Friday , October 23 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Tolong, Kami Kekurangan Karyawan Handal…

Tolong, Kami Kekurangan Karyawan Handal…

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Perlu saya tegaskan bahwa ini bukan iklan lowongan kerja. Tapi, memang benar bahwa saat ini, begitu banyak perusahaan yang lapar dan dahaga atas keberadaan tenaga kerja terampil. Sehingga, pencarian talenta-talenta hebat tidak pernah ada hentinya. Kita seringkali mendengar bahwa jumlah lapangan kerja sangat terbatas. Namun, jumlah tenaga kerja terampil lebih terbatas lagi. Sehingga meskipun disatu sisi ada surplus tenaga kerja, namun disisi lain ada begitu banyak jenis posisi yang teramat sulit untuk dicarikan orang yang tepat untuk mendudukinya.

”Punya teman yang bagus nggak?” teman saya bertanya.
”Untuk apa?” saya balik bertanya padanya. Lalu dia menjelaskan beberapa posisi penting yang katanya;”sudah hampir setahun ini kosong karena belum ditemukan kandidat yang tepat.”

Ada banyak perusahaan papan atas yang seperti itu. Mereka membiarkan posisi penting kosong sampai mendapatkan orang yang benar-benar tepat. Karena, mereka percaya bahwa orang-orang yang tepat itulah yang akan berhasil membawa perusahaan kepada pencapaian tinggi. Oleh karena itu, meskipun teramat banyak orang berseliweran dipasar tenaga kerja kita, namun ada banyak posisi yang tetap dibiarkan tak terisi.

Secara teoritis, perusahaan memang harus melakukan pengembangan calon-calon tenaga kerja handal itu. Mereka harus mempersiapkan bakat-bakat muda untuk menjadi pemimpin masa depan. Orang-orang muda yang bagus ini menjadi generasi penerus atau pemain utama bagi posisi-posisi baru yang muncul sesuai dengan dinamika organisasi. Namun, bahkan perusahaan yang sudah sedemikian cermatnya seperti inipun kadang-kadang masih kekurangan karyawan-karyawan handal itu. Terutama, ketika genderang perang bertajuk ’Talent War’ ini ditabuh diseantero dunia. Dimana setiap perusahaan bisa dengan leluasa membajak karyawan-karyawan hebat dari para pesaing utamanya.

Fakta ini menyiratkan dua hal. Pertama, perusahaan harus sadar betapa pentingnya membangun kemampuan organisasi untuk mengembangkan karyawan-karyawan andalan masa depan. Cara terbaiknya adalah dengan membentuk institusi atau fungsi khusus semisal Program Management Trainee atau Future Leader Development Center. Tapi, ini tentu tidaklah mudah. Misalnya, seingat saya; dibutuhkan waktu tidak kurang dari dua setengah tahun sejak usulan program management trainee saya diterima menejemen puncak sampai ’iklan’ pencarian trainee muncul untuk pertama kali dimedia masa.

Bagi organisasi yang tidak memungkinkan untuk membuat program sistematis seperti itu, praktis tantangannya terletak dipundak para manager. Manager level mana? Itu tidak penting. Sebab, inisiatif seperti ini bisa muncul dari level Direktur terus turun kebawah. Atau, sebaliknya justru datang dari para menejer lini yang terjun langsung dilapangan karena mereka mengetahui betul kebutuhan operasionalnya seperti apa. Contoh sederhana yang bisa dilakukan adalah; jika hendak merekrut orang untuk posisi-posisi tertentu misalnya. Kita mempunyai 2 pilihan; membajak orang yang sudah jadi dari luar, atau mengijinkan bakat-bakat muda didalam organisasi untuk mencobanya. Tidak harus langsung diberi gelar manajer karena gelar bisa didapatkan kemudian; jika mereka benar-benar bisa mengembangkan diri, dan kemudian menunjukkan hasilnya.

Adalah benar bahwa membajak orang yang sudah jadi merupakan cara yang paling praktis. Dengan sejumlah uang dan sejumput kompensasi sebagai daya tarik, orang itu bisa berpindah kursi hanya dalam waktu satu atau dua bulan saja. Sekedar menulis 30 days notification; orang itu sudah bisa terbang ke kantor lain. Tidak jarang masih digedung perkantoran yang sama. Sedangkan, memberi orang-orang muda kesempatan untuk belajar, sangat lama dan melelahkan. Namun, menurut pendapat anda; cara manakah yang merupakan langkah strategis jangka panjang?

Hal kedua yang juga sangat penting adalah; sikap kita sebagai karyawan itu sendiri. Kita, sebagai seorang karyawan; sudahkah bisa menjadi seseorang yang berharga bagi perusahaan? Dengan kata lain; apakah kita sudah menjadi satu dari bakat-bakat yang akan dengan berbagai cara dipertahankan oleh perusahaan? Jika kita belum menjadi orang yang seperti itu, maka itu menandakan bahwa kita belum benar-benar menunjukkan kemampuan sesungguhnya yang kita miliki. Kecuali jika anda orang yang memang tidak berguna; anda pasti memiliki sesuatu yang sangat langka. Yang unik. Yang berbeda secara positif. Sesuatu. Yang perusahaan anda tidak dapat menemukannya dari orang lain. Sesuatu itulah yang harus anda tunjukkan. Sehingga, untuk ’hal yang satu’ itu, perusahaan tidak memiliki pilihan lain selain mengandalkan anda. Temukan itu. Dalam diri anda masing-masing.

Dan untuk memastikan bahwa ’sesuatu’ itu bernilai bagi perusahaan; kita perlu membungkusnya dengan sikap positif. Kita semua sudah menyaksikan betapa banyaknya orang-orang pintar yang tidak maju, hanya gara-gara sikapnya. Dan diantara sikap yang merusak kualitas diri kita itu adalah; tidak kooperatif baik dengan atasan, bawahan atau teman sekerja. Juga menggunakan waktu kerja untuk hal-hal yang tidak produktif. Berapa banyak orang bahkan dilevel manajer dan direktur yang bermain game komputer pada saat seharusnya mereka bekerja atau mempelajari suatu keterampilan baru, misalnya? Lemahnya loyalitas, juga sering menjadi hambatan. Ini memang agak subjektif. Tetapi, atasan yang jeli biasanya dapat ’merasakan’ hal itu. Tidak sedikit orang berbakat yang dimasukan kedalam daftar orang-orang yang ’loyalitasnya perlu dipantau’. Jika kita masuk kedalam daftar itu, bagaimana? Ya, sekurang-kurangnya, kita tidak akan menjadi pilihan pertama jika sebuah kesempatan muncul suatu ketika.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah diri kita dari karyawan biasa. Menjadi seorang bintang ditempat kerja. Dan jika kita sudah bisa menjadi karyawan seperti itu, maka menejemen puncak akan menempatkan kita didalam sebuah daftar ’khusus’. Daftar itu disimpan didalam deposit box dan dikunci serta dijaga ketat. Bahkan ketika membicarakannya pun mereka menggunakan kode rahasia yang disepakati diseluruh dunia. Sekarang saya akan membisikkan kode rahasia itu kepada anda. Kode itu disebut ”236”. Maukah anda masuk kedalam daftar karyawan dengan kode itu?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Ada banyak alasan untuk menjadi pekerja gagal. Dan ada lebih banyak lagi alasan untuk menjadi karyawan handal.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

11 comments

  1. Memang benar terjadi seperti itu di perusahaan sekelas BUMN yang besar, karena mistreatment pembangunan pegawainya. Spek yang dipersyaratkan untuk rekrutmen tinggi, tetapi setelahnya malah diperbodoh oleh sistem.

  2. Waw! satu rahasia terbongkar nih 😀

  3. Wah jadi ingat “IRON MAN”, Tony, kehandalannya? Bosnya sendiri pengin tahu kegiatan barunya…

  4. hore..
    Wah dapat insight lagi ne.
    Thanks ya pak Dadang..

  5. Tulisan yang sangat menarik dan bagus…
    karena menggelitik kita sebagai seorang karyawan nih…hehehe karena dengan demikian perusahaan akan memantau gerak-gerik kita dan hasil pekerjaan kita, finally kita harus selalu belajar dan belajar untuk selalu meningkatkan tingkay competensi kita dan profesionalisme kita agar kita bisa di pakai terus oleh perusahaan tsb. karena jika kita selalu bekerja dengan profesional perushaan manapun akan siap manampung dan menerima kita di kemudian hari hehehe..

  6. Betul sekali apa yang Pak dadang jabarkan.
    But some time ada juga perusahaan yang pelit,dia mau kita bisa mengerjakan dengan handal tp rewardnya sangat kecil.Betul tidak ya,apakah itu pendapat saya saja??

  7. artikel yang sangat bagus pak, saya sering membaca artikel bapak dari milis..motivasi jadi nambah & ilmu juga nambah..thanks yah

  8. Artikelnya sangat inspiratif, cerdas dan lugas.

  9. Pak Dadang & rekan2 saya pengen tanya?

    Apakah setiap rekrutment karyawan yg handal memang standar gaji sesuai dgn kualifikasi atau masih bisa di “mainkan” oleh HRD (HRD perlu perfomance yg handal juga kan pak)
    Yg saya maksud dng sistim ekonomi “Beli Murah Kualitas Bagus”
    Contoh Kasus :kawan saya si A di bajak ( memang betul di bajak dgn gaji yg lebih besar)
    karena kualitasnya bagus “mereka” mau bajak saya tapi yg berlaku hukum ekonomi “Beli Murah Kualitas Bagus”
    Akirnya saya tidak ter”Bajak” eh malah ter “JEBAK” tapi itu tidak benar terjadi.saya hanya mengamati di negara/orang2 kita trennya seperti ini….

  10. Koq Code nya “236”
    biasanya kalau ada kalimat “Tolong” Code “911”
    (hix.. 3x..) becanda aja

  11. Banyak perusahaan yang lapar dan dahaga atas keberadaan tenaga kerja terampil. Sehingga, pencarian talenta-talenta hebat tidak pernah ada hentinya.Di sisi lain begitu banyak orang berseliweran yang membutuhkan pekerjaan.