, untuk menghindari efek negatif dari makanan yang sudah basi, kita tidak memakannya. Tetapi, tidak semudah itu jika yang masuk kedalam tubuh kita adalah sampah intangible tadi. Sebab, seringkali kita tidak bisa menghindari semuanya itu. Dan tahu-tahu, sampah itu sudah masuk kedalam tubuh kita. Tanpa bisa ditolak.

Disaat seperti itu, yang paling banyak berperan adalah tubuh kita. Apakah sampah itu akan dikeluarkan kembali menghasilkan sampah juga. Misalnya, makian dibalas dengan makian. Perlakuaan buruk dibalas dengan perlakukan buruk. Kebencian dibayar kebencian. Sehingga dunia kita dipenuhi dengan dendam kesumat. Mungkin juga kita tidak membalasnya. Karena memang kita tidak memiliki kekuatan untuk itu. Tetapi, yang muncul sebagai output adalah sikap tertekan kita. Kesedihan kita. Hilangnya semangat kita. Sehingga jadilah kita sebagai seorang pecundang.

Atau, bisa sebaliknya; sampah yang masuk itu diolah dalam tubuh kita sedemikian rupa, sehingga outputnya sungguh merupakan sesuatu yang sangat berguna. Setiap masalah sulit, atau perlakuan buruk, dan pengalaman menyakitkan yang menimpa kita diolah demikian rupa sehingga yang menjadi outputnya adalah sikap positif. Anda, apapun yang terjadi; tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif yang datang dari luar. Anda tetap menjadi pribadi yang positif. Optimistik, dan bersikap baik.

Apa bisa? Bisa. Buktinya, banyak sekali orang yang dikecewakan. Disakiti. Dikhianati. Diperlakukan tidak adil. Tapi, mereka tetap tampil sebagai pribadi yang baik. Bagaimana hal itu bisa, adalah karena fungsi komposer didalam dirinya berjalan dengan baik. Dia mampu mengolah sampah-sampah yang masuk kedalam tubuhnya menjadi output yang positif. Jika hatinya pernah disakiti oleh orang lain (input), maka dia merenung. Oh, ternyata begini ya rasanya disakiti oleh seseorang (proses). Oleh karena itu, saya tidak boleh menyakiti orang lain (output). Maka mewujudlah dia sebagai orang yang sangat mengerti perasaan orang lain. Dan selalu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orang lain kepadanya.

Setiap manusia, memiliki sistem itu. Karena, pada prinsipnya, tubuh manusia itu adalah komposer. Seperti tanah yang bisa mengubah sampah menjadi kompos. Pertanyaannya sekarang adalah; seberapa baikkah kemampuan sistem komposer tubuh kita? Jika kita mempunyai sistem komposer yang baik, maka apapun yang kita alami tidak akan menjadikan diri kita pribadi yang kerdil. Malah sebaliknya, masalah itu akan menjadikan kita semakin baik dari hari ke hari. Persis seperti kompos yang menyuburkan tanah. Gara-gara sebelumnya ada sampah yang menumpuk disana, tanah itu malah menjadi gembur dan subur.

Sekarang coba bedakan dengan tanah yang kemampuan mengubah sampah menjadi komposnya sangat lemah. Sebut saja tanah kering kerontang dan gersang. Semakin banyak sampah yang ditumpuk, semakinlah dia menjadi bau busuk. Kalaupun yang kita buang ketanah itu bukan sampah, melainkan barang atau bahan-bahan yang bagus; dia tetap saja akan membusuk. Cobalah anda beli kue tart kelas satu. Harganya paling mahal. Dan rasanya paling enak. Jelas kue tart itu bukan sampah. Sekarang buang kue itu keatas tanah itu. Akankah dia menjadi kompos? Atau berubah menjadi sampah?

Sekarang, mari kita tegaskan lagi. Apakah sampah yang menyebabkan seseorang berubah menjadi sampah? Atau, kemampuan dirinya untuk mengubah sampah yang tidak berguna itu menjadi kompos tidak berfungsi bagus? Dalam banyak hal, kelihatannya lebih masuk akal jika kita mengatakan bahwa kemampuannya untuk mengolah informasi yang masuklah yang paling menentukan.

Mari kita ingat sekali lagi, bahwa tubuh manusia itu adalah komposer. Hanya saja, derajat kemampuannya yang berbeda. Semakin efektif fungsi komposernya, semakin banyak sampah yang bisa diolahnya menjadi sikap dan perilaku positif. Sebaliknya, semakin lemah kemampuan komposernya, akan semakin mudah dia terpengaruh oleh hal-hal negatif. Jika anda boleh memilih; apakah anda ingin menjadi komposer yang hebat, atau yang lemah?

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Orang-orang yang berbesar hati adalah para komposer tangguh. Karena, kebesaran hati menentukan fungsi system komposer kita, yaitu; sistem yang menjadikan kita mampu untuk mengolah sampah-sampah negatif menjadi sikap positif.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. Salah satu cerita favorit di dunia wisdom adalah kisah seorang sahabat, si wisdom kita menyebutnya, yang dikirimi sekantong kotoran sapi di depan rumahnya oleh tetangga. Bila sudut pandangnya, negatif [marah, sentimen, benci] maka yang terlihat adalah kotoran sapi bau yang menghina. Akibatnya, hidupnya berjudul ”kegagalan hidup bertetangga.” Salah-salah bisa berkelahi dengan tetangga, hmmm. Jika sudut pandangnya positif [bersahabat, harmoni, persaudaraan] yang terlihat dimata bukan kotoran sapi, melainkan pupuk. Sebagai hasilnya, kotoran sapi tadi jadi menyuburkan tanah dan tanaman di halaman si wisdom. Dan pupuk tadi jadi awal ”kesuksesan bertetangga” yang baru.
    Dalam dunia kerja dan professional biasa bukan, dikenal dikotomi: Adil, tidak adil. Baik, tidak baik. Bermoral, tidak bermoral. Seimbang, tidak seimbang. Kaya, tidak kaya. Jujur, tidak jujur. Rajin, tidak rajin. Tanggung jawab, tidak tanggung jawab. Peduli, tidak peduli. Pemalas, tidak malas. Merugikan, tidak merugikan, dst. Cerminan sederhana dari wisdom itu akan demikian: “Kalo bisnis, yang halal. Kalo kejar target, yang bermoral. Kalo hidup, jangan ikut-ikutan edan. Kalo main, yang fair. Kalo kerja, yang jujur. Kalo cari uang, yang halal, dst” Kata ajaibnya, seimbang. Hidup yang seimbang. Namun paling tidak, benar atau salah itu masih hakiki bisa diperjuangkan untuk dijadikan navigasi hidup dan kehidupan yang baik.

  2. Ass.wr.wb.

    Kang Dadang,

    Saya ingin melanjutkan sedikit diskusi (di milis) tentang istilah yang digunakan..
    boleh ya?

    Setahu saya kata “komposer” sudah menjadi istilah yang baku dalam bahasa Indonesia, artinya pencipta lagu. Ini merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, “composer” dengan arti yang sama, berasal dari kata “to compose” (menciptakan, menulis).

    Untuk arti yang kang Dadang maksud, saya rasa istilah “komposter” lebih tepat (dengan huruf ‘t’), yang berasal dari kata “composter”, alat pembuat kompos, juga dari bahasa Inggris. Istilah komposter sudah umum digunakan juga dalam bahasa Indonesia (mungkin kang Dadang sekali-sekali bisa cek pakai search engine pemakaian kedua kata ini).

    Saya tergelitik dengan pemakaian istilah itu karena ketika membaca judul tulisan kang Dadang di milis, persepsi saya langsung ke “composer” (pencipta lagu).. setelah baca taunya.. composter.. hehe.. mungkin saja ada pembaca lain yang mengalami kesalahan persepsi seperti saya..

    Ok kang gitu dulu.. masalah sepele sih, dan mungkin saja saya salah.. gak ada keberatan kok kalau mau terus pakai istilah komposer (mengingat di kampung kang Dadang susu sapinya gak dibikin keju :D).. cuma mungkin kalau-kalau tulisan ini akan masuk ke buku kang Dadang selanjutnya (amien), barangkali masalah istilah ini bisa dipertimbangkan.. 🙂

    Ok kang, makasih dan salut dengan tulisan yang inspiratif, khususnya tentang kehidupan desa kang Dadang!

    Salam,

    Teddy

  3. salam
    hore,
    hari baru!
    saya new comer di bagian comments nih kang dadang:).
    boleh menambahi? output dan input memang penting, namun yang tidak kalah pentingnya juga adalah proses, bagaimana kita “mengolah” semua yg masuk/datang, khususnya dalam kehidupan kita….

  4. #1. Pak Harry, terimakasih tambahan ceritanya. Membuat pesannya menjadi semakin kuat.

    #2. Kang Teddy, alaikum salam. Itu betul. Komposter, bukan komposer. Saya juga mendapatkan pesan yang sama melalui email secara pribadi dari pembaca lainnya. Terimakasih telah meluruskan. Inilah yang disebut oleh Mas Tukul sebagai ndeso katrok, maklum, haha.

    #3.Tixs, selamat datang. Dan terimakasih telah berkenan mampir. Disini siapapun boleh nambahin. Karena tempat ini disediakan bagi siapa saja untuk berbagi energi positif.

    Salam,
    dadang

  5. Pagi mang…
    Saya terkesan banget dengan kata-kata ENERGI POSITIF.
    Yang jadi perenungan sering adalah…
    Mengolah energi untuk membalas umpatan dengan umpatan.
    Terus bagaimana yang bisa saya jalani untuk suksesnya mengolah energi itu.
    Sebab gak mudah kan …
    Baik terima kasih sebelumnya.
    Jawaban saya tunggu