Saturday , November 1 2014
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Apakah Kesuksesan Selalu Berkorelasi Dengan Uang?

Apakah Kesuksesan Selalu Berkorelasi Dengan Uang?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Anda orang yang sukses? Jika ya. Berarti anda banyak uang. Setidaknya, begitulah yang ada dalam benak begitu banyak orang. Seseorang layak disebut sebagai orang sukses jika memiliki banyak uang. Jika uang yang dimilikinya tidak banyak, rasanya janggal mengait-ngaitkan orang itu dengan sebuah kesuksesan. Sewaktu saya masih kecil, guru ngaji saya mengatakan bahwa; ”orang kaya itu sungguh beruntung,” katanya. ”Karena, dengan kekayaannya, dia bisa menjadi manusia yang banyak memiliki pahala. Sebab,” lanjut beliau. ”Dengan kekayaannya itu, dia bisa berbuat begitu banyak kebajikan.” Kekayaan bisa membantu manusia menuju tempat terhormat disamping singasana Tuhan, kelak ketika mereka kembali kepada jati diri sesunggunya sesudah mati. Dengan kata lain; orang kaya itu enak didunia dan enak juga diakhirat. Tetapi, benarkah selalu demikian?

Dalam pelajaran hari selanjutnya, pak guru mengatakan bahwa: ”orang kaya itu sungguh merugi,” katanya. ”Karena, dengan kekayaannya dia bisa menjadi manusia yang banyak memiliki dosa. Sebab,” lanjut beliau. ”Dengan kekayaannya itu, dia bisa berbuat begitu banyak kesalahan.” Jadi, menjadi kaya itu sebenarnya baik apa buruk? Beliau bilang; ’menjadi kaya dengan cara yang baik adalah baik, sedangkan menjadi kaya dengan cara yang buruk adalah buruk’. Oh, jadi kaya bukanlah ukuran baik atau buruk, melainkan; bagaimana cara dia menjadi kayalah penentunya.

Seseorang yang memandang kekayaan semata sebagai ukuran sebuah keberhasilan mempunyai peluang untuk terjerumus kepada konsepsi yang salah. Bahwa hidup ini is all about being rich. Sedangkan ’bagaimana caranya’ seringkali terabaikan. Oleh karena itu; tidaklah mengherankan jika begitu banyak orang yang silau dengan kekayaan seseorang, tanpa mempedulikan ’bagaimana’ orang itu sampai kepada pencapaian material itu. Sehingga, manusia-manusia yang melakukan segala cara untuk mendapatkannya tetaplah dianggap manusia bermartabat dan terhormat. Repotnya lagi, lingkungan kita yang terlanjur hedonis ini seringkali mencibiri orang-orang yang memiliki uang pas-pasan, meski mereka senantiasa menjaga dirinya dari tindakan-tindakan tak terpuji. Kadang-kadang mereka dianggap manusia terbodoh didunia. ”Memiliki kesempatan kok tidak dimanfaatkan,” begitu kita seringa berkata. Itulah sebabnya, banyak orang baik terseret oleh arus sesat seperti itu. Sebab, kekayaan memberikan banyak kenyamanan. Siapa sih yang tidak ingin hidup nyaman?

Dihari lain guru mengaji saya bilang bahwa:”orang kaya itu paling cepat menjalani pemeriksaan diakhirat,” katanya. ”Karena, buku penilaian malaikat dipenuhi laporan daftar kebajikan yang pernah diperbuatnya semasa hidup. Sehingga,” lanjut beliau. ”Dengan sejumlah kebajikan itu, mereka layak mendapatkan tempat disorga Tuhan.” Lagipula, mengapa Tuhan harus membiarkan orang-orang baik terlalu lama menunggu untuk itu?

Dihari lain guru mengaji saya bilang bahwa:”orang kaya itu paling lambat menjalani pemeriksaan diakhirat,” katanya. ”Karena, dalam pemeriksaan itu; Tuhan mempertanyakan setiap jenis kekayaan yang dimilikinya. Semakin banyak kekayaannya, semakin panjang daftar periksa dan pertanyaan yang Tuhan ajukan. Sehingga,” lanjut beliau. ”Orang yang paling kaya, paling lama diperiksa.” Konon pertanyaan Tuhan tentang kekayaan seseorang hanya dua macam. Yaitu, pertama; bagaimana caranya dahulu kamu mendapatkan kekayaanmu itu? Dan kedua, bagaimana caranya kamu membelanjakan kekayaanmu itu?

Untuk pertanyaan pertama, Tuhan hanya mengharapkan sebuah jawaban yang menegaskan bahwa seseorang mendapatkan kekayaannya dengan cara yang benar. Bukan dengan mengambil hak orang lain. Atau merugikan pihak lain. Atau menindas. Menipu. Memanipulasi. Atau mengemplang hutang sambil berfoya-foya. Jadi, orang-orang yang sengaja berutang kemudian berpura-pura bangkrut padahal rekening kekayaannya ada dimana-mana tentu sulit untuk membohongi Tuhan. Dan orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan tentu akan kebingungan ketika harus berhadapan dengan Tuhan. Sedangkan, untuk pertanyaan kedua Tuhan hanya mengharapkan sebuah jawaban yang menegaskan bahwa seseorang menggunakan kekayaannya untuk berbuat kebajikan. Bukan menindas dan memperbudak orang lain. Atau memperalat. Atau menjajah manusia lain.

Selintas, pelajaran-pelajaran ini seolah agak saling bertolak belakang. Namun, jika semuanya dikombinasikan ternyata menjadi sebuah pelajaran yang sederhana. Dan pelajaran itu berbunyi; ”Kekayaan yang didapatkan dengan cara yang baik, dan dibelanjakan dijalan yang baik akan menjadikan hari esok seseorang lebih baik. Sedangkan, kekayaan yang didapatkan dengan cara yang buruk atau dibelanjakan untuk hal-hal yang buruk; pasti menjadikan hari esok seseorang sangat buruk.”

Oleh karena itu, kesuksesan seseorang lebih banyak ditentukan oleh bagaimana cara dia menjalani kehidupannya; bukan kekayaannya. Sebab, orang-orang yang menghabiskan umurnya untuk menemukan restu Tuhan, tentulah orang-orang yang sukses itu. Meskipun orang itu tidak kaya. Karena Tuhan pastilah tidak mata duitan. Jadi, meskipun jumlah uang orang itu tidak melimpah ruah; Tuhan pasti suka kepadanya. Sedangkan, orang-orang yang dalam hidupnya memancing-mancing kemarahan Tuhan, tentulah bukan orang-orang yang sukses itu. Meskipun orang itu kaya. Sebab, Tuhan tidak selalu melihat hasil akhir, melainkan proses perjalanan orang itu untuk mencapai akhir hidupnya. Jadi, meskipun jumlah uang orang itu melimpah ruah; Tuhan belum tentu suka kepadanya. Sebab, jika uang itu didapatkan, dan dibelanjakan dengan cara yang tidak disukai Tuhan; pastilah tidak ada nilainya dimata Tuhan.

Kekayaan bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan. Sebab, menghubungkan kesuksesan seseorang dengan jumlah uang yang dimilikinya; sama saja dengan merendahkan martabat orang itu. Itu berarti bahwa kita lebih menghargai uangnya dari pada nilai kemanusiaannya. Karena, jika kita mengukur keberhasilan seseorang dari uangnya, maka kekaguman kita terhadap orang itu akan dengan serta merta luntur tepat disaat kita mengetahui bahwa ’ternyata, orang itu tidak sekaya yang kita kira….’

Lebih berbahaya lagi jika cara berpikir seperti itu akhirnya mendorong orang untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji. Hanya gara-gara kita menganggap mereka banyak uang, lalu mereka berusaha untuk membenarkan dugaan kita dengan cara yang salah. Saya pernah membaca dikoran, seorang manusia terhormat berkata; ”Bagaimana saya tidak berusaha keras mencari uang? Wong setiap organisasi masa yang datang ke rumah saya selalu meminta sumbangan. Mereka pikir saya punya banyak uang. Mana percaya mereka, kalau saya katakan tidak punya uang? Jadi, saya kasihlah mereka itu uang.” Mengenaskan, bukan?

Mari kita berhenti untuk menjadikan jumlah uang dan kekayaan sebagai ukuran keberhasilan. Sehingga kita bisa lebih berfokus kepada tindakan-tindakan yang positif. Dan terhindar dari menghalalkan segala cara untuk sekedar mendapatkan uang yang banyak. Jika anda terpilih menjadi karyawan teladan di perusahaan. Meskipun pendapatan anda pas-pasan; jangan ragu untuk menyebut diri anda orang sukses. Dan percayalah, tidak ada gunung yang terbentuk begitu saja. Dia tumbuh dari anak gunung menjadi gunung besar yang menjulang. Begitu pula dengan kesuksesan. Sekecil apapun, itu akan menjadi bibit bagi kesuksesan besar anda dimasa mendatang. Itu jika anda tidak tersilaukan oleh uang. Sebab, jika uang menjadi segala ukuran kesuksesan anda; maka anda tidak akan segan untuk melakukan cara apapun agar bisa mendapatkannya. Kita tidak usah malu untuk mengakui bahwa uang kita tidak banyak. Jika kita bisa mandiri. Tidak menjadi benalu bagi orang lain. Maka nilai kesuksesan kita sama sekali tidak berkurang.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan kaki:
Jika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang; sekalipun uang kita menjadi banyak, rasanya kita tidak layak untuk disebut sebagai orang sukses.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 atau 0812 19899 737.

14 comments

  1. Ya, sukses yang sesungguhnya dibentuk dari hal-hal baik setiap waktu,…………….

    artikel yang sangat menarik,……

    http://www.000webhost.com/54633.html

  2. Salam kenal Kang…

    kalau saya boleh milih nih kang…
    saya lebih milih hidup kaya di dunia
    jadi bisa lebih leluasa ngumpulin bekal
    bakal nanti kaya di akhirat he he…

    Money is not everything.. BUT
    You can’t do anything without money!!

    Setuju???

  3. Trisno Subekti

    ya, kesuksesan adalah melimpahnya harta, namun kesuksesan terbesar adalah ketika anak-anak kita (termasuk murid/siswa)menjadi manusia yg pandai bersyukur.
    terima kasih atas kata-kata bijak yg selalu di sampaikan, semoga menjadi hidayah buat kita semua. Amin

  4. wah, definisi yang sulit,
    kalau harus memilih saya mungkin akan memilih seperti Romo Mangunwijaya, orang kaya yang sesungguhnya bukan kelihatan pada saat dia hidup, tapi pada saat dia meninggal, berapa banyak orang yang mengantar, berdoa dengan tulus, berapa banyak orang yang kehilangan, berapa besar manfaatnya kepada orang lain, dan betapa banyak orang memberikan (perhatian) pada saat beliau meninggal, pada dasarnya kekayaan adalah hukum aksi dan reaksi,kita memberi (dengan kekayaan kita) kemudian orang lain merespon ( dengan produk atau atensi) ; kalau sedemikian besar atensi yang di dapat oleh Romo Mangun, dapatkah kita menaksir kekayaannya sekarang?

  5. ya..
    setiap orang kalaulah ia mau jujur..
    ia tidak pernah menjadi orang miskin???
    kenapa??
    karena ia punya yang Maha Kaya..
    Allah SWT adalah pemilik apa-apa yang ada di alam semesta ini.
    InsyaAllah kekayaan ini jauh melebihi dari ‘kekayaan’ yang ada.

    Nice inspiration..

  6. Debbie Sianturi

    Kesuksesan TIDAK SELALU berkorelasi dengan uang. Uang hanyalah fasilitas untuk melaksankan tugas. Saya sering terkejut jika ada orang bertanya kepada saya berapa mereka dinilai jika melaksanakan tugas. Sangat menyedihkan! Karena orang tersebut hanya melihat pada nilai uang yang saya berikan, BUKAN pada hasil tugas yang ia kerjakan.
    Perlu disadari, memang kita butuh uang dalam kehidupan sehari-hari. Hanya, INGAT! Uang pun dapat menjerumuskan kita ke jurang nafsu biadab! Mungkin terpikir oleh kita dengan uang kita dapat menjadi penguasa di Indonesia ini atau dengan uang kita dapat disegani orang, dengan uang segala hal yang kita ingini terpenuhi. Tanyalah pada diri kita masing-masing, apakah saya membeli barang hanya karena emosi (impulse buying) atau memang barang tersebut dibutuhkan? Dan apakah kita bahagia jika orang hanya menilai kita karena ada nilai uang yang dapat diberikan?
    Sering dalam kehidupan sehari-hari, saya hanya mengantongi uang Rp 20.000 sampai Rp 50.000 dan tidak pernah lebih! Pelit? tidak juga! Hanya saya menguasai diri saya supaya tidak terjerat impulse buying.
    Impulse buying artinya membeli barang hanya karena melihat dan agar berbeda dengan orang lain. Setelah dimiliki dan tidak digunakan, baru sadar bahwa barang tersebut tidak berguna.
    Hal ini terjadi di seluruh dunia dan dapat dikategorikan pada manusia yang m engalami gangguan jiwa.
    Maka, anggaplah uang hanya sebagai alat untuk melengkapi! Sementara, kesuksesan dikorelasikan dengan metoda pembuatan sistem dan pola pikir kita.
    Dan kekayaan TIDAK HANYA dinilai berapa jumlah uang yang kita miliki. Ada orang yang punya uang pas-pasan tetapi memiliki wawasan berpikir yang luas, pola kerja dan pola hidup yang sehat dan tenang dalam menghadapi segala hal dalam hidupnya. Itulah SI KAYA!

  7. makanya jadilah orang2 yg pas-pasan :

    waktu butuh biaya hidup….pas ada uangnya
    waktu anak sakit..pas uang dokternya
    waktu anak mo kuliah…pas biayanya
    waktu mo naik haji…pas ongkos hajinya
    pas sedekahnya..pas zakatnya…pas pahalanya…
    pas semuanya…

    Amiiinnnn!!

  8. Debbie Sianturi

    Sesungguhnya, saya TIDAK SUKA dengan komentar ratu yang mengatakan “Makanya ……..”

    Satu penyebab perpecahan di Indonesia ini adalah karena setiap orang saling berkata “Makanya ….”

    Tahukah Anda makna dengan mengatakan “Makanya….”?

    Itu adalah Anda menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar!

    Saya mengatakan dalam komentar bahwa “Ada orang yang punya uang pas-pasan tetapi memiliki wawasan berpikir yang luas, pola kerja dan pola hidup yang sehat dan tenang dalam menghadapi segala hal dalam hidupnya. Itulah SI KAYA!”

    Bukan maksud saya untuk mengatakan “Makanya …..” Biarkan setiap manusia mengatur hidupnya dengan menggunakan pola pikir yang sehat. Siapa yang tahu tentang hidup kita hari ini atau esok atau di kemudian hari? Hanya Allah YME yang memberkati hidup kita jika kita menjaga hidup kita dengan baik dan bertanggung jawab.

    Oleh sebab itu, saya berharap pengomentar ratu untuk meralat komentarnya! Dan saya berharap tidak ada ratu-ratu yang lain, yang senang menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar!

    Terima kasih dan salam sukses luar biasa!

  9. uang adalah tunggangan, kita yang punya kuasa untuk mengendalikannya, bukan dikendalikannya…

    : )

  10. Makanya…saya setuju dengan pendapat bu debbie yang sangat berwawasan luas ini.

    Makanya…semoga semua orang di dunia ini bisa seperti yang bu debbie katakan ini, pasti semua bisa Menjadi Kaya…

  11. Money is not everything. But without money, everything is nothing.

    Nich nemu link motivasi lagi.
    http://www.emotivasi.com

  12. thx for share kang.
    i’ve got something from here…

  13. Sukses bagi saya adalah jika saya mampu membahagiakan orang lain, bisa mensejahterakan kehidupan banyak orang.

  14. Money is not everything, but everything needs money