Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Perlukah Kita Membawa-bawa Dendam Ini?

Perlukah Kita Membawa-bawa Dendam Ini?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dendam nyaris selalu disertai sakit hati. Dan itu sering menjadi dasar untuk melakukan sebuah pembalasan. Saat orang lain melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, tiba-tiba saja kita merasa mendapatkan ijin khusus dari Tuhan untuk melakukan pembalasan. Bahkan, tidak jarang kita memberikan ‘bonus’ nya sekalian. Jika anda menampar saya perlahan, maka sebagai bonusnya, tamparan balasan dari saya bisa sangat keras sekali. Kalau perlu, hingga membuat anda pingsan. Jika hari ini saya belum bisa membalas anda, maka semuanya itu akan berubah menjadi utang yang wajib untuk dibayarkan kepada anda dimasa depan. Jika tangan saya sendiri tidak mampu melakukannya, maka saya mengutus orang lain untuk mewakili terlunasinya utang-utang itu. Berikut bunganya sekalian. Bukan begitukah kita mendefinisikan sebuah dendam?

Secara garis besar, ada tiga komponen yang menghidupi dendam, yaitu: perbuatan orang lain kepada kita, rasa sakit hati, dan pembalasan. Mari kita tahas, satu demi satu. Pertama, perbuatan orang lain kepada kita. Dalam banyak situasi, kita tidak bisa mengendalikan perbuatan orang lain. Kita sama sekali tidak memiliki hak untuk menyuruh atau melarang orang lain untuk melakukan atau menghindari sebuah perbuatan. Paling banter, anda hanya bisa menghimbau. Misalnya dengan mengatakan; ”Maaf Mas, kalau mau merokok jangan diruangan ber-AC seperti ini dong….” Apakah orang itu akan berhenti, atau pindah ketempat terbuka, atau memasabodohkan perkataan anda; itu diluar kuasa anda.

Bahkan, sekalipun anda seorang atasan; anda hanya bisa mengatakan; ”Optimalkan jam kerjamu.” Atau ”Lakukan kegiatan ekstra untuk perusahaan.” Atau ”Jangan terlambat masuk kerja.” Anda bisa melakukannya sebatas itu. Sekalipun anda melakukan semuanya itu atas kewenangan anda dan demi kebaikan organisasi dan diri mereka sendiri, tetapi dimata mereka anda tidak lebih dari seorang atasan yang bawel. Anda tak perlu heran. Sebab, anda sama sekali tidak bisa mengontrol tindakan atau perbuatan orang lain. Dengan kata lain; anda sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi ’will’ seseorang. Mengapa? Karena, ’kehendak’ adalah hak setiap manusia. Dan seperti yang kita tahu; ada orang yang mampu mengarahkan kehendaknya kepada hal-hal postif dan produktif, dan ada pula yang sebaliknya.

Kedua, rasa sakit hati. Mungkin anda bisa mengatakan ’sakit sekali hati ini’. Namun, bisakah anda menemukan dimanakah letaknya rasa sakit hati itu? Dibawa kerumahsakit pun tidak akan membantu anda menemukan letak rasa sakit itu. Mengapa? Karena sakit hati adanya diawang-awang. Yang bisa menjangkaunya hanyalah perasaan. Liver kita sehat walafiat. Tetapi, mengapa kita merasakan sakit begitu rupa? Karena kita membiarkan perasaan merengkuh rasa sakit itu. Dan membawanya masuk kedalam hati kita. Seandainya kita tidak mengijinkan perasaan menggapainya, maka kita tidak akan merasakannya.

Oleh karena itu, sakit hati sama sekali tidak berhubungan dengan tindakan orang lain; melainkan dengan diri kita sendiri. Jika kita tidak menginginkan rasa sakit hati itu, maka tindakan apapun yang dilakukan oleh orang lain tidak akan berhasil menjadikan kita sakit hati. Ada orang yang menghina anda sebegitu rupa; namun, anda tidak mengijinkan perasaan membawa sakit hati. Maka anda akan tenang-tenang saja. Ada orang yang menggosipkan tentang kekurangan-kekurangan anda. Dan tentu saja, gosip baru enak kalau ditambah dengan bumbu-bumbu, bukan? Sehingga, dilingkungan anda terbentuk opini yang sedemikian buruknya tentang anda. Anda sakit hati? Tidak, jika anda tidak mengijinkan sang perasaan melakukannya. Sekalipun tidak semua yang mereka katakan tentang anda itu benar. Artinya, ada bumbu tambahan yang dilebih-lebihkan. Jika anda benar-benar tidak seperti yang mereka katakan; maka itu tidak akan terlalu berpengaruh kepada baik atau buruknya diri anda. So what?

Ketiga, pembalasan. Anda boleh melakukan pembalasan dengan 3 syarat; kalau anda lebih kuat, kalau ingin membuat dendam baru, dan kalau anda kurang kerjaan. Kalau mereka lebih kuat dari anda, dan anda ngotot untuk melakukan pembalasan itu berarti anda bunuh diri. Jadi, melakukan pembalasan kepada pihak yang lebih kuat itu sama sekali bukanlah tindakan yang cerdas. Jika anda benar-benar cerdas, lebih baik lupakan saja itu yang namanya balas dendam. Buang jauh-jauh sifat dendam, dan anda akan hidup dengan tentram.

Mungkin anda bisa membalas dendam. Sehingga ketika dendam itu terbalaskan, hati anda sembuh dari sakit. Hey, harap diingat; pembalasan anda bisa menumbuhkan dendam lain dihati mereka. Kemudian mereka membalas lagi kepada anda, lalu anda kembali membalasnya. Maka jadilah dendam itu berputar-putar sampai tidak tahu kapan saatnya untuk berhenti. Sehingga, anak keturunan kita harus ikut menanggung dendam yang sama; meskipun mereka tidak tahu menahu apa penyebabnya. Maukah anda mengorbankan anak cucu untuk sebuah dendam yang anda buat dengan orang lain? Tidak. Baguslah itu. Jadi, mari kita lupakan dendam kesumat itu. Cukup sampai disitu saja.

Lagipula, anda bukanlah orang yang kekurangan pekerjaan. Ada seribu satu hal penting yang membutuhkan curahan perhatian kita. Dengan melakukan semuanya itu, hidup kita menjadi lebih berarti. Jika kita membuang-buang waktu, tenaga, dan perhatian hanya untuk mengurusi dendam; maka semua hal positif yang menanti kita untuk bertindak akan terbengkalai begitu rupa. Sehingga, hidup kita menjadi kurang bermakna. Jadi, bisakah kita mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa; ’kita tidak memiliki waktu untuk membalas dendam’. Oleh karena itu, setiap perbuatan buruk orang lain kepada kita, tidak perlu dibalas dengan perbuatan buruk yang sama. Dengan begitu, selain kita bisa menjadi manusia yang pemaaf; kita akan terbebas dari sesuatu yang kita sebut sebagai ’sakit hati’ itu. Kita juga bisa melakukan banyak hal lain yang lebih berguna dalam hidup ini. Jadi, perlukan membawa-bawa dendam ini disepanjang hidup kita?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Apa yang dilakukan orang lain kepada kita mungkin memang penting. Namun, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita menyikapinya. Jika kita bersikap dengan cara yang tepat; tindakan apapun dari orang lain akan menjadikan nilai hidup kita semakin tinggi.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

16 comments

  1. Memang bukan perkara mudah untuk memaafkan sikap orang lain yang membuat sakit hati kita…

    Kita harus belajar dari Kekuatan Harum Bunga Mawar.

    Jika Bunga Mawar itu terinjak orang, maka justru semakin bertebaran HARUM MEWANGI, yang melekat di kaki orang yang menginjaknya.

    Semoga kita bisa memiliki Kekuatan Harum Bunga itu di dalam diri kita.

    Artikel yang bagus Kang Dadang.

    Salam dari Surabaya.

  2. kalau pak Wuryanano mengibaratkan bunga Mawar yg terinjak orang, saya ingin mengibaratkan seseorang yang mampu tetap “INDAH” diantara orang2 yg saling membenci dengan bunga Teratai. bunga teratai tetap terlihat indah walau ia tumbuh dari kubangan lumpur di dasar kolam…

  3. Menghilangkan dendam dan sakit hati bukan perkara mudah. Banyak hal yang menyebabkannya. mungkin ada satu komponen lagi yang ingin saya usulkan kepada Bp. Dadang yaitu egoisme didalam diri kita yang menyebabkan dendam sulit hilang. Setidaknya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghilangkan dendam yaitu koreksi selalu kesalahan diri kikta sendiri dan selalu melihat orang lain dari sisi kebaikannya.

    Salam sukses buat Mr. Dadang

  4. #1. Pak Nano terimakasih. Salam hormat.
    #2. Senasana, ternyata didunia ini begitu banyak ‘keindahan’ ya.
    #3. Pak Heri. You have a verygood point.

    Salam,
    dadang

  5. dendam itu ibarat racun dalam hati…maka diperlukan sikap “maha pemaaf” yang akan menjadi imun agar hati kita senantiasa bersih…saya sangat percaya, kalau tidaklah seseorang hancur atau jatuh karena perbuatan orang lain, melainkan karena perbuatan dirinya sendiri…

    Artikel yang bagus kang dadang, langsung menyentuh pusat kesadaran.

    Salam,

  6. Debbie Sianturi

    Dendam hanya membuangbuang waktu saja. Indonesia dalam masa perbaikan. Saya yakin menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat adalah yang terbaik daripada menghabiskan waktu untuk menrancang balas dendam.
    Sadarilah! Memang kita tidak hidup sendiri! Seringkali cara pandang kita berbeda dengan orang lain! Berilah kesempatan kepada orang lain! Waktu yang membuktikan apakah pandangan dia itu berguna untuk masyarakat atau tidak.
    Intinya, antisipasi-lah setiap keadaan! Hindari menjadikan manusia sebagai korban percobaan. Setiap saat berpikir sebelum bertindak!

    Semoga sukses!

  7. Sakit hati dan dendam itu manusiawi kok, ngga usah di tolak, namanya juga manusia punya harga diri dan perasaan,diterima aja….tapi setelah itu kitalh yang menentukan mau berapa lama dia ada dalam jiwa kita sebulan,setahun atau sampai kita minta Tuhan ‘ memperhitungkan ; nnya di akhirat nanti…..atau kita maafkan saja dan biarlah Tuhan yang membalasnya karena kalau kita yang balas kita bisa berbuat zalim / tidak adil…cuma bisa berdoa dan menjauh dari trauma selebihnya hanya waktu yang akan menyembuhkan…

  8. Jika kita disakiti orang, bukan main rasa sakitnya, sampai-sampai jantung dan hati terasa ngilu… pada awalnya saya pun sulit menghilangkan dendam. tapi setelah merenung, saya sadar, bahwa dendam dapat menghancurkan diri sendiri. pikiran kacau, penuh amarah, dan yang paling merugikan adalah “Kita memikirkan orang lain lebih banyak ketimbang memikirkan diri kita sendiri”, rugi bukan? semoga kita semua menjadi mulia di mata Tuhan, salah satunya karena kita memaafkan mereka yang telah menzhalimi kita…

  9. jika orang yg kita cintai melakukan kesalahan apakah kita jg bisa memaafkan meskipun sulit tp harus dicoba tp apabila kesalahan itu terulang lagi apa yg harus kita lakukan ??? hati yg terluka meskipun berangsur2 sembuh tp tetap saja meninggalkan bekas …..

  10. gk mudah merubah warna putih jd hitam

  11. Terry Andriani

    q suka banget dengan pembahasannya…
    Semoga,,apabila ada orang yang sedang dendam membaca artikel ini,,ia dapat dipulihkan…
    Terima kasih juga kepada Tuhan yang telah memberi topik yang baik untuk hari ini..

  12. Subhanallah ,thanks Kang Dadang 🙂
    Dulu tahun 1988, aku juga dendam sama pembantu laki2ku,waktu itu aku SD kelas 6, keluargaku punya pembantu laki2 (usianya sekitar 25 thn), aku tidak suka karena dia tidak sopan kepada kakak dan kepadaku,aku tipe melawan eh hidungku ditonjok, kalau papa mamaku lagi pergi dia pernah menendangku, menjepit tanganku di pintu, jadi biar aman aku sering mengunci diriku di kamar (serasa hidup serumah dengan harimau) ,kadang aku menahan lapar dan haus, dan baru berani keluar saat papa dan mamaku pulang dari kantor.

    Kakak dan adikku takut untuk melaporkan perbuatan pembantuku pada orang tua kami, aku jadi pemurung dan pemarah di rumah,tapi aku ceria dan juara kelas di sekolah
    .
    Papaku suka kesal, kepadaku dan menasihatiku agar jangan mengurung diri terus,tapi untuk berterus terang pada ortu kenapa berat sekali ya?
    Pembantuku semakin menjadi2 menyiksaku, aku pernah ditendang sampai aku terjungkir/mental ke atas kasur,langsung aku lari keluar rumah,adikku hanya melihatku tidak bisa membantuku,adikku waktu itu kelas 4 SD,rumah sering sepi karena papaku Kepala Kantor,dan mamaku ketua Darma Wanita,sibuk luar biasa,mereka tadinya tidak tau anaknya disiksa

    Ketika SMP aku dioprasi sinusitis,dokter heran kenapa tulang hidungku bengkok,akhirnya aku mengaku pada papaku mungkin akibat ditonjok pembantuku,papaku marah (kepada pembantuku,tapi saat itu pembantuku sedang pulang kampung) katanya kenapa aku tidak cerita?

    Saat ini aku sudah menikah, dan aku tidak tahu kabar bekas pembantu papaku,tapi justru keponakan pembantu yg pernah menyiksaku kini menjadi pembantuku,aku bersikap baik kepadanya tidak pernah menceritakan perbuatan pamannya padaku.
    Tapi kalau melihat berita anak2 yg disiksa, saya suka sedih dan gampang terharu.

    Biar Allah yg akan membalas pembantuku itu, di akhirat nanti.
    Teman2 jagalah anak2 kita,sayangi mereka,usahakan punya pembantu yang baik,dan luangkanlah waktu dgn anak anda,dengarkan mereka…OK thanks ya,

  13. Dendam suka hilang dan muncul,seperti bom waktu, kalau ada pencetusnya kadang2 dendam bisa muncul lagi, semoga kita termasuk orang yang bisa memaafkan, amin

  14. sy sudah berusaha memaafkan org yg menyakiti sy apalagi dekat dg diri kita….ketika sudah hampir sembuh…tiba2 terulang lagi kejadian yg sama….dan berulang lagi….bgmna cara menghilangkan rasa sakit hati yg bertubi2….pdahal sebelumnya sya sudah hampir bisa melupakannya….trims atas tipsnya pak dadang…

  15. Dadang Kadarusman

    Bu Ika dan Bu Titik,
    Memang tidak mudah kok untuk menghapus dendam khususnya jika ‘kelakuan orang itu diulang-ulang’. Mengurangi interaksi dengan orang itu mungkin akan membantu. Tetapi jika dengan satu atau lain alasan kita tidak bisa ‘menjauh’ atau berpisah dari orang itu, maka tidak ada vaksin lain yang bisa menjaga perasaan kita selain keyakinan bahwa untuk setiap perbuatan buruknya, seseorang akan cepat atau lambat memperoleh ‘imbalan’ sepadan kok. Tidak perlu kita yang melakukannya. Sebaliknya, kebaikan yang kita lakukan (termasuk mengikhlaskannya) pasti berbalas kebaikan yang lebih banyak secara kontan dan berkesinambungan. Makanya, saat kita ikhlas dan pasrah kepada kehendakNya, secara langsung kita merasa tenteram dan damai dengan perasaan hati yang ringan. Semoga.