Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Terlalu Banyak Pekerjaan Atau Kecanduan Hal Yang Tak Perlu?

Terlalu Banyak Pekerjaan Atau Kecanduan Hal Yang Tak Perlu?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Salah satu keluhan yang paling sering kita lontarkan adalah tentang keterbatasan waktu. Kita merasa seolah-olah pekerjaan yang harus diselesaikan itu terlalu banyak. Sehingga hal-hal yang seharusnya selesai, malah terbengkalai. Orang-orang positif memandang keterbatasan waktu sebagai sinyal baginya agar benar-benar memanfaatkan waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bermanfaat. Mereka memastikan bahwa waktunya digunakan dengan efektif, untuk hal-hal yang positif secara produktif. Sedangkan, orang-orang negatif memandang keterbatasan waktu sebagai penghalang, sekalian alasan untuk tidak menyelesaikan tanggungjawabnya. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah memang pekerjaan kita yang terlalu banyak, ataukah kita yang tidak benar-benar menggunakan waktu yang kita miliki untuk hal-hal yang berguna?

Jam sembilan pagi, seorang eksekutif sedang mengadakan pertemuan diruang meeting. Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara dua orang memasuki ruang meeting lain yang letaknya bersebelahan. Sebenarnya, system penyekat yang memisahkan kedua ruang meeting itu sudah cukup bagus, sehingga kalau orang-orang dikedua ruang itu berdiskusi secara normal, suaranya tidak akan tembus keruang sebelahnya. Namun, sering orang datang ke ruang meeting tidak untuk meeting, melainkan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan itulah yang terjadi dengan orang-orang yang berada diruang meeting sebelah itu.

Sekarang sudah jam sepuluh. Tapi, pembicaraan dari ruang sebelah belum juga menandakan pembahasan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Alih-alih, mereka berdua itu asyik-asyik saja mengobrol ngalor ngidul sambil sesekali cekikikan dan cekakakan. Jam makan siang hampir tiba. Kandungan ceritanya masih seperti acara gossip program infotainment. Hebat sekali. Disaat orang-orang normal bekerja secara produktif, mereka mengambil langkah sebaliknya. Jika anda mengira bahwa kisah ini sekedar rekayasa belaka, anda keliru. Dan dalam kejadian itu, sang eksekutif adalah atasan langsung dari salah satu orang yang berada diruang sebelah itu. Permasalahannya bukanlah apakah kita bisa bersembunyi dari atasan atau tidak. Bukan pula apakah waktu itu disia-siakan dengan mengobrol yang tidak jelas atau melakukan hal lain yang kurang bermanfaat. Melainkan apakah kita benar-benar bertanggungjawab dengan waktu kita?

Ini sangat ironis. Karena, kita seringkali mengatakan kepada atasan bahwa kita tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan begitu banyaknya tugas ini dan itu yang dibebankan perusahaan kepada kita. Seperti yang juga dikeluhkan oleh si perumpi yang ketahuan atasannya tadi. Dia mengeluhkan terlalu banyaknya pekerjaan; sementara disaat seharusnya dia bekerja, dia malah menyia-nyiakan waktunya untuk sesuatu yang sama sekali tak berguna buat perusahaan yang membayarnya. Tidak juga bisa menjadikan dirinya tambah pintar, atau lebih terampil.

Ada juga orang yang berkata;”Semua pekerjaanku kan sudah selesai. Soal sisa waktu yang ada, itu urusan gue!” Jika kita mendengar pernyataan semacam ini, perlu diuji kebenarannya. Betulkah pekerjaan orang ini sudah selesai? Atau, barangkali memang perusahaan telah salah mempekerjakan orang. Dijaman ini perusahaan membutuhkan orang yang tidak hanya terampil. Tetapi juga penuh inisiatif. Orang-orang yang sekedar terampil mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan juklak. Sedangkan orang-orang yang melengkapi keterampilannya dengan inisiatif; bukan sekedar akan menyelesaikan pekerjaan, melainkan datang kepada atasannya dengan gagasan-demi gagasan. Sebab, orang-orang yang penuh inisiatif tidak perlu menunggu sang atasan untuk menyuruhnya melakukan tugas ini dan itu. Dia sendirilah yang berinisiatif untuk itu. Lagi pula, mana ada atasan yang bisa selamanya mengawasi dan menyuapi setiap bawahan?

Para bijak bestari sudah sejak lama menemukan sebuah artefak yang berisi tulisan kuno. Tulisan itu berbunyi ‘Fa-idzaa faroghta fanshob’. Jika diterjemahkan secara bebas kalimat itu berarti; ‘Jikalau engkau telah menyelesaikan satu hal, maka berpindahlah dengan sungguh-sungguh kepada hal berikutnya.’ Dengan kata lain, artefak itu mengingatkan kita tentang betapa banyaknya hal yang menunggu untuk kita tangani. Sehingga, sesungguhnya kita tidak memiliki cukup alasan untuk berhenti berkarya. Oleh karena itu, orang-orang yang mengikuti nasihat ini bersedia berpindah dari satu tugas kepada tugas lain. Dari satu aktivitas kepada aktivitas lain. Dari satu pencapaian, kepada pencapaian lain.

Beberapa tahun yang lalu, ada iklan mobil ditelevisi. Diakhir iklan itu muncul sebuah tag line berbunyi; ‘For those who know, there is no finish line’. Bisakah anda membayangkan seandainya seorang karyawan mempunyai sikap dan pemahaman seperti itu? Dia tidak akan mengatakan; ‘Pekerjaan gue kan sudah selesai. Gue bebas menggunakan waktu yang gue miliki’. Karena, orang-orang yang berpengetahuan tidak akan pernah menyia-nyiakan jam kerjanya untuk hal-hal yang sama sekali tidak memberikan kontribusi kepada perusahaan, atau tidak membuat dirinya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Mengapa? Karena, orang-orang yang mengerti, tahu bahwa; selama hayat masih dikandung badan, there is no finish line.

Kalau begitu, kapan kita boleh beristirahat? Waktunya istirahat, ya istirahat saja. Dan, disaat kita harus bekerja, ya bekerja. Jika kita bisa menempatkan kedua hal itu saja, kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, dengan prinsip ini, tidaklah mungkin kita mengatakan bahwa pekerjaan kita sudah selesai. Sebab, jika demikian; apa alasan perusahaan masih memperpanjang masa kerja kita? Bukankah tidak ada gunanya bagi perusahaan? Ngapain mempekerjakan karyawan untuk suatu pekerjaan yang sudah selesai?

Banyak orang yang mengatakan;”Jika saya memberi lebih kepada perusahaan, apa imbalannya untuk saya?” Sounds familiar ya? Sejauh yang saya tahu, orang yang berkontribusi lebih mendapatkan imbalan lebih. Hanya saja, imbalan tidak selalu berupa uang. Sebab, ketika seorang atasan menepuk bahu bawahannya karena hasil kerjanya lebih baik dari teman-temannya; itu adalah suatu imbalan. Ketika para pelanggan lebih puas dengan pelayanan kita dibandingkan yang dilakukan oleh teman-teman kita, maka itupun sebuah imbalan.

Jadi, kalau begitu; imbalan itu apa sih? Imbalan is hukum kekelan energi in action. Anda masih ingat? Setiap wujud atau tindakan itu melibatkan energi. Sedangkan energi itu tidak akan pernah hilang. Oleh karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan, selalu ada catatannya. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa apa yang kita lakukan itu baik. Sebab, kebaikan akan berbuah kebaikan. Persis seperti yang dikatakan oleh guru ngaji saya, bahwa; “Suatu hari nanti, seluruh umat manusia akan dibangunkan dari kuburnya. Dan pada hari itu, akan diperlihatkan kepada mereka balasan atas pekerjaan mereka. Barangsiapa yang melakukan kebaikan, meski hanya sebesar biji wijen, niscaya dia akan mendapatkan imbalannya.”

Dalam kehidupan duniawi, tidak semua perbuatan baik mendapatkan imbalan yang pantas. Perusahaan banyak yang pelit kepada karyawan. Atasan banyak yang tidak adil dalam mengambil keputusan. Teman, banyak yang mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya sendiri. Sedangkan Tuhan, tidak pernah keliru dalam menilai. Dan memberi imbalan. Hitungannya dijamin benar. Kalkulasinya pasti berakurasi tinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam artefak yang ditemukan oleh para bijak bestari tadi ada tulisan berikutnya yang berbunyi: ‘Wa-ilaa robbika farghob.’ Setelah dicari tahu apa artinya, ternyata itu adalah lanjutan dari nasihat tadi, yang berarti “Dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menggantungkan harapan.”

Oh, ternyata tulisan diartefak itu mengajak kita untuk terus berkarya, hingga sebanyak mungkin potensi diri kita yang terdayagunakan. Agar banyak manfaat yang bisa kita tebarkan. Sedangkan imbalannya? Mungkin kita dapatkan secara kontan didunia. Atau, mungkin langsung dimasukkan kedalam rekening tabungan kita untuk bekal diakhirat kelak. Sebab, seperti pesan yang tertulis diartefak itu; setelah menyelesaikan suatu kegiatan yang baik, sebaiknya kita mulai melakukan kegiatan baik lainnya. Menyelesaikannya. Lalu mulai lagi dengan kegiatan baik lainnya lagi. Terus menerus begitu. Mumpung kita masih punya waktu. Karena, Tuhan sedang mengobral imbalan. Meski kebaikan yang kita lakukan itu kecil saja, imbalannya tetap ada. Dan bermakna. Mau?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Sebelum mengeluhkan bahwa waktu yang kita miliki tidak cukup, lebih baik terlebih dahulu memastikan bahwa kegiatan yang kita lakukan cukup berharga untuk mengisi waktu yang sedikit itu.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

9 comments

  1. Saya ingat dari salah satu tulisan Gede Prama yg mengatakan demikian;

    “Sebab utama kita berada di bumi ini adalah untuk memberi.
    Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih banyak.
    Ada 3 tangga emas kehidupan; I intend good, I do good and I am good.
    Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik, kemudian saya menjadi orang baik.
    Yang baik-baik itu bisa kita lakukan, bila kita konsentrasi pada hal memberi,”

    Berkarya, menyumbangkan pemikiran, juga merupakan kegiatan memberi yg pada suatu saat akan membawa efek balik bagi si pelakunya…

    Thanks pak Dadang… banyak sekali artikel2 bermanfaat yg telah di sumbangkan buat kita2 sebagai pembaca setia… semoga apa yang telah pak Dadang karyakan membawa efek positif buat banyak orang.

  2. Artikel Pak Dadang luar biasa,..
    saya akan muat linknya di website saya

  3. One more of some best points for you Kang…
    Terima kasih sudah mengingatkan kembali Surat ke 103 (Al ‘Ashr) dalam hidup saya…

  4. Matur Nuwun ya Pak Dadang.
    Sharing ilmu yang g pernah abis2 nya.
    SEmakin dibagi… eh..smakin bertambah ilmunya..
    Siip

  5. saya setuju banget nih kang dadang.

    tapi koq seolah semuanya dipersembahkan ‘hidup dan mati’ untuk perusahaan. lha yang untungkan yang punya perusahaan.

    eh, masih ada paragraf terakhir.
    ya..ya.. ana faham.. (sambil manggut2)

    kayaknya saya juga pernah baca artefak itu deh..
    🙂

  6. Dadang Kadarusman

    #1. Pak Senasana. Terimakasih telah menambahkan. That’s great!
    #2. Pak Anang, thanks a lot. Silakan Pak.
    #3. J@2, thanks a lot. You deserve to get that.
    #4. Pak SyafiQ, Sami-sami Pak. Amien. Terimakasih.
    #5. Pak Wahyu, Yes. Hidup kita tidak untuk siapa-siapa kecuali bagi kita sendiri kan Pak ya. And yes, that’s the one that you and many other people have read, for sure.

    Salam,
    dadang

  7. Artikel yang sangat inspiratif pak..terima kasih telah berbagi, saya bersyukur menemukan web ini..

  8. Subhanallah, indah dan menarik sekali pak Dadang, trims telah menulis dengan sangat inspiratif..

  9. mau2, iya tidak ada balasan kebaikan melainkan kebaikan, HIDUP KEBAIKAN..!!!