Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Kalau Hanya Ada Satu Pemenang – Mengapa Kita Ikut Bertanding?

Kalau Hanya Ada Satu Pemenang – Mengapa Kita Ikut Bertanding?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Salah satu alasan mengapa kita memiliki frase ‘kalah sebelum bertanding’ adalah karena pada kenyataannya begitu banyak orang yang enggan untuk ikut dalam pertandingan menyusuri hidup. Hanya karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjadi pemenang. Jika hidup kita adalah soal kalah dan menang, mungkin cara berpikir itu bisa diterapkan. Namun, pada kenyataannya hidup kita tidak selamanya tentang kalah dan menang. Memang, ada kalanya kita harus terlibat dalam permainan seperti itu. Jika kita tidak mengalahkan orang lain, maka orang lain akan mengalahkan kita; dan kita menjadi pecundang. Namun, sebagian besar kegiatan dalam hidup kita bukan soal itu. Melainkan soal; bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri. Oleh karena itu, dalam banyak situasi; ‘menjalani’ hidup itu lebih penting daripada hasil akhirnya.

Anda tentu masih ingat sebuah kisah klasik tentang seorang lelaki lugu yang tengah duduk diteras sebuah kedai dipinggir jalan. Ketika mendekatkan cangkir kopi ke bibirnya, dia terperangah, karena tiba-biba saja ada segerombolan orang yang berlarian. Ia lalu bertanya kepada pelayan;”Kenapa sih orang-orang itu pada berlarian begitu?” Sang pelayan menjawab:”Ini perlombaan lari marathon, Tuan.” Ia tersenyum dengan ramah, kemudian melanjutkan:”Pemenangnya akan mendapatkan sebuah piala.” Katanya. Lalu lelaki itu berkata;”Kalau hanya pemenangnya yang mendapatkan piala, kenapa orang-orang yang lainnya juga pada ikut berlari…?”

Kemungkinan besar, didunia nyata tidak ada manusia yang cukup lugu untuk melakukan dialog seperti itu. Setidak-tidaknya dalam konteks ‘lomba lari marathon’. Kita semua tahu bahwa pemenang lomba lari marathon hanya satu orang. Atau paling banyak 3 orang. Jika panitia berbaik hati menyediakan hadiah sampai juara harapan ketiga seperti ketika kita sekolah di TK dulu, maka jumlah pemenangnya paling banyak ada 6 orang. Tetapi, kita tidak cukup bodoh untuk mempertanyakan;”Mengapa ratusan orang lainnya ikut berlari juga?” Tetapi, mari cermati kehidupan sehari-hari kita. Secara tidak langsung kita sering mengajukan pertanyaan naif seperti itu. Kita begitu seringnya bertanya; kenapa orang kecil seperti kita mesti kerja habis-habisan? Paling hasilnya cuma segitu-gitu juga.

Ketika masih disekolah menengah dulu, saya beberapa kali mengikuti 10K Marathon Competition. Dalam perlombaan itu, selalu saja ada atlet profesional dari pelatda yang ikut serta. Tapi, jumlah mereka tidak banyak. Sedangkan, ratusan peserta lainnya adalah mereka yang paling banter hanya berolah raga seminggu sekali saja, termasuk saya dengan tubuh kerempeng dan napas yang pas-pasan ini. Bahkan ada juga peserta yang sudah lanjut usia. Nyaris tidak mungkin kami bisa menang. Kami semua mengetahui hal itu. Tapi, mengapa kami tetap ikut perlombaan itu? “Ya, kenapa Kakek mengikuti perlombaan ini?” Anda boleh bertanya begitu kepada si Kakek veteran perang kemerdekaan yang ngotot mau ikut perlombaan. Dan dia akan menjawab: “Kakek mah, yang penting sehat, cucu. Tidak apa-apa menang juga. Yang penting sehat….” Alah, yang penting sehat, kata si Kakek.

Kalau anda tanyakan itu kepada orang dewasa lainnya, mereka akan menjawab: “Demi kesehatan, Mas. Kita perlu berolah raga. Kalau menang syukur. Tidak juga yah, tidak apa-apalah. Yang penting sehat.” Sedangkan, gadis-gadis remaja berusia belasan tahun akan menjawab:”Tau deh, Mas. Pokoknya seru ajjah. Bisa ketemuan sama teman-teman.” Dan dari para lelaki kecil yang sedang puber seperti saya waktu itu, mungkin anda akan mendengar:”Asyik Mas. Banyak cewek kece yang ikutan….” Pendek kata, ada begitu banyak alasan mengapa orang ikut serta dalam perlombaan lari marathon itu; meskipun mereka tahu tidak akan menang. Dan diakhir pertandingan, kita selalu bisa menemukan senyum kepuasan disetiap wajah yang mengikuti perlombaan. Ketika sang atlet pelatnas naik pentas untuk menerima tabanas; setiap orang ikut merasa puas. Tidak ada iri dihati ini. Sebab, dari awal pun kita sudah tahu bahwa hadiah tabanas dan piala itu bukan untuk kita.

Kita mempunyai bagian masing-masing dalam perlombaan itu. Sang Kakek, mendapatkan kesempatan untuk berolah raga dengan gembira demi kesehatannya. Para pemuda senang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Para remaja gembira karena bertemu dengan rekan-rekan seusianya. Sambil ngeceng satu sama lain. Dan tampaknya, semua orang mendapatkan kemenangannya masing-masing. Kecuali orang-orang yang memilih tidur dibawah selimut. Dan mereka yang hanya nongkrong dipinggir jalan yang dilewati para pelari.

Lomba lari marathon mungkin sudah bukan olah raga populer lagi dijaman ini. Tetapi, esensinya masih tetap ada hingga kini. Kehidupan kita, tidak ubahnya seperti perlombaan lari marathon itu. Ada sejumlah hadiah disediakan bagi mereka yang berkoneksi sangat kuat. Bermodal teramat besar. Dan berkedudukan begitu tinggi. Namun, jika saja orang-orang yang tidak memiliki semua keistimewaan itu memilih untuk berhenti sebelum bertanding; kehidupan kita mungkin akan berubah wajah. Menjadi sebuah ironi ketidakberdayaan. Untungnya, sebagian besar manusia sederhana yang kita lihat adalah orang-orang tangguh. Mereka adalah pejuang hebat yang tidak mudah menyerah. Tengoklah mereka yang tidak pernah lelah untuk terus merengkuh hidup. Mengagumkan sekali. Meskipun mereka tahu bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan pendapatan sejumlah miliaran atau sekedar ratusan ribu rupiah saja; namun mereka tetap melangkah, ikut terlarut dalam geliat hidup. Mereka tidak hendak berhenti. Sebab, sekalipun tahu bahwa uang besar adalah jatah orang-orang besar, namun ikut terlibat dalam permainan keseharian adalah pilihan yang paling bijaksana.

Jika kita berkesempatan untuk menyasar ke pasar-pasar pada pukul dua pagi, kita akan menemukan orang-orang dari jenis ini. Tukang gorengan. Para penyapu jalan. Para petugas pembersih toilet digedung-gedung perkantoran. Para buruh tani. Ibu-ibu tukang cuci pakaian. Para hansip dan petugas keamanan. Para guru bantu disekolah-sekolah reyot . Aih, betapa banyaknya orang yang ikut dalam lari marathon kehidupan ini. Apakah mereka akan mendapatkan piala? Tidak. Lantas, mengapa mereka ikut berlari? Karena, mereka ingin mengajari kita tentang hidup. Mengajari kita? Ya. Mengajari kita. Karena kita yang lebih beruntung ini sering sekali menyia-nyiakan hidup. Kita terlampau mudah untuk berkeluh kesah. Ketika kita tahu akan kalah, kita langsung menyerah. “Untuk apa kita bekerja jika dibayar dengan upah murah? Cuma membuat kaya para pengusaha saja!” Begitu kita sering berkilah. “Ngapain susah-susah begitu jika hasilnya cuma segini?” Kemudian kita memilih untuk tidur lagi. “Kalau begini caranya, aku berhenti saja!” Lalu kita keluar dari arena. Malu kita oleh orang-orang sederhana itu.

Padahal, Ayah dan Ibu sudah menyekolahkan kita dengan bersusah payah. Mereka mengumpulkan rupiah, demi rupiah. Dengan terengah-engah. Supaya kita bisa kuliah. Setelah kita lulus sekolah? Kita menjadi orang-orang yang begitu mudahnya untuk menyerah kalah. Setiap kali dihadapkan pada jalan yang menanjak sedikit saja, kita sudah cepat merasa lelah. Ketika tersandung dengan kerikil kecil saja, kita sudah mengeluh seolah kehilangan kaki sebelah. Bukan peristiwanya yang menjadi musibah. Melainkan sikap kita untuk memilih menjadi manusia bermental lemah.

Malu kita oleh orang-orang sederhana itu. Meskipun mungkin mereka tidak sepintar kita. Tidak sekolah setinggi kita. Tidak berkulit semulus kita. Namun, semangat mereka dalam menjalani hidup, bukanlah tandingan bagi kita. Cobalah sesekali tengok garis-garis wajah mereka. Disana kita akan menemukan sebuah gambaran tentang hidup semacam apa yang mereka jalani setiap hari. Tidak lebih mudah dari kita. Sekalipun begitu; mereka enggan untuk berhenti. Mereka terus berlari. Untuk berlomba dalam marathon ini. Perlombaan yang hadiahnya mereka definisikan sendiri. Yaitu; menunaikan panggilan hidup. Dan, apakah sesungguhnya panggilan hidup itu? Untuk menjalani kehidupan itu sendiri. Dengan segenap bekal yang telah Tuhan berikan didalam diri kita masing-masing. Bersediakah kita mendayagunakannya?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Hidup tidak selamanya tentang kalah dan menang. Melainkan tentang bagaimana kita menjalaninya dengan tindakan-tindakan yang memberi makna positif.

Sekarang saya bisa di reach juga di http://dizhang.multiply.com/ .

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

16 comments

  1. Setuju kang dadang “Hidup tidak selamanya tentang kalah dan menang”, yang terpenting adalah proses, hasil akhir adalah akibat dari proses tersebut.
    “Air bisa menghancurkan batu karang bukan karena kekuatannya, tapi karena Dia menetes terus menerus”

    Tetap belajar

  2. Agustiawan M. Barus

    It’s Great Article..Really Inspired me…Keep on Deliver the Great Inspiring Articles for us ya, Kang Dadang… hehehe

    Thanks Team…

    /barus

  3. Pak Dadang,

    membaca artikel Bapak mengingatkan saya kepada satu cerita mengenai rick hoyt “the super dad” anak dari si bapak ini mengalami kelumpuhan total, dari kepala ke kaki, pada saat itu si anak ingin sekali mengikuti lomba iron man – lomba triathon : berenang, bersepeda, dan lari marathon, singkat cerita akhirnya mereka mebuat team hoyt, si bapak berlari dan berenang dengan mendorong si anak di kursi roda, menarik anaknya dalam perahu karet, alahasil pada saat mereka menyelesaikan Iron man tersebut mereka berada pada urutan ke 3 ( dari belakang), tetapi mereka menyelesaikan pertandingannya dan mengikuti Iron Man setiap tahun, ketika di wawancarai kenapa mereka mengikuti pertandingan tersebut walaupun tahu pasti kalah, sang Bapak mengatakan bukan hasil pertandingannya yang penting tetapi bagaimana kamu bertanding dan dengan siapa kamu melakukannya.

  4. very nice …thanks for article..Kang Dadang

  5. betul kang dadang, bukan soal menang atow kalah. lagipula kenapa kita jatuh??? biar kita bisa belajar untuk berdiri dan terus berlari…

  6. memang hidup itu bukan masalah kalah ato menang, melainkan bagaimana cara kita menjalani hidup ini……..
    saya setuju mas………..
    sukses buat mas dadang

  7. alasan kenapa saya ikut berlomba? untuk hidup yang lebih baik untuk saya dan anak cucu saya kelak 🙂 jika di buat sebuah komparasi ilustrasi mungkin lebih cocok lomba lari estafet … karena kekuatan dan semangat kita berlari saat ini bisa membantu dan menginspirasi pelari selanjutnya.

  8. Kang Dadang … suatu ide yang sangat inspriratif. Memang hidup ini kadang kita ‘dipaksa’ untuk berlomba padahal ‘mungkin’ kita tidak ingin. Terlepas itu semua, pada akhirnya hidup ini memang perlombaan menurut saya tetapi perlombaan dengan aturan dari manusia dan aturan dari Tuhan. Tetapi perlombaan hidup ini adalah perlombaan menghasilkan banyak pemenang dan banyak pecundang. Banyak yang masuk surga banyak yang masuk neraka, banyak yang memberi kebaikan banyak juga yang berbuat kerusakan dimuka bumi ini dan sebagainya. Tetapi artikel ini sangat bagus kang.
    Salam …

  9. Betul. Perlombaan tidak harus menghasilkan satu pemenang.

  10. Bagaimana kalau pertanyaannya dibalik. Kalau semua bisa menang, kenapa tidak ikut bertanding?
    pasti akan semangat hidup ini.

    salam kenal.

  11. dezigh …… artikel ini sungguh menusuk sanubari saya

    ah iya jd menyadari banyak org yg gigih berjuang sementara sy seringkali malah menyerah begitu ada kerikil

    makasih pak artikelnya, sangat inspiratif

  12. very inspiring…
    salam kenal kang dadang…
    artikel yang luar biasa !

  13. #1. Pak Rony. hebat juga ternyata air itu ya Pak. Thanks.
    #2. Pak Barus. Thank you. You are most welcome
    #3. Pak Basu. Rupanya memang begitu jika seseorang sudah memiliki jati diri yang kokoh. Thanks Pak.
    #4. Pak Sumantri. Thanks a lot Pak.
    #5. Pak Erlangga. Wah, jadinya kita tidak terlalu takut untuk jatuh ya Pak? Thanks.
    #6. Goes Dex. Ya, saya setuju dengan anda. Thanks.
    #7. Chazzuka. You have a very nobel aim. Selamat berlomba, ya. Thanks.
    #8. Pak Hamdi. Betul Pak. Apalagi jika kita yakin bahwa ada aturan Tuhan yang mesti diikuti. jadi Bapak bisa mendapakan dunia dan akhirat sekaligus ya Pak. Thanks a lot.
    #9. Pasangan. Akoer…ya. Thanks
    #10. Pak Zudha. Sebuah pertanyaan yang cerdas. Ayo, kita ikut dalam pertandingan ini. Biat tambah semangat. Salam kenal kembali.
    #11. Pak Adit. You just arrived on a kind of winning, namely your own awareness. Selamat Pak.
    #12. Pak Bayu. SAlam kenal kembali. Thanks a lot.

    salam,
    dadang

  14. Artikel yang bagus! Hidup adalah perjalanan, tetapi tidak semua menyadari bahwa hidup adalah perjalanan dan tidak semua paham bahwa perjalanan itu harus dilakukan karena ada tujuan atau impian yang hendak dicapai. Masalahnya adalah apakah semua menyadari dan menjadikan impian itu sebagai sesuatu yang bergairah sehingga ia sadar bahwa hidup adalah perjalanan. Artinya jika hidup adalah perjalanan maka hidup tidak boleh stagna atau jalan ditempat, artinya apapun rintangah, halangan dan lain sebagainya harus kita HADAPI dengan SOLUSI DAN SOLUSI. Salam Dahsyat dari WD

  15. luar biasa kang!
    trims artikelnya telah membuat smangat sy berdiri dan siap untuk lari menghadapi hidup ini…
    “1 kali terjatuh, 1000 kali bangun dan berlari”

    salam
    Kaharuddin

  16. Makasih ya kang Dadang….artikel ini sangat berarti buat saya pribadi yg saat ini sdg terpuruk. Alhamdulillah….saya tdk patah semangat…apalagi stlh membaca artikel ini…..saya tdk akan berhenti sampai di sini…krna sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Saya sadari itu. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari. Maka tetap bergeraklah, berkerja dan berkaryalah….jangan berhenti untuk bergerak meraih keberhasilan kita.