Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kita hidup dari satu harapan ke harapan lainnya. Harapanlah yang menjadikan kita mampu bertahan melewati situasi sulit hingga saat ini. Setiap pagi kita bangun, kemudian berangkat ke kantor dengan harapan pada tanggal 25 nanti, kantor akan memberikan bayaran yang sepadan. Kita mendatangi kantor klien dengan harapan mereka bersedia membeli produk yang kita tawarkan. Para petani terus menanam benih dengan harapan semua jerih payah ini pada akhirnya memberikan hasil yang memuaskan dikala panen. Bayangkan, seandainya kita tidak memiliki harapan-harapan seperti itu; apakah kita bersedia melakukan semua itu?
Saya tidak membaca resensi film itu sebelumnya. Tetapi, hal itu tidak menghalangi saya untuk membeli 2 tiket untuk menontonnya. â€WHISPERâ€, barangkali anda sudah menontonnya juga. Film itu dibuka dengan sebuah kalimat sederhana  .bahkan setanpun bisa menyamar sebagai malaikat…..†Dan dalam film itu, malaikat samaran sang setan berwujud seorang anak kecil yang memikat hati. Melalui bisikannya, dia mempengaruhi pikiran orang-orang untuk melakukan kejahatan. Anehnya, setiap orang berhasil dipengaruhinya dengan mudah, kecuali Max, orang terakhir yang melawannya.
Sebelum memerintahkan srigala menghabisi Max, malaikat abal-abal itu menceritakan sebuah rahasia; mengapa ia bisa mempengaruhi orang-orang untuk melakukan kejahatan. Dia bilang; â€aku mendatangi orang-orang putus asa yang tidak lagi memiliki harapan…..â€
Max merenungkan pernyataan iblis itu;â€aku mendatangi orang-orang putus asa yang tidak lagi memiliki harapan…..†Dan dia menemukan sebuah obat penawar. Lalu, hatinya berbisik; â€jika aku masih memiliki harapan, maka setanpun tak kan kuasa untuk menyesatkan…….†Lalu, dalam kepungan 4 srigala hutan yang siap menerkam, Max membuktikan keyakinannya, bahwa bersama harapan; dia tidak bisa dikalahkan.
Memang benar bahwa film adalah film. Apalagi jika itu bukan versi layar lebar dari sebuah kisah nyata. Kebenaran faktual setiap adegannya agak sedikit meragukan. Namun, bukan adegannya yang bisa kita jadikan tempat untuk bercermin. Melainkan pesan mendasar yang melandasi terbentuknya adegan itu. Kita bisa meragukan adanya setan yang menyamar menjadi malaikat seperti dalam film itu. Tetapi, coba kita cermati pesan yang disampaikannya sebagai wujud sesosok setan; â€aku mendatangi orang-orang putus asa yang tidak lagi memiliki harapan…..â€
Kenyataannya, kita sering kehilangan pegangan ketika kita kehilangan harapan. Begitu harapan itu sirna, tiba-tiba saja kita kehilangan energi yang menghidupi semua aktivitas kita. Ketika kita percaya bahwa tidak ada harapan untuk menerima gaji bulan ini, kita bertanya; untuk apa aku harus pergi ke kantor hari ini? Ketika tidak ada harapan klien untuk membeli produk kita, serta merta kita kehilangan selera untuk bertindak; untuk apa aku harus menemuinya dan menawarkan produk yang kujual? Dan, ketika tidak ada harapan untuk bisa memanen, para petani berhenti; mengapa aku harus menanam benih? Begitu harapan hilang, kita dapat dengan mudah terombang-ambing oleh gelombang kehidupan.
Sebaliknya, ketika kita memiliki harapan yang kuat; kita seolah memiliki kemampuan untuk juga menjadi kuat. Kita tahu bahwa pekerjaan ini sangat sulit. Tetapi, ketika kita berhasil merawat harapan atas hasil dari pekerjaan sulit ini; kita selalu bersedia untuk terus bangkit. Dan sungguh, sudah banyak kisah yang kita dengar tentang orang-orang besar. Terutama mereka yang membangun kebesarannya dari sebuah langkah kecil. Dari semua perbedaan karakter setiap pribadi, ada satu kesamaan yang mereka miliki; mereka selalu menjaga dan menghidupkan harapan. Karena mereka percaya bahwa; selama masih ada harapan, selalu ada hal yang layak untuk diperjuangkan.
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio
Catatan Kaki:
Harapan itu seperti bensin bagi sebuah kendaraan. Jika memiliki cukup bensin, maka dia bisa dihidupkan. Dan jika kita selalu memiliki harapan, kita memiliki banyak hal untuk diperjuangkan……
Kang Dadang yth.
Apakah harapan itu mirip dengan keinginan atau ambisi ?
Jika ya, bukankah itu juga merupakan celah bagi Setan untuk membujuk ?
Mohon maaf pertanyaan saya agak nakal
Wassalam
Wahyu Darmayani
Kang Dadang yang hatinya baik,
Saya bersyukur kepada sang Maha Pemilik Allah SWT karena selalu mendapatkan pencerahan yang tidak terduga, baik dari artikelnya Kang Dadang maupun dari yang lainnya sebagai penguat doa dan harapan.
Dampak krisis global masih berpengaruh atas keuangan dan ekonomi kami, dan hampir saja kami
mengalami minus harapan. Dengan hati yang sedih kami terpaksa menunda pembayaran gaji karyawan dan mengencangkan ikat pinggang.
Harapan demi harapan terus kami tumbuhkan walau biaya pulsa semakin tinggi karena mengejar pembayaran dari pihak yang bertaggung jawab, dan akhirnya saya drop juga dan terpaksa istirahat beberapa hari.
Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur dan Maha mendengar akan doa2 serta harapan2 hambanya. Alhamdulillah titik terang sudah mulai memastikan kehadirannya dalam keluarga kami.
Terima kasih Kang Dadang dan mari saudaraku jangan putuskan harapan dan jangan beri peluang kepada yang namanya iblis atau sebangsanya.
Salam sukses selalu Kang Dadang.
Yatti Sumito
Jelas dong, harapan memberi manusia kehidupan. Manusia tanpa harapan, bagaikan zombie atau hewan yang hidup hanya sekedar untuk hidup.
Makanya, untuk pemilu depan pun masih ada harapan untuk Bangsa Indonesia mendapatkan wakil rakyat terbaik.
Kalo ga gitu, mati dong Indonesia.
#1. Ibu Wahyu Darmayani, pertanyaannya ‘nakal’ ya? Keren you know. Saya malah percaya bahwa harapan-harapan positif dan ditindaklanjuti dengan cara yang baik, lalu hasilnya juga digunakan untuk hal-hal yang baik sangat disukai oleh Sang Maha Baik…..
Dan anda juga benar, bahwa setan bisa saja mempengaruhi kita melalui harapan-harapan itu. Seperti kata Ibu Yatti, mudah-mudahan kita mendapatkan kekuatan untuk menghindari pengaruh negatif iblis/setan pada harapan-harapan yang kita miliki.
#3. Bang Iwan, milih dimana? Masih di LN kah?