Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Perjalanan Menuju Kesejatian

Perjalanan Menuju Kesejatian

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Setiap manusia dewasa tentu pernah merindukan sebuah pencerahan. Apakah pencerahan itu dalam konteks spiritualitas, maupun dalam kerangka pengembangan diri. Orang-orang yang mampu menjaga kerinduannya akan pencerahan mempunyai kesempatan untuk secara konsisten membawa dirinya menuju kepada kesejatian hidup. Yaitu; menjadi manusia yang bisa mewujudkan tujuan atas penciptaannya. Ngomong-ngomong; apakah sesungguhnya tujuan pencipataan kita ini?

Dimusim hujan seperti ini banyak laron beterbangan menjelang malam tiba. Ketika mahluk sejenis ngengat itu sudah mencapai titik tertentu dalam perkembangan siklus hidupnya, dia dianugerahi penciptanya dengan sepasang sayap. Sayap itu memungkinkan dirinya untuk terbang menuju suatu tempat yang jaraknya sering teramat jauh. Mereka keluar dari tempat persembunyian disisa-sisa kayu dan pepohonan mati. Kemudian terbang menuju satu titik yang pasti, yaitu; sumber cahaya. Ditempat itu, mereka bertemu dengan laron-laron lainnya, sehingga pertemuan itu bagaikan sebuah konferensi besar para pencari cahaya.

Adakah para laron itu ingin menyampaikan sebuah pesan? Kelihatannya memang demikian. Melalui apa yang dilakukannya, para laron mengingatkan kita betapa pentingnya menghadapkan diri kearah sumber cahaya. Karena, menuju cahaya adalah sebuah fitrah bagi setiap manusia. Didalam diri kita, ada sisi gelap. Dan ada pula sisi terang. Jika kita tidak pernah menambahkan cahaya kedalamnya, maka sisi gelap kita akan menjadi semakin banyak. Sedangkan, sisi terang akan semakin berkurang. Untuk menjadi gelap; kita tinggal berdiam diri saja. Karena cepat atau lambat dunia kita pasti menjadi gelap. Sedangkan untuk mendapat terang, kita harus melakukan usaha-usaha yang sepadan. Karena menanti dengan berdiam diri tidak memberikan jaminan datangnya cahaya terang.

Bagi sang laron, menuju sumber cahaya adalah langkah paling akhir misi hidupnya. Sedangkan bagi manusia, seberkas cahaya didalam dirinya menyala melalui setiap perilakunya yang terpuji. Seperti ketika mereka menghitung langkah satu, dua, tiga, dan empat; semuanya berjalan membentuk sebuah untaian proses pencerahan jiwa. Kemudian, tepat pada hitungannya yang kelima; mereka melakukan langkah terakhir dalam hidupnya untuk menuju sang pemilik cahaya sesungguhnya. Ditempat itulah kemudian mereka, berkumpul dengan para pencari cahaya lainnya. Duduk bersimpuh disebuah lapangan luas, untuk mendekatkan diri kepada sang pemilik cahaya sejati.

Setelah sampai disumber cahaya itu, tunailah sudah misi hidup seekor laron. Dan setelah tiba disumber cahaya sejati itu; tunailah sudah perjalanan panjang seorang manusia. Karena, ketika itu; kita bisa menjelma menjadi manusia yang tercerahkan oleh cahaya kesejatian. Seseorang yang berhasil melakukan perjalanan itu sesuai dengan panggilan sang pemilik cahaya akan memasuki babak baru dalam siklus hidupnya, yaitu; menjadi manusia sejati. Manusia yang memiliki kematangannya secara spiritualitas, maupun fungsi sosial kemasyarakatan. Sedangkan, mereka yang hanya matang secara spiritual, tetapi tidak berfungsi secara sosial belum benar-benar mencapai kesejatian itu. Sebaliknya, mereka yang secara fungsi sosial matang tetapi melupakan kematangan spiritual adalah orang-orang yang hanya bagus dimata sesama manusia. Namun, dihadapan Tuhannya; nilainya layak dipertanyakan.

Bagi seekor laron, menuju cahaya adalah sebuah perjalanan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, seekor laron; mengerahkan semua yang ada dialam dirinya untuk perjalanan suci itu. Dan ketika cahaya telah memenuhi dirinya; dia menanggalkan sayap-sayapnya. Perlambang apakah ini bagi kita? Sang laron tengah mengajari kita bahwa jika sudah sampai kepada sumber cahaya, maka kita harus meneguhkan hati untuk menutup segala kemungkinan yang bisa memabawa kita kembali menuju kegelapan.

Jika sayap itu masih dipeliharanya; maka cepat atau lambat, dia akan tergoda untuk terbang menuju gelap. Dengan menanggalkannya, sang laron menutup semua kemungkinan itu, supaya dia bisa memberikan totalitas dirinya didalam terang itu. Meski untuk mendapatkannya, dia harus mengorbankan sepasang sayap yang dimilikinya. Manusia tengah diseru oleh sang laron, untuk juga melakukan pengorbanan yang sama. Yaitu pengorbanan untuk membuang nafsu-nafsu yang sering menyeretnya kepada sifat buruk. Dan menanggalkan sifat-sifat tak patut didalam dirinya. Sehingga, ketika kita kembali pulang; kita benar-benar hanya membawa cahaya putih lagi bersih. Sebersih jiwa seorang bayi yang baru saja dilahirkan.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Keutuhan pribadi seseorang ditandai dengan kesediaannya untuk membangun nilai dimata sesama melalui tindakannya, dan dimata Tuhannya melalui kepasrahannya.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

8 comments

  1. Hmm perumpamaan yg aneh untuk menggambarkan makna yang dalam…
    But anyway.. maju terus kang Dadang !!!

  2. pak dadang, sy gak abis pikir, kok ada aja idenya..

  3. artikel keren

    lagi2 sangat menginspirasi

    kebetulan sy sedang kesulitan untuk melepas ambisi duniawi yg sedang bergemuruh bersarang di dada

    makasih kang

  4. Artikel yang luar biasa ini mengingatkan saya waktu kecil dikampung halaman. Jika musim hujan tiba maka laron2 akan mengerubungi cahaya terang (lampu). Waktu itu ibu saya selalu meletakkan baskom (ember) berisi air dibawah lampu, dengan harapan bila laron jatuh akan masuk kedalam air dan mati, sehingga tidak ada laron yang berterbangan lagi.

    Saya tahu persis laron2 yang jatuh kebanyakan sayapnya lepas, tapi saya tidak tahu ada unsur kesengajaan dari laron tsb. utk. melepaskan sayap2nya.

    Laron2 yang dulu sering mati kecemplung air teryata memberikan pencerahan yang sangat berarti bagi kita. Mari saudaraku kita berlomba untuk mendapatkan cahaya terang yang abadi, putih bersih seperti bayi yg baru dilahirkan sebagi bekal kita menghadap sang Khalik. Insya Allah ………

    Salam suksus utk Kang Dadang dan kita semua.

  5. Salam kenal kang dadang…
    Artikel yang sangat2 luar biasa kang, saya angkat jempol 4 kang. Pengetahuan dan pengalaman semacam itu yg sesungguhnya hakiki. Kita adalah cahaya, dalam cahaya, mencari cahaya, dan bercahaya. Kang saya dukung untuk artikel seperti ini. sufistik logika..siiplah. Mungkin org awam tdk tahu, tapi bagi orang yang tahu ya ampun ITU PENTING. Sukses maju trus kang dalam dunia dan langit

  6. Marilah kita gapai menjadi seorang hamba Tuhan. Mati sebelum mati.

  7. bemby rudiansyah

    Moga menjadi haji yang mabrur… Semakin indah ahlak & imannya… Karena banyak yang hanya sekedar mencari gelar Haji tanpa tau apa makna sejatinya.

  8. Memang begitu ya kang? Tapi aduh, bagaimana ya kalau pola hidup yang kita jalani ini yang secara duniawi lumayan menjamin (sekedar survive), terasa membelenggu untuk mencapai cahaya yg didambakan itu. Saya (dan mungkin banyak diantara kita) merasa jalan yg dilewati ini cukup mapan namun sebetulnya tidak puas, tidak ideal untuk mencapai cahaya itu. Berani saja lepas? Dibuang sayang….? Andaikan negara ini tidak sedang sakit. Atau negara ini sehat. Para pengelolanya orang-orang yang beriman sungguh2, atau paling tidak responsible.