Wednesday , January 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Saham Yang Tidak Pernah Turun Nilainya

Saham Yang Tidak Pernah Turun Nilainya

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Konon, berinvetasi sudah menjadi salah satu ciri gaya hidup manusia modern. Orang-orang yang sudah sadar akan pentingnya berinvestasi menanamkan uangnya untuk membeli saham, membeli surat utang negara, atau bemain valas dan berbagai jenis investasi lainnya. Meskipun tujuan berinvestasi adalah untuk mencari keuntungan, namun ada kalanya justru uang yang kita investasikan menjadi berkurang. Memang, para manager investasi bisa membantu kita memaksimalkan laba dan mengurangi resiko rugi. Namun, pasti akan lebih elok lagi kalau investasi kita dijamin selalu menguntungkan. Tidak pernah rugi. Tidak bisa diakuisisi oleh orang lain. Berlaku sepanjang masa. Bahkan setelah kita mati pun keuntungannya tetap mengalir. Tapi, mana ada investasi macam itu?

Pertengahan bulan September lalu, kejutan besar menghantui pasar investasi dunia. Hari itu, kita seolah disadarkan tentang betapa rapuhnya dunia bisnis ini. Sehingga, negara sekuat Amerika pun kelimpungan. Dan, yang lebih mengejutkan lagi, pada tanggal 16 September 2008 Bank Investasi Lehman Brother yang sudah beroperasi selama 158 tahun dinyatakan bangkrut. Pada kesempatan lain, teman saya menceritakan bahwa dia pernah mendapatkan keuntungan sekitar US$2,700.- hanya dalam satu malam. Terpukau oleh ’keberuntungan pemula’ itu; semua uang yang semula akan digunakan untuk membeli rumah dia investasikan demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Dan. Amblas!

Sedangkan pada suatu sore, seorang Kakek tengah berhadapan dengan lelaki muda berdasi disebuah padepokan. ”Maukah engkau kutunjukkan kepada investasi yang sahamnya tidak pernah turun?” tanya sang Kakek. Lelaki itu menatap matanya. Dia tidak pernah percaya kepada rayuan gombal para pengelola keuangan semacam itu. Apalagi ketika si Kakek mengatakan bahwa keuntungannya bersifat abadi. Tidak perlu dimonitor setiap hari. Tidak usah pergi kepasar modal. Tidak perlu membayar fee kepada fund manager.

”Saya tidak percaya,” kata lelaki itu. ”Tapi, sebaiknya kakek katakan saja.” lanjutnya. ”Mungkin itu bisa menjadi hiburan atas kerugian yang baru saja saya alami.” nada suaranya terdengar sinis.

”Kakek tahu penyebab hilangnya kepercayaanmu,” jawabnya. Lelaki itu mengangkat kepalanya. Tatap matanya mengisyaratkan keraguan. ”Karena kamu bertransaski dengan manusia,” lanjut si Kakek.

”Maksud kakek apa?”
”Setiap transaksi dengan manusia tidak dijamin akan menghasilkan keuntungan,” jawabnya. ”Karena, manusia cenderung mengambil kentungan untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Setelah dia sendiri untung, baru dia memikirkan orang lain.” lanjutnya. ”Kalau perlu, manusia membiarkan temannya jatuh kedalam kerugian karena mereka percaya bahwa hukum ekonomi itu berarti keluar sedikit dapatnya banyak….”

”Iya, tapi kalau tidak dengan manusia saya harus bertransaksi dengan siapa? Monyet?” Lelaki itu kesal bukan hanya karena merasa disindir, tetapi juga karena dia tahu bahwa monyet tidak bisa melipatgandakan uangnya.

”Kita mesti bertransaksi dengan Tuhan.” jawab si Kakek. Matanya tertuju lurus menabrak kedua bola mata lelaki itu. Tembus hingga menghunjam ulu hatinya. ’Deg’, lelaki itu merasakan tumbukan dijantungnya. Tuhan? Bahkan dia sudah lama tidak mengingat nama itu. Dia terlalu sibuk dengan urusan kantornya. Bisnis akhir-akhir ini menjadi semakin manja. Tidak bisa berkembang kalau tidak di-ninabobo-kan oleh dirinya secara langsung. Dan pasar modal semakin kurang bersahabat. Sehingga uang yang ditanamnya terancam lenyap. Tapi, dipikir-pikir ada benarnya juga apa yang dikatakan si kakek. Uang yang lenyap dari tangannya berarti keuntungan bagi pihak lain. Oh. Uang itu sungguh tidak menghilang. Dia ada. Tapi, dia berpindah tangan. Dari tangan orang-orang yang bangkrut seperti dirinya. Berpindah ke rekening orang-orang yang untung. Sama seperti ketika dia yang untung. Ada seseorang dibelaham bumi lain yang mengalami kerugian. Duh, inilah rupanya yang dihasilkan oleh ’untung dan rugi’.

”Tuhan mengajarkan konsep untung dan untung.” lanjut si Kakek seolah mengerti apa yang dipikirkannya. ”Jika kamu menginvestasikan uangmu dijalan Tuhan. Atau sekedar berbuat kebajikan untuk sesama. Maka kebajikan itu akan ditransformasikan menjadi lembaran-lembaran saham yang semakin hari-semakin bertambah labanya. Tanpa ada kemungkinan orang lain merebut saham itu dari tanganmu.” Lanjutnya.

Si Kakek kemudian mengatakan bahwa orang-orang yang menerima kebajikan itu diuntungkan. Hidup mereka menjadi termudahkan. Pandangan mereka menjadi tercerahkan. Lalu mereka mencerahkan orang lain lagi. Dan orang yang mereka cerahkan mencerahkan orang-orang disekitarnya. Teruuuuus begitu. Sehingga saham yang kita tanamkan melalui kebajikan itu semakin hari semakin berkembang. Hebatnya lagi, kita tidak harus memiliki uang untuk membeli saham itu. Cukup dengan memasuki lingkaran kebajikan itu saja, kita sudah bisa memiliki saham yang nilainya tidak pernah turun itu. Semakin banyak kebaikan itu kita sebarkan, semakin banyak lembaran saham yang kita kumpulkan. Dan suatu hari nanti; saham-saham itu bisa kita gunakan untuk penebusan atas dosa-dosa kita dimasa lalu. Dan, ketika jumlah saham itu sudah mencukupi untuk menghapuskan semua dosa-dosa kita, maka neraca rugi laba kita menunjukan break even point. Kita kembali menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan. Dan. Kita kembali kepada Fitri. Tepat dihari yang fitri.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Mohon maaf lahir dan batin.

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

12 comments

  1. Investasi dengan Tuhan? Terminologi yang menarik dan agak sulit dinalar,……….
    Paid Review Indonesia
    http://reviewmu.com/?ref=952

  2. Pak Dadang, Selamt Hari Raya Idul Fitri……

    Terima kasih atas renungan-renungannya selama ini….!

  3. Hmm.. pak Dadang… kok sy kurang setuju dg istilah ber-“transaksi dg Tuhan”…
    Istilah ini cenderung akan membuat pola pikir ada suatu imbal balik yg diharapkan…
    ketika kita berbuat suatu kebajikan dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan kita.. maka tepat di saat itu nilai kebajikan kita akan berkurang….
    seandainya kita mampu melakukan kebajikan hanya demi kebajikan itu semata… disitulah nilai ketulusan kita meningkat… 🙂

  4. ass…….
    mau lebaran pada gimana nie kbrnya ????!!!……
    ak sneng dngn tulisan pak dadang. di st selalu mengangkat hal sepele, menjadi sesuatu yang bisa membuka fikiran sehingga mengajak kita untuk merenung. dan hasilnya memang sesuai
    Ok Bgt
    Ak seorang anak yang mempunyai impian. dan kuharap impianku itu bisa ku wujudkan dengan menulis.so plissss help me
    kasih tips donk tuk pemula sprt ak…..

  5. what you value in your life increase in value. what you Value in your God, increase more, God’s company will give the best one. Thanks alot kang Dadang.Taqabbalallahu minna wa minkum

  6. Saya mah kurang satuju kalau dg Tuhan harus ada hitungan untung rugi, kebajikan adalah sesuatau yang rela dilakukan tanpa harus menghitung untung rugi, malah seharusnya di ikhlaskan sajah
    Maaf yah ini mah pemikiran dari orang yang kurang intelek barangkali , tapi saya mah rido sajah kalau berbuat kebajikan mah, sanes kitu kang Dadang ?

    Wilujeng

  7. salam kenal pak Dadang,

    betul sekali pak, berinvestasi dengan Tuhan, berdagang dengan Tuhan tidak akan pernah rugi. Tapi ya itu, gimana memasukkan itu ke dalam kesadaran diri ini. semoga aku termasuk orang yang diberi kesadaran ini. amein.

  8. #1. Pak Anang, Susah dinalar ya Pak? Kalkulator mungkin bukan alat ukur untuk semua hal ya Pak.
    #2. Pak Vincent, terimakasih Pak. Mohon maaf lahir dan batin.
    #3. Pak Wira dan #6 Pak Chipto. Very good Pak. You have a good point. Hanya sedikit orang yang sudah bisa mencapai tingkatan seperti itu. Keep going.
    #4.Antary Smart. Terimakasih. Jikapun ada tips yang saya bisa sampaikan, its very simple; be unique, like yourself. That’s it.
    #5. Pak Sopian. Amien Pak. Taqabballaahu minna waminkum.
    #7. Pak Edy. Salam kenal Pak. Saya turut mengaminkan doa Bapak.

    Salam,
    dadang

  9. Salam Kenal Kang Dadang, wah baru hari ini saya baca tulisannya dari Milis. Mungkin analogi nya untuk berinvestasi dengan Tuhan seperti di Al-Qur’an Surat 3/14-15…disitu Tuhan menawarkan investasi yang lebih baik di sisiNya…

    Tubagus Tuska
    Project Manager Mayora Group

  10. saya malah justru tercerahkan dengan tulisan ini (tepatnya seperti didingatkan) bahwa masih ada Alloh SWT yg kita bisa tergantung padanya

    akhir2 ini kebetulan gi mumet liat berita krisis finansial, sehingga pikiran sepertinya 100% terpenuhi dengan uang, uang dan uang

    btw, makasih tulisannya pak dan mohon maaf lahir batin juga

  11. Terima kasih pak, atas artikel ini. Apalagi skrg dunia lagi diguncang dgn saham yg anjlok. Doakan jgn smp krismon lagi ya pak. Segitu kuatnya pengaruh ekonomi amerika dgn ekonomi dunia scr keseluruhan. Ckckckck….

    Taqabbalallahu minna wa minkum

  12. bagus bangett, artikelnya, ya Tuhan memang Maha Kaya, jadi mintalah hanya padaNya