Monday , September 28 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Hari Ini Bawahan, Besok Atasan

Hari Ini Bawahan, Besok Atasan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan:”Boleh jadi, bawahan anda akan menjadi atasan anda pada suatu saat kelak….”. Tidak banyak atasan yang menyadari kenyataan ini, sekaligus bersedia menerima konsekuensi yang ditimbulkannya. Dan, lebih sedikit lagi atasan yang bahkan dengan ’sengaja’ melakukan ’sesuatu’ untuk membantu bawahannya menapak lebih tinggi dari dirinya sendiri. Meskipun pada kenyataannya, ada banyak bukti bahwa para bawahan cemerlang melejit karirnya hingga menjadi atasan bagi para mantan atasannya. Apakah anda menemukan fenomena serupa ini dilingkungan kerja anda?

”Gue resign aja deh….” begitu kata seorang teman. Dia lebih suka pindah ke perusahaan lain daripada harus menjadi bawahan bagi orang yang pernah menjadi bawahannya. Secara mental, dia tidak siap menghadapi situasi terbalik seperti itu. Sulit menerimanya karena ada ganjalan psikologis didalam dirinya. Dia dikuasai rasa gengsi. Merasa diri lebih senior. Lebih superior. Dan rupanya, tidak sedikit orang yang bersikap seperti itu.

Banyak orang yang mengatakan bahwa; promosi tidak dilakukan secara transparan. Sarat dengan kolusi. Dilatarbelakangi diskrimanasi. Dan penuh dengan perbenturan berbagai kepentingan. Akibatnya, orang mendapatkan posisi lebih tinggi tanpa didukung oleh kemampuan yang memadai. Sehingga;”berseliweranlah para ‘anak kemarin sore’ dijajaran manajer senior perusahaan”. Mungkin betul begitu. Mungkin juga sekedar alasan belaka. Tapi, konteks diskusi kita saat ini tidak sedang membahas aspek itu. Jadi, mari kita fokuskan pembahasan kita kepada kenyataan bahwa :”Boleh jadi, bawahan kita akan menjadi atasan kita pada suatu saat kelak….” Let’s accept the fact, and let’s deal with it.

Bagi kita, hal ini memiliki dua implikasi. Pertama; seandainya kita adalah sang atasan itu. Bagaimana kita menghadapi kemungkinan seperti itu? Kemungkinan ketika bawahan kita menjadi atasan bagi kita. Mustahil? Tidak.

Maka, penting bagi kita untuk memiliki paradigma positif. Jika ada bawahan yang memiliki kualitas dan kinerja yang lebih baik dari kita; bukankah itu baik bagi kita maupun organisasi itu sendiri? Memang, idealnya kita naik posisi terus menerus, sehingga setinggi apapun bawahan kita naik; kita masih berada diatasnya. Namun, bukankah didunia nyata tidak selalu terjadi hal sedemikian?

Mari cermati kalimat ini;”Guru yang baik bukanlah mereka yang mau mengajarkan semua hal yang diketahuinya. Melainkan, mereka yang bersedia membantu muridnya membuka tabir-tabir pengetahuan yang belum pernah terpecahkan.” Apa yang kita ketahui sangatlah terbatas. Sehingga, mengajarkan semua yang kita tahu tidak akan bisa menjadikan generasi masa depan lebih baik dari kita. Jika hal ini berlaku dalam hubungan antara guru dan murid, dapatkah juga terjadi dalam hubungan antara atasan dan bawahan?

Seorang guru sejati akan bahagia ketika mendapati muridnya lebih hebat dari dirinya sendiri. Demikian pula seorang atasan yang hebat. Dia bahkan membuka jalan, supaya bawahannya bisa menapak lebih tinggi. Tanpa ada rasa iri. Tiada pula kecemburuan. Yang ada, hanyalah kebanggaan didalam dirinya. Meskipun – biasanya – seseorang yang telah menapak tinggi lupa bahwa; ada peran atasannya dalam pencapaian yang diraihnya. Jadi, tidak mengherankan jika mereka kerap berkata;”I did it myself.” Tapi, seorang atasan sejati; tidak terlampau merisaukannya.

Implikasi kedua; seandainya kita sang bawahan itu. Bukti bahwa seorang bawahan bisa menapak jenjang karir yang lebih tinggi dari atasan, cukup untuk meyakinkan diri kita bahwa masa depan kita bisa jauh lebih baik dari yang dapat kita bayangkan.

Sering kita dengar orang yang mengeluh bahwa karirnya tidak berkembang karena atasannya tidak cukup memberi bimbingan. Bisa iya. Bisa juga tidak. Lagipula, kita tahu bahwa tuntutan perusahaan semakin banyak, sementara jumlah karyawan bahkan semakin berkurang. Sehingga para pemegang posisi kunci semakin terbatas waktunya untuk menyuapi kita. Atau mengajarkan kepada kita tentang ini dan itu. Mengharapkan mereka selalu ada disamping kita membuktikan bahwa memang kita bukan orang yang bisa diandalkan. Lagipula, mengapa atasan kita harus memberi penilaian istimewa kepada orang-orang yang bisanya hanya bergelantung diketiak mereka?

Disisi lain, kita juga sering terjebak pada anggapan bahwa; ’kemampuan teknis adalah segala-galanya’. Padahal, kemampuan teknis hanyalah satu dari sekian banyak faktor penting. Jadi, orang-orang yang hanya hebat secara teknis, hanya layak untuk menjadi pelaksana. Bukan pemimpin. Itulah sebabnya, mengapa orang-orang yang hebat secara teknis; sering tersingkir. Repotnya, mereka merespon situasi ini dengan menyimpulkan bahwa manajemen telah pilih kasih. Mereka merasa; proses assesment tidak fair.

Kita, harus keluar dari pola pikir semacam itu. Sebab, jika terjebak didalamnya; kita tidak akan pernah mengetahui apa yang harus diperbaiki. Kita mengira bahwa semua kualifikasi itu sudah kita miliki. Padahal, ada orang lain yang lebih baik dari kita. Seperti halnya anda yang tidak ingin dipimpin oleh orang yang sekedar jago dalam hal-hal teknis; maka tentu orang lainpun tidak ingin anda yang hanya menguasai aspek teknis itu tampil menjadi pemimpin. Sebaliknya, ketika kemampuan teknis anda dipadukan dengan sikap positif, kemampuan membangun hubungan yang produktif baik dengan atasan, bawahan maupun rekan sekerja, serta loyalitas yang tinggi; maka mungkin, memang anda layak mendapatkan kesempatan untuk dipersaingkan dengan orang-orang hebat lainnya.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Akan tiba saat dimana para atasan harus digantikan. Siapkah kita, ketika kesempatan itu tiba?

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. Pak Dadang, saya setuju dengan pernyataan Bapak diatas yaitu

    “kita juga sering terjebak pada anggapan bahwa; ’kemampuan teknis adalah segala-galanya’. Padahal, kemampuan teknis hanyalah satu dari sekian banyak faktor penting. Jadi, orang-orang yang hanya hebat secara teknis, hanya layak untuk menjadi pelaksana. Bukan pemimpin.”

    Terus terang saya mengalaminya Pak 🙂 Tapi saat ini saya telah sadar dan sedang proses improvement.

  2. Assalam,wrwb..
    Untuk kesekian kalinya saya menyempatkan berkunjung ke website bapak, dan menemukan tulisan ini, hm… benar-benar “Menonjok” saya yang sedang terlelap dengan kenyamanan jabatan ditempat kerja..

    “Akan tiba saat dimana para atasan harus digantikan. siapkah kita, saat kesempatan itu tiba?”

    Tks pak,

    Salam,
    Taufiq

  3. great post!

    saya ingat kata2 alm ibu saya, jangan underestimate orang ada di bawah siapa tahu dia jadi yang di atas.

  4. Artikel menarik Kang Dadang,

    Memang benar roda dunia ini akan selalu dan terus berputar, sehingga kita akan selalu di kondisikan dengan 2 keadaan baik menjadi atasan maupun menjadi bawahan, menurut saya sepanjang kita masih menjadi karyawan dan belum mempunyai usaha sendiri atau mandiri, 2 kondisi tersebut akan sangat memungkinkan bagi seorang karyawan spt kita.
    jadi kita sebagai seorang karyawan harus selalu berkaca, bercermin dan selalu memotivasi diri kita sendiri dengan prinsif “Orang lain aja bisa masa kita ngga bisa sih…”.
    dengan motivasi semacam itu diharapkan kita selalu belajar baik dari sisi teknis, managerial,lobiying, approaching, seling skill dan jangan lupa menjaga penampilan kita agar selalu fit/ fresh dengan berolahraga yang tidak kalah pentingnya yakni selalu berdoa agar jalan kita makin mulus. sehingga dengan demikian dewi fortuna akan selalu disamping kita sehingga management memandang kita lebih layak dibandingkan pesaing lainnya.

    Saya juga melihat kesuksesan seseorang itu ada yang processnya cepat ada juga yang processnya lambat tergantung dari masing2 orang dalam mengatasinya, mengimprove terutama harus selalu belajar dari kesalahan dan jangan menyalahkan orang lain bersikap toleransi dan selalu introspeksi diri atau tanamkan selalu auto critic/ correction sehingga kita akan selalu menemukan solusi baik dalam hal pekerjaan dan kehidupan dalam keluarga.

    Finally, jika seandainya menjadi bawahan anggap saja sukses yang tertunda dan apabila sudah menjadi atasan anggap saja sukses yang tertunda kemarin sudah datang ibaratnya “dream come true” tapi ingat kita harus legowo/ menerima kejadian apapun jika seandainya kita kembali menjadi bawahan, karena ingat kita datangnya dari bawah tidak langsung dari atas loh..
    Tapi saya yakin kalau kita sudah diatas pasti kita harus mempertahankan karena sudah melewati process yang sangat panjang yang penting bukan jadi Bos karbitan ye…kalau model yang begini ngga bakal lama..hehe

  5. Kang Dadang.. gimana kalau kita awalnya berada diposisi bawahan dan sekarang jadi atasan bagi seseorang yang dulu atasan kita? konkretnya : atasan kita jadi bawahan kita. Dan dgn posisi baru tsb mantan atasan kita masih merasa bahwa dia masih atasan kita (dalam sgl aspek sikap, cara bicara, dll)? bisa beri saran? trimakasih sebelumnya..