Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Masuk Telinga Kiri, Keluar Telinga Kanan

Masuk Telinga Kiri, Keluar Telinga Kanan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dalam hal mendengar, Anda pasti masih ingat ungkapan itu. “Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”. Dari segi tata bahasa, mungkin kalimat itu agak janggal. Namun, sangat ampuh untuk menggambarkan orang-orang yang ‘ndableg!’, alias tidak mau mendengar nasihat orang lain. Memang ada begitu banyak orang yang tidak membuka diri terhadap nasihat. Namun, ada saatnya dimana kita perlu menerapkan ungkapan itu untuk diri kita sendiri. Yaitu, saat dimana kita mendengar komentar negatif dan cemoohan dari lingkungan kita. Sebab, pada kenyataannya, tidak semua yang kita dengar adalah benar. Dan terutama lagi, tidak semuanya memberikan energi positif bagi diri dan jiwa kita. Ada banyak komentar miring tentang kita. Kadang itu benar. Kadang sekedar omong kosong belaka.

Saya sedang menyiram tanaman ketika tukang pos berhenti didepan rumah. “Pooos,” katanya. Ketika saya menoleh, Pak Pos menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat dengan logo kantor pajak. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya tidak terlalu tertarik dengan surat tagihan pajak untuk dua alasan. Pertama, pajak penghasilan saya sudah di-potong langsung oleh kantor, bahkan sebelum saya sendiri menerima bayarannya. Dan ketika membelanjakan uang yang sudah dipotong pajak itu pun saya kembali membayar pajak pertambahan nilai alias ppn. Dan alasan kedua adalah; meskipun saya sudah membayar pajak yang bertubi-tubi itu, jalan menuju kerumah kami yang bolong-bolong mesti kami juga yang membiayai perbaikannya lewat swadaya masyarakat. Jadi, surat semacam itu tidak terlalu ditunggu-tunggu. Tetapi, ini sudah untuk yang kesekian kalinya hanya dalam waktu beberapa bulan sejak saya menempati rumah itu.

Ini adalah kali pertama saya bertemu langsung dengan Pak Pos. Sebab, biasanya saya mendapati surat-surat itu tergeletak diteras depan. Suatu saat, surat itu terkena hujan, dan amplopnya menjadi berantakan. Sehingga secara tidak disengaja saya bisa melihat isinya; “Perihal: Tunggakan pembayaran pajak”. Selama ini saya tidak membacanya bukan karena hendak membangkang, namun karena surat itu bukan ditujukan atas nama saya; melainkan nama orang lain, meskipun alamatnya cocok. Pada saat bertemu dengan Pak Pos itulah saya menjelaskan bahwa; orang itu tidak tinggal dirumah ini. Ndilalahnya, Pak Pos itu masih berkewajiban untuk mengantarkan surat itu terus-menerus. Jadi, beliau datang beberapa kali lagi untuk tugas yang sama. Akhirnya, saya mengatakan kepadanya; “Bapak, nama saya Dadang Kadarusman. Saya pemilik rumah ini. Jadi surat ini tidak seharusnya dikirimkan kesini.”

Ini adalah sebuah ilustrasi sederhana, tentang sesuatu yang kita sebut sebagai ‘salah alamat’. Tidak hanya berlaku untuk surat, predikat ‘salah alamat’ itu juga bisa berlaku untuk sebuah kalimat. Misalnya, “Kamu brengsek, Dadang!” padahal saya tidak brengsek. Maka pasti kalimat itu bukan untuk saya. Salah alamat. “Kamu bodoh!”. Eh maaf, saya sekolah disalahsatu perguruan tinggi papan atas dinegeri ini. Jadi, tentu saya tidak lebih bodoh dari beliau yang mengatakannya. Salah alamat lagi. “Kamu pencuri kue ibumu selagi bulan puasa waktu kecil dulu!” Oh, itu benar. Sebab, sewaktu masih kecil; saya suka mencuri kue Ibu dan tante saya, lalu diam-diam memakannya didalam lemari pakaian! Hahaha. Jadi yang ini tidak salah alamat. Benar. Saya adalah pencuri kue milik ibu saya. Dan memakannya disiang hari bolong ketika seharusnya orang-orang berpuasa. Tapi, itu saya lakukan sewaktu kecil. Setelah memahaminya, saya tidak melakukannya lagi.

Karena kita ini mahluk sosial, maka pastilah kita selalu berhubungan dengan orang lain. Dan dalam hubungan itu sering kita dengar perkataan-perkataan negatif yang diucapkan orang tentang kita. Apakah itu berupa hinaan, caci maki, atau perkataan yang menjatuhkan lainnya. Bagaimana sikap anda menghadapi situasi seperti itu? Anda tonjok saja orang itu? Mungkin, jika badannya lebih kecil dari anda. Tapi, bagaimana kalau orang itu jago karate? Anda simpan saja dendam itu didalam ‘hate’. Kita tahu bahwa dalam bahasa Inggris, ‘hate’ bermakna ‘tidak suka yang sangat mendalam’, alias extreme dislike. Sedangkan dalam bahasa Sunda, hate berarti hati. Disimpen dina jero hate, bermakna ‘disimpan didalam hati’. Ketika mendengar perkataan yang menjatuhkan biasanya kita kesel banget. Sebel sama orang yang mengatakannya (extreme dislike), lalu disimpen dina jero hate. Nyambung yah? Jangan-jangan orang Inggris belajar kepada orang Sunda untuk menemukan kata ‘hate’ itu. Hebat.

Menyimpan extreme dislike didalam hate itu sangat berbahaya. Bukan bahaya pada orang yang menghina kita, melainkan bagi diri kita sendiri. Selama dia berada dalam hate kita, selama itu pula kita menanggung beban perasaaan. Dua tahun lalu, kita dihina orang. Sampai sekarang kita dendam. Setiap kali mengingat nama orang itu, setiap kali pula sakit hati itu kita rasakan kembali. Padahal, orang itu santai-santai saja. Bahkan dia sudah melupakan semuanya. Yang rugi siapa? Ya kita-kita jugalah. Nah, pada situasi-situasi semacam inilah prinsip “Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan” itu bisa menjaga kualitas hidup kita.

Salah satu kalimat penghiburan favorit saya adalah bait pertama Sang Penghibur-nya Padi; Setiap perkataan yang menjatuhkan;Tak lagi kudengar dengan sungguh;Juga tutur kata yang mencela;Tak lagi kucerna dalam jiwa. Namun demikian, sifat negatif atau positif dari sebuah perkataan tidak selalu harus terkandung langsung dalam kata-kata itu sendiri. Sebab, banyak perkataan halus yang menyakitkan, dan sebaliknya banyak pula perkataan keras yang memang menyembuhkan. Jadi, apakah suatu perkataan itu bersifat negatif atau positif tidaklah semata-mata dari ‘bunyi’ perkataan itu sendiri, melainkan kepada ‘intensi’ dari sang pengucap kata. Perkataan lembut yang dicampur dengan sikap sinis jelas bermuatan negatif. Sebaliknya, perkataan yang keras dan tegas dari sang pengucap yang tulus bersifat seperti obat; biar pahit tapi menyembuhkan. Banyak orang yang secara sinis menjatuhkan orang lain melalui kata-kata manis. Dan banyak orang yang berpembawaan lugas menyampaikan kritikan secara blak-blakan. Mungkin kita tidak menyukai keduanya; tetapi muatannya berbeda. Namun, jangan sampai rasa tidak suka menjadikan kita kehilangan esensi masukan positif hanya gara-gara cara orang itu menyampaikannya tidak seperti yang kita inginkan.

Kita sering mendengar kalimat ini; “Emang sih, yang elo bilang itu bener. Tapi ya jangan terlalu keras gitu dong kalau negor gue….” Kita cenderung enggan mendengarkan koreksi yang terus terang dan blak-blakan. Kita bilang; “Silakan mengkritik, tapi dengan kritikan yang sopan dong”. Haha, mana ada kritikan sopan! Kritik ya kritik. Lagipula, manfaat kritik itu untuk kita yang diberi kritik, bukan untuk mereka yang mengkritik. Yang diuntungkan itu kita. Bukan mereka. Lha, kita kok menuntut mereka yang memberi manfaat itu agar ‘mengikuti cara kita’. Kita menuntut mereka secara berlebihan. Mengapa berlebihan? Karena tidak semua orang memiliki kemampuan atau karakter seperti yang kita inginkan. Padahal, mereka melakukannya secara tulus untuk kita. Jika seseorang mengkritik kita, dan kritikan itu benar adanya; maka kita pantas menerimanya. Artinya, frase “Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan” tidak berlaku didalam situasi seperti ini. Kita bodoh jika begitu. Tidak tahu diri, kita ini.

Sebaliknya, jika berhadapan dengan orang-orang sinis atau mereka yang memang ingin menjatuhkan; maka kita harus menerapkan prinsip “Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan” itu. Pertanyaannya adalah; apakah kita bisa membedakan antara masukan yang tulus dengan kesinisan? Antara kritik membangun dengan cemoohan dan kalimat menjatuhkan? Pada dasarnya kita mempunyai kemampuan alamiah untuk itu. Namun, jika kemampuan itu belum terasah; kita bisa menerapkan sebuah cara sederhana berikut ini: pahami muatan dari perkataan yang disampaikan. Apakah mengandung unsur kebenaran atau tidak. Jika kita tidak seperti yang mereka katakan; maka itu berarti bahwa perkataan itu BUKAN untuk kita. Jadi mengapa mesti kita pikirkan? Hha! Mengapa mesti kita pikirkan? Ya. Mengapa mesti kita pikirkan. Jika kita tidak seperti yang mereka katakan; maka kita tidak perlu memikirkannya. Lupakan saja. Karena perkataan itu bukan untuk kita. Dan jangan dimasukkan kedalam hate.

“Tunggu dulu. Hate gue bete sekalee gara-gara kata-kata yang nggak bener itu. Mereka memfitnah gue. Gak bisa begitu saja gue lupakan!” Baiklah, jika anda menganggap itu cara yang paling baik. Tetapi, bagaimana seandainya tukang Pos yang membawa surat teguran pembayaran pajak itu datang kerumah anda. Lalu dia memberikan surat itu kepada anda. Surat itu anda buka, dan anda membaca sebuah kalimat disana: “Harap segera datang kekantor pelayanan pajak untuk menyelesaikan tunggakan pajak anda selama ini.” Namun, nama addressee tertuju surat itu adalah orang lain. Bukan anda. Bukankah anda akan berkata kepada Pak Pos:”Maaf Pak, surat ini salah alamat.” Jika anda berkata demikian kepada Pak Pos untuk surat peringatan pembayaran pajak yang salah alamat; apakah anda juga bisa bersikap sama untuk perkataan-perkataan yang menjatuhkan? Tentu anda bisa. Karena, jika anda tidak seperti yang mereka katakan, berarti kata-kata mereka salah alamat. Kita tidak perlu ambil pusing. Biarkan saja bualan mereka itu “Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”. Dan hidup kita akan tetap tenteram dan nyaman…..

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Kita sendirilah yang menjadikan diri kita senang atau susah. Jadi, apapun yang dikatakan oleh orang lain selalu bisa kita jadikan sebagai sumber rasa senang, kalau kita mau. Jika perkataan mereka benar tentang kekurangan diri kita; kita senang karena sudah ada yang mengingatkan. Berterimakasihlah kepada mereka. Dan jika mereka salah, kita senang karena kita tidak seburuk yang mereka kira. Maka maafkanlah mereka.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. assalamualaikum wr wb
    alow kak…. akhirna ku bs maen k site kakak. aku suka lho bc tulisan kak d mailist. bagus2… subhanallah…. lam knl yah… btw tuker link yukzzz???

  2. Kalo saya, pakai filter telinga aja Kang Dadang. hehehe… 😉

    Kalo terlanjur masuk telinga, sayang telinganya jika hanya buat jalan tol lewat aja gitu… Jadi mendingan pakai filter canggih, yang jelek nggak bisa masuk telinga… 😀

    Bagus tulisannya, nuansanya lucu, humoris nih Kang Dadang.

    Salam dari Surabaya,
    Wuryanano 🙂

  3. Mending bisa masuk trus keluar lagi…kalo masuk trus gak bisa keluar muter2 di kepala kan jadi mumet…

  4. Artikel yang sangat bagus kang, memang manusia banyak yg mau menang sendiri

  5. #1. Cheya. Alaikum salam. Kakak? Hai, thanks a lot. Salam kenal kembali
    #2. Pak Nano, wah, filternya dapat darimana tuch Pak. Saya mau satu Pak. Thanks a lot.
    #3. Pak Amien. You have a very good point. Go ahead.
    #4. Pak Thio. Terimakasih Pak. Mungkin memang kita semua mempunyai sifat ingin menang sendiri. Cuma, ada yang bersedia mengontrolnya, dan ada yang mengumbarnya. Thanks a lot.

    salam,
    dadang