Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Bekerjalah Sesuai Dengan Kemampuan

Bekerjalah Sesuai Dengan Kemampuan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kedengarannya begitu sederhana; “Bekerjalah sesuai dengan kemampuan”. Namun, dibalik kesederhanaannya, kalimat itu mengandung makna yang sangat dalam. Bagaimanapun juga, itu bukanlah cara lain untuk mengatakan; ”Bekerja secara alakadarnya.” Sama sekali bukan. Sebab, bekerja sesuai dengan kemampuan menyiratkan kesediaan untuk mencurahkan segenap kemampuan yang kita miliki dalam menjalani pekerjaan yang kita geluti. Begitu banyak orang yang berpotensi tinggi, namun bekerja alakadarnya. Sehingga, mereka tidak sampai kepada puncak prestasinya. Sebab, jika saja mereka bersedia bekerja sesuai dengan kemampuannya, maka pastilah mereka sudah bisa mencapai ketinggian nilai kemanusiaan dirinya. Alih-alih demikian, mereka membiarkan sebagian besar potensi dirinya tersia-siakan.

Salah satu tanda seseorang tidak bekerja sesuai kemampuan adalah ketika dia sekedar memenuhi job descripton yang diterima dari atasannya. Padahal, jobdes hanyalah sebuah alat untuk mendeskripsikan pekerjaan standard yang harus dilakukan seseorang. Sedangkan, kemampuan diri kita yang sesungguhnya seringkali jauh lebih tinggi dibandingkan jobdes itu. Sebentar, apakah anda yakin bahwa kemampuan anda yang sesungguhnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jobdes itu? Tentu saja, sebab anda pasti keberatan jika ada orang yang mengatakan bahwa kemampuan anda hanyalah pas-pasan saja, bukan? Harga diri anda menyebabkan anda begitu yakin bahwa kemampuan diri anda lebih tinggi dari jobdes itu. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah anda bekerja berdasarkan jobdes, atau berdasarkan kemampuan yang anda miliki?

Jika seseorang bekerja berdasarkan kemampuannya – yang sudah pasti lebih tinggi dari jobdes itu – siapa yang diuntungkan? Perusahaan, tentu saja. Perusahaan untung karena orang itu bekerja melampaui harapan minimalnya. Tetapi, sesungguhnya bukan perusahaan yang paling diuntungkan, melainkan orang itu sendiri. Bayangkan saja, ketika dia bekerja melampaui jobdes-nya, atasannya senang. Perusahaannya senang. Lalu dia mendapatkan reward yang lebih baik daripada karyawan lainnya. Bahkan, jika keadaan memungkinkan, bisa jadi dia dipromosikan. Itu sudah menjadi hukum alami. Namun, mengapa begitu banyak orang yang enggan untuk bekerja melampaui jobdes-nya? Ini masih merupakan teka-teki.

Dibanyak lingkungan kerja, begitu banyak orang yang merasa puas dengan memenuhi tuntutan yang tertera dalam jobdes-nya. Padahal, bekerja sekedar memenuhi jobdes mengandung dua resiko besar. Pertama, resiko bahwa orang-orang lain yang lebih rajin akan mendapatkan prestasi kerja yang lebih baik dari kita. Sehingga mereka mendapatkan reward yang lebih baik. Mungkin mereka mendapatkan promosi hingga meninggalkan kita jauh dibelakang. Kedua, resiko bahwa Tuhan tidak terlalu menyukai kita. Sebab, Tuhan sudah menciptakan kita dengan sejumlah potensi diri yang begitu tinggi. Dan, orang yang bertanggungjawab kepada Tuhan memahami benar bahwa Tuhan mungkin kurang senang jika kita tidak memanfaatkan semua potensi diri itu. Oleh karenanya, misi hidup ini bukanlah sekedar memenuhi kewajiban melalui jobdes belaka. Melainkan mengaktualisasikan diri kita hingga bisa mencapai nilai paling luhur dari kualitas diri sebagai seorang manusia. Dengan cara itu, kita bisa mempersembahkan sebuah pencapaian yang outstanding. Berbeda jauh dibadingkan dengan kebanyakan orang lainnya.

Sayangnya, kita masih sering hitung-hitungan. Kontribusi kerja yang kita berikan kepada perusahaan dihitung sebatas sejumlah bayaran yang kita dapatkan. Lebih dari itu? No way. Perusahaan tidak memberikan posisi atau kompensasi yang cukup tinggi. Jadi, kenapa kita mesti berprestasi tinggi? Kita yang merasa punya potensi tinggi ini juga berpikir bahwa seharusnya perusahaan mempromosikan kita terlebih dahulu, supaya kita bekerja secara extra ordinary. Kita mempunyai kemampuan yang memadai untuk menyelesaikan suatu masalah. Dan menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik lagi. Tetapi, karena perusahaan belum mempromosikan kita pada posisi itu, maka kita tunggu saja sampai perusahaan mempromosikan kita. Setelah itu, barulah kita melakukannya. Dan karena selama hidup kita tidak pernah dipromosikan kepada posisi yang kita inginkan itu, maka selama hidup itu pula kita tidak pernah benar-benar mengaktualisasikan potensi diri kita yang sesungguhnya.

Sekarang, mari kita cermati situasi dilingkungan kerja kita. Cukup banyak orang berpotensi yang membunuh karakter hebatnya sendiri. Mereka tidak puas dengan keputusan-keputusan perusahaan. Lalu mereka bekerja alakadarnya. Daripada menjadi pegawai yang tangguh dan tahan banting, mereka memilih untuk menjadi karyawan Teng-Go. Begitu bel jam kerja berbunyi, mereka langsung cabut. Padahal, mereka masuk kerja pun datang terlambat. Mereka pikir, tak apa-apa karena jaman ini jalanan serba macet. Terlambat setiap hari bukan lagi soal penting. Pulang kerumah cepat-cepatlah yang paling penting. Makanya, datang terlambat – pulang cepat menjadi budaya baru dunia kerja kita saat ini. Pendek kata, boro-boro memasuki tatanan extra ordinary work, sekedar memenuhi standar minimal saja kadang-kadang kita kedodoran.

Mari kita bayangkan sebuah situasi dimana perusahaan harus memilih sebagian karyawan untuk dipertahankan, dan mendepak sebagian yang lainnya. Sekalipun membayangkan ini tidak menyenangkan, namun orang yang memilih untuk menjadi karyawan perlu bersiap-siap untuk kemungkinan seperti itu. Betapa banyak orang yang terlampau percaya bahwa hubungan kerjanya akan berjalan lancar-lancar saja. Sehingga, ketika berita buruk itu datang; mereka menjadi syok. Padahal, jika hal itu sudah diperkirakannya jauh-jauh hari, mungkin dampaknya tidak akan seburuk itu. Setidaknya mereka sudah mempunyai sekoci yang bisa digunakan sebagai alat penyelamat darurat. Namun, orang-orang yang bekerja sebatas memenuhi jobdes, tidak akan pernah memiliki kesiapan itu. Sedangkan mereka yang bekerja sesuai dengan kemampuan dirinya, akan mempunyai peluang lebih besar untuk dipertahankan oleh perusahaan. Sekalipun pada akhirnya perusahaan tidak lagi mampu mempertahankan mereka, namun setidak-tidaknya, mereka sudah berjuang hingga titik darah penghabisan.

Bahkan, mereka yang selama kehidupan kerjanya bersedia memeras segenap kemampuan diri yang dimilikinya, adalah orang-orang yang sudah teruji. Dan itu menjadi bekal alam bawah sadar yang sangat berguna baginya, jika suatu saat dihadapkan kepada situasi yang sulit. Sebab, orang-orang yang seperti itu, selalu bisa diadalkan. Baik oleh perusahaan, maupun oleh dirinya sendiri. Dan ternyata, untuk menjadi manusia yang mempunyai kualifikasi tinggi seperti itu; kita tidak harus bekerja mati-matian. Kita, hanya perlu bekerja sesuai dengan kemampuan. Sebab, bekerja sesuai dengan kemampuan bagi kita berarti; mempersembahkan pencapaian kerja yang berkualitas tinggi. Melalui seluruh potensi unggul yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita.

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Perusahaan hanya mempromosikan orang-orang yang sudah terbukti mempunyai pencapaian tinggi. Dan sesuatu disebut sebagai bukti, hanya jika sudah terlebih dahulu terjadi. Tunjukkan prestasi terlebih dahulu, baru dipromosi – bukan sebaliknya. Begitulah hukum yang berlaku dalam dunia kerja kita.

Daftar Disini Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

11 comments

  1. Endi, Pisau Cukur, Margonda
    Sajak inspirasi sosial untuk relaksasi jiwa & hati
    [Harry ‘Uncommon’ Purnama]

    Krek..krek..krek..krek..krek..krek..krek..
    Antrian panjang, ruangan ber-AC, khas aroma lelaki semua.
    ”Service excellence” terobosannya, giat, semangat.
    Tak pernah kendor urat pelayanannya, sang tamu terdiam.
    Ramai. Selalu ramai. Hebat. Extra-ordinary.

    Perawakannya kecil, ramping, sederhana, mirip Ahmadinejad Iran.
    Cukuran pisau Endi, tiang Bojong Gede, Bogor menyedot rambutku.
    ”1cm aja ya, seperti biasa..Kang Endi..makasih..” pintaku sambil.
    Duduk di kursi kulit cat merah, tua sekali, model Jerman.
    ”Lho kok baru datang, Pak Harry..?” sapanya ramah padaku.
    Dialog minggu malam di jl Margonda, pangkas rambut.
    Rambutku sedikit keputihan dah agak panjang.
    Sisir tak mempan lagi. Sehabis mandi harus digarap dikaca dulu.
    Merepotkan. Pendek. Praktis. Kayak potong rumput di halaman.
    Krek..krek..krek..krek..krek..krek..krek..wah bagus sekali..!
    Job des dilampauinya..setiap hari.
    Promosi? Pahlawan jasa kecil di pojokan jalanan macet.

    Kulitnya putih khas Sunda, duduk santai.
    Menunggu tamunya. Biola mungil alunan musiknya.
    ”Dying young” Kenny G diperdengarkan lembut, samar-samar.
    Rahasia panjang umur, makanannya sayuran mentah.
    Pikirannya tajam, di usia 45 tahunnya.

    Hukum alam, law of attraction, sukses pangkas rambutnya.
    Aku berteman dengannya. 2 anaknya lulus STM mesin.
    Enak ngobrol sambil menyantap sajian 1 gelas aqua.
    Hiburanku di kala santai, sambil merem dipijitin kepalaku.
    Hmmmm…..jago karate dia juga sejak kecil.
    Motivator rambut rapi.
    Sampai kapan ia terus melayani?

    Depok, Mei 2008

  2. Pak Dadang,

    Membaca artikel Bapak, mengingatkan saya kepada suatau acara pencarian bakat di suatu stasiun televisi (mungkin tidak ada relavansinya), dalam acara ini seorang konstestant dari malang bernama Lala, di telpon oleh sang Ibu dari arab saudi, dengan agak menanggis, tapi sang anak mengatakan tidak perlu menagis kepada ibunya, tapi minta memberikan semangat kepadanya, si Lala ini mengatakan bahwa dia tidak mau menjual kasihan, malah pada akhirnya meminta penonton untuk memilih kualitas, pada akhirnya memang dia tidak masuk ke babak berikutnya, tetapi ada pelajaran yang di ambil dari ini, bahwa kita sudah saatnya berhenti menjual kesedihan, ketidakmampuan, rasa kasihan,minder dan mulai menjual semangat, kualitas, dan peningkatan diri.

  3. ada di sebagian perusahaan menuntut karyawannya untuk dapat melebihi jobdes yang diberikan, salah satunya yaitu dengan menetapkan KPI (key performance Indicator) dimana untuk karyawan yang melaksanakan tugas sesuai dengan Jobdes “baru” dinilai baik bagi perusahaan,… dan nilai exelent diberikan kepada karyawan yang mampu bekerja melebihi jobdes yang diberikan kepadanya.

  4. Saya baru kali pertama ini mengunjungi websitenya Pak Dadang. Wah…inspiratif sekali. Bapak nulis buku gak? Di website ada 2 buku, tapi saya klik error. Terima kasih informasinya

  5. #1. Pak Harry, “Motivator rambut rapi”? Haha, istilah baru bagi saya. Menarik. Ternyata, orang tidak harus memiliki pekerjaan yang ‘mentereng’ untuk bisa memberikan pelayan tinggi ya Pak? Saya masih menyukai potong rambut dengan tarif resmi Rp 7,000.
    #2. Pak Basu, Anda sungguh menyajikan situasi yang sangat relevan. Dan saya tertarik dengan tiga hal yang Anda bilang; semangat, kualitas, dan peningkatan diri. Seseorang yang memiliki ketiga hal yang Anda sebut itu, pastilah merupakan orang-orang yang berkualitas tinggi. And I bet you that you are the one!
    #3.Avartara, begitulah adanya dunia kerja ya Pak? Kita dinilai dari kontribusi yang bisa diberikan kepada perusahaan. Dan itu tidak menciutkan nyali orang-orang yang berkualitas tinggi.
    #4. Pak Dikie. Selamat datang dan terimakasih. Beberapa gangguan memang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Beberapa content hilang begitu saja, seperti ditelan bumi. Sehingga saat ini situs berjalan dalam mode ‘darurat’ (cieee, kesannya serius banget….). Semoga administrator kami bisa segera menyelesaikannya. Untuk sementara ini, informasi tentang buku bisa diperoleh melalui bukudadang@yahoo.com. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini ya Pak.

    Salam,
    dadang

  6. Pagi pak.
    membaca tulisan tulisan bapak, membuat api semagat tersendiri dalam dada pak. pak apakah ada niatan untuk dibuatkan buku?

  7. Dadang Kadarusman

    #6. Terimakasih Pak Lobe. Mohon do’anya juga deh ya.

    PENGUMUMAN: SISTEM DI GUE-BLOG INI SEDANG ENGGAN UNTUK MENERIMA UPDATE ARTIKEL. JADI UNTUK SEMENTARA INI SAYA BELUM BISA POSTING ARTIKEL BARU. ADMINISTRATOR KAMI SEDANG MENCARI PENYEBAB DAN BERUSAHA UNTUK SEGERA MEMPERBAIKINYA. MOHON MAAF YA.

    Namun demikian, artikel saya tetap hadir melalui berbagai milist motivasi, antara lain di “MotivatorCoachIndonesia” (Yahoogroups) yang dikelola oleh guru saya Pak Harry Uncommon Mulia Purnama.

    Salam,
    dadang

  8. saya setuju dengan artikel bapak…. tapi tidak selamanya kerja keras selalu dilakukan di tempat kerja, dunia ini tidak sempurna ada kalanya memang ada perusahaan yg benar2 tidak adil kepada karyawannya… dan kalo sudah seperti itu saya rasa lebih baik ybs memikirkan untuk pindah ke tempat yg lebih baik, dimana pekerjaan dia bisa lebih diapresiasi ….

  9. Salam, Pak dadang uraian bapak sangat bagus dan memberikan inspirasi bagi yang membaca. bisa gak saya minta tentang ukuran-ukuran sehingga kekmampuan orang dapat dikatakan diatas rata. trims pak

  10. Salam kenal, Kang DaDang
    Saya baru saja melihat tayangan diacara Tv BCA kalau ngak salah ini temanya Intrapoiner maaf ejaan kalau salah.
    Bila diizinkan saya ingin sekali memuat tulisan akang ini di Buliten Perusahaan, hal ini dikarenakan pada saat ini perusahaan sedang melakukan penilain prestasi kerja (Performance Appraisal) semoga karyawan yang diberi nilai jangan hanya bisa meminta, tapi ia sudah memberikan hasil yang baik untuk perusahaanya, hingga imbalan yang karyawan tersebut terima mambawa berkah bagi keluarganya amin.

    EriLong
    Cilegon

  11. #8. Pak Adit, Betul Pak. Anda mempunyai point yang valid. Its your call to best match.

    #9 Ibu Mariani, Salah satu cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah menilai 2 hal penting ditempat kerja yaitu kemampuan teknis (kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan) dan soft skill (kemampuan seseorang yang lebih bersifat interpesonal (misalnya mengelola orang lain, cara berkomunikasi etc.) Ukur punya tingkat kemampan kita, dan simak juga seberapa jauh orang lain memilikinya.

    #10. Pak EriLong, silakan Pak dengan senang hati.

    salam,
    dadang