Wednesday , January 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Siapakah Yang Seharusnya Lebih Siap Pakai Itu?

Siapakah Yang Seharusnya Lebih Siap Pakai Itu?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

“Mereka tidak siap pakai!” Begitulah komentar paling populer tentang kualitas lulusan perguruan tinggi kita. Lucu juga. Karena jika menengok kebelakang ketika kita masih lucu seperti mereka dan melamar kesana kemari sehabis wisuda; kita tidak berbeda jauh dari mereka. Kita sering tidak menyadari bahwa kematangan yang saat ini kita miliki merupakan hasil dari tempaan yang dijalani setiap hari. Dia diberi nama ‘pengalaman’. Dan pengalaman tidak bisa dipelajari dengan membaca buku atau duduk dibangku kuliah. Lebih dari itu ‘siap pakai’ bukanlah monopoli mereka yang baru masuk kerja. Kita yang sudah lama bekerja pun belum tentu ‘siap pakai’. Meskipun terdengar agak janggal, namun relevan dengan situasi aktual keseharian kita. Jangan-jangan orang-orang yang mengaku kompeten seperti kita ini jauh lebih ‘tidak siap pakai’-nya dibanding mereka?

“Lho, bisa masuk ke kampus itu saja sudah membuktikan dia bagus,” sahut saya ketika seorang teman mengeluhkan kualitas adik-adik kelas dikampusnya. “Apalagi dengan IP yang bagus, tentu mereka adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan.”“Iya, tapi mereka nggak siap pakai.” balasnya.
“Maksudmu tidak siap pakai didunia kerja?”
“Ya iyyalaaaaah…” geramnya. “Maasak ya iyyaaa dddong!”

“Apakah saat ini elo sudah merasa ‘siap pakai’?” pertanyaan saya membuatnya gelisah.
“Maksud loooh?”

Kita tahu bahwa hidup kita terdiri dari berbagai tahapan. Masa dalam kandungan, kita nggak perlu report-repot. Masa kecil, kita bermain. Masa sekolah kita mesti belajar. Selanjutnya memasuki dunia kerja. Setiap kali kita memasuki babak baru dalam hidup kita, pastilah ada gap antara kemampuan fisikal dan intelektual kita dengan tuntutan hidup dalam setiap jenjang. Tidak aneh, bukan?

Tidak siap pakai. Ini sama sekali bukanlah monopoli para lulusan baru. Orang-orang yang sudah bekerja lama pun sangat banyak yang tidak siap pakai. Itu jika kita tidak bisa mengatakan hampir semua pegawai begitu. Artinya, bisa jadi, kita yang mengaku kawakanpun bisa jadi tidak siap pakai.

“Maksud loooh?”

Sekurang-kurangnya, ada dua situasi yang membuktikan bahwa kita sering ‘tidak siap pakai’. Misalnya, ketika perusahaan kita sedang mencari pengganti boss yang pensiun. Dalam banyak situasi, perusahaan harus bersusah payah mencari orang yang layak untuk menggantikan perannya menduduki jabatan itu. Tidak jarang akhirnya perusahaan harus merekerut orang dari luar. Mengapa harus begitu? Karena, kita yang berada didalam organisasi ini ‘dinilai’ belum memenuhi kualifikasi yang memadai untuk menggantikan boss yang pensiun itu.

Anda boleh saja mengemukakan seribu alasan. Namun, pada kenyataannya; peristiwa seperti ini lazim terjadi dilingkungan kita, bukan? Jika demikian, bolehkah kita menyimpulkan bahwa orang-orang yang mengaku ‘siap pakai’ seperti kita ini juga ternyata ‘tidak siap pakai’ jika dihadapkan pada tantangan yang lebih tinggi? Sama seperti kepada adik-adik yang baru lulus kuliah itu. Kita mencap mereka ‘tidak siap pakai’. Pada saat yang sama perusahaan juga menganggap kita tidak siap pakai untuk peran, tugas dan tanggungjawab yang lebih besar. Apa bedanya?

Itu yang pertama.Yang kedua? Jika kita percaya bahwa kehidupan manusia itu terdiri dari berbagai tingkatan, maka tentu kita sepakat bahwa ‘memasuki dunia kerja’ bukanlah tingkatan terakhir dalam hidup kita. Sebab, setelah ‘masa bekerja’ kita tuntas, maka kita memasuki tahapan kehidupan berikutnya, yang biasa kita sebut sebagai masa purna tugas. Alias pensiun. Itulah sebabnya kita mengenal istilah ‘post power syndrome’. Ini tidak semata soal apakah sebelumnya kita memegang kekuasaan besar atau tidak. Sebab, orang-orang pensiunan yang tidak memegang jabatan tinggi pun banyak mengalami sindrom yang sama. Ini menunjukkan bahwa kita ‘tidak siap pakai’didunia pasca kerja.

Mungkin kita tidak mengalami sindrom separah itu. Tapi, tidak berarti bahwa kita sudah benar-benar siap untuk menghadap masa ‘setelah dunia kerja itu’. Coba jawab pertanyaan ini; setelah pensiun, apa yang akan saya lakukan? Jika kita masih belum memiliki gambaran yang jelas mengenai hal itu, maka kita juga ‘belum siap pakai’.

Boleh saja kalau anda mau berkilah bahwa pensiun itu masih lama. Tapi, siapa yang menjamin bahwa anda tidak akan diberhentikan ditengah jalan? Bukankah semua orang yang terkena PHK tidak pernah membayangkan hal itu akan menimpa dirinya? Lha, jika itu terjadi kepada anda, maka itu berarti anda harus segera memasuki dunia yang berbeda. Sudah siap pakaikah anda didunia baru itu?

‘Siap pakai’ seyogyanya menjadi kata kunci bagi siapa saja. Hal itu muncul dari sebuah pertanyaan mendasar yang berbunyi;”Sudah sejauh mana saya mempersiapkan diri untuk memasuki babak berikutnya dalam kehidupan ini?”. Anda tahu bahwa semakin baik persiapan yang dilakukan, semakin baik pula gambaran dimasa depan. Kepada adik-adik yang masih duduk dibangku kuliah kita menasihatkan; belajar yang baik. Berlatih organisasi. Jangan cuma terpaku kepada text book. Kalian harus juga mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja.

Kita sendiripun membutuhkan nasihat seperti itu. Supaya, kita bisa menjadi manusia yang siap pakai, ketika kita memasuki babak baru kehidupan kita. Dan ketika kita sudah menjadi manusia yang ‘siap pakai’ itu, maka apapun yang akan terjadi esok atau lusa; kita tidak perlu mengkhawatirkannya. Sebab, kita sudah ‘siap’ untuk menjalaninya. Sudah siap pakai-kah anda?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Namun, jika kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya, mungkin kita bisa menjalaninya dengan lebih baik.

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

4 comments

  1. Yups.. “Siap pakai”
    How we can do this?
    kata ini sering menjadi momok bagi seseorang yang “merasa” belum pernah melakukan tugas khusus yang diemban kepadanya.
    bagi orang yang masih meragukan kemampuan yang dimilikinya. Ia memiliki kecenderungan untuk “menolak” menerima tugas khusus ini. alasan yang umum yang sering terlontar.. saya belum berpengalaman! So.. kesempatan menerima tantangan pun lewat sudah..
    Lain hal nya dengan seseorang yang “punya hobi” oke.. tak coba sike’. orang dengan tipe ini, cenderung menyukai tantangan. sebenarnya, tugas yang akan ia terima boleh jadi belum pernah ia lakukan. tapi.. ada motivasi yang kuat dalam dirinya untuk menjadi seorang pembelajar. ya Belajar. Pada awalnya, jatuh bangun akan terus menerpa perjalanannya menuju keberhasilan mengemban amanah tugas khusus ini. So.. what next..
    satu hal lagi yang ia miliki… ternyata ia punya semangat yang pantang menyerah.. tugas yang diembannya sedapat mungkin ia jadikan sebagai “hobi” sebagai Sang Petualang.
    sebenarnya, kalo kita mau jujur pada kemampuan diri kita sendiri. InsyaAllah kita mampu mengemban tugas khusus tersebut. Bagaimana caranya??
    Ketika menulis koment ini, saya jadi teringat seorang bayi yang baru usia 9-12 bulanan. Pada usia ini, ada tuntutan tugas khusus seorang bayi terhadap dirinya sendiri. Apa coba?
    Bayi ini punya keinginan Besar menjelajah penjuru Dunia? Wuih..
    lantas ia pun mulai mempersiapkan diri. Anda tau apa yang ia lakukan?? Menangiskah? teriak kah ? atau apa lagi??
    Hmmmm.. Bayi ini Bertekad SAYA HARUS BELAJAR..
    Lantas what next?
    Bayi ini pun tak mau tinggal diam. ia mulai dari hal terkecil yang mesti ia lakukan. Apa coba?
    BELAJAR BERJALAN… (apa maksudnya?)
    Ya.. bayi ini pun tau diri. Bagaimana ia bisa mewujudkan impian besarnya menjelajah dunia kalau ia “Puas” dengan tergeletak tidur dalam buaiyan empuk tempat tidurnya.
    Hari pertama, bayi ini belajar memegang benda yang berdiri kokoh disekitarnya, bisa kursi, meja dan benda lainnya asal ia bisa berdiri kokoh memancangkan otot-otot kakinya untuk tugas khusus ini. Satu kali, bayi ini jatuh.. bangun, bergantung,mencengkram, eh.. jatuh lagi..trus dicoba lagi.. coba lagi..ia belajar dari jatuh bangun yang ia alami, bangun-jatuh..-bangun-jatuh-..bangun-jatuh.. jatuh–bangun–bangun==berdiri-berdiri-berdiri- hups.. Yaks Bisa..!eeeeh.. bisa berdiri.. (betapa puas si bayi ini) coba kita bayangkan ekspresi kebahagiaan si Bayi ini.. Hmmm.. senangnya.. eh iya, kebahagian si bayi ini tak hanya dirasakan oleh si Bayi saja. Ibunda dan Ayahandanya pun turut bahagia. Ck.ck.ck..
    Dalam hati si Bayi ini berkata:

    Hore,
    Hari Baru!

    Thanks for Pak Dadang.

  2. Selalu ada pintu lain yang terbuka kalau apa yang sedang kita tuju ternyata tertutup buat kita.. “tidak siap pakai” mungkin suatu alasan saja yang bisa manusia utarakan untuk mengatakan bahwa mereka “lebih pas” dengan orang lain. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mampu memiliki penilaian yang sempurna atas orang lain.

    Tetap semangat,

  3. luar biasa pak dadang memang sekarang banyak orang yg merasa lebih pintar padahal dia berada dilingkungan orang pintar. tapi sebenarnya dia belum ada apa2nya dilingkungan orang2 yang lebih pintar dari dia.
    Manusia yang baik menurut saya adalah orang yang selalu merasa kurang pintar tapi mau belajar untuk menjadi pintar.

    Trims

  4. Betul sekali Pa Dadang, tapi kalau kita pandang dari sudut lain, 180 derajat misalnya, sebenarnya yang tidak siap itu bisa saja si perusahaannya itu.

    Perusahaan yang bonafid biasanya punya program dalam human resources nya, baik itu sekolah lanjutan, pelatihan, kursus, penyegaran (recurrent) dan lain2 sebutannya yang tujuannya selain untuk mempertahankan keahlian personilnya juga untuk meningkatkan kemampuan sesuai perkembangan teknologi dan itu sudah merupakan requirement standard dalam quality control system suatu perusahan.

    Dari mulai recruitment fresh graduate sampai dengan yang sesuai dengan qualifikasi yang mereka butuhkan untuk menangani program yang sifatnya urgent, bahkan sangat urgent yang dituntut waktu penyelesaian yang sangat cepat, karena dikejar dead time, agar tidak kena penalty. Biasanya mereka akan meng hire pakar di bidangnya, yang memang sudah pengalaman/expert, dan juga selalu diperlukan overtime dalam mengerjakan pekerjaannya.

    Jadi dalam perusahaan yang bonafid tidak dikenal “tidak siap pakai” karena segalanya sudah diperhitungkan termasuk pengkaderan personilnya.

    Kalimat “tidak siap pakai” hanya ada di perusahaaan yang pas-pasan keadaannya, yang bonafiditasnya diragukan.

    Tapi berapa banyak perusahaan yang bonafid di Indonesia?