Kalau Hanya Ada Satu Pemenang – Mengapa Kita Ikut Bertanding?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Salah satu alasan mengapa kita memiliki frase ‘kalah sebelum bertanding’ adalah karena pada kenyataannya begitu banyak orang yang enggan untuk ikut dalam pertandingan menyusuri hidup. Hanya karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjadi pemenang. Jika hidup kita adalah soal kalah dan menang, mungkin cara berpikir itu bisa diterapkan. Namun, pada kenyataannya hidup kita tidak selamanya tentang kalah dan menang. Memang, ada kalanya kita harus terlibat dalam permainan seperti itu. Jika kita tidak mengalahkan orang lain, maka orang lain akan mengalahkan kita; dan kita menjadi pecundang. Namun, sebagian besar kegiatan dalam hidup kita bukan soal itu. Melainkan soal; bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri. Oleh karena itu, dalam banyak situasi; ‘menjalani’ hidup itu lebih penting daripada hasil akhirnya. Continue reading

Masuk Telinga Kiri, Keluar Telinga Kanan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dalam hal mendengar, Anda pasti masih ingat ungkapan itu. “Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”. Dari segi tata bahasa, mungkin kalimat itu agak janggal. Namun, sangat ampuh untuk menggambarkan orang-orang yang ‘ndableg!’, alias tidak mau mendengar nasihat orang lain. Memang ada begitu banyak orang yang tidak membuka diri terhadap nasihat. Namun, ada saatnya dimana kita perlu menerapkan ungkapan itu untuk diri kita sendiri. Yaitu, saat dimana kita mendengar komentar negatif dan cemoohan dari lingkungan kita. Sebab, pada kenyataannya, tidak semua yang kita dengar adalah benar. Dan terutama lagi, tidak semuanya memberikan energi positif bagi diri dan jiwa kita. Ada banyak komentar miring tentang kita. Kadang itu benar. Kadang sekedar omong kosong belaka. Continue reading

Bekerjalah Sesuai Dengan Kemampuan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kedengarannya begitu sederhana; “Bekerjalah sesuai dengan kemampuan”. Namun, dibalik kesederhanaannya, kalimat itu mengandung makna yang sangat dalam. Bagaimanapun juga, itu bukanlah cara lain untuk mengatakan; ”Bekerja secara alakadarnya.” Sama sekali bukan. Sebab, bekerja sesuai dengan kemampuan menyiratkan kesediaan untuk mencurahkan segenap kemampuan yang kita miliki dalam menjalani pekerjaan yang kita geluti. Begitu banyak orang yang berpotensi tinggi, namun bekerja alakadarnya. Sehingga, mereka tidak sampai kepada puncak prestasinya. Sebab, jika saja mereka bersedia bekerja sesuai dengan kemampuannya, maka pastilah mereka sudah bisa mencapai ketinggian nilai kemanusiaan dirinya. Alih-alih demikian, mereka membiarkan sebagian besar potensi dirinya tersia-siakan. Continue reading