Monday , December 18 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Setia Serta Seia Sekata Saat Situasi Sedang Sulit

Setia Serta Seia Sekata Saat Situasi Sedang Sulit

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Apa yang anda lakukan seandainya mengetahui bahwa perusahaan anda tengah menghadapi situasi sulit? ”Cepetan pindah, deh.” begitu nasehat yang sering kita dengarkan. Itulah sebabnya, banyak orang yang segera hengkang begitu tahu bahwa perusahaan sedang berada dalam kesulitan. Padahal, justru pada situasi seperti itu perusahaan sangat membutuhkan peran orang-orang kunci. Memang sangat mudah untuk mendapatkan kesetiaan ketika segala sesuatunya tengah indah. Namun, dalam keadaan sulit; apakah kita bisa mendapatkan orang-orang setia semudah itu? Boleh jadi, kesulitan yang tengah dihadapi oleh perusahaan itu merupakan saat paling tepat bagi kita untuk menentukan apakah kita ini benar-benar setia atau tidak.

Dimasa lalu, kita tidak pernah tahu suatu perusahaan akan bangkrut kecuali sudah tidak ada waktu lagi untuk melakukan apapun. Semuanya sering sudah terlambat. Dimasa kini, indikasi kebangkrutan sebuah perusahaan nyaris tidak bisa disembunyikan. Bahkan, dalam media dunia akhir-akhir ini kita membaca begitu banyak nama besar yang diperkirakan memasuki masa-masa sulit ditahun ini. Hal ini mengindikasikan banyak hal. Tetapi, yang terpenting adalah membuka mata hati kita dengan kenyataan bahwa ’perusahaan sedang membutuhkan kita untuk membantunya keluar dari sitasi sulit yang sedang dihadapinya’.

Hubungan kerja itu hampir menyerupai pernikahan. Janji apa yang anda ucapan ketika menikah? Anda berjanji untuk tetap setia baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah. Ketika perusahaan kita dalam keadaan sehat, kita selalu senang bekerja untuknya. Kita selalu setia kepadanya. Seolah tak mungkin bisa goyah. Jika sekarang perusahaan anda sedang berada dalam situasi sulit; apakah anda mempunyai tingkat kesetiaan yang sama?

Banyak orang yang resah ketika manajemen puncak mengumumkan kesulitan perusahaan. Dan keresahan itu sering berubah menjadi kemarahan ketika pengumuman itu diikuti oleh keputusan yang menyebalkan. Misalnya, manajemen memutuskan untuk menunda kenaikan gaji. Atau merevisi paket kompensasi dan benefit untuk jangka waktu tertentu. Kita marah karena semuanya itu mengganggu kenyamanan diri kita. Namun, jika kita ingat bahwa hubungan kerja itu nyaris seperti pernikahan, maka kita akan sadar bahwa pada situasi yang sulit memang perusahaan harus melakukan tindakan penyelamatan. Dan seperti pasangan pernikahan kita, dia membutuhkan dukungan kita. Terutama ketika memasuki masa-masa sulit dalam hidupnya.

Sebaliknya, sebagian besar orang bereaksi secara negatif. Padalah, itu akan membuat situasinya semakin memburuk. Perusahaan sedang membutuhkan dukungan tertinggi. Kinerja terhebat. Prestasi terbaik, dari semua karyawannya agar bisa segera pulih dan keluar dari kesulitan. Bayangkan jika apa yang didapatkan malah sebaliknya?

Sebenarnya, siapa sih yang diuntungkan jika kita bekerja dengan mengerahkan seluruh kemampuan? Tentu perusahaan beruntung. Karena kita membantunya keluar dari kesulitan. Tetapi, yang paling diuntungkan sebenarnya adalah diri kita sendiri. Mengapa? Karena, dengan begitu perusahaan bisa terus mempertahankan karyawan. Bukankah jika perusahaan semakin terpuruk maka dampaknya akan ikut kita rasakan?

Bayangkan seandainya semua karyawan diperusahaan anda mempunyai sikap posistif dan dedikasi yang tinggi seperti itu. Tentu semua elemen perusahaan akan bahu membahu mengayuh perahu bisnis ini untuk menaklukan topan, melewati badai dan menyelamatkan diri dari gelombang besar. Sebaliknya, jika semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing; siapa yang akan peduli akan keberlangsungan hidup perusahaan?

Bisa saja anda mengira bahwa cara paling cerdas adalah meninggalkan perusahaan yang tengah berada dalam situasi sulit dan pindah kepada perusahaan lain yang sedang sehat. Mungkin anda benar. Tetapi, seseorang yang berdedikasi tinggi tidak meninggalkan perusahaan dalam situasi sulit. Sebaliknya, kita bisa melihat contoh nyata orang-orang besar yang keluar dari perusahaan justru pada saat perusahaan tengah mencapai puncak prestasinya. Bukan ketika tengah terpuruk. Tidak banyak orang yang seperti itu memang. Tetapi, bukankah ini saatnya bagi kita untuk menunjukkan dedikasi kita? Jadi, jika anda mengetahui bahwa perusahaan tengah berada dalam situasi sulit; hendaknya anda tidak hengkang dari sana. Sebaliknya, singsingkan lengan baju anda. Dan ajaklah teman-teman anda untuk bahu membahu bersama para pimpinan puncak perusahaan dalam usaha penyelamatan.

Memangnya apa yang akan anda dapatkan jika anda melakukan itu? Banyak hal. Contoh, jika perusahaan itu kembali pulih, maka manajemen akan melihat siapa saja orang yang berkontribusi optimal, sehingga layak mendapatkan imbalan. Jika perusahaan terpaksa harus merumahkan karyawan, maka anda yang berdedikasi tinggi akan masuk kedalam daftar orang-orang yang pantas untuk dipertahankan. Bagaimana jika situasinya semakin sulit? Tak perlu panik; karena dalam situasi ekonomi global yang semerawut ini kesulitan tidak hanya dialami oleh perusahaan anda. Tetapi, sejauh kita sudah mengoptimalkan semua potensi diri yang Tuhan berikan kepada kita; maka selebihnya kita serahkan saja kepada sang Maha Kuasa. Dan kita boleh bilang; ”Tuhan, saya mempersembahkan semua bakti saya kepada Engkau dengan cara mengerahkan semua potensi diri yang telah Engkau berikan. Dan sekarang, saya menyerahkan diri kepadaMu…..”

Sebaliknya, jika dalam situasi sulit ini kita tidak peduli kepada nasib perusahaan. Lantas mengurangi kontribusi kita. Dan membiarkan potensi diri terbengkalai; maka kita akan rugi dua kali. Kita rugi karena kondite kita dimata perusahaan tidak bagus. Kita juga rugi karena Tuhan kesal ketika mengetahui kita telah menyia-nyiakan seluruh daya hidup yang telah Dia berikan.

Jadi, tidak ada cara lain selain meningkatkan kontribusi dan dedikasi. Dengan cara mencurahkan segenap kemampuan, untuk menolong perusahaan yang sedang berada dalam kesulitan. Sebab, seperti pernikahan; ketika pasangan kita tengah menghadapi kesulitan, kita akan tetap setia mendapinginya. Sampai kita sama-sama bisa keluar dari semua cobaan, dan kembali memasuki kehidupan yang menyenangkan. Anda siap melakukannya? Tentu. Karena badai pasti berlalu, teman.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio

Catatan Kaki:
Orang yang berdedikasi tinggi tidak meninggalkan perusahaan dalam situasi sulit. Sebaliknya, dia bertahan dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk berontribusi dalam usaha penyelamatan.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. Memang tidak mudah untuk memperoleh pegawai berkaliber, berkompeten, dan siap setia setiap saat, Kang Dadang. 😀

    Kadang saya merasa sudah memiliki pegawai yang kelihatannya setia, eh…ternyata juga seenaknya saja keluar “resign” tanpa basa-basi, bilang keluar hari itu..yaa hari itu juga dia sudah nggak mau kerja…biasanya diam-diam dia sudah diterima kerja di tempat lain. Ngomongnya mendadak seenaknya sendiri. 🙁

    Jadi kadang saya juga melihat, bahwa kesetiaan seorang pegawai pada perusahaan tempatnya bekerja, hanya semu…terkesan semata-mata siapa yang mau memberikan gaji lebih besar, yaa dia akan “setia” di sana. ada yang beri lebih besar lagi, maka dia akan pindah “setia” di tempat baru lagi. 😉

    Tapi memang, diantara para pegawai saya yang punya rasa “setia abal-abal”…masih ada pegawai yang benar-benar setia asli mengabdi dan memajukan perusahaan saya. 😀

    Alhamdulillah, saya bisa kerjasama dengan sedikit orang setia asli ini, untuk membesarkan perusahaan dan otomatis kesejahteraan mereka yang setia ini semakin baik.

    Salam Sukses Penuh Berkah,
    Wuryanano
    http://www.swastikaprima.ac.id/

  2. benar itu kang dadang kadang susah mencari karyawan yang baik dan loyal kepada perusahaan kita dimana sering mereka tidak sesuai dalam memberikan sumbangsih mereka kepada Perusahaan mereka berkerja

    Thx

    Good Knowledge

  3. Apa kabar pak dadang…

    artikel yang sangat menarik pak,..
    saya jadi berpikir pak,.. saya itu masuk kategori yang mana yaa…saya kok jadi malu sendiri ya pak…
    kadang karena tuntutan situasi saat ini, saya jadinya cenderung memikirkan diri sendiri dan keluarganya.. akibatnya masa bodo ah sama company, khan bisa cari baru (iya kalau dapet..)…
    tapi mudah2an saya bisa merubah paradigma berfikir saya saat ini,.,..

    hee..hee.. sukses pak Dangzz..

  4. Kang Dadang,

    pada prinsipnya saya setuju, memang seharusnya diibaratkan dengan org menikah jangan hanya mau saat senang saja, giliran susah ga mau…
    istilahnya “ada uang abang sayang ga ada uang abang ditendang”.

    Tapi tentunya dalam berumah tangga semua juga harus adil kan..?
    si suami nggak bisa seenaknya aja nuntut istri terus berbakti kalau dia juga tdk memenuhi kewajibannya sebagai suami.. setuju nggak kang…?

    fenomena yang ada di artikel kang dadang memang gambaran umum yang biasa ada di dunia kerja kita, (wong saya juga sering berpikir spt itu… hehehe…), tapi alasannya juga bukan semata cuma karena materi lho…, seperti istri yang terus mengerjakan tugas2nya sbg istri meski suaminya bokek, banyak juga kaum pekerja yg spt itu…, dan sayangnya dunia kerja juga seringkali tidak “se-ideal” teori2 yg ada, umpamanya semua kaum pekerja bisa bersikap spt yg kang dadang tulis, apakah benar2 dijamin si perusahaan tmpt dia bekerja akan menghargai loyalitasnya? banyak juga kan pengusaha2 yang berpikiran ” gw gaji segini aja dia masih bertahan koq, utk apa dinaikin?, apalagi kemarin kan perusahaan sempat merugi besar…”

    itu sebabnya saya lihat banyak juga perusahaan2 yg kehilangan pegawai, (tentunya )ada yg sebenarnya memiliki “potensi” karena belum banyak perusahaan di indonesia yang memperlakukan karyawannya sebagai Aset yang harus dijaga…,

    jadi kalau tidak balance tentunya sulit mengharapkan loyalitas karyawannya…
    (sejak awal perusahaannya juga harus menanamkan image yg bagus, komitmen utk maju bersama)

    contohnya Kaka, tetap nggak mau pindah ke Man City, walaupun diiming-imingi gaji yg besar, alasannya karena kondisi di milan sangat kondusif meskipun belum juara.., atau del piero dan buffon yang walaupun juve di degradasi tetap nggak ikut pindah spt Zlatan ibrahimovic, tentunya karena Juve bisa memberikan jaminan kenyamanan dalam pekerjaannya sebagai pemain bola…

    saya pikir agak sukar menyatukan “Loyalitas” di dalam ranah “profesionalisme”, meskipun bukannya tidak mungkin karena “tak ada asap tanpa api kan kang…?” atau “siapa yang menabur benih, maka ia yang akan menuai hasilnya” (nyambung teu nya?)

    diantos lagih nih tulisan2 kang dadang salajeng na…

    Gambatte kudasai, dadang sensei…
    (artinya terus berusaha/berjuang dlm b.jepang)

  5. Dear All,
    Bagus sekali jika kita bisa mendapatkan pandangan dari sisi pengusaha dan sisi pekerja. Supaya lebih balance.

    #1&#2. Pak Nano dan Pak (Bu?) Wawin Fauzani. Terimakasih atas komentarnya. Ini memberi insight kepada kita mengenai ekspektasi dimata pengusaha

    #3. Pak Adi, apa yang kita cari selama bekerja? Pengalaman, teman, karir, uang? Tentu ada banyak cara untuk mendapatkan semuanya itu. Dan setiap orang berhak menentukan pilihan. Namun, ada pilihan-pilihan yang selain memberi kita peluang untuk mendapatkan semua itu, juga meningkatkan ‘nilai’ dan ‘reputasi’ kita.

    #4. Pak Tubagus, saya sangat terkesan dengan pandangan Bapak. Memang benar, dijaman ini kita sudah harus menerapkan konsep kesetaraan antara pekerja dan sang pemberi kerja. Perusahaan-perusahaan yang mengabaikan kepentingan pegawainya cepat atau lambat akan ditinggalkan. Dan saya juga percaya bahwa cara perusahaan ‘memuliakan’ karyawannya tidaklah semata-mata dengan ‘adu besar’ bayaran, melainkan ada banyak faktor lain yang berperan. Secara fargmatis, bahkan kita memang harus meninggalkan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki komitmen untuk membangun kapasitas diri kita atau tidak menjaga digniti kita. Sebab, semua itu harus dibangun dari dua arah, dengan komitmen yang sama.

    Meski ini agak berbau hipotesis, namun kita menyaksikan banyak bukti nyata dari hubungan seperti ini dibanyak perusahaan yang kita kenal.

    salam,
    dadang