Friday , September 25 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Simply A Terimakasih

Simply A Terimakasih

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Anda tentu masih ingat tentang frase ‘tidak tahu terimakasih’. Sebuah sebutan yang biasa kita gunakan untuk menggambarkan mereka yang melupakan orang-orang yang telah berjasa kepadanya. Tentu, ini bukan karena mereka tidak tahu bahwa seharusnya mereka berterimakasih, tapi; egonya terlampau besar untuk bisa mengakui hal itu. Lagi pula, mengapa harus berterimakasih jika hal itu justru akan menunjukkan seolah-olah kerberhasilan yang selama ini kita raih itu bukan dari hasil usaha kita sendiri. Padahal, sesungguhnya yang namanya ‘hasil usaha sendiri’ itu tidak ada. Hanya gara-gara anda membeli sendiri sayur ke pasar. Lalu mencuci. Dan kemudian memasaknya hingga matang. Anda tidak bisa serta merta menganggap bahwa anda menyediakan makanan itu sendiri. Memangnya, siapa yang bersedia belumur lumpur untuk menanam benih sayuran itu ketika masih berupa biji-bijian. Siapa yang bersedia membebani pundaknya membawa sayuran itu dari tengah sawah menuju kepasar didekat rumah? Dan siapa yang sudah memeras keringat memasangkan saluran air untuk mencucinya dipancuran keran air rumah kita?

Seorang sahabat bercerita tentang temannya dimasa lalu. Disaat segalanya masih serba alakardarnya, konon dialah yang memberikan bantuan ini dan itu kepada sang sahabat. Bahkan, ketika sahabatnya tidak memiliki sedikitpun makanan untuk disantap; dialah yang bersedia berbagi bekal untuk dinikmati bersama-sama. Ketika sahabatnya tengah sakit, dialah yang membawanya kedokter dan membelikan obat. Bertahun-tahun kemudian, sahabatnya sudah menjadi orang sukses. Jauh lebih sukses dari dirinya. Ketika baru-baru ini mereka kembali saling jumpa, segalanya sudah sangat berbeda. Kejadiannya agak kurang menyenangkan sehingga dia berkata dalam hatinya;’haruskah aku mengingatkannya tentang kebaikan-kebaikanku dimasa lalu?” Saya bertanya; ‘untuk apa?’ Dia berkata;”Untuk mengingatkan bahwa dia tidak akan pernah jadi orang kalau dulu tidak ada yang menolongnya!” Matanya melotot; “Dan itu adalah AKU!” lanjutnya.

Semakin kita menyadari bahwa kita ini tidak bisa hidup sendiri, selayaknya semakin kita sadari bahwa diluar diri kita, begitu banyak peran yang dimainkan oleh orang lain. Ada peran orang lain dalam sukses kita. Ada peran orang lain dalam sehat kita. Ada peran orang lain, dalam segala kenikmatan hidup kita. Tapi, kadang kita lupa akan semuanya itu. Kita masih suka mengira bahwa meskipun kita ini mahluk sosial. Mahluk yang hanya bisa meraih kesempurnaan hidup jika dan hanya jika berinteraksi dan saling mengisi dengan orang lain. Namun, kita suka berkata;”ini adalah hasil kerja keras dan jerih payah gue!” Kita lupa, bahwa ada kontribusi orang lain ketika ’sang gue’ bekerja keras dan berjerih payah. Seorang atasan yang sukses, lupa bahwa kesuksesannya sangat ditentukan oleh kontribusi para bawahan. Seorang bawahan yang sukses, berkata; ”Lihatlah, tanpa atasan gue, gue bisa berhasil juga.” Kita, kadang-kadang mengingkari kemahluksosialan kita sendiri.

Kata terimakasih memiliki dimensi vertical, juga horizontal. Secara horizontal, dia merupakan mantra yang paling ampuh untuk menarik energi positif mendekat kearah kita. Ketika kita mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah berbuat kebaikan kepada kita misalnya; maka energi yang keluar dari kata terimakasih itu memberikan vibrasi positif yang membangkitkan kenikmatan disekujur tubuh orang yang ditujunya. Tepat disaat mendengar ucapan terimakasih dari kita; dia merasa bahagia. Dan perasaan bahagia itu menghubungkannya dengan penemuan bahwa; ternyata berbuat baik kepada orang lain itu rasanya membahagiakan.

Itulah sebabnya mengapa orang yang telah berbuat kebaikan secara tulus. Lalu, diberi ucapan terimakasih secara tulus pula cenderung untuk melakukan kebaikan yang lebih banyak. Dan hal ini merupakan satu pertanda lain bahwa kebaikan itu menimbulkan ketagihan. Artinya, orang-orang yang sudah merasakan betapa indahnya berbuat kebajikan cenderung untuk mencari keindahan lain dengan cara berbuat kebajikan lain. Semakin indah. Semakin nikmat. Semakin bersemangat. Sehingga, kebaikan terus meluncur dari jemari tangannya. Laksana mata air yang tidak pernah kering.

Jika kita ingat bahwa Tuhan memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik, maka pastilah kita ingat pula bahwa semakin banyak kita berbuat baik, semakin banyak pula pahala yang Tuhan berikan. Jadi, jika kita semakin bersemangat untuk berbuat kebaikan karena orang berterimakasih pada kita, sesungguhnya yang diuntungkan adalah kita. Sebab, dengan ucapan terimakasih orang itulah kita akhirnya berbuat kebaikan lain. Dan mendapatkan pahala lain dari Tuhan. Jadi, jika kita yang untung gara-gara termotivasi oleh orang yang mengucap terimakasih kepada kita; siapa sesungguhnya yang paling berjasa diantara kita? Siapa yang paling pantas untuk berucap terimakasih? Mereka yang yang kita tolong? Ataukah kita yang menjadi semakin terdorong? Jangan-jangan, kitalah yang harus berterimakasih itu….

Secara vertical, kata terimakasih memiliki makna yang khusus pula. Lagipula, bukankah memang sudah sepantasnya kita berterimakasih kepada Tuhan? Sebab tidak ada satupun peristiwa yang terkait dengan kita tanpa campur tangan Tuhan. Telinga kita, mata kita, tangan kita, jiwa, bahkan hidup kita seluruhnya adalah bukti nyata bahwa terimakasih kita kepada Tuhan bisa menjadi tiada berbatas. Makanya, pantaslah jika Dia berkata: “Jika engkau menghitung-hitung nikmatKu, maka pastilah engkau tidak bisa menghitungnya.” Sampai disini, kalimat itu masih tidak bisa dibantah. Sebab, memang nikmat Tuhan itu begitu melimpah. Sehingga kita tidak mungkin menghitung dan menginventarisirnya satu demi satu. Lagipula, mengapa kita harus menghitungya? Lebih baik mensyukurinya saja. Sebab konon, Tuhan juga mengatakan bahwa; “Sesungguhnya, jika kamu bersyukur; maka Aku akan menambahkan kenikmatan yang disyukuri itu berkali-kali lipat…..”

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Kadang kita mengharapkan orang lain mengucapkan terimakasih kepada kebaikan-kebaikan yang kita lakukan untuk mereka. Namun, kita sering lupa bahwa kitalah yang sesungguhnya harus berterimakasih atas kesediaan mereka menerima apa yang kita lakukan untuk mereka.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

9 comments

  1. Tulisannya sangat bagus pak, setiap minggu saya selalu nunggu-nunggu tulisan dari pak kadarusman, kaya’ menunggu khotbah jumat yang ke-2 tiap minggunya…

    sukses selalu pak

  2. oia, ketika saya baca tulisan ini langsung teringat dengan seseorang yang telah berbaik hati mentraktir saya makan siang, walaupun dia ndak ngomong langsung.
    Smoga semakin banyak orang yang berbuat kebaikan tanpa memikirkan apakah langsung mendapat balasan dari yang dibantu. Ada dimensi ikhlas yang menyertainya..Amin.
    Seorang sahabat pernah bercerita,di kampung halamannya di Lombok ada sebuah keluarga yang terkenal pemurah kepada siapa saja. contoh saja soal makanan yang ada di rumah.. jika waktu makan telah tiba, siapa saja yang bertamu kerumah itu “swwaangat” boleh leh..leh ikutan makan sepuasnya…
    lantas habiskah makanan yang ada? rugikah pemilik rumah??
    lalu sahabat saya ini kembali bercerita..
    anehnya.. semakin banyak tamu yang datang.. semakin banyak pula bahan makanan yang datang kerumah itu untuk dimakan.. kiriman makanan pun terus mengalir ke rumah itu seiring berduyun-duyunnya tamu yang silih berganti bertamu ke rumah..
    Nah.. apa ya gerangan fenomena ini???
    Memberi = menerima -> dimudahkan..

  3. Alhamdulillah, sebuah ucapan singkat yang sangat bermakna, sebagai wujud syukur kita kepada Allah.

    Setuju Kang Dadang kalau kita yang harus berterima kasih kepada orang yang kita tolong, agar kebaikan terus meluncur bak air yang mengalir tanpa henti.

    Salam sukses ……..

  4. lakukan dengan ke ihklasan hati, bersama ucapan terimakasih ……..senang & gembira rasa di hati

    Sukses selalu untuk Pak Dadang

  5. Terima kasih kang Dadang..

    (semoga ini dapat memberi semangat kang Dadang untuk terus menulis)

    Salam sehat,

  6. if you need love, give love. if you need a hug, hug someone. if you need friend, be friendly.if you need money, give some service, the law of giving n receiving is well and alive. THANKS…i enjoy your works. THANKS. I LOVE YOU

  7. Aslam,wrwb..
    Akhirnya saya bisa mampir ke website bapak..maklum saya gaptek.. dulu saya pernah kirim email lewat tempat kerja dan bapak tanggapi.. bahagianya saya…
    Tulisan bapak selalu saya tunggu.. moga saya bisa terus membacanya.. dan semoga bapak mendapat balasan dari Allah SWT, terlepas dalam bentuk apapun.. tks

    salam,
    Taufiq

  8. alo kang Dadang,…
    honestly biasanya saya suka tulisan2 kang Dadang,…tapi… untuk topik ini,saya sedikit kurang sepakat kang..boleh dong..;)

    Sepertinya tulisan kang Dadang ini bagus JIKA hanya ditinjau dari sudut PENERIMA kebaikan dari orang lain,sehingga kita senantiasa DIINGATKAN untuk senantiasa menghargai orang lain…

    tetapi jika ditinjau dari sisi PEMBERI kebaikan maka tulisan ini sepertinya sangat EGO sekali dan menunjukkan KETIDAKIKHLASAN,..bukankah jika kita memberi dg tangan kanan maka sebaiknya tangan kiri tidak perlu tahu..?
    Tangan kiri aja gak dilibatkan,…jadi mengapa harus melibatkan perasaan didasarkan dg pembenaran logika untuk ‘mengungkit-ungkit’ apa yang sudah kita berikan di masa lalu…

    IKHLAS..IKHLAS…IKHLAS
    jika dalam barter kebaikan baik itu pemberi…ataupun penerima bermodalkan ikhlas…hmmm,alangkah indahnya..

    diralat dong kang tulisannya!
    haha
    (sedikit komplain gapapa kan…adik angkatan sekampus ini haha)

    dera
    FA90-itebe juga

  9. Dadang Kadarusman

    #1. Trey. Terimakasih. Khotbah Jumat ya? Untungnya saya bukan pengkhotbah ya Trey. Sukses selalu untuk anda
    #2. Pak SyafiQ, itu bukti lain bahwa memang janji sang maha pemberi itu benar adanya ya Pak. Lebih banyak lagi bukti yang tidak kita sadari sepenuhnya.
    #3. Ibu Yatti. Thank you Bu. Ada yang pernah mengatakan bahwa kebaikan yang paling murah adalah mengucapkan kata ‘terimakasih’.
    #4.Pak Rudi, semoga kesuksesan selalu menyertai anda.
    #5. Pak Wahyu, terimakasih Pak. Anda memberi saya semangat.
    #6.Pak Sopian. Long time hear nothing from you. And now you are with us again. Thank you. We love warriors like you.
    #7.Pak Taufik. Wa’alaikum salam. Kalau begitu saya sama gapteknya dengan anda pak. Hidup gaptek! Gak apa-apa, yang penting bisa melakukan yang perlu dilakukan.
    #8. Dera. Alo, Dera. You know me since very long time ago. Dan saya masih seperti itu. Kadang mengikuti apa yang orang lain yakini. Kadang mengambil pilihan sendiri. Termasuk si tangan kiri yang tidak boleh dikasih tahu tentang kebaikan si tangan kanan itu. Saya memilih untuk tidak diskriminatif. Sehingga, my conception is: ajak sang tangan kiri untuk bersama-sama melakukan kebaikan itu bersama si tangan kanan. Gak apa-apa, karena itu tidak selalu merusak keikhlasan. But, saya setuju dengan bagian lain dari komentarmu. Memang kata terimakasih itu tidak terlampau penting – bagi sebagian orang dengan tingkatan yang tinggi. Namun, untuk sebagian besar manusia yang berada dalam ‘statistical bell curve’ itu membantu memotivasi untuk menemukan kekuatan untuk terus melakukannya kembali. Sifat psikologis dasar itulah sebenarnya yang menjadi dasar system reward and punishment dalam HR Management modern. Itulah pula kenapa temanmu ini mengira bahwa seorang ‘pemberi’ hendaknya tidak mengharapkan terimakasih; melainkan, berterimakasihlah kepada sang ‘penerima’. Barangkali, dengan sikap ini kita tidak lagi bergantung kepada ucapan terimakasih dari orang lain. Itulah saat dimana keihlasan tidak lagi perlu dipertanyakan, karena; kita sudah bergeser dari tengah bell curve ke sisi kiri atau kanan. I like your complain, by the way. Dan, tidak ada kebenaran mutlak yang datang dari manusia seperti kita. So, you are always be welcome to stand accross…
    salam,
    dadang