Monday , December 18 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Saatnya Untuk Unjuk Gigi

Saatnya Untuk Unjuk Gigi

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita sering menggunakan sebutan ’Macan Ompong’ bagi mereka yang kemampuannya sudah tidak bisa diharapkan lagi. Ya, seperti macan; ketika masih memiliki taring, ketangguhannya tidak dapat ditandingi. Namun, ketika gigi-gigi taringnya sudah pada tanggal; wibawanya begitu saja hilang, sehingga tikus kecil pun tidak merasa gentar kepadanya. Dengan kata lain, wibawa dan kedigdayaan yang dimilikinya pada masa muda turut pudar sejalan dengan bertambahnya usia. Karena manusia tidak dapat menghentikan sang waktu, maka kita juga tidak dapat menghindarkan diri dari pertambahan usia. Lantas apa bedanya antara manusia dengan seekor macan?

Kita beruntung karena manusia tidak seperti seekor macan. Sebab, kemampuan manusia tidak semata-mata bertumpu kepada kemampuan fisik belaka. Sehingga, kita bisa terhindar dari sindrom macan ompong jika kita tua kelak. Mengapa? Karena sindroma macan ompong hanya terjadi jika kita terlampau mengandalkan kemampuan fisik belaka. Kemampuan fisik ini mengandung dua makna. Pertama, kemampuan tubuh kita berupa otot dan tenaga. Sehingga, orang yang kekuatan ototnya berkurang kemampuan fisiknya juga berkurang. Dan kedua, kemampuan yang dihasilkan dari jabatan yang kita sandang. Oleh karena itu, orang-orang yang sudah kehilangan jabatan banyak yang seolah kehilangan kekuatan.

Untungnya, kita memiliki kemampuan lain yang tidak dimiliki para macan, yaitu; kekuatan intelektual. Dan karakter kekuatan intelektual ini bertolak belakang dengan kekuatan fisik. Pada masa kanak-kanak, kondisi fisik kita sangat rapuh. Kemudian berkembang sesuai dengan perjalanan usia hingga mencapai puncaknya pada masa dewasa. Setelah itu, kekuatannya akan menurun lagi ketika kita semakin tua.

Kekuatan intelektual tidak demikian. Ketika kita masih kecil, kemampuan intelektual itu seperti sebuah lahan kosong yang sangat luas. Lalu, kita memancangkan tiang-tiang konstruksi ilmu pengetahuan. Semakin kokoh kita membangun konstruksi itu, semakin tangguh kemampuan intelektual yang kita miliki dimasa depan. Semakin luas bangunan konstruksi itu, semakin luas pula wawasan kita dimasa yang akan datang. Lalu, sejalan dengan waktu, kita terus membangun konstruksi itu dengan beragam macam pengetahuan, keterampilan, dan keahlian. Dan; semakin tua kita, semakin kokoh kemampuan intelektual kita. Itulah sebabnya, orang-orang yang berhasil membangun kekuatan intelektualnya secara optimal; mejadi semakin hebat ketika mereka semakin tua. Kita menyebut mereka orang yang berwawasan luas dan berpengalaman.

Tahukah anda bahwa; tidak ada yang dapat mengalahkan pengalaman? Itulah sebabnya, setiap kali anda melamar pekerjaan selalu ditanya pengalaman. Sebab, pengalaman menentukan seberapa besar kita punya kemampuan. Pengalaman menentukan seberapa besar kita layak mendapatkan bayaran. Dan pengalaman, menentukan apakah kita akan diterima untuk pekerjaan itu atau kalah bersaing dengan kandidat lain. Jadi, tidak heran jika almamater anda sering tidak bisa menolong jika harus berhadapan dengan pengalaman.

Lantas, bagaimana caranya kita membangun pengalaman? Pengalaman bisa dibangun dengan cara sederhana, yaitu; menjalani hari-hari kita dengan kegiatan-kegiatan penuh makna. Selama kita mengoptimalkan kemampuan kita dalam menjalaninya, pastilah kita akan menangguk keuntungan berupa pengalaman yang melimpah ruah. Sayangnya, kita sering tergoda untuk menjalani keseharian kita hanya dengan tindakan ’apa adanya’. Kita sering sudah merasa puas dengan job des yang diberikan perusahaan. Sehingga, kita tidak tertantang untuk memaksimalkan segala kesempatan.

Dalam konteks ini, saya melihat sebuah teladan hebat yang ditunjukkan oleh seorang sahabat. Orang ini selalu menantang dirinya dengan sesuatu yang membuat kekuatan intelektualnya meningkat. Ketika pekerjaan pokoknya sudah selesai, dia datang kepada atasannya untuk meminta tugas dan pekerjaan yang jauh lebih besar dari yang menjadi kewajibannya. Sikapnya itu menimbulkan dua implikasi, yaitu; perusahaan merasa senang, dan dirinya sendiri menjadi semakin berpengalaman. Alhasil, dia menjadi aset yang sangat berharga bagi perusahaan.

Sebaliknya, kita bisa menyaksikan betapa banyak orang yang memiliki kesempatan seperti itu, namun mereka sia-siakan. Mereka merasa rugi jika harus memberi lebih kepada perusahaan. Sebab, mereka merasa tidak sesuai dengan bayaran. Alhasil, meskipun ada banyak kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan kontribusi kepada perusahaan, namun mereka tidak mau lakukan. Sikapnya itu menimbulkan dua implikasi, yaitu; perusahaan tidak terlampau terkesan, dan dirinya sendiri menjadi kurang berkembang. Alhasil, dia menjadi aset biasa yang tidak memiliki keistimewaan bagi perusahaan.

Dalam situasi ekonomi global yang sangat berat seperti saat ini, hampir semua perusahaan dihadapkan pada keadaan yang rawan. Sedangkan orang-orang yang biasa-biasa saja, tidak akan mampu untuk memberikan perbedaan bermakna bagi perusahaan. Bahkan, boleh jadi perusahaan menganggap mereka sebagai beban. Sehingga, jika perusahaan harus melakukan pengurangan, anda tentu tahu siapa yang pertama kali menjadi sasaran. Saat ini, perusahaan membutuhkan orang-orang yang penuh dedikasi dan bersedia mengoptimalkan potensi dan kontribusinya. Sebab, orang-orang seperti inilah yang bisa membantunya menyelamatkan diri dari situasi kritis dimasa krisis. Oleh karena itu, merekalah yang akan dipertahankan mati-matian oleh perusahaan.

Jika kita bisa menjadi orang-orang seperti mereka, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, jika perusahaan berhasil keluar dari krisis, kita akan senantiasa mendapat tempat. Namun, kalaupun perusahaan gagal melewati kemelut ini; kita sudah memiliki bekal pengalaman, untuk menjalani hidup baru yang tidak kalah menantangnya. Dan dengan bekal kemampuan intelektual itu, kita siap menjalani hidup dengan penuh kekuatan. Karena, kekuatan intelektual tidak pernah lekang oleh waktu. Dan tidak pernah membiarkan kita untuk mati kutu.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio

Catatan Kaki:
Beruntunglah orang-orang yang tahu diri. Yaitu, orang yang tahu bahwa dirinya mempunyai potensi tinggi, dan mengeksplorasinya untuk meningkatkan kualitas diri.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. pengingat yg baik, dalam setiap masalah pasti ada peluang dan tentu di hasilkan pengalaman baru, selamat kang. Semoga banyak pembaca yang mengambil manfaat.

  2. Duh kang Dadang… serasa “ditonjok” sama tulisannya nih… hihihihi.. TFS ya…

  3. salam kenal kang dadang,
    Kalo saya, lagi belajar jadi “macan” nih .. tips dari kang dadang akan saya pelajari biar selanjutnya gak jadi macan ompong, hehe. makasih kang

  4. Menginspirasi banget kang, sukses untuk kita semua

  5. Harimau mati meninggalkan belang
    Gajah mati meninggalkan gading…
    Lah kalau manusia mati tentunya harus meninggalkan karya-karya kebaikan yang dibuat selama hidupnya.

    Karya-karya kebaikan itu bisa ideologi, pemikiran, Buku, Tulisan inspirasional (seperti yang dibuat Kang Dadang ini) bahkan pada skala tertentu bisa berbentuk Foundation/Yayasan yang mempunyai dana abadi untuk kebaikan Ummat. Tentu kita masih ingar Nobel Prize, Ford Foundation, Sampoerna Foundation dll yang besar kontribusinya untuk pembangunan manusia seutuhnya.

    Jadi bukan hanya unjuk gigi, tetapi adalah unjuk gigi yang bermanfaat untuk kemaslahatan Ummat bahkan ketika kita telah tiada di dunia ini.

    Bukankah amal saleh kebaikan akan terus mengalir kepada kita apabial karya-karya positif kita bermanfaat bagi masyarakat.

    Berusahalah menjadi yang terbaik dalam lingkup perusahaan, menjadi yang paling signifikan kontribusinya, memiliki profesionalitas dan integritas…. kelak bukan hanya perusahaan yang akan terus memakai kita, tetapi juga nama baik kita akan dikenang