Monday , June 26 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Memadukan Kekuatan Akal Dan Kelembutan Hati

Memadukan Kekuatan Akal Dan Kelembutan Hati

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Apa yang membedakan manusia dengan mahluk lain? Kita bilang; ’akal!’. Manusia memiliki akal, sedangkan mahluk lain tidak. Itulah sebabnya manusia bisa mengklaim diri sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna. Sebab, dengan akalnya itu manusia bisa melakukan begitu banyak hal yang tidak bisa dilakukan kucing, kelinci, ataupun bunga melati. Sayangnya, tidak semua yang bisa dilakukan manusia itu digunakan untuk kebaikan sesama. Karena pada kenyataannya, akal kita sering digunakan untuk ’mengakal-akali’ dengan cara melakukan apapun demi kepentingan segelintir individu atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, banyak buah pahit dari hasil karya akal manusia itu. Dengan demikian, untuk menjadi ’mahluk sempurna’ seperti klaimnya, manusia mesti memiliki piranti lain. Sehingga kecerdasan akalnya dapat diimbangi oleh kearifan dari dalam dirinya. Apakah gerangan piranti itu?

Sesekali, kita perlu memperhatikan para kura-kura. Seekor kura-kura kalau hendak berjalan pastilah akan mengeluarkan kepalanya dari dalam tempurungnya. Dan ini adalah isyarat yang kura-kura berikan pada kita bahwa memang benar kita harus menggunakan kepala alias otak dan akal pikiran kita supaya kita bisa melakukan ini dan itu. Tanpa kepala kita tidak bisa membangun suatu hasil karya cipta apapun. Sebab, kepalalah pusat segala kekuatan kreatif imajinatif yang membantu menusia menghasilkan berbagai macam penemuan. Sehingga, kita bisa membangun peradaban. Itu benar.

Tetapi, mari perhatikan sang kura-kura itu sekali lagi. Dalam perjalanannya, dia sering berhenti. Dan ketika berhenti melangkah itu dia menarik kepalanya kembali masuk kedalam cangkang tempurungnya. Lalu dia berdiam diri. Pertanda apakah gerangan ini? Ini adalah tanda pengingat bagi kita yang terlampau mengutamakan akal, bahwa; sesekali kita harus menarik kekuatan akal itu ke belakang layar. Kemudian mendekatkan kepala kita kedada dimana didalam bersemayam sesuatu yang biasa kita sebut sebagai hati nurani. Sebab, kata kura-kura:’hati nurani itu akan membantu kita mengarahkan akal pikiran’.

Ketika akal berjalan sendirian, maka hasil pemikiran kita hanya akan menjadi sebatas proses eksplorasi dan eksploitasi atas keuntungan, kemudahan, kenikmatan dan hal-hal serupa itu. Apakah itu mengganggu orang lain? Akal tidak terlampau peduli, karena fungsi utamanya adalah untuk membuat hidup kita lebih mudah dan indah. Soal orang lain rugi atau terganggu oleh kaidah-kaidah yang dihasilkannya, itu soal lain. Itulah sebabnya, mengapa banyak orang yang berbisnis tanpa mempedulikan moral, lingkungan, atau kepentingan orang lain. Orang lain bagi mereka adalah lahan untuk dieksploitasi. Itulah juga sebabnya mengapa banyak orang yang tidak peduli pada kepentingan tetangga hanya untuk memenuhi kepentingan rumah dan keluarganya belaka. Tetangga bagi mereka adalah objek yang boleh dikorbankan demi kepentingan dirinya sendiri.

Kata kura-kura; ”Berhenti sejenak dari terlampau menggunakan akal kamu. Dan sesekali ajaklah dirimu untuk berkontemplasi menggunakan hati nurani.”

Menakjubkan sekali. Ketika seseorang mengikuti petuah sang kura, ternyata dia menemukan bahwa akal itu bukanlah segala-galanya. Justru orang yang terlampau menggunakan akal tidak akan pernah berhasil menjadi mahluk sempurna. Karena, kesempurnaan manusia diperoleh dari penggunaan yang seimbang antara akal dan hati. Ketika seseorang hanya menggunakan hati, dia menjadi orang baik yang kurang produktif. Dan ketika seseorang hanya menggunakan akal, maka dia akan menjadi orang kompetitif yang sangat destruktif. Tetapi, ketika seseorang menggunakan akal dan hati dalam sebuah perpaduan harmoni, dia menjadi orang berprestasi tinggi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dirinya sendiri.

Dan menakjubkan sekali, karena ternyata; ketika dia mengkombinasikan hatinyalah segala hasil karya cipta akalnya menjadi maslahat tidak hanya bagi dirinya sendiri. Melainkan bagi orang lain. Ketika semakin besar cakupan pengaruhnya, semakin luas dampak positifnya. Sehingga, boleh jadi suatu saat nanti; dia bisa berkontribusi kepada kepentingan seluruh umat manusia. Karena, kecanggihan akal pikirannya diimbangi oleh pertimbangan hati nurani untuk kemaslahatan bersama. Bukan semata kepentingan pribadi. Sebab, akal dan hati itu seperti dua sisi keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa akal, hati tidak bisa mencukupi hidup. Dan tanpa hati, akal sering membuat kerusakan. Sedangkan dengan akal dan hati; kita bisa saling berkontribusi.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio

Catatan Kaki:
Bukan sekedar akal yang menjadikan kita lebih baik dari mahluk lain. Bukan pula hanya hati. Melainkan keduanya.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

12 comments

  1. Alex Hanief Isyna

    Assalaamu’alaykum wr wb
    K Dadang, kumaha damang … mudah2an masih ingat saya 🙂 waktu dulu pernah bareng di PAS. Thanks atas sharing perenungannya, insya Allah sangat bermanfaat dan mencerahkan. Barakallah fiika…

  2. Assalam..wrwb..
    Pak, terima kasih untuk artikel ini..

    salam,
    Taufiq

  3. Terima kasih atas pencerahannya Pak…

  4. olah perenungan yg cukup dalam dan biasanya berasal dari pengalaman,cukup dapat menambah “informasi ruhani” tapi tak cukup banyak memandu orang2 awam seperti saya. tak ditulis tentang bagaimana:
    1. teknik/proses mensinergikan akal dan hati tsb
    2. melatih ketajaman hati nurani itu sendiri hingga optimal
    3. orang yang mempunyai “hati” bisa memanfaatkan kekuatan hatinya.

    krn tiap org memiliki cipta, rasa dan karsa yang berbeda, baik karena faktor lingkungan ataupun watak bawaan “dna”-nya.terlihat “destruktif” namun “konstruktif” bagi yang lain begitu juga sebaliknya.

    4. anda sangat begitu yakin dan berani membuat tamsil menggunakan kura2 yang diartikan hanya menggunakan “dugaan” anda semata, knp ga pake tamsil atau argument yg sdh valid termaktub dalam kitab anda misalnya.

    anyhow, salute on you

  5. maksudnya PAS Salman ITB Pak Alex?

  6. #1. Kak Alex, alaikumsalam. Wah, tentu saya masih ingat sama orang baik seperti Kak Alex. Terimakasih telah berkunjung ya…
    #2. Pak Taufik, alaikum salam, mudah-mudahan ada manfaat bagi semua ya Pak
    #3. Pak NArmadi, terimakasih banyak Pak.
    #4. Bapak/Ibu Wawah, terimakasih atas komentarnya. Saya kira anda benar bahwa memang disini kita belum mampu untuk memberikan jalan keluar yang komprehensif. Namun, dengan banyak ‘kepala dan hati’ yang bersedia saling mengingatkan dan menyemangati, mungkin kita bisa menemukan hal-hal positif lah ya. Kenapa tidak mengambil tamsil dari kitab; ilmu saya memang baru segini ini nih, mudah-mudahan pelan-pelan nambah ya. Biasanya ada teman-teman yang suka ‘meluruskan’ atau menguatkan dengan ajaran dari Al-Qur’an atau Alkitab, juga. Mudah-mudahan mereka berkenan melakukannya lagi ya. Silakan. Atau mungkin Ibu/Bapak Mawah jika berkenan, silakan dengan senang hati.
    #5.Abu Fahna, saya yakin memang itu yang dimaksud oleh Pak Alex…..

    Terimakasih kepada semuanya ya.

    salam,
    dadang

  7. Pak Dadang, terimakasih bwt sharing artikelnya.

    oh ya, ngomong2 soal hati nurani dan akal.
    gmana caranya “melatih ketajaman hati nurani”? bisa ya? apa bedanya dengan “sensitivitas hati”?

  8. Pak Dadang

    Thanks artikelnya,..
    Penggunaan akal atau hati sepertinya mudah bagi kita setelah baca artikel/ buku, seakan jiwa kita dibawah ke level itu.
    Orang itu akalnya sehat atau hatinya lembut terlihat saat ngalami sesuatu yang spontan. Pertanyaannya , siapa yang mendorong akal dan hati untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Itulah Sang Pencipta……….Suwun

  9. kala hati goyah…kala hati resah…kala hati tenang…kala hati terluka…hati terpuruk & rapuh, bagaimana kang kuatkan hati kembali kuat

  10. Woww lagi lagi saya bener2 terkesima dan kagum akan pemahaman ilmu hakekat kang dadang.. Inilah yang disebut ‘Iqro’ (mean:membaca/menganalisis/dll)kata pertama di dlm Al Quran. Saya yakin tulisan2 kang dadang ini adlh hasil ‘Iqro’ dalam alam macrocosmos semesta ini dan alam microcosmos yaitu diri manusia sendiri. Jempol 4 utk kang dadang,anda berhasil..trmksh pencerahan yg luar biasa.. Tulisan2 anda membawa bnyk berkah utk sluruh isi alam..

  11. Yang sulit untuk dicari dan diterapkan adalah waktu kesadaran komunikasi antara hati dan pikiran. Yang sering adalah masing2 berjalan dengan waktunya sendiri2 bergantian, sehingga bersikap sebagai manusia yang sangat ekstrim baiknya dan liarnya. Bagaimana dengan demikian kang?

  12. Mohamad Hidayat

    Ass.wr.wb…
    Salam kenal… Pak Dadang. Tergugah adalah kesan pertama setelah membaca tulisan Akang Dadang…Menurutku kita membahas akal dan hati pada saat yang tepat dimana kita.. menyaksikan dan merasakan kehidupan jaman ini didominasi oleh “kesempurnaan akal manusia”…Terus lah mengingatkan kami Kang….Terimakasih atas tulisannya….semoga saya terilhami darinya…
    Wass.wr.wb.