Keluhan Karyawan Dan Proses Penyelesaian Masalah Hubungan Kerja

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Apakah anda pernah mengeluh tentang pekerjaan? Jika anda bilang; ”tidak pernah,”, ada 2 kemungkinan. Pertama, anda termasuk manusia langka. Atau, mungkin anda lupa bahwa anda pernah melakukannya. Kenapa demikian? Karena bahkan orang yang karirnya sangat cemerlang pun konon pernah mengeluhkan tentang pekerjaan atau hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Orang yang menduduki posisi tinggi sekalipun? Yes. Orang yang menduduki posisi puncak sekalipun. Jadi, apakah mengeluhkan pekerjaan itu lumrah?

Dalam konteks yang konstruktif, mengeluhkan pekerjaan bisa membawa perbaikan. Misalnya, jika mengeluhkan tentang kurangnyamannya lingkungan kerja kita. Karena keluhan itu, kita terdorong untuk mengajak teman-teman merasakan hal yang sama di perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bagi semua. Dalam kasus ini, sebuah keluhan menjadi daya dorong untuk melakukan perbaikan.

Sebuah keluhan bisa memberi dampak positif jika memenuhi sekurang-kurangnya 3 kriteria. Pertama, keluhan itu disampaikan secara konstruktif. Mengapa keluhan perlu disampaikan secara konstruktif? Karena perusahaan enggan mendengar keluhan yang disampaikan secara destruktif. Misalnya, ada karyawan yang menyampaikan keluhan secara emosional. Alih-alih perusahaan menerima keluhan itu, malah menilai karyawan yang bersangkutan tidak bersikap dewasa. Selain itu, keluhan yang disampaikan secara destruktif bisa mengundang antipati kolega yang lain. Maka terjadilah kubu-kubu diantara sesama pekerja.

Kedua, keluhan itu memiliki ruang untuk perbaikan demi kepentingan bersama. Keluhan yang menyangkut kepentingan banyak orang berpeluang untuk mendapatkan perhatian. Sebab, selain akan mendapatkan dukungan dari rekan sekerja, juga bisa membangun kesadaran perusahaan bahwa hal yang dikeluhkan tersebut dapat mengganggu kinerja perusahaan dalam skala besar. Pada akhirnya, kepentingan perusahaan juga yang terancam.

Hal ini juga berarti bahwa perbaikan yang diharapkan itu harus berada dalam jangkauan kemampuan perusahaan. Sebab, bagaimanapun juga kita tidak dapat menuntut apapun diluar kemampuan perusahaan. Sebagai contohnya, kita menuntut kenaikan gaji sebesar sepuluh persen. Keluhan itu disampaikan dengan cara simpatik (memenuhi syarat pertama), dan menyangkut kepentingan bersama. Tetapi, nilai penjualan perusahaan tengah menurun drastis karena krisis ekonomi, misalnya. Maka hal ini menjadi tidak rasional untuk dituntut. Agak aneh juga kan kalau peghasilan perusahaan menurun tapi kita menuntut kenaikan signifikan atas pendapatan kita. Bukankah prestasi perusahaan itu menggambarkan kinerja yang kita kontribusikan?

Ketiga, keluhan itu ditindaklanjuti dengan proporsional. Kita tahu bahwa tindak lanjut adalah urat nadi terjadinya perbaikan yang diharapkan. Namun, dalam banyak situasi; tindakan proporsional itu harus dilakukan dua arah. Tidak bisa hanya perusahaan saja. Dan juga tidak mungkin jika hanya dilakukan oleh karyawan saja. Misalnya, untuk membangun lingkungan kerja yang menyenangkan tadi, semua karyawan harus terlibat. Jika ada ’satu’ saja karyawan ’pengacau’, bisa jadi segalanya menjadi terganggu. Sebaliknya, jika semua kolega mendukung dan berkomitmen tetapi perusahaan tidak mendukung dalam bentuk policy atau endorsement lainnya, maka hal itu menjadi sulit untuk diwujudkan.

Dengan cara itu, keluhan kita bisa membawa perbaikan keadaaan. Namun demikian, kadang-kadang kita tidak tinggal pada situasi yang seideal itu. Bahkan, dalam banyak situasi penyelesaiannya memakan waktu dan energi yang sangat banyak. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen jangka panjang dari kedua belah pihak. Jika tidak, masalahnya bisa menjadi lebih rumit hingga berpotensi menimbulkan sengketa antara kerusahaan dan karyawan.

Bagaimana kalau sengketa itu tidak bisa dihindarkan? Tentu ada banyak pilihan. Tetapi, menyelesaikan dipengadilan biasanya bukanlah hal yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Sebab, yang paling diuntungkan bukan mereka, melainkan para pesaing. Dan, para pelanggan bisa ikut terseret menjadi korban. Oleh karena itu, sebisa mungkin upaya semacam itu dihindari. Dan cara terbaik yang bisa menjadi alternatifnya adalah jalur diplomasi atau negosiasi. Oleh karena itu, karyawan perlu memiliki kemampuan negosiasi, sehingga ketika proses penyelesaian masalah itu berlangsung; bukan otot dan emosi yang bermain, melainkan kaidah-kaidah negosiasi profesional. Dan orang-orang yang faham kaidah negosiasi tidak semata-mata memperjuangkan keputusan yang menguntungkan pihak yang diwakilinya belaka, melainkan kepentingan bersama.

Tapi, mengapa sejauh ini banyak sekali masalah yang menimbulkan demo dan penyelesaian di meja hijau? Mungkin itu karena kita belum terampil untuk melakukan negosiasi. Jadi, sudah saatnya kita memiliki keterampilan negosiasi itu. Karena, negosiasi tidak hanya proses transaksi antara penjual dan pembeli; melainkan juga antara karyawan dan perusahaan. Lebih dari itu, dalam situasi yang serba menantang seperti saat ini; perusahaan dan karyawan perlu lebih kompak lagi. Dan mungkin, krisis ini bisa menjadi memoentum yang baik bagi kita untuk sama-sama belajar membangun hubungan karyawan dan perusahaan yang lebih harmonis.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio

Catatan Kaki:
Situasi sulit bisa menjebak kita untuk saling mementingkan diri sendiri, atau memotivasi kita untuk saling berkolaborasi

7 thoughts on “Keluhan Karyawan Dan Proses Penyelesaian Masalah Hubungan Kerja

  1. Salam kenal…

    Kebetulan saya baca artikel ini.. dan jika boleh ingin berbagi tentang satu golongan, yaitu kelompok manusia langka, ya.. orang yang tidak pernah “merasa” punya masalah dikantor… Karena menurut beliau2 ini… masalah didunia tidak ada… (upsss) jika ini terasa.. berarti kurang rasa ikhlas dalam diri…
    So… obatnya sangat mudah… Ikhlas…..

  2. salam kenal…

    saia mahasiswi program studi adm. bisnis,
    kebetulan saia sedang mengumpulkan data tentang manajemen keluhan untuk tugas akhir saia,
    jadi kalau diperkenankan, artikel ini saia masukan untuk tambahan bahan…
    dan kalau tidak keberatan, dan memungkinkan,
    saia meminta masukan lain tentang manajemen keluhan…
    mohon bimbinganya…

    terima kasih

  3. kami sedang mengalami suatu permslha dalam kopersi ada korupsi yang tidak ada tanggung jawab tlg bila bapak igin mengetahui secara detail bapak merespon yang ini dulu apakah ya dan tidak saya sudah banyak menirim e mail ke aqua mendengar tpi tidak ada respon

  4. @ Ibu Arin, silakan, Maaf baru respon
    @ Pak Aghe, dari email Anda saya menyimpulkan ini sebagai masalah internal koperasi. Untuk setiap dugaan korupsi perlu ada bukti. Namun, dalam proses penyelesaiannya juga tetap harus dilakukan sesuai dengan prosedur dan azaz kepatutan. Jika ingin masalah ini diperhatikan managament bisa saja. Saya kira management perusahaan tidak akan membiarkan suatu masalah mengganggu kinerja perusahaan. Namun, masukan yang kita berikan juga mesti sesuai dengan saluran yang disediakan. Saran saya, menghadap ke HRD lalu bicarakan baik-baik.

  5. Salam kenal…
    Bapak administrator yth…saya adalah seorang TKI yang kebetulan punya skil di bidang engineering dan bekerja di suatu perusahaan yang bergerak di bidang kelistrikan termasuk diklatnya, permasalahan saya adalah pada tahun ini saya diberi tanggungjawab untuk menjadi pimpinan di anak perusahaan di Indonesia, sedangkan terusterang saya lebih ahli di bidang engineering, pertanyaan saya ; ” Bagaimanakah sikap saya supaya tidak mengecewakan atasan saya(komisaris) dan bagaimanakah supaya saya dapat menjadi pemimpin yang baik dan bijak di anak perusahaan yang baru kami dirikan tersebut?” Atas jawabannya saya haturkan terimakasih yang tak terhingga, salam sejahtera…!

  6. Pak Artono, apa yang Bapak rasakan itu merupakan reaksi yang normal bagi orang yang mendapatkan tantangan sebesar itu. Jangankan untuk memimpin di level negara, orang yang pertama kali menjadi supervisorpun kemungkinan besar memiliki kegundahan yang sama meskipun kadarnya yang mungkin lebih kecil. Untuk tidak mengecewakan atasan, kita perlu tahu apa ekspektasinya kemudian tentu saja memenuhi ekspektasi itu. Sedangkan untuk menjadi atasan yang baik untuk anak buah tidak bisa diperoleh dari membaca buku saja ataupun hanya mendengar dari orang lain. Hal itu harus didapatkan dengan cara ‘learning by doing’. Be a leader, and you will learn how to be the great leader. Premis dalam leadership: kemampuan seorang pemimpin ditempa ketika dia memimpin.

    Setiap tanggungjawab ada keuntungan dan ada resikonya. Ask yourself whether you can afford on that. Kalau sudah bualt tekad, jalani saja apapun keputusan itu. semoga bermanfaat.

    Salam,
    dadang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>