Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Sekali Lagi Tentang Gajah dan Semut

Sekali Lagi Tentang Gajah dan Semut

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Apa yang terjadi jika dipelupuk mata anda ditempelkan seekor gajah? Pasti anda tidak dapat melihat apa-apa, bukan? Oh, tentu saja. Tapi anehnya, anda masih bisa melihat seekor semut yang ada diseberang lautan. Begitulah perumpamaan yang disampaikan oleh para bijak bestari ketika mereka hendak mengingatkan kita yang seringkali dapat dengan mudah menemukan kelemahan dan kekurangan orang lain. Sedangkan, terhadap kelemahan dan kesalahan diri sendiri; seolah-olah tidak dapat melihatnya sama sekali. Maka, semut diseberang lautan kelihatan, gajah dipelupuk mata tak tampak sosoknya. Banyak orang yang begitu bersemangatnya mengungkit-ungkit kelemahan orang lain, tanpa terlebih dahulu berkaca atas dirinya sendiri. Sehingga, mereka tidak sadar bahwa boleh jadi; hal yang dia kritisi dari orang lain adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi pada dirinya sendiri.

Teman saya tiba-tiba datang sambil menggerutu. Dia nyerocos kesana-kemari hingga saya tidak benar-benar mengerti apa maksudnya. Yang saya dengar dengan jelas adalah perkataannya yang terakhir; ”Mestinya dia itu berkaca dulu, biar tahu bahwa dirinya sendiri juga begitu…!”

”Ada apa sih?” kata saya, ”tidak ada hujan, tiada angin, kok ngomel kayak begitu…”. Kemudian tahulah saya apa masalahnya. Rupanya dia baru saja mendapatkan kritikan dari rekan sekantornya. Masalahnya, kritikan itu disampaikan didepan umum, sehingga membuatnya tidak nyaman. Selain itu, orang yang mengkritiknya – menurut pendapat teman saya itu – bukanlah orang yang benar-benar layak mengkritik. Karena, katanya, orang itu juga sama saja dengannya. Bahkan, kalau orang itu mau berkaca, seharusnya kritikan itu ditujukan kepada dirinya sendiri. ”Bukan pada gue!” dongkolnya.

Pada kesempatan lain, seorang manajer mengkritik temannya yang sama-sama manajer pula. Orang itu mengkritik si manajer dengan mengatakan bahwa anak buahnya tidak menyukainya karena dia itu begini dan begitu. ”Kalau kamu mau menjadi atasan yang berhasil, maka kamu harus bla, bla, bla, bla…..kepada anak buah kamu,” begitu katanya. Kepada saya, orang yang dikritik ini berkata; ”Gue heran deh Dang, kok ada ya orang yang pede begitu. Padahal, anak buahnya sendiri curhat kepada orang lain tentang kepemimpinannya.”

Mendengarkan hal ini, menjadikan saya tersadarkan kepada dua hal. Pertama, memang, tidak mudah untuk mengetahui kesalahan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Seseorang yang pandai mengkritik orang lain, belum tentu pandai pula mengkritisi dirinya sendiri. Kedua, saya teringat bahwa sayapun memiliki beberapa orang yang bekerja dibawah kepemimpinan saya. Boleh jadi, saya tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka, atau beberapa diantara mereka lebih suka curhat kepada orang lain tentang kelemahan-kelemahan saya, daripada mengatakannya; sehingga saya mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri. Seperti yang dialami oleh sahabat saya ini. Tetapi, jikapun itu terjadi pada kita; tidak perlu heran. Karena, itu terjadi hampir dimana-mana. Bahkan, saya pernah mendengar sebuah kelakar; ”Sebaik apapun seorang atasan, selalu ada alasan bagi bawahan untuk mencari-cari bahan gunjingan….” Saya tidak tahu pasti, apakah benar demikian. Namun, rasanya masuk akal juga. Sebab, bukankah tidak ada manusia yang sempurna?

Dua kesadaran itu telah membantu saya melihat sedikit lebih jernih. Mungkin benar bahwa kritik itu menyakitkan. Tetapi, membicarakan kesalahan seseorang kepada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali tidak memberi solusi. Jadinya, itu tidak lebih dari sekedar gunjingan yang menjadi komoditas murahan dikantin-kantin tempat makan siang, atau lorong-lorong tempat para penggunjing berkongkow-kongkow. Jadi, lebih baik jika kritik itu disampaikan langsung kepada orangnya. Jika memungkinkan, secara pribadi.

Disisi lain, alangkah eloknya jika sang pemberi kritik itu terlebih dahulu mengecek; apakah dia sudah terbebas dari hal yang hendak ia kritisi itu atau tidak. Agak lucu jika seseorang mengkritik orang lain atas sebuah perilaku, namun dia sendiri berperilaku sama. Tetapi, seperti yang saya kemukakan tadi; begitu banyak orang yang seperti itu. Dan jika anda juga begitu, tidak usah tersinggung, karena mungkin; saya pun begitu. Jadi, kita ini sebelas dua belaslah. Paling tidak, kita sudah mulai menyadarinya, bukan? Lebih baik dibandingkan membiarkan kecuekbebekan menjadikan mata hati kita buta, dan telinga kita pekak dengan diri kita sendiri; sementara kepada orang lain, kita begitu garangnya menyerang…..

Mungkin anda pernah mendengar sebuah kisah klasik tentang seorang raja yang frustrasi dengan istananya yang bau. Semua yang ada didalamnya berbau busuk. Sampai-sampai sang raja tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasinya. Hal pertama yang selalu ingin didengar oleh sang raja ketika dia bangun pagi adalah tentang kuda kesayangannya. Maka, sang petugas perawatan kuda selalu menjadi orang pertama yang menghadap yang mulia. Agar tidak terlambat memberitahu sang raja tentang kondisi kudanya; setiap pagi dia duduk bersimpuh disamping ranjang sang raja untuk menantinya terbangun. Pagi itu, sang perawat kuda bersiap-siap hendak memberikan laporan ketika sang raja menggeliat. Namun, sebelum dia sempat berkata; sang raja keburu membentaknya. ”Hey, tubuhmu bau kotoran kuda. Mandi yang bersih sebelum menemuiku.” Lalu orang itu diusirnya.

Raja bergegas ke ruang makan untuk sarapan. Ketika sang raja hendak makan, dia mencium bau busuk itu lagi. Dan dengan rasa penasaran dia mencari-cari, dimana sumber bau itu berada. ”Oh, ternyata dari makanan ini!” begitu teriaknya hingga para koki istana panik karenanya. Raja kemudian bergegas menemui sang ratu, sambil mengumpat kepada semua orang bau yang ditemuinya diseluruh istana kerajaan. ”Lebih baik aku menghabiskan waktu dengan ratuku saja…” pikirnya. Namun, sang raja dilanda kecewa ketika ternyata ratu yang sangat dicintainya itupun tubuhnya mengeluarkan bau. Sehingga sadarlah dia bahwa semua orang diistana menjadi bau. Seketika itu pula, ia memerintahkan agar semua orang mandi sebersih-bersihnya. Namun, setelah tujuh hari tujuh malam mereka mandi, ternyata menurut sang raja; mereka masih bau juga. Mereka terjangkit suatu penyakit. Yaitu penyakit bau! Maka sejak saat itu, raja memanggil semua tabib yang ada diseantero kerajaan untuk mengobati penyakit aneh itu.

Seluruh tabib sudah berusaha mengerahkan segenap kemampuannya. Namun, tak satupun berhasil menghilangkan bau yang tetap menghantui sang raja. Pada malam harinya, sang raja bermimpi. Dan dalam mimpinya dia mendapatkan nasihat bahwa penyakit bau itu akan berakhir jika sang raja bersedia mencukur kumisnya. Meskipun dengan berat hati, keesokan harinya sang raja merelakan kumisnya untuk dicukur hingga habis. Ajaib sekali, sejak saat itu tiba-tiba saja bau diistana serta merta menghilang. Raja tidak lagi mencium bau itu. Ditengah kegembiraan itu, hati sang raja bertanya-tanya; mengapa bau itu bisa diselesaikan dengan cara yang sangat aneh. Mencukur kumis. Saking penasarannya, yang mulia raja meminta tukang cukur untuk menyerahkan potongan kumis itu kepadanya. Dan ketika sang raja memeriksa sisa-sisa kumis itu, tahulah dia apa yang menyebabkan bau diseluruh istana itu……

Saya berharap untuk sampai kepada kesadaran yang dimiliki oleh sang raja. Sebab, dalam banyak situasi, ternyata bukan lingkungan kita yang menjadi sumbernya. Kita sendirilah akar masalahnya. Ada kalanya saya yang mengkritik anda. Ada kalanya pula anda yang mengkritik saya. Apa bedanya? Siapapun yang mengkritik tidaklah jadi soal; selama terlebih dahulu memastikan bahwa kotoran yang menjadi sumber bau itu bukan sesuatu yang menempel dikumisnya sendiri. Dan siapapun yang dikritik juga tidak jadi soal, selama kritik itu benar-benar objektif. Akan menjadi soal jika si pengkritik tidak menyadari akan kumisnya yang kotor. Dan akan menjadi soal jika saat mengkritik, kita menambahkan bumbu penyedap berupa keinginan untuk menumpahkan kekesalan, atau ketidakpuasan. Dan, seperti kata sang bijak bestari tadi; sebelum memaksakan diri melihat semut diseberang lautan; menyadari keberadaan gajah dipelupuk mata memang perlu didahulukan.

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Tidak semua kritik harus ditindaklanjuti. Jika itu menyangkut perilaku buruk, pelanggaran integritas, atau tindakan yang tidak senonoh; maka kita wajib melakukan perbaikan. Tetapi, jika itu sekedar perbedaan pendapat, atau variasi cara dan metoda dalam melakukan sesuatu; kita boleh menentukan pilihan sesuai dengan keyakinan.

Buku Belajar Sukses Kepada Alam

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. Indah sekali hidup ini jika masing-2 individu saling koreksi diri. Tapi kang Dadang, bagaimana menyikapi masalah jika apa yang pernah dikisahkan Lukman al Hakim terjadi pada kita? Yaitu ketika beliau dan anak hendak bepergian dengan seekor keledai. Ketika Beliau meminta anaknya yang menunggang keledai dan dia berjalan, dikritik penduduk desa yang dilewati. Ketika sebaliknya, dikritik juga. Ketika ditunggang bersamaan, tetap dikritik. Bahkan beliau dan anaknya sepakat untuk bersamaan menuntun si keledai, ya tetap saja kena kritik. So, kang Dadang apa kita tetap memperhatikan kritik jika dalam situasi seperti ini? Wah repot juga kan kang…

  2. saya setuju pa. tapi apakah semua orang berpikir seperti itu???
    mungkin musti dimulai dari diri sendiri dulu lah…

  3. Wah, beda euy yang gaulnya dengan manajer dan raja.

  4. kalau menuding orang lain kan, dua jari untuk yang dituding dan tiga jari untuk diri sendiri, he …, betul nggak?

  5. yayat hendrayana

    AH BIASA AJA….TEORI LAGI DEH