Friday , September 25 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Sebenarnya Apa Sih Bakat Kita Ini?

Sebenarnya Apa Sih Bakat Kita Ini?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Adakah orang yang meragukan keampuhan bakat sebagai modal dasar bagi seseorang untuk meraih kesuksesan? Kelihatannya tidak ada. Karena, kita percaya bahwa jika bisa mengoptimalkan bakat alias talenta kita, maka pastilah kita akan menjadi orang yang sukses. Persoalannya kemudian adalah, bagaimana kita mengidentifikasi dan mengenali apa sesungguhnya talenta kita ini? Bahkan, meskipun umur kita sudah tergolong dewasa, kita tidak benar-benar yakin bahwa kita sudah bekerja pada bidang yang sesuai dengan bakat yang kita miliki. Apakah anda juga merasakan hal sedemikian?

Salah satu hal menarik yang bisa kita saksikan dari kontes-kontes dijaman modern seperti American atau Indonesian Idol, Britain Got Talents, dan kontes serupa lainnya adalah; kita sering dikejutkan oleh orang-orang yang menyimpan bakat tersembunyi didalam dirinya selama berpuluh-puluh tahun. Selama itu, bakat mereka terkubur dalam balutan tubuh masing-masing. Dan tak sesaatpun terbangunkan hingga mereka mengikuti kontes itu.

Dalam salah satu tayangan kontes itu saya menyaksikan seorang lelaki berusia tiga puluhan. Dia mengatakan bahwa cita-citanya adalah untuk melakukan sesuatu yang menjadi alasan terbesar mengapa dia dilahirkan, yaitu; menyanyi. Namun selama ini dia tidak pernah melakukannya karena menurutnya; ”saya selalu mempunyai masalah besar dengan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa saya bisa tampil dengan baik”. Dari wajah dan tatapan matanya, kita bisa segera tahu bahwa orang ini memang sangat malu dan minder.

Ketika naik keatas panggung menghadapi audiens dan Pak Simon Cowell beserta dua juri lainnya, dia kelihatan benar-benar gugup. ”Apa yang akan kamu lakukan disini?” kata salah seorang juri. ”Saya akan menyanyikan lagu opera….” katanya dengan nada getar. Semua penonton terdiam, besiap untuk memberikan simpati dan belas kasihan. Sedangkan semua juri mengernyitkan dahi, dan mempersilakan orang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya dengan nada enggan.

Sesaat kemudian, musik opera mulai diputar membuat pengunjung semakin mengkhawatirkan nasib sang kontestan saat dikritik oleh juri nanti. Namun, ketika ’bunyi’ pertama keluar dari suara vokal lelaki itu, semua pendengar terperangah. Bahkan, sang juri paling sangar sedunia itupun terkejut dan mulai menatap kearahnya dengan tatapan mata kekaguman. Mendengar suaranya yang tidak kalah dengan Luciano Pavarotti itu, pendengar yang terbius mulai menitikkan air mata. Lalu, mereka berdiri dan bertepuk tangan ketika nyanyian itu berakhir. Hingga acara selesaipun penampilannya masih menjadi pembicaraan dimana para juri merumpikannya sebagai salah satu penampilan paling mengejutkan dari kontestan yang sempat disepelekan.

Pada kesempatan lain, saya bertemu dengan salah seorang sahabat yang berpofesi sebagai pengelola radio. Orang ini telah sukses membawa banyak radio yang ditanganinya hingga menjadi bisnis yang menguntungkan dan bergengsi. Ketika saya bertanya; tantangan terberat apa yang pernah dihadapinya? Dia menyebutkan; ’pandangan masyarakat’. Maksudnya, orang-orang disekitarnya yang menganggap bahwa bekerja diradio bukanlah ’bekerja’. Sebab, masyarakat kita sering menganggap bekerja itu identik dengan dasi atau seragam bagus. Atau, memiliki kartu nama bertuliskan perusahaan semacam bank atau perusahaan lain yang memiliki nama besar. Diluar itu; nilai ’bekerja’ menjadi berkurang.

Sampai disini, kita sudah mendiskusikan 2 rintangan terbesar yang sering kita hadapi ketika ingin mengoptimalkan bakat yang kita miliki. Pertama adalah rintangan dari dalam diri ketika kita dihambat oleh rasa percaya diri. Kita ragu jika apa yang bisa kita lakukan itu benar-benar bernilai. Dan kedua adalah hambatan dari luar diri kita, ketika kita harus berhadapan dengan stigma yang berlaku dimasyarakat. Mereka menilai rendah orang-orang yang memiliki profesi ’aneh’ dan tidak sesuai dengan gambaran profesi yang kebanyakan orang definisikan.

Dan ternyata memang benar bahwa kedua hal itu sangat efektif dalam menggagalkan kita untuk sampai kepada pencapaian tertinggi yang sesunguhnya bisa kita raih. Faktanya, betapa seringnya kita merasa ragu apakah kita akan mendapatkan penghasilan yang memadai jika memilih untuk melakukan apa yang kita yakini sebagai bakat sesungguhnya yang kita miliki. Dan keraguan itu telah membuat kita memilih untuk bekerja pada suatu profesi yang sesungguhnya bisa dikerjakan tanpa bakat khusus. Maka jadilah kita orang yang bekerja pada bidang yang tidak benar-benar kita sukai. Dan kita membiarkan bakat itu terkubur sia-sia.

Betapa seringnya kita merasa takut masyarakat tidak akan bersedia menerima apa yang kita lakukan sesuai dengan bakat kita itu. Padahal, kita semuanya yakin bahwa ketika kita bisa memberi manfaat kepada lingkungan dan masyarakat, maka akan selalu ada tempat yang bersedia menerima kita dengan tangan terbuka. Mungkin, yang perlu kita lakukan adalah menemukan tempat yang tepat itu. Sebab, kita semuanya yakin bahwa setiap manusia dilahirkan dengan sebuah misi yang Tuhan berikan; yaitu berkontribusi kepada dunianya. Dan ketika setiap orang memahami itu, maka mestinya tidak ada lagi kehawatiran yang menghambat seseorang untuk berfokus kepada bakat yang dimilikinya. Dan mendalami kegiatan dan pekerjaan sesuai dengan bakat itu. Sebab, ketika seseorang bekerja sesuai dengan bakatnya; bukan hanya akan melakukannya dengan gembira dan suka cita. Dia juga juga akan menghasilkan karya yang mengesankan. Sebab, salah satu alasan Tuhan memberi kita bakat yang unik dan berbeda-beda adalah; untuk saling memberi manfaat dengan sesama. Satu sama lain.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Menemukan apa bakat kita memang tidaklah mudah. Namun, ketika kita menemukan dan memanfaatkannya; kita memiliki peluang untuk berkontribusi lebih maksimal bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang-orang disekitar kita.

Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk Mading kantor silakan
hubungi kami japri dengan subjek “Artikel Mading” ke dkadarusman@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

11 comments

  1. sesungguhnya yang paling penting mampukah kita mengendalikan rasa takut yang ada dalam diri kita sendiri.

  2. Wah untuk yang kedua, saya ikut tersindir nich soalnya saya juga karyawan radio he he he … Tapi bagus juga buat memacu semangat untuk lebih menunjukkan kemampuan kita sendiri bahwa di radio pun kita bisa sukses !

  3. Orang selalu ingin tahu lebih dalam lagi apa talentanya (bakat). Namun sejauh pengamatan saya, banyak di antara mereka yang masih berpikir bahwa mengenal talenta berarti bisa punya uang banyak.

    Jika demikian maka fokus sebenarnya adalah Uang. Padahal untuk dapat uang tidak selalu harus menggali talentanya.

    Dengan kata lain pemahamannya;
    Memaksimalkan talenta = sukses = Uang.

  4. Halo kang Dadang,
    Saya sering baca artikelnya tapi baru sekarang coba kasih comment.
    Basically saya setuju. Kurang pede (untuk show up) dan lingkungan yang kurang mendukung apalagi under estimate jelas akan menghambat pertumbuhan kita (whether it’s our talent or we want to build something as a talent)…
    Kebetulan sesekali saya masih berkutat dengan 2 masalah diatas…

  5. Siang Kang Dadang…

    We e e e bnr bgt kang
    Saya sangat terkesima dg kesimpulan artikel akang
    “Saling memberi manfaat untuk sesama” krn itu adalah “sangkar paraning dumadi” (tujuan kehidupan dihidupkan)yang sesungguhnya..

    Matur nuwun kang dadang..kita jadi bisa bnyk belajar dari artikel akang
    Smg apa yang akang lakukan membawa bnyk perubahan untuk kita2..

    Oh ya sy sangat ingin membeli buku “belajar kepada Alam” bagaimana prosedur agar saya bisa membelinya?

    Trimakasih byk..
    Teguh..

  6. terimakasih kang dadang, semoga kang dadang selalu dalam keadaan sehat. saya ingin sekali mengetahui apa sebenarnya bakat saya, sampai sekarang saya belum menemukan dengan pasti. mungkin lingkungan juga menentukan, ya kang dadang?

  7. sebenarnya itu tergantung orangnya mas kira2 mau nggak dianya melatih bakatnya!@#$%^&*

  8. Memang kita semua pasti mempunyai bakat terpendam. Tugas kita menemukan bakat tersebut sebagai anugerah Tuhan YME untuk dapat berguna bagi semua.

  9. Salam hormat kang Dadang,

    tulisan yang menarik, cuman saya masih belum bisa atau kurang pintar ya untuk bisa mencari jawaban atas pertanyaan di alinea pertama mengenai identifikasi dan pengenalan bakat itu sendiri. Jawabannya kira kira gimana ya?

  10. Sangat setuju dengan tulisan ini karena memang setiap manusia yang dilahirkan didunia ini oleh Tuhan dibekali dengan bakat masing2 yang bertujuan untuk saling mengisi kelebihan dan kekurangannya. Mengenai materi yang akan diperoleh dari bakat yang dimiliki itu sebetulnya janganlah dijadikan tujuan utama pengembangan bakat karena apabila bakat yang dimiliki itu dapat memberi manfaat bagi orang lain maka penghargaan berupa materi akan datang sendiri tanpa kita cari karena itu adalah urusan Tuhan

  11. SEperti KAPAL kcl d laut.tak tau cr mengemudikan dngn maksimal tuk mencapai tujuannya.pd jlr yg tak efektif.gimana solusinya