Saturday , November 1 2014
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Menjadi Manusia Yang Lebih Baik Dari Hari Kemarin

Menjadi Manusia Yang Lebih Baik Dari Hari Kemarin

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Ada sebuah pertanyaan yang agak bodoh. Jika orang ditanya; “Mau pilih untung atau rugi?” Pastilah dia memilih untung. Memangnya siapa diantara kita yang mau rugi? Apalagi kalau ditanya; “Kamu mau bangkrut atau tidak?” Hah! Rugi saja tidak mau, apalagi kalau sampai bangkrut. Ya jelas tidaklah. Tapi, tunggu dulu. Kira-kira, mengapa ada orang yang begitu dungunya hingga bersusah payah menyampaikan pertanyaan pilon itu? Ternyata pertanyaan itu memang layak diajukan kepada kita. Karena, meskipun secara konsepsi kita tidak ingin rugi, namun perilaku kita sehari-hari menunjukkan bahwa kita sedang menuju kepada kerugian. Anda yang merasa tidak pernah rugi dalam berbisnis mungkin menyangkalnya. Namun, benarkah demikian?

Jaman dahulu kala, ada seorang lelaki yang dijuluki sebagai ‘Al-Amien’. Artinya, orang yang terpercaya. Dikemudian hari, Al-Amien ini disebut-sebut sebagai Sang Utusan. Pada suatu hari, beliau melintasi sebuah kota. Kepada orang-orang dikota beliau bertanya; “apakah kalian tahu apa artinya untung, rugi, dan bangkrut?” Sungguh, itu pertanyaan gampang. Sehingga setiap orang bisa menjawabnya dengan mudah. Namun, tak satupun dari jawaban itu yang memuaskan sang utusan. Lalu dia berkata “Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang dihari ini, lebih baik dari hari kemarin. Mereka yang tidak lebih baik dari hari kemarin, adalah orang-orang yang merugi. Sedangkan jika dihari ini dirinya lebih buruk dari hari kemarin, maka mereka adalah orang-orang yang bangkrut.”

Jadi untuk menilai apakah kita untung, rugi atau bangkrut caranya sederhana, yaitu; membandingkan hari ini dengan hari kemarin sebagai acuan. Jika kita bisa menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita sungguh menjadi orang yang beruntung itu. Namun, seandainya kita hanya bisa menjalani hari ini dengan nilai yang setara dengan hari kemarin, maka sesungguhnya kita ini merugi. Apalagi seandainya dihari ini, perilaku kita, sikap kita, cara berpikir kita lebih buruk dari hari kemarin. Maka, kita masuk kedalam kelompok orang-orang yang bangkrut.

Kita cenderung menggunakan jumlah uang, harta kekayaan, dan kesuksesan dalam karir untuk mengukur untung dan rugi. Hari ini, kita diajak untuk melihat untung dan rugi dengan perspektif lain. Dengan menggunakan konsep ‘pertumbuhan’. Yaitu, konsep untuk bertumbuh. Terus bertumbuh. Dan terus bertumbuh dari hari kemarin, menuju ke hari ini, dan melanjutkannya ke hari esok. Konsep ini, tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang sedang membangun kesuksesan non-material belaka. Anda yang tengah berfokus kepada kesuksesan material juga bisa menggunakannya sebagai sarana untuk meningkatkan kinerja kapital anda. Jika anda mendapatkan seribu rupiah kemarin, anda mesti mendapatkan lebih dari seribu hari ini. Jika tidak, maka artinya anda rugi, atau malah bangkrut. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, uang seribu rupiah hari ini nilainya lebih rendah dari seribu rupiah kemarin sebagai konsekuensi dari inflasi. Jadi, hikmah yang diajarkan seribu limaratus tahun lalu ini sungguh sangat relevan dihari ini.

Tapi, memang benar bahwa untuk sesaat kita perlu keluar dari alam materialistik menuju kepada dimensi non-materialistik. Toh, tubuh kita terdiri dari dua bagian penting; fisik dan non-fisik. Komponen fisik dibangun oleh unsur-unsur material. Sedangkan komponen non-fisik disusun oleh unsur-unsur non-material. Oleh karenanya, untuk menjadikan diri kita utuh; kita harus bersedia menembus hal-hal non-material itu.

Dalam perspektif non-fisik, konsep ini mengisyaratkan dua aspek penting. Aspek pertama berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan atau keahlian. Pendek kata, kita ditantang untuk memastikan bahwa pengetahuan kita hari ini lebih banyak atau lebih baik dari hari kemarin. Maknanya? Kita mesti benar-benar menerapkan apa yang biasa kita sebut sebagai ‘long life learning process’. Ibu saya yang tidak berbahasa Inggris menasihatkan;‘Ulah liren diajar’. Artinya, ‘jangan pernah berhenti belajar’. Dan itu betul. Sebab, jika kita berhenti belajar, maka pengetahuan kita dihari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Jika demikian, kita tidak termasuk orang yang beruntung.

Aspek kedua berhubungan dengan perilaku, sikap serta tindak-tanduk kita. Aspek ini bisa menjadi lebih penting bobotnya dari yang pertama. Karena, kita sudah tahu bahwa sikap bisa berarti segala-galanya. Orang yang sikapnya buruk, kemampuan belajarnya juga buruk. Sehingga dengan sikap buruk, kita tidak bisa mengadopsi keterampilan dan keahlian yang lebih baik. Seorang karyawan yang bersikap buruk ditempat kerja, tidak akan bersedia untuk mempelajari hal baru. Menangani tugas-tugas tambahan. Atau melatih diri untuk mengasah keahlian. Seorang karyawan yang berpikiran dan berprasangka buruk pun demikian. Apapapun yang dilakukan atasannya, akan dicurigai dan disikapi dengan buruk.

Sebaliknya, orang-orang yang bersikap baik. Berpikir positif. Membuka diri terhadap kritik. Pastilah akan mendapatkan peningkatan bermakna hampir dalam segala hal. Bahkan, sekalipun memang benar bahwa atasannya memperlakukan dia secara tidak adil. Memangnya, kita bisa selalu bersikap positif untuk setiap tindakan buruk yang dilakukan oleh orang lain kepada kita? Memangnya, kita selalu bisa bersikap positif untuk peristiwa-peristiwa menyakitkan yang menimpa kita? Tentu saja bisa. Mengapa? Karena, kita semua mengetahui dan meyakini bahwa dalam setiap peristiwa; ada sisi baik dan ada sisi buruk. Bahkan, kejadian yang baikpun ada sisi buruknya. Sebaliknya, peristiwa buruk selalu ada sisi baiknya. Itulah sebabnya kita mempunyai istilah; ‘dua sisi mata uang’. Mana ada uang yang hanya memiliki satu sisi? Sikap yang baik akan membantu kita untuk selalu menemukan sisi baik dari hal apapun yang kita hadapi.

Sampai disini, jelas sudah bahwa sesungguhnya, ‘Al-Amien’ mengajari kita tentang sebuah prinsip sederhana, yaitu; “manjadi manusia yang lebih baik, dari hari kehari.” Bisakah anda membayangkan seandainya kita menjadi lebih baik setiap hari? Tentu pencapaian kita akan semakin baik dari hari ke hari juga.

Tapi tunggu dulu. Pelajaran kita belum selesai. Sebab, kedua aspek non material yang baru saja kita bahas itu baru menyentuh alam duniawi. Bagi kita yang meyakini bahwa selain dunia ini juga ada alam akhirat; tentu tidak cukup jika hanya mementingkan dan memperjuangkan urusan dunia saja. Urusan akhirat sama pentingnya. Sehingga kalimat itu selengkapnya berbunyi; ‘menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari dimata Tuhan’. Semakin hari, hati kita semakin bersih. Niat kita semakin tulus. Dan kepatuhan kita kepada kehendak Tuhan menjadi semakin tinggi. Bisakah anda membayangkan seandainya dimata Tuhan kita bisa menjadi hamba yang lebih baik setiap hari? Tentu nilai kemanusiaan kita akan semakin meningkat dari hari ke hari juga.

Dan, jika kita ingat doa yang paling sering kita panjatkan. Doa yang berbunyi; “Tuhan, berikanlah kepadaku kebaikan didunia, dan kebaikan diakhirat.” Tentu kita juga akan sadar bahwa menjadi lebih baik dalam urusan dunia saja, tidaklah cukup. Mungkin kita untung secara duniawi. Pengetahuan kita semakin bertambah. Keterampilan kita semakin tinggi. Penghasilan kita semakin banyak. Rumah kontrakan diganti menjadi hunian cicilan. Sepeda motor beroda dua berubah menjadi mobil. Dari naik angkot menjadi menyetir mobil sendiri. Tapi, kalau nilai akhirat kita tidak menjadi lebih baik apa artinya? Apalagi jika semua peningkatan dan kenikmatan hidup itu semakin menjauhkan diri kita dari aturan Tuhan. Kita untung untuk ukuran dunia, tapi merugi berdasar kriteria akhirat.

Ini sungguh sesuatu yang sangat menakutkan. Menakutkan, karena hidup didunia ini hanya tinggal beberapa saat. Belum tentu umur kita sampai ke tahun depan. Betapapun berhasilnya kita secara duniawi, kenikmatannya hanya bisa dirasakan sementara. Sedangkan akhirat? Dia abadi. Selamanya. Menakutkan jika hanya sempat mengecap nikmat didunia sesaat. Namun, tidak dapat mengecap nikmat akhirat.

Jika nikmat dunia kita bertambah, namun cara kita bertingkah polah semakin buruk; kita benar-benar bangkrut. Hari ini, sudah Tuhan anugerahkan nikmat yang lebih banyak dari hari kemarin. Tapi, hari ini; kita terlenakan dengan kenikmatan itu. Sampai-sampai kita berpikir; ‘kapan lagi menikmatinya’. Lalu kita mengumbar semua keinginan. Oh, bagaimana seandainya Tuhan menjadi marah. Marah karena Dia sudah memberi kita nikmat lebih banyak. Namun, bukannya kita menjadi semakin mendekat. Sebaliknya, kita malah menjadi lebih berani menghujat hukum-hukumNya.

Rugi. Bukanlah tentang berapa uang kita yang hilang. Bangkrut. Bukan tentang bisnis yang tumbang. Melainkan tentang gagalnya diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah. Manusia. Yang beruntung.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Hanya karena merasa diri lebih baik dari orang lain, tidak berarti kita boleh berhenti disini. Karena, kesempurnaan itu tiada lain adalah sebuah proses perbaikan diri yang tidak pernah berhenti.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 atau 0812 19899 737.

9 comments

  1. Allah wants you to go further. He wants every generation to be increasing in happiness, success, and significance. No mattet where we are in life, Allah has more in store. He never wants us to quit growing. We should always be reaching for new hights in our abilities, in our spritual walk, in our finances, careers, and personal relationships. We all have areas where we can come up higher. we may have achieved a certain level of success, but there are always new challenges, other mountains to climb. there are new dream and goals that we can pursue.YOUR BEST DAYS ARE NOT BEHIND YOU. THEY ARE IN FRONT OF YOU. keep pressing forward

  2. bukan sedang berkhotbah, bukan juga seorang ustadz, ternyata seorang professional muda yang mempunyai bakat sebagai seorang pendongeng, atau jangan-jangan mendongengnya lebih jago di banding melobi ^_^ V

    another great “dongeng” from pak kadarusman….

    tapi koq pola penulisan nya agak sedikit belibet dibanding yang sebelum-sebelumnya (atau saya yg lagi oon yah), to be honest, i’m stealing your writing pattern sir, but of course not the story sir!! for improve my business & personal writing (alaahhh, bilang aja buat improve love letter lu trey, ingat Ramadhan)…

    kang ngasih diskusi online gratisan ga’??? maklum lagi dalam meniti, meniti lagi, lagi lagi meniti karir yang belum keliatan juga niy T_T

    keyword buat diskusi nya : B2B for DUMMIES ^_^

    kl boleh kabarin via japri yah kang…

  3. Yups..
    Manusia pembelajar selalu haus belajar untuk mengenali siapa dirinya.
    Hari ini ia belajar..
    Besok pun ia belajar…
    Lusa pun juga belajar….
    Terus belajar untuk menjadi lebih baik dari dirinya sebelumnya….>
    Pelajaran hari ini jadi bekal buat esok dan hari yang akan datang..
    Termasuk juga dalam menulis dan membaca tulisan ini..
    Belajar untuk menjadi penulis.. he..he..

    Bwt Pak Dadang ! Siip Euy.. Matur Nuwun.
    Semoga semakin dimudahkan dalam berbagi “ilmu”nya.

  4. always many thanks for the inspiration
    Kang Dadang mohon ijin untuk meminjam beberapa kata dari artikel-2 kang Dadang untuk dimasukkan dalam rubrik Jumat di Masjid kami. Bagaimana kang?

  5. #1. Pak Sopian, you have a very good point
    #2.Pak Trey, sekedar diskusi itu tidak ada obligasi kan ya. Let’s see, but you know, saya mungin tidak bisa setiap hari buka email. Dan bisa jadi bukan tempat dimana jawaban tersedia
    #3. Pak SyafiQ, kabarnya ilmu itu berceceran karena Sang Maha Berilmu menebarnya dimana saja katanya ya Pak. Kita hanya tinggal memungutinya saja.
    #4. Pak J@2. Silakan Pak. Feel free

    salam,
    dadang

  6. Pak Dadang yang baik budinya.
    Sama seperti teman2 sebelumnya, saya juga minta ijin untuk memposting tulisan bapak kepada teman2 dan group pengajian saya. Saya percaya pak Dadang tidakkeberatan karena ilmu itu semakin dibagi akan semakin banyak sehingga kita akan menjadi lebih kaya. Benar kan pak Dadang yang baik?

    Insya Allah bermanfaat bagi orang2 yang baca tulisan indah pak Dadang.

    Terima kasih,
    Wass.
    Maya

  7. Salut atas pencerahannya,memang manusia selalu lupa akan Allah dan segala kenikmatan yg diberikanNYA.Termasuk mereka yang menentang hukum Allah&dan tdk menjalankan syariat Allah,tp membuat hukum sendiri yg merupakan tandingan thd hukum2 Allah

  8. Pa` Dadang yth,

    Boleh ga artikel dari bapak saya share ke buletin purnawirawan TNI. Kebetulan saya isteri purnawirawan TNI dan suka ngisi artikel. Juga ada majalah/buletin Forum komunikasi fak. Kedokteran maranatha dimana saya bertugas. Kemarin satu artikel “MARI BERBAGI SEMANGAT” saya masukkan ke Forkom FK. Maranatha. Saya minta izin dan sumbernya saya tulis. Trim`s

  9. subhanalloh…
    ijin copy&share pak dadang…
    sayang, kalau ilmu seperti ini dilewatkan begitu saja.
    terima kasih.